- Munculnya AI generatif telah memicu lonjakan tajam kecurangan di kalangan siswa dan mahasiswa
- Banyak pelajar menggunakan chatbot seperti ChatGPT untuk tugas, ujian, dan riset, sehingga proses belajar rusak parah
- Universitas, dosen, dan bahkan detektor AI pun kesulitan mendeteksi kecurangan, sehingga ada batasan dalam penanganan mendasar
- Ketergantungan pada AI makin tinggi, sehingga kemampuan berpikir kritis dan belajar mandiri melemah
- Muncul kebutuhan untuk menata ulang alasan keberadaan seluruh sistem pendidikan dan evaluasi serta nilai hakiki pendidikan
Pendahuluan dan latar belakang
- Sejak adopsi AI generatif, siswa dan mahasiswa dengan mudah mengandalkan AI untuk mengerjakan tugas dan berbagai bentuk evaluasi, dan situasi ini telah menjadi umum
- Sebagai contoh yang diperkenalkan, Lee dari Columbia University menggunakan ChatGPT untuk menyelesaikan lebih dari 80% tugasnya, sehingga bagian yang mencerminkan sisi manusianya menjadi sangat minim
- Kasus Lee menunjukkan bahwa dibandingkan pencapaian akademik, tujuan seperti membangun relasi atau startup lewat networking makin menjadi motivasi yang lebih penting dalam pendidikan tinggi
- Lee dan rekannya mengembangkan alat kecurangan berbasis AI, dan akibatnya mereka sampai menerima tindakan disipliner dari universitas
- Dengan demikian, para pelajar memandang penggunaan AI sebagai tantangan, inovasi, atau peningkatan produktivitas, sementara universitas menganggapnya sebagai kecurangan, sehingga timbul benturan
Penyebaran dan normalisasi kecurangan AI
- Menurut survei tahun 2023, hampir 90% mahasiswa pernah memakai ChatGPT untuk menyelesaikan pekerjaan rumah
- Chatbot Generative-AI telah meresap jauh ke hampir seluruh proses pendidikan, mulai dari mencatat, persiapan ujian, merangkum, hingga menulis esai
- Di kalangan pelajar, penggunaan AI diterima sebagai hal lumrah, dan kesadaran kritis terhadap hal ini makin melemah
- Sebagian pelajar terlalu bergantung pada AI sehingga muncul masalah adiktif berupa turunnya motivasi belajar dan kemampuan belajar mandiri
- Universitas mencoba berbagai cara untuk mencegah kecurangan, seperti evaluasi lisan dan ujian Blue Book, tetapi pada praktiknya situasi ini sulit dikendalikan
Keterbatasan dan respons dosen serta sekolah
- Banyak dosen mencoba berbagai metode teknis dan kreatif untuk mendeteksi AI, tetapi sebuah studi tahun 2024 menunjukkan bahwa 97% tugas yang dibuat AI tidak terdeteksi
- Detektor teks buatan AI memiliki tingkat keandalan rendah, dan menunjukkan tingkat false positive yang tinggi pada siswa neurodivergen maupun siswa non-penutur asli bahasa Inggris
- Para pelajar memahami dengan baik metode jalan memutar untuk dengan mudah mengelabui detektor AI
- Dosen di lapangan tidak mampu melarang penggunaan AI secara jelas, dan karena keterbatasan detektor AI serta ketidakpastian kebijakan, sanksi nyata sulit diterapkan
- Pada tingkat universitas pun, penataan ulang kebijakan dan filosofi yang sesuai dengan era AI generatif masih tertunda
Kekhawatiran pendidikan dan sosial
- Bersama AI, yang makin ditekankan hanya hasil belajar yang dangkal, sementara kompetensi inti seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kreativitas melemah
- Beberapa studi melaporkan bahwa ketergantungan pada AI berkaitan dengan penurunan daya ingat, kemampuan memecahkan masalah, dan kreativitas pada pelajar
