- Penulis adalah siswa kelas 12 di SMA negeri New York, dan melihat kenyataan bahwa alat AI telah menyebar ke mana-mana di dalam maupun di luar kelas
- Dalam pelajaran dan tugas, teman-temannya membuat lalu mengumpulkan jawaban instan dan penjelasan dengan ChatGPT, sehingga makna diskusi dan pembelajaran menghilang
- Sekolah memakai detektor AI dan perangkat lunak pemantauan, tetapi para siswa menghindarinya dan tetap memilih jalan pintas demi nilai semata
- Aktivitas debat yang dulu ia sukai kini juga terasa hampa karena dipenuhi argumen dan materi yang dibuat AI
- Ia merasa perlu ada bentuk penilaian baru seperti ujian lisan, portofolio, dan jurnal belajar; jika tidak, ia takut generasinya akan kehilangan kemampuan berpikir kritis dan ketekunan, lalu selamanya menjadi pemula
- Saat membaca Narrative of the Life of Frederick Douglass, an American Slave, teman di sebelahnya tidak membuka catatan, melainkan menempelkan seluruh teks ke ChatGPT lalu menyalin anotasinya
- Tugas Algebra II juga cukup difoto dan diunggah lewat smartphone, lalu AI langsung menghasilkan penyelesaian langkah demi langkah dan grafik
- Dulu ia tenggelam mengetik hingga menjelang tenggat, tetapi sekarang AI membuat tenggat terasa tak bermakna, dan rasa tegang serta fokus pun hilang
- Sekolah memang telah menerapkan detektor plagiarisme dan proktor ujian jarak jauh, tetapi teman-temannya mengakali itu dengan mengedit ulang hasil AI atau memakai alat humanizer
- Bahkan jika layar dikunci atau teknologi perekaman digunakan saat ujian, itu tetap mudah ditembus lewat cara menyembunyikan dan memakai smartphone
- Melihat semua ini, ia merasa yang berulang hanyalah lingkaran setan antara pengawasan dan penghindaran
- Suasana “tak perlu belajar, yang penting dapat A” sedang menyebar
- Bahkan tim debat yang dulu ia geluti dengan penuh semangat kini dipenuhi argumen buatan AI, sehingga kegembiraan untuk berpikir sendiri dan saling beradu gagasan pun hilang
- Dulu proses membangun logika sendiri dan menyusun bantahan terasa menggetarkan, tetapi sekarang ia pahit melihat hanya materi AI yang kaku dan formulaik yang dipertukarkan
- Tentu saja AI juga bisa dipakai sebagai alat bantu, misalnya untuk latihan soal ujian kosakata
- Tetapi selalu ada godaan untuk menyalahgunakannya, dan ia bersama teman-temannya merasa cemas karena kesempatan untuk berpikir sendiri dan kemandirian mereka perlahan hilang
- Ia menilai pendekatan yang hanya berfokus pada menangkap penggunaan AI punya batas
- Menurutnya, yang dibutuhkan adalah bentuk penilaian yang tidak bisa didelegasikan
- Ujian lisan: cara di mana ia menjelaskan langsung proses berpikirnya
- Menulis yang dipersonalisasi: tugas yang terhubung dengan pengalaman pribadi atau isu aktual
- Portofolio·presentasi: penilaian yang berpusat pada proses dan refleksi
- Jurnal belajar: cara menuliskan pelajaran yang dipetik dan pendekatan yang ia gunakan pada setiap tugas
- Ia percaya pendekatan seperti ini dapat membuat dirinya dan teman-temannya berpikir jujur dan bertumbuh secara kreatif
- AI memang telah membuka jalan agar sekolah bisa dilalui dengan lebih mudah bagi mereka, tetapi pada saat yang sama juga menjadi tembok yang menghalangi pertumbuhan dan kemandirian
