13 poin oleh GN⁺ 2025-08-04 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Ramblings (ocehan): kanal jurnal pribadi untuk tim remote

  • Untuk tim kerja jarak jauh (2–10 orang), disarankan membuat kanal Ramblings pribadi atas nama tiap anggota tim di aplikasi chat tim
  • Kanal Ramblings berfungsi seperti jurnal pribadi atau microblog di dalam tim, mendorong komunikasi yang alami tanpa mengacaukan ruang obrolan tim
  • Kanal ini digunakan sebagai tempat untuk mengunggah pikiran, ide, keseharian, umpan balik, foto perjalanan, dan lain-lain secara bebas, dengan tujuan secara alami meningkatkan ikatan sosial antarrekan tim
  • Cara mengelola kanal

    • Di setiap kanal Ramblings, hanya pemiliknya yang bisa membuat posting utama, dan rekan kerja hanya bisa membalas lewat thread (komentar)
    • Semua kanal Ramblings dikumpulkan di bagian Ramblings di bawah daftar kanal, dan secara default dalam keadaan mute (notifikasi dimatikan)
    • Rekan tim lain tidak harus membacanya; ini adalah ruang untuk sekilas melihat pikiran satu sama lain secara alami
  • Tips operasional: biasanya menulis pembaruan singkat secara bebas sekitar 1–3 kali seminggu

    • Ide yang terkait dengan proyek saat ini
    • Pemikiran tentang posting blog, artikel, atau umpan balik pengguna
    • Usulan baru tipe "bagaimana jika"
    • Berbagi foto perjalanan terbaru atau kegiatan hobi
    • Mencatat monolog ala rubber duck debugging saat proses pemecahan masalah
  • Pengalaman nyata dan dampaknya

    • Tim Obsidian mengujinya selama 2 tahun, dan ini berhasil berperan sebagai watercooler talk (obrolan santai kantor) bahkan tanpa rapat rutin
    • Sambil menjamin waktu fokus yang mendalam, kanal ini juga secara alami mendorong rasa keterhubungan dan pertukaran ide kreatif antaranggota tim
    • Melalui Ramblings, benar-benar muncul berbagai hasil kreatif seperti ide fitur, prototipe, dan solusi pemecahan masalah
    • Selain pertemuan tim luring setahun sekali, kanal Ramblings berperan sebagai penghubung antarmanusia dalam tim dan membantu memperkuat ikatan antaranggota

1 komentar

 
GN⁺ 2025-08-04
Opini Hacker News
  • Saat menangani respons DDoS di Cloudflare pada 2014, penulis banyak bertukar pertanyaan dengan rekan bernama James (Jog) dan membangun pengalaman kolaborasi bersama. Pertanyaan seperti "cara login ke server", "apa itu anycast", atau "tolong jelaskan secara spesifik bagaimana ini ditangani" terus berulang, dan ia merasa percakapan ini akan bermanfaat juga bagi karyawan baru. Topiknya beragam, mulai dari kekhawatiran terkait onboarding, workflow yang kurang dikenal, hingga konsep teoretis. Karena itu, ia mulai mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini di kanal publik internal perusahaan; awalnya dinamai “Marek's Bitching”, sebagai ruang untuk melontarkan keluhan atau pertanyaan merepotkan dengan identitas asli. Lambat laun lebih banyak rekan ikut berpartisipasi, dan nilai besar pun tercipta ketika topik teknis yang sulit dibahas di kanal lain, diskusi bebas, keraguan kecil, hingga spekulasi (misalnya verifikasi bug firmware Intel) terkumpul secara alami di sana. Belakangan namanya diubah menjadi “Marek's technical corner”, dan selama lebih dari 10 tahun kanal ini berfungsi sebagai pusat budaya teknis. Ia menekankan bahwa keberadaan “kanal milik sendiri” semacam ini, atau kanal "rambling/bitching" per tim/cabang yang memungkinkan orang bebas mengeluh, bertanya, dan berdiskusi, sangat membantu komunikasi dan pertumbuhan dalam organisasi