- Dosen dan peneliti di lapangan sangat khawatir nilai pendidikan humaniora dan menulis makin memudar
- Kesempatan bagi tiap pelajar untuk tumbuh secara mandiri dan menghadapi tantangan berkurang, sehingga ada risiko kesenjangan soft skill di seluruh masyarakat makin melebar
- Dalam jangka panjang, hal ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang hakikat pendidikan, perannya dalam dunia kerja, dan keunikan manusia
Kasus dan pengalaman pribadi
- Mahasiswa Daniel mengatakan bahwa melalui pengalaman memakai ChatGPT, ia puas dengan perolehan pengetahuan instan, tetapi tetap merasakan perbedaan dibanding belajar secara langsung
- Mahasiswa lain, Mark, mengaku bahwa AI telah menjadi alat penting dalam penulisan tugas, tetapi sulit merasa bahwa itu sepenuhnya merupakan pencapaiannya sendiri
- Kegelisahan seperti ini menimbulkan kebingungan mengenai standar menerima tulisan buatan AI, makna tugas, serta komunikasi yang tulus dengan orang lain
Masa depan pendidikan dari sudut pandang institusional dan sosial
- Dunia pendidikan menghadapi krisis eksistensial karena maraknya kecurangan AI, dan di kalangan dosen pun moral menurun serta pertimbangan untuk keluar dari pekerjaan makin sering muncul
- Posisi perusahaan besar seperti OpenAI adalah bahwa AI hanyalah ‘kalkulator untuk kata-kata’, dan mereka menekankan perlunya perubahan pada metode evaluasi tradisional
- Karena pesatnya perkembangan AI, akses yang terbuka, dan lambatnya respons universitas, penurunan kualitas pendidikan dan turunnya tingkat kepercayaan terus makin cepat
- Baik siswa maupun tenaga pendidik sama-sama khawatir akan hilangnya pengalaman belajar yang bermakna dan runtuhnya model pertumbuhan yang berpusat pada usaha
- Ke depan, semakin mengemuka kebutuhan akan diskusi sosial tentang dampak jangka panjang AI terhadap kemampuan berpikir dan berkinerja manusia, serta nilai filosofis yang harus dimiliki sistem pendidikan
Penutup dan perkembangan teknologi
- Dengan munculnya alat umpan balik AI, struktur evaluasi ‘AI melawan AI’ di mana AI menilai tugas siswa kini menjadi kenyataan
- Lee memanfaatkan pengalamannya mengembangkan alat kecurangan AI di kampus untuk meluncurkan platform umpan balik AI real-time baru bernama Cluely
- Cluely mendeteksi layar komputer dan audio untuk menyajikan jawaban AI secara real-time, dan berupaya memperluas penerapannya bukan hanya di pendidikan, tetapi juga ke situasi sehari-hari seperti kencan
- Karena itu, Lee dan tim startup-nya, bersama investasi besar yang berhasil dihimpun, sedang menyaksikan daya jangkau AI di berbagai bidang seperti pendidikan, rekrutmen, dan kehidupan sehari-hari
- Dalam proses AI mendefinisikan ulang keseluruhan eksperimen pendidikan dan evaluasi, kebutuhan untuk memperjelas nilai khas manusia dan tujuan pendidikan makin meningkat
5 komentar
Saat kuliah saya belajar bahwa pendidikan adalah alat untuk mereproduksi hak-hak istimewa, jadi tujuan pendidikan memang perlu diperjelas seperti ringkasan dalam artikel tersebut.
Bukan AI yang meruntuhkan pendidikan, melainkan alat-alat pendidikan selama ini yang terlalu berorientasi pada kemudahan.
Pendidikan sebagai alat pemeringkatan sudah saatnya dihentikan
Sekarang, ini berarti zamannya sedang berubah dengan cepat di seluruh industri. Manusia adalah makhluk yang mampu beradaptasi... mari kita beradaptasi sebaik mungkin.
