- Riset yang dipublikasikan oleh Jan Strehmel, mahasiswa di Institute of Theoretical Computer Science, Karlsruhe Institute of Technology.
- Mengumpulkan lebih dari 3.800 repositori yang mengandung umpatan dan lebih dari 7.600 repositori tanpa umpatan.
- Kualitas kode diukur menggunakan SoftWipe, alat pengukur kualitas kode C/C++, lalu dianalisis dengan berbagai metode statistik.
- Hasilnya menunjukkan bahwa kualitas kode yang mengandung umpatan rata-rata lebih tinggi.
- Hipotesisnya, penggunaan umpatan menunjukkan keterlibatan emosional terhadap kompleksitas kode dan mendorong analisis kode yang lebih kritis sehingga menghasilkan kode yang lebih baik.
- Namun, dalam telaah penelitian disebutkan bahwa hubungan antara umpatan dan kualitas kode sulit dibuktikan, serta representativitas riset ini dinilai kurang memadai.
11 komentar
Ini mengingatkan saya pada kode algoritma perhitungan vektor di Quake.
float Q_rsqrt( float number )
{
long i;
float x2, y;
const float threehalfs = 1.5F;
x2 = number * 0.5F;
y = number;
i = * ( long * ) &y; // peretasan level bit floating point yang jahat
i = 0x5f3759df - ( i >> 1 ); // apaan sih?
y = * ( float * ) &i;
y = y * ( threehalfs - ( x2 * y * y ) ); // iterasi ke-1
// y = y * ( threehalfs - ( x2 * y * y ) ); // iterasi ke-2, ini bisa dihapus
return y;
}
Bertentangan dengan anggapan umum bahwa "kalau pandai memaki berarti tidak mendapat pendidikan yang layak", sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang fasih menggunakan kata-kata kasar cenderung memiliki kosakata yang relatif lebih baik." - https://www.mk.co.kr/news/society/7115122
Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang pandai memaki memiliki kosakata yang luas. Jika ada orang yang hanya memakai ungkapan 'tidak' dan ada orang yang bisa membedakan lalu memakai 'tidak' dan 'tidak sialan', yang terakhir memang tampaknya punya kosakata dan daya ekspresi yang lebih baik.
Setelah membaca artikel ini, saya menyeragamkan jenis commit pada pesan commit dari
feat:menjadi kata berawalan f.Bukankah itu karena kodenya ditulis oleh orang yang begitu hebat sampai saat melihat kode rekan kerja pun dia tak bisa menahan diri untuk memaki?
Atau mungkin karena kodenya ditulis oleh orang yang cukup jago sampai-sampai tak ada yang bisa protes meski dia menyisipkan umpatan di dalam kode wkwk
Saya juga berpikir begitu. Pada level biasa-biasa saja, rasanya mana berani menulis makian di komentar... sepertinya orang akan menyensor dirinya sendiri. Sepertinya hanya segelintir programmer yang sangat hebat, yang entah kurang bisa menahan diri atau sengaja tidak menahan diri, yang akan meninggalkan umpatan. Kalau melihat komentar aslinya, ada juga penyebutan Torvalds wkwk
Ini topik yang pasti disukai para jurnalis yang suka membuat artikel sensasional.
Ini penelitian yang agak aneh. Melihat komentar berisi kata-kata kasar rasanya bakal bikin suasana hati jadi buruk -.-;
Pada dasarnya, penelitian itu juga mengatakan bahwa memang ada korelasi antara umpatan dan kualitas kode, tetapi tidak ada hubungan sebab-akibat, jadi bukan berarti memaki membuat kualitas kode menjadi lebih baik.
Dan juga masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan, serta disebutkan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan.
Di Hacker News juga ada banyak perdebatan pro dan kontra. Ada yang bilang memang terasa benar begitu, ada juga yang bilang tidak...
Di antara komentarnya, ada juga yang mengatakan bahwa orang cenderung lebih sering mengumpat di lingkungan yang aman (tidak represif), dan di lingkungan seperti itu kualitas kode yang lebih baik bisa dihasilkan...
Ada juga pendapat bahwa karena mengumpat membantu meluapkan emosi, orang jadi bisa lebih fokus pada kualitas kode.
Saya tidak yakin apakah ini benar, tetapi katanya bahkan di OpenJDK juga ada umpatan.
Ringkasan AI tentang makalah
PDF ini membahas apakah penggunaan kata-kata kasar dalam kode open source berkaitan dengan kualitas kode.
Untuk menyelidikinya, penulis merayapi lebih dari 3.800 repositori C yang berisi kata-kata kasar dan lebih dari 7.600 repositori C tanpa kata-kata kasar dari GitHub.
Penulis menggunakan alat bernama SoftWipe untuk mengukur kualitas kode repositori berdasarkan kepatuhan terhadap standar pengodean.
Berdasarkan verifikasi statistik, hasilnya menunjukkan bahwa repositori yang mengandung kata-kata kasar memiliki skor kualitas kode yang jauh lebih tinggi dibandingkan repositori tanpa kata-kata kasar.
Penulis mengajukan hipotesis bahwa penggunaan kata-kata kasar menunjukkan keterlibatan emosional programmer dan analisis kode yang lebih menyeluruh, sehingga menghasilkan kualitas yang lebih baik.
Namun, penulis mengakui bahwa korelasi tidak berarti kausalitas, dan kata-kata kasar tidak secara otomatis meningkatkan kualitas kode.
Studi ini memberikan hasil awal yang menarik, tetapi penulis menyebutkan bahwa memperoleh dataset yang lebih besar (termasuk kode C++ dan identifikasi kata-kata kasar yang lebih akurat),
serta menyelidiki lebih rinci pengaruh jumlah baris kode, jumlah bintang, dan jumlah kata-kata kasar terhadap hasil kualitas kode, dapat memberikan wawasan lebih lanjut.
Singkatnya, temuan utama studi ini adalah ditemukannya korelasi yang signifikan secara statistik antara penggunaan kata-kata kasar dan skor kualitas kode yang tinggi dalam kode C open source.
Namun, penulis memperingatkan bahwa penelitian tambahan diperlukan untuk lebih memahami alasan di balik korelasi ini dan implikasi praktisnya.
Mungkin karena budaya utama C adalah budaya kritik yang agresif.