    • Mengungkapkan bahwa dialah James (Jog) tersebut. Saat itu banyak percakapan seru sehingga menyenangkan. Setelah itu, budaya blog internal juga terbentuk di perusahaan, sehingga alur berbagi eksperimen atau temuan secara alami menjadi sangat bermanfaat. Ia merasa berlangganan blog internal benar-benar memberinya banyak hal untuk dipelajari
    • Memahami argumen penulis, tetapi dari sudut pandang manajer, format tanya-jawab yang berpusat pada individu tertentu bermasalah dari sisi ketercarian, kemudahan ditemukan, dan karena membuat karyawan baru melihat orang tertentu seolah pusat proyek. Menurutnya ruang untuk bertanya memang harus ada, tetapi diskusi sebaiknya diarahkan ke kanal berbasis topik, bukan nama orang, agar lebih efisien. Setiap kali ada orang melempar pertanyaan teknis di kanal acak (misalnya #random, #general), ia selalu mengarahkan ke kanal per proyek. Ia menekankan perlunya kebiasaan mengumpulkan percakapan dan informasi yang relevan bagi semua orang di kanal yang paling tepat
    • Di organisasinya ada kanal yang muncul secara alami bernama "Study Hall", tempat pertanyaan teknis bisa diajukan dengan bebas tanpa kritik, dan kanal itu berjalan produktif dalam tim. Ia membagikan pengalaman bahwa ini terasa sebagai salah satu kanal chat yang paling efisien
    • Memberi tahu bahwa “Marek's technical corner” yang disebut dalam tulisan itu masih ada sampai sekarang, dan aktivitasnya masih terus berlanjut meski perlahan
    • Menyebutkan juga bahwa “Marek's technical corner” masih hidup sampai sekarang dan kadang digunakan dengan cukup aktif
  • Setelah membaca tulisan itu, ia ingin merekomendasikan pentingnya “rambling” yang mandiri dalam lingkungan kerja jarak jauh. Ia menekankan bahwa meluangkan sekitar satu jam berjalan kaki setiap pagi sangat berharga karena menciptakan batas antara perjalanan kerja dan rumah, memberi rutinitas olahraga, serta memunculkan berbagai pikiran saat berjalan

    • Ia merasa waktu mengantar anak ke sekolah pada dasarnya memainkan peran yang serupa. Kalau memungkinkan, ia mengajak putrinya jalan dengan anjing sampai halte bus, dan dulu pernah punya pengalaman berjalan pulang-pergi 45 menit ke tempat penitipan anak
    • Saat bekerja sepenuhnya remote, kadang ia menyalahkan diri sendiri dengan pikiran seperti “kenapa aku tidak menjemput anak, kalau sedang tidak enak badan aku tinggal istirahat dan kontak terputus, tidak pernah telat karena macet, juga tidak perlu sering pulang lebih awal karena urusan macam-macam”. Semua itu bisa jadi alasan yang masuk akal, tetapi mendengarnya setiap hari terasa lucu juga. Faktanya, ia puas dengan pekerjaannya dan tidak punya keinginan untuk bekerja dengan malas
    • Ia bisa membuktikan dari pengalamannya sendiri bahwa cara ini benar-benar efektif. Saat cemas di rumah, berjalan sekitar 30 menit di taman sekitar saja sudah membuat perasaannya jauh lebih baik. Ia menekankan bahwa tidak penting berapa lama berjalan; rasa lepas yang didapat dari berjalan itu sendiri sangat besar
    • Waktu terbaik dalam sehari baginya adalah sekitar pukul 10, saat memakai topi jerami, melepas baju, lalu berjalan keliling lingkungan sambil membiarkan sinar matahari menyinari seluruh tubuh. Kebebasan berjalan tanpa ponsel terasa sangat menyenangkan
  • Ia juga punya titik persetujuan dengan komentator lain, tetapi merasa pendekatan menugaskan “rambling” secara resmi justru terasa distopis. Kanal atau ruang seperti ini paling baik jika lahir secara organik dan mandiri; ketika ada pikiran yang muncul, dibagikan ke rekan yang tepat, lalu grup chat perlahan membesar, dan pembicaraan yang lebih penting meluas ke seluruh tim. Menurutnya diskusi semacam ini sehat dan mungkin penting bagi tim remote, tetapi tiap tim harus membangun cara komunikasinya sendiri secara mandiri. Ia merasa tidak perlu ada pelembagaan yang dibuat-buat

