Jika Anda Bekerja Jarak Jauh, Buatlah Kanal Ramblings
(stephango.com)-
Ramblings (ocehan): kanal jurnal pribadi untuk tim remote
- Untuk tim kerja jarak jauh (2–10 orang), disarankan membuat kanal Ramblings pribadi atas nama tiap anggota tim di aplikasi chat tim
- Kanal Ramblings berfungsi seperti jurnal pribadi atau microblog di dalam tim, mendorong komunikasi yang alami tanpa mengacaukan ruang obrolan tim
- Kanal ini digunakan sebagai tempat untuk mengunggah pikiran, ide, keseharian, umpan balik, foto perjalanan, dan lain-lain secara bebas, dengan tujuan secara alami meningkatkan ikatan sosial antarrekan tim
-
Cara mengelola kanal
- Di setiap kanal Ramblings, hanya pemiliknya yang bisa membuat posting utama, dan rekan kerja hanya bisa membalas lewat thread (komentar)
- Semua kanal Ramblings dikumpulkan di bagian Ramblings di bawah daftar kanal, dan secara default dalam keadaan mute (notifikasi dimatikan)
- Rekan tim lain tidak harus membacanya; ini adalah ruang untuk sekilas melihat pikiran satu sama lain secara alami
-
Tips operasional: biasanya menulis pembaruan singkat secara bebas sekitar 1–3 kali seminggu
- Ide yang terkait dengan proyek saat ini
- Pemikiran tentang posting blog, artikel, atau umpan balik pengguna
- Usulan baru tipe "bagaimana jika"
- Berbagi foto perjalanan terbaru atau kegiatan hobi
- Mencatat monolog ala rubber duck debugging saat proses pemecahan masalah
-
Pengalaman nyata dan dampaknya
- Tim Obsidian mengujinya selama 2 tahun, dan ini berhasil berperan sebagai watercooler talk (obrolan santai kantor) bahkan tanpa rapat rutin
- Sambil menjamin waktu fokus yang mendalam, kanal ini juga secara alami mendorong rasa keterhubungan dan pertukaran ide kreatif antaranggota tim
- Melalui Ramblings, benar-benar muncul berbagai hasil kreatif seperti ide fitur, prototipe, dan solusi pemecahan masalah
- Selain pertemuan tim luring setahun sekali, kanal Ramblings berperan sebagai penghubung antarmanusia dalam tim dan membantu memperkuat ikatan antaranggota
1 komentar
Opini Hacker News
Saat menangani respons DDoS di Cloudflare pada 2014, penulis banyak bertukar pertanyaan dengan rekan bernama James (Jog) dan membangun pengalaman kolaborasi bersama. Pertanyaan seperti "cara login ke server", "apa itu anycast", atau "tolong jelaskan secara spesifik bagaimana ini ditangani" terus berulang, dan ia merasa percakapan ini akan bermanfaat juga bagi karyawan baru. Topiknya beragam, mulai dari kekhawatiran terkait onboarding, workflow yang kurang dikenal, hingga konsep teoretis. Karena itu, ia mulai mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini di kanal publik internal perusahaan; awalnya dinamai “Marek's Bitching”, sebagai ruang untuk melontarkan keluhan atau pertanyaan merepotkan dengan identitas asli. Lambat laun lebih banyak rekan ikut berpartisipasi, dan nilai besar pun tercipta ketika topik teknis yang sulit dibahas di kanal lain, diskusi bebas, keraguan kecil, hingga spekulasi (misalnya verifikasi bug firmware Intel) terkumpul secara alami di sana. Belakangan namanya diubah menjadi “Marek's technical corner”, dan selama lebih dari 10 tahun kanal ini berfungsi sebagai pusat budaya teknis. Ia menekankan bahwa keberadaan “kanal milik sendiri” semacam ini, atau kanal "rambling/bitching" per tim/cabang yang memungkinkan orang bebas mengeluh, bertanya, dan berdiskusi, sangat membantu komunikasi dan pertumbuhan dalam organisasi
Setelah membaca tulisan itu, ia ingin merekomendasikan pentingnya “rambling” yang mandiri dalam lingkungan kerja jarak jauh. Ia menekankan bahwa meluangkan sekitar satu jam berjalan kaki setiap pagi sangat berharga karena menciptakan batas antara perjalanan kerja dan rumah, memberi rutinitas olahraga, serta memunculkan berbagai pikiran saat berjalan