Komentar Hacker News
LLM seperti ChatGPT hanya menambah tekanan pada sistem yang memang sudah rusak
Anggapan bahwa profesor bisa berbuat sesuka hati itu cerita lama. Sekarang justru
Profesor harus memberi nilai lulus kepada hampir semua orang
Mahasiswa tidak bisa diusir meski berperilaku tidak sopan seperti memakai headphone, main game/menonton video saat kelas, dan sebagainya
Permintaan perpanjangan waktu/ujian ulang pada praktiknya harus hampir selalu dikabulkan
Bahkan bila jelas mahasiswa mengerjakan tugas dengan ChatGPT, profesor tidak bisa memberi nilai 0
Kalau mau kembali ke ketegasan dan pembelajaran yang sungguh-sungguh, otoritas profesor perlu dipulihkan
Istri saya saat ini dosen, dan hal-hal itu tidak benar
Saya kuliah 10 tahun lalu dan sama sekali tidak melihat gejala seperti itu. Saya rasa sekarang pun tidak banyak berubah
Ini cuma variasi lain dari bingkai 'anak zaman sekarang'
Fakta bahwa sekarang mayoritas pengajar adalah tenaga non-tetap juga berpengaruh
Bahkan profesor tetap (tenure) hanya mengajar seminimal mungkin dan sama sekali tidak peduli. Mereka lebih tertarik pada riset, dan peran utama profesor telah bergeser ke arah penelitian. Kualitas pengajaran makin menurun
Universitas kini seperti mesin penjual otomatis yang menerima $X00,000 lalu mengeluarkan kunci (ijazah) untuk masuk ke pekerjaan bergaji tinggi
Pendidikan hanya bonus; inti utamanya adalah kunci untuk kerja
Jika universitas ingin menjadi lembaga pendidikan sungguhan, biayanya harus turun dan perusahaan tidak boleh menjadikan ijazah sebagai syarat wajib
Jalur universitas negeri + community college jauh lebih murah daripada $x00,000
Di Prancis, orang bisa kuliah di universitas ternama seperti Sorbonne hanya dengan 200 euro per tahun
Ada kritik yang menanyakan apakah ada fisikawan papan atas, peraih Nobel (kecuali perdamaian dan sastra), insinyur sipil tanpa gelar, atau ahli bedah tanpa gelar
Hanya bidang perangkat lunak yang secara relatif menjadi pengecualian, di mana orang tanpa gelar masih bisa berkiprah baik
Saya sendiri juga tidak kuliah, tetapi dasar teori saya kurang kuat; untuk kebanyakan pekerjaan itu tidak terlalu dibutuhkan, tetapi suatu saat akan dibutuhkan
Di bidang yang sangat berbasis keterampilan teknis, gelar wajib, tetapi banyak pekerjaan kantoran menyaring kandidat tanpa gelar meski pengetahuan dari gelar itu sendiri tidak relevan
Gelar adalah sinyal potensi yang lemah. Sinyal yang kuat tidak ada sebelum benar-benar bekerja bersama seseorang. Ini hanya cerminan realitas
Mendapat gelar tidak selalu membutuhkan uang besar atau pinjaman mahasiswa. Banyak negara memberikannya hanya dengan biaya kuliah yang rendah
Saya justru menganggap 'pengetahuan', bukan ijazah, sebagai hasil yang sesungguhnya
Misalnya, kalau hanya menerima sertifikat lulus sekolah kedokteran, apakah itu otomatis membuat seseorang jadi dokter sungguhan? Apakah pengetahuan sama sekali tidak diperlukan?
Dalam praktiknya, orang yang benar-benar fokus belajar di universitas justru lebih mudah mendapat pekerjaan. Sayang sekali jika berbagai peluang dan sumber daya itu diabaikan
Universitas adalah lingkungan yang sangat baik untuk belajar, dan hasilnya sebanding dengan usaha yang dikeluarkan
Untuk pekerjaan kantoran yang tidak terkait jurusan, gelar = tiket masuk, dan pengetahuan aktual tidak terlalu berarti. Lulusan sejarah pun lebih mungkin direkrut untuk pekerjaan sales dibanding orang tanpa gelar
Selama perusahaan masih mewajibkan ijazah, universitas akan terus berfungsi sebagai pabrik ijazah
Muncul klaim bahwa LLM telah menghapus pekerjaan junior white-collar. Universitas harus cepat berubah
Hakikat posisi junior adalah sebagai orang yang bertumbuh, bukan sekadar diberi pekerjaan remeh
Saat ini LLM masih berada di level pegawai baru; masih jauh untuk menggantikan orang berpengalaman. Peran utamanya bukan penggantian total, melainkan efisiensi kerja
Jika pekerja junior white-collar hilang, pada akhirnya pekerja senior juga akan hilang
Terhadap klaim bahwa karyawan baru menjadi beban karena masalah hukum/pajak, ada yang menyebut bahwa secara hukum juga ada efek deduction
