Keterkaitan penggunaan paraquat dengan peningkatan risiko Parkinson
- Pada akhir 1980-an, Gary Munda mulai merasakan jari kelingkingnya bergetar.
- Munda menyemprotkan paraquat, herbisida yang sangat kuat, saat bekerja dari 1980 hingga 1985.
- Paraquat diproduksi oleh Syngenta, perusahaan milik pemerintah China yang berbasis di Swiss.
Bahaya paraquat dan hasil penelitian
- Paraquat dilarang di sedikitnya 58 negara, tetapi di Amerika Serikat masih menjadi herbisida yang populer.
- Menurut penelitian, paraquat dapat menembus sawar darah-otak dengan cara yang dapat memicu penyakit Parkinson.
- Sejak 2017, telah diajukan lebih dari 3.600 gugatan yang mengklaim kerugian akibat terpapar produk paraquat.
Perdebatan soal kaitan paraquat dan penyakit Parkinson
- Syngenta membantah adanya hubungan sebab-akibat bahwa paraquat menyebabkan penyakit Parkinson.
- Sejumlah ilmuwan menggunakan paraquat dalam penelitian untuk menginduksi penyakit Parkinson pada tikus laboratorium.
- Studi yang didanai NIH pada 2011 menemukan hubungan yang kuat bahwa pekerja yang terpapar paraquat memiliki risiko 250% lebih tinggi terkena Parkinson.
Risiko kesehatan dari paraquat
- Paraquat diklasifikasikan sebagai "sangat beracun" di situs Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA).
- EPA saat ini sedang meninjau kembali status persetujuan paraquat.
Perbedaan antara penelitian Syngenta dan informasi yang terungkap
- Menurut dokumen pengadilan, Syngenta selama puluhan tahun menyelidiki potensi efek samping produknya.
- Penasihat ilmiah utama Syngenta mengakui bahwa perusahaan melakukan analisis internal yang mencapai kesimpulan yang sama.
- Syngenta berupaya mengecilkan hasil penelitian bahwa paraquat menyebabkan penurunan sel dopamin pada tikus.
Upaya untuk melarang paraquat
- Organisasi seperti Earthjustice dan Michael J. Fox Foundation sedang berupaya melarang paraquat.
- Pada 2023, rancangan undang-undang untuk melarang paraquat diajukan di Amerika Serikat.
Opini GN⁺
- Artikel ini membahas hasil penelitian dan perdebatan hukum mengenai kaitan antara herbisida paraquat dan penyakit Parkinson.
- Ketegangan antara bukti ilmiah tentang bahaya paraquat dan penyangkalan dari produsennya menjadi isu penting.
- Masalah ini penting bagi kesehatan publik, terutama bagi orang-orang yang bekerja di sektor pertanian dan komunitas tempat mereka tinggal.
1 komentar
Opini Hacker News
Seorang pengguna menyebut menarik bahwa kepala komunikasi sebuah perusahaan menyatakan melalui email bahwa tidak ada analisis ilmiah yang menyimpulkan paraquat menyebabkan Parkinson. Pernyataan itu dipenuhi banyak syarat, termasuk penggunaan kata "menyimpulkan" dan pilihan frasa "menyebabkan Parkinson". Syarat-syarat ini menunjukkan bahwa perusahaan menuntut bukti yang sangat ketat.
Pengguna lain berbagi bahwa ayahnya, sebagai insinyur pertanian, pernah menangani pestisida dan herbisida, dan ia ingat ayahnya mengatakan bahwa herbisida tidak berbahaya. Namun, ayahnya pada akhirnya menderita Parkinson dan diabetes. Dijelaskan bahwa ia mengalami kematian yang menyakitkan akibat hilangnya fungsi motorik dan gangguan pencernaan karena Parkinson.
Seorang pengguna menunjukkan bahwa judul artikelnya ambigu, lalu mengusulkan judul yang lebih jelas: pekerja Amerika mengklaim mereka terkena Parkinson akibat herbisida yang dilarang di 50 negara.
Sebuah tautan dibagikan yang berisi peta penggunaan paraquat di Amerika Serikat.
Seorang pengguna berbagi bahwa anggota keluarganya meninggal karena penyakit mirip Parkinson setelah menghirup herbisida. Karena tidak ada riwayat Parkinson dalam keluarga, para dokter menyimpulkan ini sebagai penyakit yang dipicu racun.
Ada pertanyaan apakah peningkatan risiko berarti peluang sekitar 0,5%, disertai keluhan bahwa angka nyata dan garis dasarnya tidak jelas.
Disebutkan adanya klaim tentang wilayah yang disebut "sabuk Parkinson". Ini mengutip hasil penelitian yang menunjukkan prevalensi dan insidensi Parkinson lebih tinggi di wilayah Midwest dan Timur Laut Amerika Serikat.
Seorang pengguna berbagi pengalamannya mengetahui bahwa petani cenderung lebih sering terkena penyakit seperti Parkinson. Ia menyinggung toksisitas pestisida dan dampaknya yang belum diketahui, serta menjelaskan bahwa saat petani menyemprotkan pestisida dalam jumlah besar, mereka pada akhirnya akan menghirup sebagian atau terkena di kulit.