- Ia takut jika tidak ada tindakan sekarang, dirinya dan teman-teman sebayanya akan menjadi generasi yang tidak punya daya pikir kritis maupun daya tahan di bawah tekanan
10 komentar
Sekarang, cara belajar itu sendiri harus berubah. Jangan mencoba menilai; seseorang harus menampilkan dirinya sebagai hasil karya. Sistem harus menjadi sesuatu yang membuat orang cepat memahami batas dirinya sendiri. Ujian atau nilai sekarang sudah tidak berarti. Penilaian sebaiknya didasarkan pada kehadiran, sikap saat mengikuti kuliah, dan kemampuan berdiskusi, dan bahkan penilaian itu pun jangan diberi bobot terlalu besar. Di era AI, kita harus bergerak dengan kemampuan menggunakan AI. Untuk itu, seseorang harus punya tujuan yang ingin dicapai melalui AI. Untuk mencapai tujuan itu, kita harus menggali lebih dalam. Dari AI yang terus memaparkan hal-hal sampingan, kita harus kembali membuat diri kita menyelam ke arah yang benar-benar ingin kita tuju. Lewat pergulatan yang sangat besar, barulah kita bisa mendapatkan beberapa hal yang layak dipakai. Hanya orang yang bisa melakukan ini yang akan mampu bertahan di zaman ini. Jika tidak, kita tidak akan bisa keluar dari banjir informasi yang terlalu klise dan biasa.
Saya rasa ini bukan fenomena yang aneh. Bahkan sebelum AI, sudah ada orang yang menonton video ringkasan YouTube lalu berlagak seolah paham, dan sebelum video ringkasan YouTube pun ada orang yang hanya membaca resensi buku orang lain, bagian awal buku, atau daftar isinya lalu berlagak tahu.
Saya pikir AI juga hanya salah satu bagian dari arus itu. Namun, bahkan dalam situasi seperti ini tetap ada orang-orang yang menggunakannya ke arah yang baik, jadi saya harap kita tidak melihatnya terlalu negatif. Orang-orang yang memakainya seperti itu pun, jika menyadari bahwa itu bukan cara yang benar, pada akhirnya akan menggunakannya dengan cara yang sehat, dan mereka yang tetap tidak bisa memperbaikinya... ya mau bagaimana lagi.
Apakah rasa takut yang dirasakan penulis mungkin adalah ketidakpuasan karena bahkan orang-orang yang belum menyadari hal itu pun bisa mendapat penilaian lebih tinggi daripada dirinya hanya dengan sekali 'klik'?
Saya siswa SMA. AI sedang menghancurkan pendidikan saya
Ya, AI bisa membantu jika dimanfaatkan dengan baik untuk pendidikan atau melatih daya pikir, tetapi karena AI sendiri cenderung mendorong sikap pasif, saya pikir lambat laun banyak orang akan berhenti berpikir sendiri.
Bahkan andaikata ada orang-orang atau contoh yang justru memanfaatkannya dengan baik untuk perkembangan diri, jika kemampuan berpikir sebagian besar orang melemah, pada akhirnya saya melihat masyarakat akan mengarah ke arah yang lebih rendah.
Setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa bahkan hanya karena YouTube saja kita sudah bergerak ke arah itu, keyakinan saya pun makin kuat.
Seperti pendapat di Hacker News,
Saya rasa pasti ada sangat banyak dampak positif AI bagi pendidikan, jadi bukankah ini agak terlalu menebar ketakutan?
Mungkin yang akan datang bukanlah 'generasi' yang tak membutuhkan kemampuan berpikir kritis maupun daya tahan menghadapi tekanan, melainkan sebuah 'zaman'.
