- Menurut polisi Hong Kong, seorang staf keuangan di sebuah perusahaan multinasional ditipu untuk mentransfer $25 juta kepada penipu yang menyamar sebagai chief financial officer (CFO) perusahaan dengan menggunakan teknologi deepfake
- Para penipu menipu staf keuangan tersebut melalui rapat video dengan karyawan palsu yang direkonstruksi menggunakan deepfake
- Staf keuangan itu menerima pesan dari CFO yang berbasis di Inggris yang meminta transaksi rahasia dan awalnya mencurigai phishing, tetapi kemudian mengesampingkan kecurigaannya setelah tertipu oleh wajah dan suara orang-orang yang ia kenali sebagai rekan kerja dalam rapat video tersebut
Kasus penipuan deepfake yang terjadi di Hong Kong
- Polisi Hong Kong mengumumkan bahwa baru-baru ini terjadi beberapa kasus penggunaan teknologi deepfake untuk menipu orang dan mencuri uang
- Polisi menangkap enam orang terkait kasus ini
- Polisi menyatakan bahwa antara Juli hingga September tahun lalu, 90 pengajuan pinjaman dan 54 pembukaan rekening bank dilakukan menggunakan delapan kartu identitas Hong Kong yang dilaporkan hilang
- Setidaknya dalam 20 kasus, AI deepfake meniru orang-orang pada kartu identitas untuk mengelabui program pengenalan wajah
- Penipuan yang melibatkan CFO palsu itu baru terungkap setelah staf keuangan tersebut melakukan konfirmasi dengan kantor pusat
Kekhawatiran yang meningkat secara global terhadap teknologi kecerdasan buatan
- Di seluruh dunia, kekhawatiran meningkat terhadap perkembangan teknologi deepfake dan potensi penyalahgunaannya
- Pada akhir Januari, gambar porno buatan AI dari bintang pop Amerika Taylor Swift menyebar di media sosial, menyoroti potensi berbahaya dari teknologi kecerdasan buatan
- Foto-foto penyanyi tersebut dalam pose yang bersifat sugestif secara seksual dan eksplisit ditonton puluhan juta kali sebelum dihapus dari platform sosial
Opini GN⁺
- Perkembangan teknologi deepfake menunjukkan bahwa teknologi ini dapat menjadi ancaman serius di ranah sosial dan ekonomi. Penting untuk memahami bagaimana teknologi ini dapat disalahgunakan untuk penipuan dan kejahatan
- Artikel ini meningkatkan kesadaran tentang bahaya teknologi deepfake dan menekankan mengapa individu maupun perusahaan harus memberi perhatian lebih pada keamanan
- Artikel ini akan membantu membangkitkan kewaspadaan terhadap sisi negatif dari kemajuan teknologi serta pentingnya menyiapkan langkah-langkah penanganan
1 komentar
Komentar Hacker News
Banyak hotel kelas menengah hingga atas di Amerika dimiliki oleh orang bermarga Patel yang berasal dari India.
Faktor budaya yang disebut "power distance" dapat memengaruhi penipuan semacam ini.
Di Prancis, ada karyawan yang tertipu oleh panggilan telepon yang menyamar sebagai CEO, CFO, atau pengacara lalu mentransfer uang.
Ada klaim bahwa dalam konferensi video multi-peserta, semua peserta ternyata palsu.
Seorang pekerja keuangan yang berbasis di Boston mentransfer 6 juta dolar kepada penipu pada 2023.
Ada spekulasi tentang kemungkinan CFO bekerja sama dengan pakar deepfake lalu membagi keuntungan.
Klaim bahwa semua peserta dalam konferensi video multi-peserta itu palsu kembali disebutkan.
Sulit memahami bagaimana hal seperti ini bisa terjadi di perusahaan besar.
Muncul rasa ingin tahu tentang perangkat lunak yang bisa menipu orang dengan menggunakan deepfake.
Penipuan seperti ini tampaknya terjadi karena proses perusahaan yang buruk.