- Dengan bertanya kepada GPT-4 tentang teori terpadu untuk pengembangan perangkat lunak, diperoleh 10 Tenet (doktrin) dan diminta juga contoh-contoh praktiknya
- Jika bahasa pemrograman dibuat berdasarkan ide ini, seperti apa sintaksnya?
- Bahasa ini, yang dinamai langsung oleh GPT-4 sebagai "TenetLang", menggabungkan sintaks Python dengan fitur bahasa fungsional/berorientasi objek
- Scoping berbasis indentasi yang mirip dengan Python
- Pengetikan kuat melalui type inference ala TypeScript & Kotlin
- First-class function dan closure yang mirip dengan Javascript
- Struktur data immutable sebagai default, dengan opsi mutable
- Sintaks lambda yang ringkas untuk fungsi anonim
- Pattern matching dan destructuring ala Haskel & Rust
- Dukungan konkurensi bawaan melalui async/await dan lightweight thread
- FFI(Foreign Function Interface) untuk interoperabilitas dengan bahasa lain
- Bagaimana jika ini ditingkatkan agar cocok untuk komputasi terdistribusi?
- Mendukung komunikasi asinkron dan non-blocking melalui actor ringan ala Erlang dan Akka serta algoritme message passing bawaan
- Library atau framework bawaan yang mendukung protokol RPC populer seperti gRPC dan Apache Thrift
- Serialization & deserialization melalui format seperti JSON, BSON, dan Protocol Buffers
- Dukungan struktur data terdistribusi seperti Distributed Hash Tables(DTHs) atau database terdistribusi untuk berbagi dan memanipulasi data antar banyak node
- Mendukung fault tolerance melalui supervision tree, retry otomatis, timeout, dan lain-lain
- Menambahkan fitur tingkat bahasa agar LLM seperti GPT-3 atau ChatGPT mudah diintegrasikan
- Bahkan menanyakan cara untuk mengintegrasikan sistem seperti ini langsung di level bahasa
- Juga menanyakan fitur tambahan yang ingin disertakan: pelengkapan otomatis di IDE, alat refactoring, terjemahan code-to-code, desain berbasis pengenalan pola, dll.
- Juga menanyakan cara mengimplementasikan fitur-fitur tersebut
- 10 Tenet: Modularity, Abstraction, Scalability, Maintainability, Testability, Adaptability, Performance, Security, Collaboration, Continuous improvement
1 komentar
Agar benar-benar praktis, sepertinya AI juga harus bisa membuat compiler. Kalau begitu, apakah itu akan menjadi singularitas lain?