Komentar Hacker News
Sangat disayangkan, tapi rasanya cerita seperti ini akan terus populer di koran dan majalah karena mendatangkan banyak klik. Orang cenderung mudah terjebak dalam rasa mendesak bahwa segala hal terkait AI telah berubah total. Jawaban untuk ujian atau penilaian adalah melaksanakannya langsung di kelas, dan jika perlu komputer maka koneksi internet harus diblokir. Jika ketahuan memakai ponsel, ujian langsung gagal; kalau ketahuan dua kali, seluruh mata pelajaran dibuat tidak lulus. Sepertinya kontroversi seperti ini akan terus berlanjut sampai akal sehat membaik dan suasana menjadi lebih baik
Jika karena teknologi baru sekolah harus mengubah secara mendasar penggunaan perangkat dan kebijakan ujian, bukankah itu sendiri sudah menjadi bukti bahwa semuanya memang telah berubah?
Dulu rasanya wajar bahwa semua latihan, termasuk menulis esai, dilakukan di kelas, jadi aku terkejut ternyata kenyataannya tidak begitu. Diriku saat SMA sama sekali bukan murid yang bisa dipercaya, dan itu masa ketika orang dewasa memang harus memaksaku untuk benar-benar belajar. Ketika nanti tumbuh dewasa dan mulai bekerja, aku justru merasa berterima kasih kepada guru-guru yang memaksakan tugas. Mungkin ini tidak berlaku untuk semua siswa, tapi menurutku mengubah arah seperti ini tidak akan buruk. Kalau aku salah, tolong koreksi
Aku juga berpikir mirip. Baru ketika masuk universitas aku mengalami ujian matematika yang melarang kalkulator, buku referensi, dan alat bantu lain, lalu soal ujiannya sendiri lebih berfokus pada teori dan konsep. Menurutku, mengisolasi lingkungan ujian, dan bila perlu membuka kelas atau tugas terpisah yang mengizinkan AI atau alat bantu, adalah pendekatan yang efektif
Aku ingin melawan buku ujian biru dan pensil nomor 2 dengan mikro-earbud, smart glasses, dan koneksi WiFi
Aku penasaran, apakah ini argumen bahwa anak-anak harus lebih lama berada di sekolah, atau justru bahwa waktu pendidikan seharusnya dikurangi?
Seseorang yang kukenal sempat membantu perusahaan les SMA. Perusahaan itu mencari pelanggan lewat TikTok, lalu membuat soal ujian sastra Inggris dengan web UI ChatGPT. Mereka melampirkan marking spec dan meminta, “buatkan kutipan karya yang kira-kira bisa masuk kurikulum ini beserta pertanyaannya.” Akibatnya, para siswa kadang menerima kutipan omong kosong yang sepenuhnya palsu seolah dari penulis yang sudah ada, lalu bersiap ujian dengan soal-soal khayalan. Dunia seperti ini akan datang, dan menurutku orang dewasa juga harus lebih paham cara memanfaatkan LLM. Terutama kalau membayangkan siswa yang nilainya dipotong karena mengutip baris puisi Wordsworth fiktif buatan ChatGPT, rasanya menyedihkan. Sebagai penutup ala satire aneh, aku juga ragu apakah kisah ini sendiri benar-benar sebuah bom besar (explosive), atau cuma palsu untuk mempercantik resume
Kalau mengingat masa ketika kalkulator pertama kali muncul, anak usia 8 tahun bisa saja mengeluh, “temanku menyelesaikan perkalian 4 digit dalam 5 detik.” Saat itu orang berkata anak yang menyontek seperti ini pada akhirnya akan lemah dalam aritmetika, dan memang benar. Tapi secara objektif, menurutku dunia tidak runtuh hanya karena siswa SMA Amerika tidak bisa lagi melakukan aritmetika rumit dengan tangan secara cepat dan akurat
