1 poin oleh GN⁺ 2023-12-04 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp

Fenomena homogenisasi font logo

  • Belakangan ini, font logo banyak perusahaan menunjukkan kecenderungan yang mirip, dan hal ini berkaitan dengan meningkatnya penggunaan font Sans-Serif.
  • Kecenderungan ini muncul di berbagai industri, mulai dari teknologi kelas atas hingga fesyen mewah, dan mencerminkan tren penyederhanaan desain logo.

Kebangkitan font logo Sans-Serif

  • Raksasa teknologi seperti Google mengadopsi font Sans-Serif pada logo mereka untuk mengekspresikan identitas merek secara ringkas.
  • Font Sans-Serif selaras dengan kecenderungan industri teknologi yang menekankan efisiensi dan kesederhanaan, sekaligus memperkuat citra yang berorientasi ke masa depan.

Sans-Serif dalam fesyen mewah

  • Di industri fesyen mewah juga muncul tren adopsi font Sans-Serif sepanjang 2010-an.
  • Merek fesyen terkenal seperti Diane von Furstenburg, Burberry, dan Balmain menghapus serif dari logo mereka dan beralih ke font Sans-Serif.

Biaya dari Sans-Serif

  • Font Sans-Serif memiliki keunggulan seperti bersih, mudah dibaca, dan cocok untuk berbagai media, tetapi homogenisasi desain dapat menimbulkan masalah dalam diferensiasi merek.
  • Dibandingkan font serif atau script, font Sans-Serif memiliki lebih sedikit elemen pembeda dalam desain, sehingga font logo berisiko menjadi saling mirip.

Sejarah singkat minimalisme

  • Popularitas font Sans-Serif selama 10 tahun terakhir berkaitan dengan tren desain minimalis, yang dipengaruhi oleh resesi ekonomi dan perubahan kecenderungan budaya.
  • Era 2010-an didefinisikan oleh semangat 'less is more', dengan kecenderungan budaya yang mengejar kesederhanaan dan efisiensi dalam desain.

Kembali ke keragaman font logo

  • Ada perdebatan apakah font Sans-Serif masih mencerminkan preferensi konsumen, atau apakah kita sedang menghadapi titik balik menuju tren font logo yang baru.
  • Seiring merek semakin berupaya membangun hubungan yang lebih manusiawi dengan konsumen, muncul kemungkinan peralihan ke font logo yang lebih mampu mengekspresikan kepribadian.

Arah desain sejauh ini

  • Font Sans-Serif masih memiliki banyak keunggulan sebagai desain yang ramah pengguna, tetapi pada 2020-an perlu dipertimbangkan pilihan font atau pendekatan pemasaran yang lebih berkarakter.
  • Merek No Name dari Kanada membangun branding yang unik dengan cara menambahkan humor pada desain logo yang biasa saja.

Opini GN⁺

Poin terpenting dalam tulisan ini adalah fenomena homogenisasi font logo dan kesulitan diferensiasi merek yang ditimbulkannya. Hal ini dapat berdampak penting pada pembangunan hubungan dengan konsumen dan pengenalan merek, sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi desainer dan manajer merek. Alasan tulisan ini menarik adalah karena dapat membantu memahami tren desain saat ini dan memprediksi strategi branding di masa depan.

1 komentar

 
GN⁺ 2023-12-04
Opini Hacker News
  • Desain mirip dengan industri mode. Banyak orang saling meniru.

    • Desain yang bagus bukan hanya enak dilihat, tetapi juga harus menonjol dari kerumunan.
    • Masalah peniruan adalah semuanya jadi terlihat sama dan tidak terasa istimewa atau mudah diingat.
    • Desain web sering cenderung biasa-biasa saja dan generik.
    • Beberapa tahun lalu, seorang desainer aplikasi memakai warna merah yang khas untuk membuat ikonnya menonjol.
  • Sebagian besar desainer menggunakan perangkat lunak dan fitur yang sama.

    • Mereka mengikuti tren, artikel internet, dan influencer kreatif yang sama, serta belajar dari mata kuliah universitas yang sama.
    • Homogenisasi meningkat di semua level.
  • Alasan font logo terlihat mirip adalah karena keterbacaan di perangkat mobile.

    • Tren ini dimulai bersamaan dengan kemunculan smartphone.
    • Merek membutuhkan tampilan yang konsisten di berbagai media.
    • Karena penjualan e-commerce di mobile menyumbang lebih dari 50% dan pemasaran media sosial menjadi penting, tanda merek harus tampil baik dalam konteks tersebut.
  • Perubahan logo Museum of Fine Arts Boston terasa disayangkan.

    • Demi meningkatkan aksesibilitas, mereka mengganti font serif yang elegan dengan sans-serif yang biasa.
    • Sans-serif hampir tidak punya makna, sehingga mudah bagi desainer untuk memberinya nilai.
    • Ini menarik bagi perusahaan-perusahaan di dunia teknologi, tetapi mengecewakan ketika institusi budaya mengambil pendekatan defensif yang sama.
  • Rekomendasi blog tentang perubahan logo.

    • Untuk membaca artikelnya harus berlangganan, tetapi hanya melihat thumbnail-nya saja sudah menarik.
  • Konten bersponsor Adobe tampak seperti contoh sempurna dari fenomena ini.

  • Hilangnya kreativitas dan individualitas merambah dari arsitektur ke situs web dan logo.

  • Ada banyak pembahasan tentang mengapa desain menjadi membosankan.

    • Saya pikir tren minimalisme adalah masalahnya.
    • Para desainer pada umumnya tidak kreatif dan mengikuti tren baru.
  • Jawaban umum dalam desain adalah campuran antara tren dan rasa takut gagal.

    • Jika membuat sesuatu mirip dengan semua orang lain, Anda tidak akan dikritik.
  • Siklus desain terlihat jelas dalam perubahan font logo perusahaan seperti Airbnb.

    • Yang baru dari siklus saat ini adalah minimalisme.
    • Pada siklus berikutnya, kita mungkin akan melihat desain yang lebih beragam, selama filosofi desain mengizinkannya.