    • Dengan bercanda ia menyoroti efek samping yang bisa muncul jika dibuat ukuran kuantitatif: “Minggu ini Anda sudah mengobrol 15 kali.” “Bukannya minimum-nya 15?” “Hmm, betul itu minimum. Tapi Todd sudah ngoceh 37 kali.” “Kalau benar-benar maunya 37 kali, kenapa tidak jadikan itu angka minimumnya saja?”
    • Ia berbagi pengalaman bahwa “nasihat karier yang sensasional” seperti ini, meski berniat baik, bisa mudah dibesar-besarkan atau disalahpahami. Kadang ia melihat junior mempraktikkan tulisan seperti itu secara harfiah, lalu malah membuat rekan kerja dan manajer makin bingung. Karena itu, sebagai manajer, saat tulisan seperti ini beredar di Reddit dan sejenisnya, ia biasanya membacanya sekilas agar jika ada anggota tim yang tiba-tiba mulai berperilaku demikian, ia bisa cepat memahami latar belakangnya dan membantu meredakan situasi lebih awal
    • Ia merasa konsep “kanal” terlalu acak dan kurang cocok. Di perusahaan sebelumnya, ia memakai “Personal Space” di Confluence untuk merapikan pikiran dalam bentuk blog pribadi, dan sekarang tetap mempertahankan cara itu di perusahaan baru. Menjelang keputusan besar seperti refactoring kode, menuliskan pikirannya dalam bahasa Inggris terlebih dulu membuat semuanya jauh lebih jelas daripada hanya terpaku pada coding. Ia bisa membagikan rencananya kepada rekan tim dan menerima umpan balik. Selain itu, saat merancang algoritma baru atau metode analisis, ia memanfaatkan perangkat lunak blog yang mendukung rumus LaTeX untuk menuangkan ide dalam notasi matematika formal; proses merapikannya dalam bahasa Inggris lalu mengubahnya ke rumus sering membantu menemukan kesalahan atau asumsi yang keliru lebih awal. Ia merasa menulis di tempat semi-publik dengan cara ini sangat membantu mengurangi kesalahan dan menyusun pikiran dengan lebih terstruktur. Tidak masalah jika hanya beberapa orang di seluruh organisasi yang membacanya, karena sebelum menekan tombol publikasikan, ia punya cukup waktu untuk benar-benar berpikir, sehingga hasilnya lebih berguna secara nyata daripada sekadar “aliran pikiran”
    • Ia setuju bahwa jika aktivitas seperti ini berubah menjadi “ditugaskan untuk mengobrol” atau menjadi “metrik kinerja”, itu akan sangat buruk. Menurutnya, praktik di Obsidian muncul secara alami, dan bisa terjadi karena timnya kecil serta strukturnya datar. Ia juga berpendapat bahwa bagian yang lebih penting dari tulisan itu adalah pernyataan bahwa “kanal pada dasarnya dimute, dan tak seorang pun diwajibkan membacanya”
    • Ia berargumen bahwa tulisan ini sama sekali tidak menyiratkan kewajiban, pemaksaan, atau penugasan apa pun. Justru masalahnya adalah kanal informal bernilai tinggi seperti ini “hampir tidak pernah” muncul secara spontan
  • Ia setuju dengan gagasan bahwa kanal “ngobrol” setara dengan watercooler talk di kantor biasa. Namun secara realistis, kebanyakan tim sudah punya rapat rutin setiap hari di jadwalnya, sehingga ada risiko besar kanal ngobrol tidak muncul karena kebutuhan alami, melainkan terasa sebagai “satu hal lagi yang harus dilakukan demi pekerjaan”, dan karena itu sering tidak berjalan baik dalam praktiknya

