1 komentar

 
GN⁺ 2023-08-28
Opini Hacker News
  • Tim beranggotakan 4 orang mengembangkan dan menjual array multi-kamera untuk pelacakan mata serta pengukuran karakteristik fisiologis lainnya. Pelanggan utamanya adalah kelompok riset universitas, kelompok human factors di Lockheed, dan Angkatan Udara AS.
  • Teknologi tim ini dapat melacak mata dan wajah secara akurat hingga jarak 1 meter dari array, hanya memerlukan kalibrasi minimal per subjek, dan dapat mengukur respons pupil terhadap kelelahan serta faktor lainnya.
  • Senseye telah lama mengerjakan teknologi pelacakan mata, dan pada awalnya bekerja sama dengan Angkatan Udara AS untuk meningkatkan pelatihan pilot. Namun, mereka mengalami kesulitan pendanaan sehingga harus beralih ke skrining PTSD.
  • Membangun teknologi pelacakan mata tidak terlalu sulit, tetapi tantangannya adalah menciptakan antarmuka yang ramah pengguna tanpa terganggu oleh paradigma UI saat ini.
  • Perekaman EEG bisa menjadi alternatif untuk pelacakan mata yang mampu mengatasi penurunan gerakan mata terkait penyakit.
  • Beberapa headset AR, termasuk Microsoft HoloLens 2 dan Magic Leap ML2, menyediakan pelacakan mata yang memadai. Kacamata pelacakan mata dari Tobii juga bagus sebagai solusi mandiri.
  • Seorang pasien ALS di Turki menggunakan pelacak mata Tobii untuk membuat video YouTube, podcast, dan stream Twitch.
  • Seorang penulis komentar sedang mengembangkan sistem menu yang menggabungkan Fitt's Law dan Huffman trees, yang dapat digunakan bersama teknologi pelacakan mata.
  • Sulit membangun business case untuk perusahaan pelacakan mata karena ukuran pasarnya kecil dan biaya untuk mendapatkan persetujuan produk agar ditanggung asuransi kesehatan sangat tinggi.
  • Sub-vocalization, yaitu text-to-speech dari pikiran, bisa menjadi cara lain untuk mengeksplorasi teknologi bantu.
  • Teknologi yang digunakan Stephen Hawking untuk berkomunikasi, termasuk pelacak mata, masih bisa ditingkatkan.