- Di industri teknologi, ada kecenderungan untuk terobsesi pada alat dan gawai baru
- Namun, keahlian sejati dan kesuksesan lahir dari pengembangan kemampuan dan pola pikir, bukan hanya bergantung pada alat
- Para profesional memahami pentingnya mengasah kemampuan sendiri dan berfokus pada dasar-dasar, terlepas dari ada atau tidaknya alat
- Bruce Lee: "Saya tidak takut pada orang yang melatih 10.000 tendangan masing-masing satu kali, tetapi saya takut pada orang yang melatih satu tendangan 10.000 kali"
- Yang membedakan profesional dan amatir adalah pemahaman mendalam terhadap prinsip-prinsip dasar serta keahlian yang diperoleh melalui latihan yang disengaja dan konsisten
- Penting untuk menahan daya tarik kebaruan dan sebaliknya berfokus pada prinsip-prinsip yang abadi serta pengejaran keahlian
- Kecerdasan buatan dapat membuat pengejaran keahlian ini menjadi semakin penting
- Daripada mengejar tren terbaru, tanyakan pada diri sendiri apakah Anda benar-benar sedang mengasah kemampuan dan mengerjakan hal yang penting
- Jangan menjadi orang yang hanya mengikuti tren; terimalah tantangan untuk mengerjakan hal-hal yang sulit
12 komentar
Terobsesi itu tidak baik wkwk
Yah, benar sih. Tapi setiap kali ada yang mau memakai alat baru, saya terlalu sering melihat orang-orang yang melontarkan logika gatekeeping seperti, “belajar dulu dasar-dasar CS atau komputasi terdistribusi dan kumpulkan pengalaman, bukannya pakai alat terbaru segala.”...
Padahal, jelas juga bahwa sambil mempelajari alat tersebut, orang bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi mahir dalam teknologi yang terkait.
Artinya, andalkan keterampilan dan pola pikir, lalu gunakan alat seperlunya.
Saya setuju dengan banyak bagiannya, tapi saya rasa saya punya perasaan yang ambivalen. Saya juga setuju bahwa kita harus berfokus pada kemahiran, tetapi saya juga sempat berpikir, bukankah penembak yang kikuk pun masih lebih baik daripada pemanah yang terampil?
Tentu saja, bodoh kalau sampai mengganti busur puluhan ribu kali hanya demi mencoba memakai busur yang lebih baik. Namun, kadang ketika sesuatu seperti senjata api muncul, untuk menumbuhkan kepekaan agar bisa mengenalinya, saya rasa kita memang tidak boleh terobsesi pada alat dan gawai, tetapi tetap perlu terus bersentuhan dengan daya tarik hal-hal baru.
.. Tetapi karena kita juga tidak mungkin menanggapi atau memeriksa semua hal baru itu, saya kembali pada pemikiran bahwa agar bisa cepat beradaptasi saat perubahan yang menentukan datang, kita tetap harus mahir dalam keterampilan dasar. Rasanya seperti berputar-putar terus. Bagaimana menurut kalian?
Bukan tentang "alat" untuk menyelesaikan masalah,
melainkan membahas "keterampilan" dan "pola pikir" untuk menyelesaikan masalah secara rasional.
Aha. Jadi ini tulisan tentang para profesional yang mengasah keterampilan dan pola pikir untuk menyelesaikan masalah secara rasional, yang tidak berubah seiring waktu. Saya mengerti.
ㅁ 'bterima kasih!Kalau pemanahnya Hawkeye...?
Kalau Hawkeye sih.... mengangguk...
Saya setuju dengan isi artikel dari sudut pandang bisnis
Pengembang adalah orang yang menciptakan nilai ekonomi melalui teknologi IT,
dan di masyarakat, para insinyur yang secara efektif meningkatkan nilai ekonomi disebut profesional terampil.
Saya rasa kemahiran yang dibicarakan dalam teks bukanlah kemahiran terhadap alat itu sendiri.
Karena ada ungkapan
"The important tools will find you.", bukankah maksudnya jika Anda memiliki kemahiran pada keterampilan dasar, Anda bisa memilih alat yang tepat pada saat yang penting?Kalau diibaratkan pemburu, berburu bisa dilakukan dengan busur maupun senapan, dan senapan tentu merupakan alat berburu yang lebih praktis, tetapi
jika sejak awal tidak punya dasar-dasar sebagai pemburu untuk menemukan buruan, melacaknya, dan menggiringnya ke posisi terpojok, maka meskipun punya kemampuan menembak untuk mengenai target dengan 50BMG dari jarak 2 km, bukankah tetap tidak akan ada kesempatan untuk menembak?
Terima kasih atas penjelasannya. (__ ) Daripada terpaku pada alat itu sendiri, kita harus mengasah keterampilan berburu dasar agar bisa menumbuhkan kejelian untuk memilih alat yang tepat dalam situasi apa pun (di kebanyakan situasi senjata api memang lebih baik, tetapi jika harus menanganinya dengan sangat senyap atau berada di daerah terpencil ekstrem sehingga pasokan tidak lancar, busur bisa jadi pilihan yang lebih baik). Itu memang terdengar jauh lebih profesional.
Pendapat Hacker News