- Steve Albini, produser musik legendaris dan ikon indie rock, meninggal dunia pada usia 61 tahun. Ia adalah frontman Shellac dan Big Black, serta menggarap album-album klasik dari Nirvana, Pixies, PJ Harvey, dan lainnya. Ia meninggal karena serangan jantung.
Pencapaian dan Pengaruh Steve Albini
- Albini adalah ikon indie rock sebagai produser dan musisi. Ia lebih menyukai istilah "engineer" daripada "producer".
- Ia menggarap banyak album klasik seperti Nirvana "In Utero", Pixies "Surfer Rosa", dan PJ Harvey "Rid of Me", serta hingga akhir hayatnya tetap lantang mengkritik praktik eksploitatif di industri musik.
- Daftar karya Albini sebagai audio engineer mencakup alternatif rock dalam jumlah sangat besar hingga terasa seperti membentuk satu genre tersendiri.
- Rekam jejaknya yang tak tertandingi sepanjang akhir 1980-an dan 1990-an mencakup album-album awal Jesus Lizard, Wedding Present "Seamonsters", dan Brainiac "Hissing Prigs in Static Couture".
- Ia juga menggarap karya-karya abadi di ranah singer-songwriter, termasuk Joanna Newsom "Ys", rilisan awal Nina Nastasia, dan sebagian besar karya Jason Molina.
Filsafat dan Gaya Musik Albini
- Albini mengatakan bahwa ia akan bekerja dengan artis mana pun yang membayarnya, tetapi ia dikenal lewat suara analog yang brutal dan mentah.
- Ia tidak menerima royalti apa pun dari rekaman, termasuk dari Nirvana "In Utero" yang terjual lebih dari 15 juta kopi.
- Di studio Electrical Audio, ia memberikan legal pad kuning kepada para artis dan meminta mereka menuliskan penjelasan untuk setiap lagu yang akan direkam, sebagai cara untuk menghindari kesalahpahaman di kemudian hari dan memaksimalkan waktu studio.
- Sejumlah band menceritakan pengalaman Albini membaca buku atau bermain Scrabble selama sesi rekaman. Albini menjelaskan bahwa hal itu membantunya menjaga ketajaman indra dan memperluas perspektif.
Kehidupan dan Warisan Albini
- Albini lahir di Pasadena, California, dan dibesarkan di Montana. Setelah menemukan Ramones saat remaja, ia tertarik pada skena punk Chicago ketika belajar jurnalisme di Illinois.
- Albini menuai kontroversi lewat nama band yang provokatif (Rapeman, Run Ner Run), judul lagu ("Pray I Don't Kill You Fot", "My Black Ass"), dan ucapan kasarnya.
- Ia kemudian berulang kali meminta maaf atas kontroversi masa lalunya, dan menyadari bahwa niat serta kejelasan moral saja tidaklah cukup.
- Albini juga merupakan pemain poker yang menonjol. Pada 2022, ia menjuarai turnamen WSOP H.O.R.S.E. dan membawa pulang hadiah lebih dari 190 ribu dolar, serta pada 2018 juga menang di 7 Card Stud dan memperoleh lebih dari 100 ribu dolar.
Opini GN⁺
- Kematian Albini merupakan kehilangan besar bagi skena indie rock. Gaya produksi rekaman dan filsafatnya terhadap musik telah lama memengaruhi banyak musisi.
- Pernyataannya yang blak-blakan dan kadang kontroversial memang menuai kritik, tetapi sikapnya yang tidak takut berbicara tentang praktik industri musik patut dihormati.
- Namun, nama band awal maupun muatan liriknya yang vulgar kemungkinan menyinggung banyak orang. Pengakuan dan permintaan maafnya di kemudian hari tampak sebagai perubahan sikap yang positif.
- Kesuksesannya di poker menunjukkan bahwa ia adalah sosok bertalenta di luar musik juga. Pencapaian luar biasa di dua bidang yang bertolak belakang, musik dan perjudian, sungguh mengesankan.
- Albini adalah artis sejati yang bersikeras menjalani caranya sendiri sambil menunjukkan gairah mendalam terhadap musik. Warisannya tampaknya akan terus menginspirasi banyak musisi untuk waktu yang lama.
