AI menyediakan ‘efek Dunning-Kruger’ sebagai layanan
(christianheilmann.com)- Efek Dunning-Kruger adalah bias kognitif ketika seseorang yang kurang mampu melebih-lebihkan kemampuannya sendiri, dan ini terhubung dengan budaya terlalu percaya diri yang merajalela di seluruh industri teknologi
- Ketika peluncuran cepat dan pertumbuhan yang berpusat pada metrik ditekankan, budaya gengsi kosong dan pencapaian yang dibesar-besarkan ala ‘Fake it till you make it’ pun menyebar
- Chatbot AI menyajikan jawaban yang salah dengan nada penuh percaya diri, sementara fokusnya diarahkan untuk meningkatkan lama keterlibatan pengguna alih-alih akurasi
- AI generatif memberi ilusi bahwa siapa pun bisa menjadi seniman atau pengembang, tetapi pada kenyataannya justru melemahkan proses belajar keterampilan dan proses berkarya
- Tindakan kreatif manusia yang tidak sempurna tetap bernilai, dan kita perlu menjaga kreativitas manusia yang tidak bisa digantikan mesin
Asal-usul dan makna efek Dunning-Kruger
- Pada tahun 1995 di Pittsburgh, terjadi kasus dua perampok bank yang percaya bahwa mengoleskan jus lemon ke wajah akan membuat mereka tidak terlihat kamera
- Kasus ini menjadi contoh khas kepercayaan diri berlebihan yang tidak menyadari ketidaktahuannya sendiri, dan memicu penelitian psikolog Justin Kruger dan David Dunning
- Hasil penelitian menunjukkan adanya efek Dunning-Kruger, yaitu ketika orang yang kurang mampu melebih-lebihkan kemampuannya sendiri
- Ini adalah konsep yang berlawanan dengan impostor syndrome, yang berarti kecenderungan menganggap diri sebagai ahli jauh melampaui kemampuan sebenarnya
Budaya terlalu percaya diri di industri teknologi
- Dalam beberapa tahun terakhir, industri teknologi makin menjadikan peluncuran cepat dan pertumbuhan eksplosif sebagai tolok ukur keberhasilan
- “Fake it till you make it” digunakan sebagai nasihat tanpa ironi, dan membesar-besarkan hasil serta pamer dianggap sebagai strategi
- KPI dan OKR digunakan sebagai sarana mengekspresikan ambisi alih-alih tujuan yang nyata
- Persaingan promosi dan obsesi pada ‘growth mindset’ mendorong promosi diri yang berlebihan
- Perkataan dan perilaku para politisi mengingatkan pada gaya pamer Muhammad Ali atau rapper era 70–80-an
‘Meniru pengetahuan’ oleh chatbot AI
- Chatbot AI dengan percaya diri memberikan jawaban yang salah, lalu membungkus kesalahan itu dengan bahasa yang menyanjung agar pengguna merasa senang
- Tujuan sistemnya bukan memberikan jawaban yang akurat, melainkan menambah waktu pengguna bertahan
- Akibatnya, struktur yang terbentuk lebih memprioritaskan mempertahankan interaksi daripada pengetahuan
AI generatif dan ‘menjadi jenius tanpa usaha’
- AI generatif menawarkan ilusi bahwa siapa pun bisa menjadi seniman, penulis, atau pengembang
- Hal seperti ‘Vibe coding’ mendekati proses ini dengan fokus pada hasil akhir, bukan penguasaan keterampilan
- Pengguna dapat menghasilkan karya hanya dengan memasukkan prompt, tanpa belajar atau memahami
- Arus seperti ini mendorong terlalu percaya diri dan kreasi yang dangkal, serta membawa orang ke wilayah Dunning-Kruger
Nilai dan pemulihan kreativitas manusia
- Kecenderungan untuk menganggap usaha dan trial-and-error manusia sebagai sesuatu yang ‘tidak efisien’ makin meluas
- Namun, ketidaksempurnaan dan kesalahan dalam berkarya adalah inti dari kemanusiaan, yakni nilai yang tidak bisa digantikan mesin
- Seperti kalimat Leonard Cohen yang dikutip, cahaya masuk melalui celah dan cacat
- Meski tidak sempurna, makna dari hasil yang dibuat sendiri tetap besar, dan kesenangan dalam berkarya itu sendiri lebih penting daripada penilaian orang lain
- Meski masyarakat, politik, dan media sosial mengalir ke arah ilusi dan kompetisi angka alih-alih refleksi intelektual, kelanjutan kreativitas personal tetap diperlukan
“Bahkan jika Anda merasa karya Anda belum cukup baik, itu tetap berharga”
Belum ada komentar.