    • Ia sendiri belum pernah memakai kanal ngobrol secara khusus, tetapi dalam keseharian justru banyak “mengobrol”. Yang paling merepotkan malah rapat rutin. Dalam rapat seperti daily, hampir tidak ada hal baru; waktu hanya terbuang untuk mengulang hal yang sudah diketahui. Hal-hal yang perlu dibicarakan biasanya langsung ia bagikan tanpa menunggu rapat. Selain itu, dalam pertemuan informal, scrum master tidak memotong bibit ide dengan mengatakan “ayo bahas ini di tempat lain”, sehingga diskusi bisa berlangsung bebas
    • Apakah kanal seperti ini bermakna atau tidak bergantung pada kematangan tim, yakni apakah tim menyadari sendiri kebutuhan akan interaksi sosial. Rapat rutin tidak otomatis menjadi watercooler talk, jadi meskipun rapat ada, kerinduan akan komunikasi sosial yang alami tetap bisa muncul
    • Tim mereka yang sepenuhnya terdistribusi menjadwalkan “rapat ngobrol” dua kali seminggu selama 15–30 menit tanpa membahas pekerjaan. Menurutnya efeknya sangat besar. Mereka juga mempertahankan kanal ngobrol terpisah di Slack yang aktif hampir sepanjang hari
    • Ia pernah bekerja di perusahaan remote setelah COVID, dan merasa meskipun ada rapat setiap hari, tetap merupakan ide bagus untuk punya ruang ngobrol tersendiri. Biasanya mereka berusaha menjaga rapat agar sebisa mungkin tetap on-topic
    • Belakangan ini, karena 30–50% waktu dalam sehari habis untuk rapat, selalu ada orang yang berulang kali berkata “ini kita bahas terpisah saja” atau “nanti kita diskusikan lagi”
  • Tim mereka juga tanpa sadar secara alami membuat ruang chat “rambling” terpisah. Di grup chat utama, terasa berat untuk mengajukan pertanyaan yang “kurang pintar” atau menyampaikan keluhan, jadi mereka membuat ruang chat kedua tanpa manajer agar bisa benar-benar meluapkan isi hati: pertanyaan sepele yang tampak bukan masalah, prosedur yang jawabannya tak diingat, keluhan yang agak kurang profesional, atau kritik spontan terhadap layanan/tool/proses. Di chat utama, setelah pertanyaan terjawab, percakapan lanjutan sering dihentikan karena dianggap mengganggu, tetapi di ruang ini tidak ada yang menghalangi dan semua orang bebas masuk lalu bicara. Menurutnya, inilah bagian terbaik, dan ruang seperti ini benar-benar dibutuhkan tim

    • Ia sengaja sering mengajukan “pertanyaan bodoh” karena selalu ada orang yang sebenarnya ingin bicara tetapi sungkan, dan dari situ diskusi yang lebih dalam juga bisa muncul
  • Dari sudut pandang skeptis, ada anggapan bahwa kanal seperti ini pada akhirnya hanya menambah bahan bacaan dan sekadar meninggalkan kesan bahwa “tim berkomunikasi dengan baik”. Upaya membangun kohesi sosial dalam tim remote memang bagus, tetapi ia tidak suka jika dicampur dengan ‘pemeriksaan komunikasi tim’ yang sangat membuatnya stres

    • Namun, ia juga menunjukkan bahwa tulisan itu secara jelas menyatakan “mute kanalnya, dan jangan berharap orang ikut berpartisipasi”
    • Membaca cepat pesan Slack yang belum dibuka sambil sikat gigi atau menunggu pembuat teh menjadi semacam hobinya. Saat sedang malas bekerja, ia memakainya seperti “Tinder untuk pekerjaan”, memproses cepat ke kategori “to-do” atau “done/ignore”
    • Ia penasaran apakah ada orang yang benar-benar menjaga inbox zero di Slack. Rasanya itu sendiri bisa menjadi pekerjaan terpisah
  • Sebagian pemimpin merasa terancam jika komunikasi di dalam tim berada di luar kendali mereka. Di bawah pemimpin seperti ini, melontarkan pendapat secara spontan di Slack atau tempat serupa bisa dicap sebagai “merusak kolaborasi” atau “orang yang mengganggu”. Padahal sebenarnya semua orang hanya berbagi inspirasi dan ide, tetapi tergantung perusahaan atau budaya, berbicara bebas bisa menjadi sesuatu yang berisiko. Pemimpin seperti ini cenderung lebih rentan dalam lingkungan remote, bahkan sampai mencari “orang bermasalah” dengan menelusuri Slack DM. Kalau memungkinkan, lebih baik cepat keluar dari organisasi semacam itu, tetapi dalam kenyataannya tidak mudah