Menurutku kedua situasi ini tidak sama. Kalkulator hanya menangani tugas yang jelas terbatas, misalnya perkalian, sedangkan LLM mengambil alih fungsi eksekutif dan perencanaan yang jauh lebih luas. Jika kalkulator memberi jawaban salah dengan probabilitas 5%, ia pasti sudah tersingkir dari pasar, sedangkan kesalahan LLM diterima dengan cara yang berbeda. Jika mau membandingkan LLM dengan cara lama, ia justru lebih mirip menyerahkan seluruh tugas kepada orang lain. Itu selalu dianggap kecurangan
Sampai sekarang pun aritmetika tetap diajarkan tanpa kalkulator. Anak-anak kami masih mengikuti tes ejaan meski ada typo, karena tujuannya agar mereka bisa menilai sendiri apakah jawaban mereka masuk akal. Seperti ungkapan terkenal, 'Garbage in, garbage out', ketika salah memasukkan sesuatu ke kalkulator, seseorang tetap harus mampu memperkirakan hasilnya sendiri sampai tingkat tertentu agar pembelajarannya benar
Dalam pengalamanku, bahkan sebelum kalkulator sekelas HP-48 masuk ke kelas, di tingkat SMP ke atas pun fokus besar bukan lagi pada aritmetika itu sendiri. Sejak titik itu, pembelajaran lebih berpusat pada pembuktian dan teori, dan hal yang sama juga berlaku di bidang Computer Science. Mirip seperti ada masa belajar dan diperiksa soal Assembly, tapi itu sendiri bukan tujuan utamanya
Di atas aritmetika dasar, sebagian besar itu hanya kerja mekanis berulang dan tidak terlalu bernilai. Sebaliknya, tugas AI yang diperdebatkan sekarang punya tujuan yang berbeda. Analogi kasarnya, kita seperti berkata kepada anak-anak, “silakan bawa forklift ke gym untuk berolahraga.” Untuk punya mental yang sehat saat dewasa, mereka harus melatihnya sendiri dengan usaha nyata, dan itu tidak terjadi
Rasanya isu kali ini memang agak berbeda. Karena cakupan alatnya sangat luas, aku bisa melakukan banyak hal secara luas tanpa hampir memakai otakku sama sekali. Pada akhirnya ini jauh lebih mematikan bagi kecerdasanku
Baru-baru ini aku tahu bahwa di sekolah keponakanku, sebelum SMA mereka menghapus PR yang dibawa pulang dan membuat semua tugas hanya dikerjakan saat jam pelajaran. Awalnya kupikir aneh karena itu membuat siswa tidak bisa berlatih mengatur waktu sendiri tanpa pengawasan. Tapi sekarang aku paham bahwa jika tujuannya adalah memastikan siswa benar-benar mengerjakan tugas sendiri, tampaknya memang tidak ada cara lain. Keponakanku juga bilang sulit beradaptasi, dan kurasa aku pun tidak akan beradaptasi dengan baik di lingkungan seperti itu. Aku benar-benar bertanya-tanya apakah ada cara yang lebih baik, di zaman ketika akses ke penopang mental instan seperti AI begitu mudah
Menurutku perubahan seperti ini justru bagus. Sekolah tetap bisa memberi banyak kesempatan untuk membangun kemampuan manajemen waktu di dalam sekolah. Dalam pengalamanku, universitas justru punya kelonggaran waktu yang jauh lebih besar, sedangkan saat SMA banyak waktu terbuang untuk hal-hal remeh. Selain itu, menganggap PR di rumah sebagai sesuatu yang “jelas normal kalau pernah sekolah” menurutku agak merupakan sudut pandang yang berprivilege. Bagi banyak siswa, rumah bukan lingkungan yang cocok untuk mengerjakan tugas, dan latar belakang seperti ini tidak boleh diabaikan
