14 poin oleh GN⁺ 2025-12-10 | Belum ada komentar. | Bagikan ke WhatsApp
  • Vibe coding memang benar-benar bekerja dengan baik, tetapi karena menghasilkan kode yang bahkan tidak sepenuhnya dipahami oleh penulisnya sendiri, kesenangan hakiki dari pemrograman pun berkurang
  • Semua bahasa pemrograman pada dasarnya adalah alat yang dirancang untuk kenyamanan manusia, bukan mesin, dan keunggulan seperti keamanan, abstraksi, serta keterbacaan pada akhirnya adalah struktur untuk membantu manusia berpikir
  • Kalau begitu, apakah kode yang ditulis AI benar-benar masih memerlukan bahasa yang ramah manusia?, muncul usulan tentang VOPL (Vibe-Oriented Programming Language), yakni bahasa baru yang ramah mesin dan berpusat pada AI
  • Bahasa ini dapat mencakup berbagai kemungkinan, seperti pseudocode yang dapat dieksekusi, perluasan dari literate programming, atau bentuk berbasis bahasa alami dengan tata bahasa tertentu
  • Seperti pada masa awal stored-program computer, penolakan terhadap paradigma komputasi baru adalah sejarah yang terus berulang, dan vibe coding mungkin saja menjadi tahap berikutnya dalam arus tersebut

Ketegangan antara pemrograman dan vibe coding

  • Bagi penulis, pemrograman adalah kesenangan, bukan pekerjaan, dan telah menjadi objek gairah sejak akhir 1990-an
    • Ia telah mengajar pemrograman selama 25 tahun, dan hal yang paling ia banggakan adalah mengubah orang non-teknis menjadi programmer
  • Saat memrogram, ia sangat menghargai kenikmatan memahami sendiri proses pemecahan masalah
  • Sebaliknya, vibe coding adalah proses ketika AI menulis kode sebagai gantinya, sehingga penulis berada dalam kondisi tidak sepenuhnya memahami hasilnya
    • Rasanya seperti sedang “cheating” (meski tidak sesederhana itu), namun lebih tepatnya menimbulkan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan
    • Ini terasa seperti merampas banyak kesenangan dari kegiatan coding itu sendiri
  • Meski begitu, vibe coding bekerja cukup baik hingga mampu menghasilkan sistem nyata dengan kualitas tinggi
    • Bukan sekadar menggantikan pencarian, tetapi juga menyelesaikan secara tepat masalah yang sebenarnya malas kita tangani sendiri
    • AI lebih mahir daripada manusia dalam melacak error dan mengelola memori, dan penulis berulang kali terkejut oleh hasil yang muncul saat ia melemparkan ide program ke AI

Bahasa pada dasarnya adalah alat untuk manusia

  • Seperti dalam Structure and Interpretation of Computer Programs karya Abelson & Sussman, bahasa pemrograman adalah sarana ekspresi untuk manusia
    • Kode adalah “sesuatu yang dibaca manusia”, dan mesin tidak membutuhkan keterbacaan
  • Semua bahasa pemrograman dirancang sebagai media untuk membantu cara berpikir dan berekspresi manusia
    • Keamanan di Rust, abstraksi di C++, konkurensi di Go, semuanya adalah fitur untuk kenyamanan manusia, bukan mesin
    • Pengelolaan memori, konkurensi, dan type safety hanyalah abstraksi untuk membantu struktur berpikir manusia
  • Karena itu, di era ketika AI menulis kode, desain bahasa yang berpusat pada manusia bisa jadi menjadi tidak diperlukan

Jadi, apakah AI membutuhkan bahasa seperti ini? : makna dari usulan “lakukan vibe coding dengan C”

  • Dalam vibe coding, manusia sudah menulis program dalam kondisi tidak sepenuhnya memahami seluruh kode
    • Dalam situasi seperti ini, alasan untuk mempertahankan sintaks yang ramah manusia menjadi lebih lemah
    • Alih-alih bahasa yang ramah manusia, bisa jadi lebih masuk akal untuk menulis langsung dengan bahasa yang ramah mesin (C atau assembly)
  • AI dapat menangani undefined behavior, dealokasi memori, off-by-one, dan sebagainya di C dengan lebih presisi daripada manusia
    • Seperti compiler yang lebih pandai melakukan optimisasi, AI juga menunjukkan kemampuan pengelolaan eksekusi kode yang lebih akurat daripada manusia
  • Maka pertanyaannya: bukankah kita membutuhkan bahasa yang lebih cocok digunakan AI?
    • Mengapa harus melakukan vibe coding dengan bahasa “berpusat pada manusia” seperti Python, Rust, atau C++?

Usulan VOPL (Vibe-Oriented Programming Language)

  • Jika ada bahasa yang sejak awal diasumsikan untuk vibe coding, kita bisa membayangkan kemungkinan seperti berikut
    • Bahasa tingkat sangat tinggi yang mendekati pseudocode yang dapat dieksekusi
    • Seperti bentuk sempurna dari literate programming, manusia hanya menulis deskripsi dan AI menghasilkan kode mesin
    • Struktur yang terlihat seperti bahasa alami, tetapi memiliki “ungkapan idiomatik” tertentu
    • Konsep seperti ekspresi konkurensi berbasis istilah sehari-hari (slang) alih-alih istilah seperti goroutine
  • Arah yang dibayangkan adalah merancang sistem ekspresi yang berpusat pada mesin agar AI dapat memahami masalah secara tepat dan cepat menghasilkan kode yang dapat dijalankan
  • Memang ada persoalan tentang bagaimana mengajarkan bahasa baru kepada AI, tetapi saat ini pun banyak developer sudah melemparkan pseudocode ke AI dan membuat kode lewat percakapan
    Ada kemungkinan bahwa semacam VOPL sebenarnya sudah sedang dipelajari

Perubahan pada tindakan memrogram

  • “Menulis kode dengan tangan” di masa depan mungkin akan diperlakukan dalam pendidikan vibe coder seperti pendidikan dasar ala Montessori
    • Mirip seperti latihan menggambar tangan sebelum Photoshop, atau latihan menyelesaikan persamaan di atas kertas yang tetap bertahan di kurikulum meski sudah ada kalkulator elektronik
  • Penolakan terhadap datangnya paradigma baru telah berulang kali terjadi dalam sejarah
    • Contoh penolakan pada masa awal penerapan stored-program computer (ENIAC → EDVAC)
    • Bahkan Grace Hopper pun pernah melawan kritik bahwa “mesin tidak bisa menulis perintah untuk mesin”

Pesan penutup

  • Vibe coding sudah menjadi kenyataan, dan pengembangan di masa depan bisa menuntut perancangan ulang bahasa itu sendiri
  • Dari era bahasa yang berpusat pada manusia, mungkin sudah saatnya secara serius membahas kemungkinan peralihan ke bahasa yang berpusat pada AI

“Same vibe, as the kids say.” — Kalau pakai istilah anak zaman sekarang, vibe-nya sama.

Belum ada komentar.

Belum ada komentar.