Ada pertanyaan tentang universitas akan 'pivot' menjadi apa
Dari sudut pandang profesor, penggunaan AI sebenarnya sudah diizinkan dan mahasiswa diminta mendokumentasikan penggunaan sumber eksternal, tetapi jika ChatGPT tidak bisa menyelesaikan masalahnya, respons mahasiswa adalah, 'Lalu sekarang saya harus bagaimana?' Artinya, mahasiswa kekurangan ketekunan dan daya juang dalam pemecahan masalah
Ada juga pendapat bahwa kesabaran dan kegigihan memudar di semua kelompok usia. Yang disorot terutama adalah budaya hafalan dan jawaban instan
Sikap mahasiswa seperti ini bisa jadi merupakan hasil dari guru-guru masa lalu yang mematikan motivasi belajar
Ada juga tulisan yang khawatir apakah mahasiswa yang curang dengan LLM benar-benar akan punya daya saing di pekerjaan nyata
Ke depan, yang akan bertahan di pasar adalah orang yang tidak hanya bergantung pada AI dan memiliki kemampuan dasar yang kuat
Justru karena masa pensiun sudah puluhan tahun di depan, saya pesimistis terhadap perubahan AI, tetapi orang yang bisa menyelesaikan masalah 'tanpa AI' akan bertahan
Semua orang suka bicara soal 'tukang ledeng', tetapi pekerjaan tukang ledeng nyata itu sama sekali tidak mudah
Kemalasan merajalela, seperti menyalin-tempel tugas mentah-mentah dari ChatGPT
Kita harus bekerja di perusahaan yang tahu bedanya BS (pekerjaan yang tampak keren tapi kosong) dan kemampuan nyata; tak lama lagi perusahaan yang hanya berisi kepura-puraan akan bangkrut
Orang yang membangun kemampuan sebelum era AI punya keunggulan. Menulis dan dasar-dasar komputer akan tetap bernilai
Ada yang merasa bersalah saat menerjemahkan materi berbahasa Inggris untuk dipakai dalam tugas di universitas Spanyol, tetapi di era LLM perasaan seperti itu berkurang
Tutor gratis dari LLM juga bisa dipandang positif
Dulu hanya kalangan kaya yang bisa menikmati les privat, tetapi kini semua orang bisa mengaksesnya lewat ChatGPT, sehingga standar minimum ikut naik
Masalah luring seperti hambatan bahasa dari TA (asisten pengajar) juga bisa diatasi
Semua orang bisa mendapat dukungan pada tingkat yang sama tanpa biaya kuliah tambahan besar, sehingga ini menjadi demokratisasi pendidikan
Namun pada kenyataannya banyak mahasiswa langsung menyalin-tempel jawaban LLM ke tugas mereka
Ada juga contoh nyata orang yang menggunakan LLM sebagai tutor untuk menemukan metode belajar yang cocok dengan gaya mereka sendiri
Namun jika universitas hanya memandang segalanya sebagai 'kompetisi', nilai kemanusiaan akan hilang dan pendidikan yang sejati justru berkurang. Maka patut dipertanyakan apakah pemerataan alat curang ini benar-benar hal baik
Ada juga reaksi bahwa kabar tentang anak-anak yang benar-benar kesulitan membaca atau berpikir mendalam terasa menyedihkan
Di universitas Belanda, kecurangan bisa cukup efektif dideteksi lewat tanya jawab langsung setelah tugas, penjelasan kode, dan sebagainya
Ada pertanyaan mengapa hanya kecurangan mahasiswa yang memicu kemarahan moral, sementara perilaku universitas yang 'menipu' mahasiswa—misalnya dari sisi biaya dibanding mutu pendidikan—justru ditoleransi
Inti masalah sekarang bukan moralitas, melainkan rasa 'muram'. Fakta bahwa mahasiswa makin kehilangan kemampuan berpikir mandiri, berpikir kritis, dan menembus kesulitan itulah yang menyedihkan
Bukan kemarahan moral, hanya fenomena yang memang menyedihkan
Ada kritik pada media yang mencampuradukkan antara ChatGPT yang 'membantu tugas' dan yang 'dipakai untuk curang'
Karena biaya kuliah setara dengan gaji yang akan diterima saat mulai bekerja, biaya nyatanya menjadi dua kali lipat
Ini sekaligus menjadi hambatan masuk ke dunia kerja dan pada dasarnya merupakan 'eksploitasi' terhadap mahasiswa
Mahasiswa pada akhirnya juga ikut menopang sistem ini. Kalau PR jadi lebih mudah karena LLM, lebih banyak orang akan lanjut ke pascasarjana dan 'semua diuntungkan' (meski kenyataannya dingin)
'Kesia-siaan' anak muda pada akhirnya membuat mereka gagal tumbuh menjadi engineer alih-alih sekadar operator
Dibutuhkan kecerdasan di atas rata-rata, lingkungan yang mendukung, dan usaha untuk menjadi engineer. Mustahil setengah populasi mencapainya