4 poin oleh GN⁺ 2024-05-18 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp

D3 in Depth

D3 in Depth membahas D3 versi 6 dan 7

  • Homepage: D3 in Depth adalah situs yang membahas versi terbaru D3.js, yaitu 6 dan 7.
  • Pengenalan: Situs ini menyediakan pembahasan mendalam tentang visualisasi data menggunakan D3.js.
  • Newsletter: Melalui newsletter, Anda bisa menerima info diskon buku serta berita dan tips terkait D3.js.

Buku dan kursus

  • Visualising Data with JavaScript: Mengajarkan cara membuat chart, dashboard, dan data story menggunakan Chart.js, Leaflet, D3, dan React.
    • "Salah satu buku D3 terbaik yang pernah saya baca. Isinya sangat jelas, mudah diikuti, dan konsepnya sangat kuat." - Javier García Fernández
  • Visualisasi data kustom: Anda dapat mempelajari cara membuat visualisasi data kustom menggunakan D3.js.
  • Pembelajaran dasar: Anda dapat mempelajari dasar-dasar HTML, SVG, CSS, dan JavaScript untuk membangun visualisasi data di web.

Daftar isi

  • Pengenalan D3
  • Memulai
  • Seleksi (Selections)
  • Data join
  • Enter, exit & update
  • Fungsi skala (Scale functions)
  • Bentuk (Shapes)
  • Sumbu (Axes)
  • Hierarki (Hierarchies)
  • Diagram chord (Chord Diagrams)
  • Force layout
  • Peta (Maps)
  • Permintaan data (Data Requests)
  • Transisi (Transitions)
  • Picking, dragging, dan brushing
  • Zoom & pan

Newsletter

  • Berlangganan: Anda bisa menerima info diskon buku serta berita dan tips terkait D3.js.

Hak cipta

  • © Peter Cook 2023

Opini GN⁺

  • Pentingnya D3.js: D3.js adalah library visualisasi data yang sangat berguna untuk merepresentasikan data kompleks secara visual. Ini merupakan alat yang sangat kuat terutama saat menangani set data berukuran besar.
  • Kurva belajar: D3.js sangat kuat, tetapi kurva belajarnya bisa cukup curam. Situs ini menyediakan materi yang bermanfaat bagi pemula hingga pengguna tingkat lanjut.
  • Integrasi dengan berbagai alat: Anda bisa mempelajari cara mengintegrasikannya dengan alat lain seperti Chart.js, Leaflet, dan React, sehingga dapat diterapkan ke berbagai proyek.
  • Berorientasi praktik: Situs ini disusun dengan fokus pada praktik, sehingga Anda bisa mendapatkan pengetahuan yang langsung dapat diterapkan ke proyek nyata.
  • Hal yang perlu dipertimbangkan saat memilih teknologi: Saat memilih D3.js, perlu mempertimbangkan kompleksitas proyek, tingkat kemampuan teknis tim, dan kemudahan pemeliharaan. D3.js memang kuat, tetapi untuk visualisasi sederhana justru bisa berlebihan.

1 komentar

 
GN⁺ 2024-05-18
Opini Hacker News

Ringkasan kumpulan komentar Hacker News

  • Pengenalan Observable Plot dan Observable Framework

    • Jika Anda tertarik pada visualisasi data menggunakan D3, Observable Plot layak dicoba karena menawarkan kemudahan pada level yang lebih tinggi.
    • Observable Framework adalah generator situs statis yang mendukung Plot, D3, dan berbagai pustaka lain untuk membangun dashboard visualisasi.
    • Observable Plot
    • Observable Framework
  • Kesulitan menggunakan D3

    • Meski sudah banyak pengalaman menggunakan D3, saat memakainya lagi setelah beberapa tahun, dokumentasinya terasa membingungkan dan seperti harus mulai dari nol.
    • Memahami dokumentasi D3 terasa lebih sulit daripada menyelesaikan soal matematika.
  • Nilai mempelajari D3

    • Meski tidak menggunakan D3 secara profesional, tetap ada nilai dalam mempelajarinya.
    • Kita bisa memahami perbedaan antara proyeksi data dan data sebenarnya, serta mempelajari cara melakukan scaling.
    • Ini juga berguna saat melakukan visualisasi data di lingkungan lain, bukan hanya web.
  • Perkembangan D3.js dan alternatif modern

    • Sudah banyak proyek dikerjakan dengan D3.js, tetapi sekarang terasa agak usang.
    • Meski telah beralih ke framework modern seperti Vue 3 dan TypeScript, praktik-praktik baik yang diberikan D3.js tetap patut diapresiasi.
  • Alternatif seperti VisX

    • Setelah mempelajari D3, ada baiknya beralih ke alat yang lebih terstruktur seperti VisX.
    • D3 dan jQuery mudah berubah menjadi spaghetti code.
  • Grammar of Graphics dan ggplot2

    • D3 terinspirasi oleh Grammar of Graphics karya Wilkinson.
    • ggplot2 di bahasa R juga mendapat inspirasi yang sama dan menawarkan antarmuka yang lebih ringkas serta fungsional.
  • Masalah pada force-directed graph

    • Menyukai contoh force-directed graph di D3, tetapi ketika jumlah node dan edge bertambah banyak, susunannya menjadi kurang baik.
    • Mungkin diperlukan visualisasi 3D.
  • Sumber daya D3 yang berguna

    • Ada satu-satunya sumber yang benar-benar membantu dalam memahami D3.
    • Penulisnya responsif dan banyak membantu.
  • Pengenalan Vega

  • Kompleksitas sintaks D3

    • Visualisasi yang dibuat dengan D3 memang bagus, tetapi sintaksnya terlalu kompleks dan terasa kuno.
    • Syukurlah sekarang ada pergeseran ke pendekatan yang lebih deklaratif.