1 poin oleh GN⁺ 2024-06-05 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp

Muak dengan wawancara bergaya Leetcode

Poin utama

  • Berhenti kerja karena masalah kesehatan: Pada akhir November 2023, penulis berhenti dari Robinhood karena masalah kesehatan.
  • Keluhan tentang wawancara bergaya Leetcode: Setelah menjalani beberapa wawancara, penulis merasa jenuh dengan wawancara bergaya Leetcode. Menurutnya, itu tidak berkaitan dengan pekerjaan nyata seorang software engineer.
  • Pengaruh perusahaan besar: Karena perusahaan besar seperti Google, Facebook, dan Amazon menggunakan metode wawancara ini, sebagian besar perusahaan lain ikut menirunya.
  • Pengetahuan yang bisa dicari di Google: Penulis pernah mendapat saran agar tidak menghafal hal-hal yang mudah dicari di Google, tetapi dalam wawancara hal-hal seperti itu masih tetap ditanyakan.
  • Kesadaran akan masalah: Tidak ada solusi untuk masalah ini, tetapi jelas bahwa ini memang sebuah masalah.

Pendapat GN⁺

  • Pentingnya menilai kemampuan kerja nyata: Cara yang menilai keterampilan dan kemampuan pemecahan masalah yang dibutuhkan dalam pekerjaan nyata bisa jadi lebih efektif.
  • Metode wawancara alternatif: Kemampuan kandidat dapat dinilai melalui wawancara berbasis proyek atau code review nyata.
  • Perubahan tren industri: Suara yang menyerukan perubahan dalam metode wawancara makin kuat, dan ini dapat membawa dampak positif bagi industri secara keseluruhan.
  • Mengurangi stres kandidat: Wawancara bergaya Leetcode menimbulkan stres bagi banyak kandidat, dan hal ini bisa berdampak negatif pada performa mereka saat wawancara.
  • Beragam metode evaluasi: Dengan memperkenalkan berbagai metode evaluasi, bisa terbuka peluang untuk menemukan lebih banyak talenta.

1 komentar

 
GN⁺ 2024-06-05
Pendapat Hacker News
  • Pendapat pertama: Proses wawancara memang menyakitkan, tetapi biaya false negative lebih kecil daripada false positive. Kegagalan adalah hal yang umum, dan wawancara bukan penilaian akhir atas hidup seseorang.
  • Pendapat kedua: Pengalaman wawancara di bank cukup baik. Metode menilai kemampuan kandidat lewat refaktorisasi kode terasa segar.
  • Pendapat ketiga: Wawancara whiteboard adalah cara yang baik untuk menilai kemampuan memecahkan masalah dan membangun model mental. Namun, tujuan aslinya bisa terdistorsi karena latihan soal yang berulang.
  • Pendapat keempat: Wawancara bergaya LeetCode dapat digunakan sebagai alat untuk menekan upah dan menyamarkan bias. Ketika perusahaan dengan kompensasi tinggi memakai metode wawancara yang sama, hal itu menimbulkan biaya besar bagi individu.
  • Pendapat kelima: Ada kasus seorang teman yang merasa depresi saat wawancara teknis dan menghentikannya di tengah jalan. Meskipun software engineering adalah pekerjaan yang menyenangkan, proses wawancaranya tetap menimbulkan stres.
  • Pendapat keenam: Pengalaman seseorang yang memiliki kebijakan pribadi untuk menolak wawancara LeetCode. Ia lebih menyukai tugas coding offline dan diskusi teknis daripada live coding atau tes coding online.
  • Pendapat ketujuh: LeetCode menilai dua hal: apakah seseorang pekerja keras, dan apakah ia cerdas. Ini digunakan sebagai alat untuk menyaring orang yang memiliki kemampuan pemecahan masalah dasar.
  • Pendapat kedelapan: Wawancara bergaya LeetCode dapat dilihat sebagai semacam ritus peralihan intelektual. Proses masuk yang ketat memiliki efek meningkatkan komitmen terhadap kelompok.
  • Pendapat kesembilan: Metode yang efektif adalah meminta kandidat meninjau sample code dalam wawancara, lalu menilai kemampuan nyata dan kecocokan budaya mereka lewat masalah sederhana.
  • Pendapat kesepuluh: Ada kandidat yang memahami teori dengan baik tetapi gagal saat benar-benar menulis kode. Wawancara yang menunjukkan kemampuan coding dasar memang diperlukan, tetapi wawancara LeetCode yang berlebihan adalah masalah.