- Artikel yang membahas kisah peringatan dari Knight Capital Group, sebuah perusahaan jasa keuangan global besar, pada 2012; sebuah contoh perusahaan bangkrut hanya dalam 45 menit akibat deployment perangkat lunak yang gagal.
- Pada 2012, Knight Capital Group adalah trader saham AS terbesar, dengan volume perdagangan harian rata-rata lebih dari 3,3 miliar transaksi dan memperdagangkan lebih dari 21 miliar dolar AS setiap hari.
- Perusahaan tersebut memperbarui SMARS, router algoritmik berkecepatan tinggi otomatis, saat bersiap meluncurkan Retail Liquidity Program baru dari NYSE.
- Pembaruan ini dimaksudkan untuk menggantikan kode lama yang tidak terpakai bernama "Power Peg", yang sudah tidak digunakan Knight selama 8 tahun.
- Kode baru dideploy secara manual ke 8 server, tetapi karena kesalahan teknisi, kode baru tidak disalin ke satu server sehingga kode lama Power Peg aktif kembali.
- Fitur Power Peg mulai melakukan routing untuk mengeksekusi child order tanpa melacak jumlah saham untuk parent order, sehingga memicu loop order tanpa akhir.
- Saat pasar dibuka, sistem Knight membanjiri pasar dengan order; sebagian saham naik lebih dari 10% dari nilainya, sementara saham lain turun akibat bereaksi terhadap perdagangan yang keliru.
- Sistem Knight mengirim 97 pesan email otomatis yang merujuk ke SMARS dan mengidentifikasi kesalahan sebagai "Power Peg disabled", tetapi pesan-pesan ini tidak dirancang sebagai peringatan sistem dan tidak segera diperiksa.
- Selama 45 menit pertama perdagangan, kode Power Peg memproses 212 parent order dan menangani 4 juta transaksi untuk 154 saham, dengan total lebih dari 397 juta saham diperdagangkan.
- Knight Capital Group mencatat kerugian 460 juta dolar AS dalam 45 menit, yang membuatnya bangkrut. Mereka mengumpulkan modal yang diperlukan untuk menutup kerugian melalui investasi 400 juta dolar AS dari setengah lusin investor.
- Artikel ini menekankan pentingnya membuat deployment sepenuhnya otomatis dan dapat diulang untuk menghindari kegagalan besar semacam ini, sebagai bagian dari rencana DevOps/Continuous Delivery.
- Penulis menyarankan bahwa rilis perangkat lunak harus menjadi proses yang dapat diulang dan andal, serta sebisa mungkin diotomatisasi untuk mengurangi risiko kesalahan manusia.
1 komentar
Komentar Hacker News