15 poin oleh GN⁺ 2024-05-05 | 5 komentar | Bagikan ke WhatsApp

AI Copilot sedang mengubah cara pendidikan coding

  • Kini para dosen mulai beralih dari pengajaran sintaks ke penekanan pada keterampilan tingkat tinggi
  • Semester lalu, Krishnamurthi, profesor ilmu komputer di Brown University, menginstruksikan mahasiswa sarjana untuk menyelesaikan proyek akhir mereka dengan menggunakan GitHub Copilot
    • Ini adalah alat AI berbasis model bahasa GPT-3 dari OpenAI, yang menyediakan fungsi untuk menghasilkan dan melengkapi kode secara otomatis
  • Melalui eksperimen ini, Profesor Krishnamurthi ingin para mahasiswa lebih fokus pada pemecahan masalah daripada sintaks bahasa pemrograman
    • Ia percaya alat semacam ini akan membawa perubahan mendasar pada pendidikan pemrograman
  • Dosen lain juga sedang melakukan eksperimen serupa, memanfaatkan alat AI untuk membantu mahasiswa mempelajari konsep tingkat tinggi
    • Sebagai contoh, Profesor Swapneel Sheth dari University of Pennsylvania menggunakan Copilot agar mahasiswa dapat mengembangkan pemikiran konseptual dan kemampuan pemecahan masalah
  • Namun, sebagian dosen menyatakan kekhawatiran tentang penggunaan alat AI
    • Profesor Dan Garcia dari UC Berkeley khawatir mahasiswa akan bergantung pada AI tanpa menguasai dasar-dasarnya
    • Ia percaya alat AI dapat mengganggu proses belajar mahasiswa
  • Dalam jangka panjang, alat AI diperkirakan akan memberi dampak besar pada pendidikan software engineering
    • Profesor Krishnamurthi memprediksi bahwa suatu hari kuliah coding tradisional akan menghilang
    • Sebagai gantinya, mahasiswa akan belajar cara menggunakan alat AI untuk menyelesaikan masalah yang lebih besar

Opini GN+

  • Munculnya AI Copilot sedang mengubah paradigma pendidikan pemrograman. Pendidikan yang sebelumnya berfokus pada sintaks tradisional kini bergerak ke arah pengembangan kemampuan pemecahan masalah dan pola pikir tingkat tinggi.
  • Namun, ketergantungan berlebihan pada alat AI dapat menghambat penguasaan dasar-dasar oleh mahasiswa. Karena itu, alat AI perlu dimanfaatkan secara tepat tanpa mengabaikan pemahaman atas konsep dan prinsip dasar.
  • Perkembangan alat AI menunjukkan gambaran masa depan bidang software engineering. Tugas coding yang sederhana dan berulang diperkirakan akan digantikan oleh AI, sementara manusia akan lebih fokus pada pemecahan masalah yang kreatif dan kompleks.
  • Lembaga pendidikan perlu menyesuaikan kurikulum dengan perubahan ini. Selain pengajaran bahasa pemrograman tradisional, tampaknya diperlukan pendidikan yang menumbuhkan kemampuan memanfaatkan AI dan kemampuan pemecahan masalah.
  • Dengan hadirnya teknologi AI generasi berikutnya seperti GPT-4, kemampuan pembuatan dan pelengkapan kode otomatis kemungkinan akan menjadi jauh lebih kuat. Seiring itu, peran dan kompetensi software engineer juga diperkirakan akan terus berubah.

5 komentar

 
hhcrux 2024-05-07

Kalau saya tahu jelas apa yang ingin saya lakukan, ini benar-benar sangat memudahkan. Tapi kalau tahunya setengah-setengah, sepertinya benar memang jadi buang waktu lebih banyak karena harus bergulat dengan prompt seperti komentar di bawah.

 
halfenif 2024-05-07

Pada akhirnya rasanya seperti googling berubah menjadi prompting.

 
antegral 2024-05-06

Saya juga sedang mengikuti kuliah S1, dan saya sangat merasakan bahwa metode pengajarannya sudah berubah ke arah penggunaan model bahasa dalam pendidikan.

Bukan hanya mata kuliah jurusan (teknik informatika), bahkan pada beberapa mata kuliah umum kini semakin sering ada pemberitahuan bahwa model bahasa (ChatGPT) boleh digunakan saat ujian tengah/final.

Namun, soal-soalnya dirancang sedemikian rupa sehingga jawaban tidak akan keluar hanya dengan memasukkan soal ke model bahasa. Tampaknya mahasiswa diarahkan untuk menganalisis soal dengan benar, lalu menggabungkan dan menerapkan keluaran dari model bahasa secara tepat ke dalam jawaban.

Trennya semakin mengarah pada meningkatnya kebutuhan untuk "memahami masalah" dengan benar dan memberikan "instruksi yang tepat" kepada model bahasa.

 
[Komentar ini disembunyikan.]
 
GN⁺ 2024-05-05
Opini Hacker News

Ringkasan:

  • Para engineer AWS DevOps sering kali kekurangan pengetahuan dasar jaringan
  • Jumlah orang yang menggunakan alat kolaborasi AI terus bertambah, tetapi jumlah orang yang bisa memahami dan meninjau kode tidak ikut bertambah
  • Etika dan politik kadang disuntikkan ke dalam alat AI sehingga menghasilkan keluaran yang canggung
  • "Prompt engineering" tidak bisa menggantikan pemrograman
  • Ada siswa yang menulis kode dengan alat AI tetapi hanya menyalin-tempel tanpa memahami konsep dasarnya
  • Sekalipun ada oracle yang tahu jawabannya, itu tidak berguna jika kita tidak tahu apa yang harus ditanyakan
  • Nilai sejati yang diciptakan developer adalah menerjemahkan kebutuhan manusia menjadi kode
  • Alat AI saat ini hanya berguna untuk menghasilkan kode yang memang sudah mudah ditulis
  • Untuk pekerjaan yang tidak sepele, lebih banyak waktu habis bergulat dengan prompt
  • Ke depannya, "mengetahui sesuatu" akan menjadi kurang penting dibanding "mengetahui di mana mencari jawabannya"
  • Menilai apakah jawaban yang diajukan AI itu benar atau salah secara licik akan menjadi tantangan pemecahan masalah yang baru
  • Alat kolaborasi AI akan membuat kita lebih malas dan menghasilkan kode yang lebih banyak bug
  • Guru ingin siswa menguasai dasar-dasarnya sebelum menggunakan kalkulator
  • Menjaga kurva belajar akan menjadi krisis besar bagi generasi ini
  • Rekayasa perangkat lunak bisa dikatakan sebagai "20% sintaks, 80% kebijaksanaan"
  • LLM unggul dalam sintaks, tetapi kurang dalam kebijaksanaan