3 poin oleh GN⁺ 2025-08-15 | Belum ada komentar. | Bagikan ke WhatsApp
  • Kenaikan tarif streaming dan berkurangnya pilihan konten membuat karya yang diinginkan semakin sulit ditemukan di layanan legal, sehingga makin banyak penonton beralih kembali ke VPN dan streaming ilegal
  • Swedia adalah kampung halaman The Pirate Bay dan Spotify, dan pernah mengalami peralihan dari pembajakan ke streaming legal, tetapi belakangan tingkat pembajakan kembali meningkat
  • Saat ini tarif Netflix telah melampaui 199 krona per bulan (£15), penonton perlu berlangganan beberapa layanan untuk menonton konten yang sama, dan bahkan pada paket berbayar pun iklan tetap muncul, menandakan fenomena ‘enshittification’ yang makin parah
  • Per 2023, 96% pembajakan TV dan film terjadi melalui streaming tanpa izin, dan pada 2024 jumlah kunjungan ke situs pembajakan di seluruh dunia naik menjadi 216 miliar kali
  • Seperti dikatakan salah satu pendiri Valve, Gabe Newell, masalahnya bukan harga, melainkan kualitas layanan, dan studio perlu memulihkan aksesibilitas serta interoperabilitas

Perubahan layanan streaming dan kebangkitan kembali konten bajakan

Munculnya layanan streaming dan menurunnya pembajakan

  • Dulu, di situs torrent seperti The Pirate Bay, orang bisa dengan mudah mendapatkan semua konten yang diinginkan, mulai dari musik, film, hingga serial
  • Seiring meluasnya penggunaan smartphone, layanan streaming resmi seperti Spotify muncul dan pengguna beralih ke model menonton iklan atau membayar biaya langganan kecil
  • Netflix juga menawarkan konten utama dengan harga terjangkau, sehingga penggunaan konten bajakan cepat menurun
  • Swedia adalah negara tempat inovasi terjadi baik dalam unduhan ilegal maupun industri streaming

Fragmentasi layanan streaming dan keluhan pengguna

  • Dalam beberapa tahun terakhir, biaya langganan Netflix naik tajam, dan konten yang diinginkan tersebar di berbagai platform seperti HBO Max, Disney+, Apple TV+
  • Bahkan anggota berbayar yang sudah membayar langganan tetap harus menonton iklan, atau menghadapi berbagai pembatasan wilayah dan kerepotan menggunakan VPN
  • Rata-rata rumah tangga di Eropa menghabiskan lebih dari 700 euro per tahun (sekitar 600 ribu won) untuk tiga layanan VOD atau lebih
  • Banyak pengguna mengalami bahwa meskipun biaya terus meningkat, aksesibilitas konten justru menurun

Realitas kebangkitan unduhan ilegal dan trennya

  • Sebagian pengguna tidak pernah benar-benar berhenti menonton konten bajakan, dan belakangan akses ke stream ilegal meningkat melalui platform streaming tidak resmi atau add-on komunitas
  • Cara berbasis unduhan kini memiliki hambatan masuk yang lebih tinggi, tetapi untuk streaming ilegal, pengguna tetap memakainya meski harus menerima paparan iklan
  • Menurut riset MUSO, per 2023, 96% penayangan bajakan TV/film berbasis streaming
  • Jumlah kunjungan ke situs ilegal melonjak dari 130 miliar kali pada 2020 menjadi 216 miliar kali pada 2024
  • Dalam statistik terbaru Swedia, 25% mengaku menggunakan konten bajakan, dan mayoritas di antaranya berusia 15-24 tahun

Penurunan kualitas layanan dan kelangkaan konten yang dibuat-buat

  • Salah satu pendiri Valve, Gabe Newell, mengatakan, "masalah pembajakan bukan soal harga, melainkan soal layanan"
  • Para penyedia streaming memperkuat eksklusivitas konten dan kontrol atas pengguna masing-masing, sehingga menciptakan kelangkaan secara artifisial
  • Pembatasan bitrate, masalah kompatibilitas browser, dan hal serupa menurunkan pengalaman pengguna
  • Akibatnya, pengguna tidak bisa menonton semuanya di satu tempat, sementara biaya langganan dan stres terus bertambah

Implikasi dan masa depan

  • Digitalisasi data menjanjikan 'kelimpahan', tetapi kenyataannya pemecahan konten secara artifisial dan kenaikan biaya justru menurunkan kepuasan pengguna
  • Ini memberi pelajaran bahwa layanan streaming perlu memulihkan aksesibilitas, interoperabilitas, dan inovasi layanan yang berpusat pada pengguna
  • Seperti keluarga Medici pada masa lalu yang menekankan jaringan berbasis aksesibilitas dan kepercayaan, industri konten media saat ini juga perlu menerima pelajaran yang sama
  • Kembalinya penonton ke pembajakan bukan sekadar bentuk pembangkangan, melainkan reaksi terhadap fragmentasi layanan dan penurunan kualitas

Belum ada komentar.

Belum ada komentar.