Menurutku kita tidak perlu terlalu sensitif terhadap kecurangan dalam PR. Misalnya, orang tua dan siswa duduk belajar bersama bukanlah “nyontek”, melainkan perluasan eksternal dari proses belajar. Di universitas pun mahasiswa berkumpul mengerjakan tugas bersama pada dasarnya adalah perpanjangan dari networking, dan ada pendapat bahwa justru itulah nilai nyata universitas. Masalahnya adalah ketika aktivitas seperti itu diberi bobot nilai yang terlalu besar. LLM menjadi alternatif, bukan bentuk kolaborasi manusia, jadi menurutku kita perlu menciptakan insentif agar siswa kembali mau berkolaborasi satu sama lain
Aku merasa seandainya metode seperti ini lebih luas diterapkan 25 tahun lalu saat aku sekolah, itu akan lebih baik. Di negaraku, bekas wilayah Soviet, PR sering terlalu banyak atau terlalu sulit sehingga orang tua pada praktiknya mengerjakannya untuk anak. Terutama esai, hampir semuanya ditulis oleh orang tua, dan aku juga ingat orang tuaku yang pandai menulis memberi suntingan sangat rinci. Tulisan yang saat itu terasa memalukan, setelah lewat tangan orang tua jadi “cukup layak dikumpulkan ke sekolah”
Flipped classroom (kuliah di rumah, praktik di kelas) bukan konsep baru. Ini pendekatan yang bagus karena guru bisa memakai waktu kelas untuk bekerja langsung dengan siswa. Aku sendiri mengalami beberapa guru benar-benar memakainya sekitar 10 tahun lalu. Meski aku tidak yakin ini optimal untuk semua usia, tetap saja ini eksperimen yang baik
Kalau saat SMA dulu kehadiran dan partisipasi di kelas sangat penting, aku mungkin tidak akan lulus. Aku bertahan hanya lewat ujian dan PR, dan saat itu aku jauh lebih tertarik pada kehidupan sosial. Baru di universitas aku benar-benar belajar serius; jadi kalau kebijakan “penilaian hanya dari kegiatan di kelas” diterapkan waktu itu, itu akan jadi pukulan telak bagiku
Aku benar-benar merasakan betapa cepat perubahan ini terjadi. Artikel ini juga merupakan tulisan tipe “anak-anak zaman sekarang” yang ditulis oleh seorang siswa SMA. Salah satu tujuan pendidikan adalah mewariskan budaya bersama, dan budaya itu memang berbeda menurut wilayah, tapi esensinya mirip. Bagi siswa, budaya seperti ini selalu baru. LLM sudah melahap bahan dalam jumlah luar biasa besar, jadi ia sangat mahir pada area yang dipakai untuk menilai siswa. Karena itu siswa salah mengira bahwa LLM itu pintar, padahal menurutku masalah yang lebih besar ada pada cara pendidikan itu sendiri. Masalah saat ini bukan kecurangan, melainkan bahwa wilayah yang ditangani sekolah memang sangat cocok untuk LLM. Kurasa ini tidak akan mudah diselesaikan
Kami fokus menyelesaikan masalah ini di https://kurnell.ai. Kesimpulan kami adalah bahwa melarang atau mengawasi AI ke depan itu tidak realistis. Sebaliknya, perlu arah untuk menyediakan AI terbaik secara demokratis kepada semua siswa. Kami punya banyak pelanggan di universitas Amerika dan Australia, dan sistem kami memungkinkan dosen melihat dengan sempurna bagaimana siswa menggunakan AI. Kami melihat bahwa data seperti ini sangat membantu institusi pendidikan beradaptasi. Jika ingin membicarakannya lebih lanjut, silakan hubungi hamish(at)kurnell.ai
Aku seorang AI engineer, tapi menurutku sekolah membutuhkan langkah ekstrem. Di sekolah, semua teknologi harus dilarang kecuali untuk kelas komputer, dan di rumah boleh digunakan. Di SMA hanya kertas dan pena yang diizinkan, semua ujian dilakukan dengan tulisan tangan. Longgarkan tuntutan soal ejaan dan tata bahasa. PR dan tutor AI hanya boleh di rumah, dilarang di kelas. Ujian lisan juga perlu dihidupkan kembali secara terbatas, dan study group di sekolah harus bebas digital. Menurutku iPad, Chromebook, Pearson, semuanya harus ditinggalkan