1 komentar
Pendapat Hacker News
Pengaruh Steve Albini: Sulit untuk melebih-lebihkan pengaruh Albini sebagai musisi dan produser. Pada pertengahan 80-an, Big Black membuat musik yang tidak dilakukan siapa pun saat itu, dan produksinya untuk 'Rid of Me' milik PJ Harvey mengangkat penulisan lagunya ke tingkat berikutnya. Selain itu, ia juga memproduseri banyak album hebat dari era 80-90-an seperti Pixies, Nirvana, The Jesus Lizard, Superchunk, dan lainnya.
Sikap menempuh jalannya sendiri: Albini memang sulit, tetapi ia berbaris mengikuti iramanya sendiri dan tidak peduli pada apa yang dipikirkan orang lain. Dalam wawancara dengan Tape Op, ia berkata, "Sebagian besar musik yang aku suka berasal dari San Francisco. Aku tidak ingat satu pun hal dari LA yang benar-benar kupedulikan. Apa lagi itu skateboard? Apa hubungannya dengan musik punk? Berikutnya mau atraksi yoyo juga?"
Pengalaman rekaman di Electrical Audio: Pada 2009, sebuah band bepergian dari Nashville ke Chicago untuk rekaman bersama Albini. Alasannya karena mereka menyukai suara khasnya yang unik dan analog. Ia aneh dan pendiam, tetapi menyenangkan. Ia memakai overall kerja yang sudah usang selama lima hari penuh, menyediakan latte sepuasnya, dan tidak mempermasalahkan orang merokok.
Filosofi ingin dibayar seperti tukang ledeng: Saat kontrak rekaman In Utero milik Nirvana, ia berkata, "Aku ingin dibayar seperti tukang ledeng. Aku mengerjakan pekerjaannya dan dibayar sesuai nilainya. Label rekaman mungkin mengira aku akan meminta 1~1,5%. Kalau diasumsikan terjual 3 juta kopi, itu kira-kira jadi 400 ribu dolar, dan aku sama sekali tidak berniat menerima uang sebesar itu. Kalau begitu, rasanya aku tidak akan bisa tidur."
Karakter yang sangat Chicago: Albini sangat mencerminkan Chicago, sama seperti sosis Polandia. Tulisan penghormatan untuknya juga menunjukkan karakternya dengan jelas. Termasuk penilaiannya tentang Steely Dan dan blog masaknya yang lama.
Sikap terhadap musik: Bersama kutipan terkenalnya seperti "dibayar seperti tukang ledeng" dan "teman-teman yang sudah lebih dulu kacau", sikapnya terhadap musik juga layak dikenang. "Aku menganggap musik seperti istri atau keluarga, sesuatu yang layak kudukung dengan sukarela dengan bekerja lebih dari 40 jam seminggu. Musik sepenting itu bagiku. Tapi aku tidak berharap bisa mencari nafkah dari musik. Aku pikir aku harus melakukan pekerjaan normal seperti orang biasa demi bisa menikmati kemewahan untuk memainkan musik." Ia mengatakan bahwa itu membuatnya bisa menciptakan musik sebagai kegembiraan murni, tanpa tekanan atau rasa getir.
Hubungan dengan ayahnya, Frank Albini: Menarik juga bahwa Frank Albini, ilmuwan dan insinyur besar di bidang ilmu kebakaran hutan, adalah ayah Steve Albini. Ayah dan anak sama-sama meninggalkan warisan besar di bidang masing-masing.
Gaya engineering yang tak tertandingi: Engineering Albini benar-benar tak ada duanya, dan itu menangkap bentuk paling mentah dari keunikan sebuah band. Banyak orang merasa senang pernah melihat Shellac tampil live.
Bukan produser, melainkan perekam: Sesuai gayanya, ia lebih dekat disebut "perekam" daripada "produser". Menyetel mikrofon lalu merekam persis seperti bunyi band itu sendiri. Ada juga pendapat bahwa enam album yang ia rekam masuk dalam 10 album terbaik sepanjang masa versi pribadi seseorang.