    • Dari pengalaman langsung, ketika bertanya atau mengangkat masalah secara terbuka, di tempat yang hierarkinya sangat kuat para pemimpin merasa sangat terganggu dan menganggap orang yang aktif berkomunikasi sebagai “pembuat masalah”. Ia ingin menjadi teladan bagi junior, jadi ia sengaja lebih sering bertanya dan lebih banyak bicara, melakukan hal-hal yang dibenci para pemimpin itu, dan akhirnya dipecat. Namun sesudahnya, ia justru merasa lega dan bangga
    • Di tempat kerja sebelumnya, ia mengalami kasus manajer yang diam-diam memantau chat orang, email, dan akun lain dengan berbagai cara seperti perangkat lunak MITM dan SSL strip, lalu memanfaatkannya untuk politik kantor. Ia mendapat konfirmasi dari staf IT bahwa yang ia lihat memang benar. Bahkan para admin bisa membuka email orang lain jika diminta, dan log percakapan pun mudah dikumpulkan. Ia juga mendengar kasus kenalan yang dipecat di perusahaan terkenal lain gara-gara isi chat. Pelajarannya: jika perusahaan menyediakan software, perangkat, dan jaringan secara langsung, setiap kata memang harus dipertimbangkan dengan hati-hati
    • Dibanding percakapan offline, “meninggalkan catatan tertulis” terasa jauh lebih membebani karena nuansa dan maknanya bisa melekat lebih besar, dan kapan saja bisa diawasi. Dalam pertemuan langsung, kadang kita masih bisa membicarakan hal yang canggung, tetapi di messenger atau email, sekali tertulis jejak itu akan terus ada, sehingga tekanannya lebih besar. Ini tampaknya bukan hanya soal “CEO yang sangat suka mengontrol”, melainkan perasaan yang jauh lebih umum
  • Secara umum ia setuju dengan judulnya, tetapi cara praktik konkretnya bukan seleranya. Menurutnya cukup pilih satu kelompok kanal yang paling tepat—per tim, per proyek, per manajer, dan sebagainya—lalu mulai saja percakapannya. Kanal yang sibuk biasanya akan membangun budaya komunikasinya sendiri secara alami, dan pembicaraan kerja bisa bercampur bebas dengan foto benda aneh yang terlihat saat jalan mengajak anjing. Ada fitur “thread”, jadi lebih mudah dikelola

    • “Thread” benar-benar menjalankan peran itu dengan baik. Membuat terlalu banyak kanal terpisah justru menimbulkan kebingungan. Menurutnya ini adalah kebiasaan lama dari masa perusahaan kecil dulu ketika belum ada fitur thread
  • Ada yang penasaran apa bedanya pendekatan ini dengan kanal off-topic yang sudah ada (#general dan sebagainya). Khususnya untuk organisasi kecil beranggotakan sekitar 2–10 orang, ia merasa satu kanal off-topic saja sudah cukup tanpa perlu membuat banyak kanal “rambling”

    • Ia dengan jenaka menyebut frasa “saat menunggu Claude Code” sebagai versi modern dari konsep “mengerjakan hal lain sambil menunggu proses compile”
    • Dalam praktiknya, 1–3 postingan di 2–10 kanal pribadi justru lebih mudah dikelola daripada 30 postingan menumpuk di satu tempat. Rasa takut “jangan-jangan aku melewatkan sesuatu yang penting” jadi berkurang. Di tim mereka juga ada kanal off-topic, tetapi kanal rambling masing-masing orang jauh lebih aktif dipakai. Risikonya lebih kecil untuk membuat percakapan yang sudah ada jadi kusut, dan kesinambungan alur pikir tiap orang juga lebih terjaga
    • Sebaliknya, ada juga pendapat bahwa mengarahkan semua percakapan ke satu kanal off-topic tunggal akan jauh lebih ringan, selama timnya bukan tim yang sangat kecil
    • Ada juga pandangan bahwa pada dasarnya #general di Slack memang sudah menjalankan peran ini