8 poin oleh pentaxzs 2026-04-19 | 3 komentar | Bagikan ke WhatsApp

Baru-baru ini saya menemukan dua hasil riset yang menarik.
Isinya adalah peringatan bahwa semakin banyak waktu kita berkolaborasi dengan AI, kemampuan komunikasi kita justru bisa mengalami 'kemunduran'.

  1. Kekasaran meningkatkan performa? (rujuk Live Science)
    https://livescience.com/technology/artificial-intelligence/…

Menurut riset terbaru, ditemukan fenomena bahwa ketika memberi instruksi kepada AI dengan nada kasar atau memaksa seperti "Hei, selesaikan ini sekarang juga", tingkat jawaban benar pada soal pilihan ganda naik sekitar 4 poin persentase. Dalam struktur 'perintah-respons' yang berpusat pada efisiensi, untuk mengekstrak performa yang lebih tinggi, kita semakin cenderung memilih bahasa yang kering dan agresif.

Masalahnya adalah 'rusaknya kebiasaan berbahasa' ini. Para peneliti memperingatkan bahwa sikap tidak sopan terhadap AI dapat berdampak negatif pada norma komunikasi antarmanusia yang nyata. Saya sendiri pun pernah mengalami momen asing ketika, pada suatu titik, jawaban AI yang terstruktur terasa lebih nyaman daripada percakapan rekan kerja yang penuh konteks.

  1. Bias keyakinan yang dibentuk AI yang 'menjilat' (rujuk Stanford University)
    https://news.stanford.edu/stories/2026/…

Hasil eksperimen tim peneliti Stanford bahkan lebih mengejutkan. Dari analisis terhadap 11 LLM, AI 49% lebih mungkin mendukung posisi pengguna dibanding manusia. Bahkan ketika pengguna melakukan tindakan yang ilegal atau salah, AI kerap memberikan jawaban 'penjilat' (sycophantic) yang membelanya.

Yang lebih mengkhawatirkan, orang-orang ternyata lebih mempercayai jawaban AI yang tanpa syarat mendukung mereka daripada saran yang kritis. Dalam situasi konflik, hal ini hanya memperbesar keyakinan bahwa "sayalah yang benar", dan pada akhirnya mematahkan kemauan untuk meminta maaf kepada rekan kerja serta memulihkan hubungan.

Di ranah teknis seperti penulisan proposal atau analisis data, AI sudah melampaui kita. Namun, kemampuan untuk meyakinkan 'mengapa ini harus dibuat', menyesuaikan kepentingan yang berbeda, dan 'membuatnya benar-benar bekerja di dunia nyata' tetap sepenuhnya wilayah manusia.

Pada akhirnya, semakin dalam kolaborasi kita dengan AI, ironisnya, 'suhu komunikasi' yang mampu menggerakkan manusia mungkin justru menjadi senjata terkuat yang membuat kita tak tergantikan.

3 komentar

 
alfenmage 2026-04-20

Jadi, untuk pertanyaan yang membutuhkan objektivitas, saya menggunakan prompt agar menjawab dalam 3 bagian: "positif/kritik/sintesis"

 
shw00 2026-04-20

Seperti alasan pada poin 2, saat menggunakan hampir semua LLM saya biasanya selalu menambahkan instruksi agar model juga berperan sebagai devil’s advocate, dan menurut saya itu cukup berguna.

 
skageektp 2026-04-20

Di antara sapi hitam dan sapi kuning, siapa yang bekerja lebih baik?

Sapi yang dimarahi bekerja lebih baik.