Ia juga punya titik persetujuan dengan komentator lain, tetapi merasa pendekatan menugaskan “rambling” secara resmi justru terasa distopis. Kanal atau ruang seperti ini paling baik jika lahir secara organik dan mandiri; ketika ada pikiran yang muncul, dibagikan ke rekan yang tepat, lalu grup chat perlahan membesar, dan pembicaraan yang lebih penting meluas ke seluruh tim. Menurutnya diskusi semacam ini sehat dan mungkin penting bagi tim remote, tetapi tiap tim harus membangun cara komunikasinya sendiri secara mandiri. Ia merasa tidak perlu ada pelembagaan yang dibuat-buat
Ia setuju dengan gagasan bahwa kanal “ngobrol” setara dengan watercooler talk di kantor biasa. Namun secara realistis, kebanyakan tim sudah punya rapat rutin setiap hari di jadwalnya, sehingga ada risiko besar kanal ngobrol tidak muncul karena kebutuhan alami, melainkan terasa sebagai “satu hal lagi yang harus dilakukan demi pekerjaan”, dan karena itu sering tidak berjalan baik dalam praktiknya
Tim mereka juga tanpa sadar secara alami membuat ruang chat “rambling” terpisah. Di grup chat utama, terasa berat untuk mengajukan pertanyaan yang “kurang pintar” atau menyampaikan keluhan, jadi mereka membuat ruang chat kedua tanpa manajer agar bisa benar-benar meluapkan isi hati: pertanyaan sepele yang tampak bukan masalah, prosedur yang jawabannya tak diingat, keluhan yang agak kurang profesional, atau kritik spontan terhadap layanan/tool/proses. Di chat utama, setelah pertanyaan terjawab, percakapan lanjutan sering dihentikan karena dianggap mengganggu, tetapi di ruang ini tidak ada yang menghalangi dan semua orang bebas masuk lalu bicara. Menurutnya, inilah bagian terbaik, dan ruang seperti ini benar-benar dibutuhkan tim
Dari sudut pandang skeptis, ada anggapan bahwa kanal seperti ini pada akhirnya hanya menambah bahan bacaan dan sekadar meninggalkan kesan bahwa “tim berkomunikasi dengan baik”. Upaya membangun kohesi sosial dalam tim remote memang bagus, tetapi ia tidak suka jika dicampur dengan ‘pemeriksaan komunikasi tim’ yang sangat membuatnya stres
Sebagian pemimpin merasa terancam jika komunikasi di dalam tim berada di luar kendali mereka. Di bawah pemimpin seperti ini, melontarkan pendapat secara spontan di Slack atau tempat serupa bisa dicap sebagai “merusak kolaborasi” atau “orang yang mengganggu”. Padahal sebenarnya semua orang hanya berbagi inspirasi dan ide, tetapi tergantung perusahaan atau budaya, berbicara bebas bisa menjadi sesuatu yang berisiko. Pemimpin seperti ini cenderung lebih rentan dalam lingkungan remote, bahkan sampai mencari “orang bermasalah” dengan menelusuri Slack DM. Kalau memungkinkan, lebih baik cepat keluar dari organisasi semacam itu, tetapi dalam kenyataannya tidak mudah
Secara umum ia setuju dengan judulnya, tetapi cara praktik konkretnya bukan seleranya. Menurutnya cukup pilih satu kelompok kanal yang paling tepat—per tim, per proyek, per manajer, dan sebagainya—lalu mulai saja percakapannya. Kanal yang sibuk biasanya akan membangun budaya komunikasinya sendiri secara alami, dan pembicaraan kerja bisa bercampur bebas dengan foto benda aneh yang terlihat saat jalan mengajak anjing. Ada fitur “thread”, jadi lebih mudah dikelola
Ada yang penasaran apa bedanya pendekatan ini dengan kanal off-topic yang sudah ada (#general dan sebagainya). Khususnya untuk organisasi kecil beranggotakan sekitar 2–10 orang, ia merasa satu kanal off-topic saja sudah cukup tanpa perlu membuat banyak kanal “rambling”