Dulu orang menulis di kertas atau kartu perforasi sambil juga belajar coding. Bahkan pada jam praktik komputer, terkadang komputer sungguhan tidak dibutuhkan. Aku ragu apakah cara seperti ini masih mungkin pada situasi sekarang setelah 2025, tapi dulu memang begitu
Tugas tulisan tangan terlalu berat bagiku, jadi ketika punya komputer sendiri saat SMA, nilaiku langsung melonjak tajam. Karena itu aku tidak ingin mundur ke masa lalu. Tapi aku setuju internet itu terlalu destruktif, jadi memblokirnya masuk akal. Komputer tanpa internet, satu buku, dan waktu yang cukup, sudah lebih dari cukup bagiku
Di sisi lain, para guru juga sudah terbiasa dengan teknologi, jadi sekarang mereka pun tidak ingin menilai semuanya dengan tangan
Cara terbaik aku belajar matematika adalah memakai kertas kosong untuk printer, lalu mencoret-coret sebebas mungkin satu halaman penuh untuk tiap soal dan memikirkannya cukup lama. Setelah konsepnya kupahami, aku memvisualisasikannya dengan Mathematica agar benar-benar mantap
Dulu hanya pemerintah, bank, dan perusahaan besar yang punya komputer besar, sekolah tidak. Masa itu baik-baik saja, dan orang-orang yang kemudian masuk industri IT tetap mampu melakukan hal-hal hebat
Pelajaran utama di sini adalah beradaptasi atau tersingkir. Dulu ada hal-hal yang dianggap sulit dan luar biasa, sekarang menjadi mudah dan otomatis. Jadi ini bukan berarti pendidikan hancur, melainkan bukti bahwa tugas seperti itu memang pekerjaan dangkal. AI masih kalah dari manusia dalam beberapa pekerjaan penting, jadi fokus seharusnya ke sana. Kenyataannya sekolah tertinggal dari perubahan ini, dan hanya anak-anak yang memakai LLM sebagai pendamping sambil mengerjakan proyek kreatif yang benar-benar sedang mempersiapkan masa depan
Besok aku harus presentasi di depan para profesor kampus yang marah. Mereka sangat kesal karena kami menghentikan kontrak software pengecek AI. Software itu sebenarnya tidak mengecek AI, melainkan mendeteksi tulisan profesional, tata bahasa bagus, ejaan bagus, dan pilihan kata bergaya akademik. Padahal justru itulah yang diajarkan di kelas. Aku harus menjelaskan kepada para profesor bahwa cara yang mereka pakai selama 30 tahun terakhir sudah tidak bekerja lagi. Aku sempat berpikir untuk membuka presentasi dengan konsep “adaptasi dan evolusi”. Sejujurnya, situasi ini cukup seru
Adaptasi membutuhkan lebih banyak dari itu. “Pekerjaan kreatif berbasis proyek” pun tetap memerlukan fondasi dasar. Pengetahuan dasar, logika, kemampuan berhitung, semua itu harus ada di kepala agar bisa dipakai sebagai alat untuk kerja kreatif. Dasar-dasar ini pada akhirnya tertanam lewat latihan soal yang justru sekarang sudah bisa ditangani AI. Kalkulator sudah ada lebih dari 50 tahun, tapi tidak ada yang ingin merekrut engineer yang tidak bisa langsung menjawab 8x7. Kalau bahkan tidak paham perbedaan pertumbuhan linear dan eksponensial, akan sulit bekerja di bidang itu. Dasar seperti ini harus tetap dipelajari, di zaman apa pun dan dengan alat apa pun
Aku adalah administrator sistem di sekolah negeri, dan saat ini tim manajemen sedang bersiap mengadopsi Gemini. Aku sudah membagikan semua hasil riset bahwa penggunaan LLM menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, tapi kenyataannya tidak ada yang benar-benar mendengarkan
Aku bekerja sebagai kontraktor manajemen jaringan untuk pendidikan K-12, dan administrator di lapangan juga punya kekhawatiran serupa. Superintendent menyediakan alat LLM untuk siswa dan guru. Para administrator merasa ngeri bahwa kita menyediakan hal-hal seperti ini
Kalau kamu punya kumpulan riset yang cukup meyakinkan, tolong bagikan tautannya. Aku hanya menemukan satu studi empiris skala besar tentang penurunan kognitif dan penggunaan LLM, dan itu pun punya masalah metodologi. Detailnya ada di sini
Mungkin kebijakan ini datang dari negara bagian tertentu yang sedang mendorong kebijakan voucher, jadi tidak terlalu mengejutkan
Jika kamu ada di posisi manajerial, kurasa mungkin ada cara untuk bekerja langsung dengan Google agar tersedia pengaturan pembatasan tambahan, seperti ‘mode riset dan pendidikan’ dan pembatasan lain di luar sekadar fitur pemberi jawaban sederhana
Memang begitu. Ini bukan semata masalah kurikulumnya, melainkan masalah tujuannya.
Apa bedanya dengan selama ini yang diajarkan bukan sikap dan cara belajar, melainkan hanya cara mendapat nilai ujian yang bagus?
Pada akhirnya, karena yang didorong hanya agar bisa mengerjakan ujian dengan baik dan mendapat nilai tinggi, perilaku yang mengikutinya pun tentu saja seperti itu.
Ini bukan masalah era atau generasi tertentu; generasi yang lebih tua juga memiliki masalah yang sama, dan ini adalah hasil yang mereka dorong.
Sekarang saatnya berhenti menekankan nilai dan beralih ke arah yang menekankan pembelajaran.
Wah, betul sekali
Saya juga setuju dengan pendapat Anda, tetapi ini tampaknya masalah yang sangat sulit untuk diselesaikan.
Alasan nilai ditekankan adalah karena manfaat yang menyertainya besar.
Ada keyakinan bahwa semakin baik nilainya, semakin tinggi latar belakang pendidikan, gaji, dan pekerjaan yang baik, lalu setelah itu rumah, mobil, dan keluarga bahagia yang baik. Dan sebagian besar memang benar juga.
Artinya, ini bukan masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan mengubah arah pendidikan secara sederhana, melainkan masalah yang mengharuskan kita mengubah persepsi masyarakat secara keseluruhan. Tampaknya solusi baru mungkin tercapai jika semua orang mengakui bahwa nilai semata tidak bermakna dan bahwa pertumbuhan melalui belajar adalah nilai yang sesungguhnya, lalu memperbaiki sistem agar selaras dengan hal itu.
Saya setuju. Ada juga orang yang tujuannya bukan belajar itu sendiri.
Komentar saya adalah pemikiran saya terhadap klaim di artikel bahwa "alat bernama AI sedang merusak pendidikan".
Orang yang menjadikan nilai, bukan pembelajaran, sebagai tujuan itu sangat umum, dan bahkan sebelum AI muncul pun sudah banyak solusi untuk mereka.
Dari bimbingan belajar khusus ujian masuk sampai plagiarisme.
Bahkan sebelum AI, sudah banyak orang seperti itu dan banyak alat untuk mereka. Saat tindakan seperti ini menjadi kontroversi, kesan yang saya rasakan hanya semacam "baru sekarang?".
Saya tidak berpikir semua orang harus menghargai pembelajaran.
Mengubah sepenuhnya persepsi masyarakat secara luas dan cara berpikir orang-orang bukanlah hal yang mudah, dan juga bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.
Namun, setidaknya sistem pendidikan harus berubah ke arah yang lebih menekankan nilai pembelajaran dan mengajarkan cara untuk benar-benar menghayatinya.