49 poin oleh GN⁺ 2025-06-13 | 7 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Memperkenalkan pengalaman mengatasi kebiasaan menunda dengan menganalisis pola tenggelam dalam game sambil menunda pekerjaan dari sudut pandang ADHD, lalu menerapkan prinsip loop umpan balik game ke pengelolaan tugas sehari-hari
  • Memperkuat umpan balik instan dengan Post-it + toples transparan, lalu melangkah lebih jauh dengan printer struk untuk mengotomatiskan proses persiapan pekerjaan dan kebiasaan sehingga produktivitas tetap konsisten
  • Menyajikan secara konkret metode praktik nyata dan pelajaran trial-and-error dari seorang penyandang ADHD, seperti pembagian tugas mikro yang berulang dan spesifik, penguatan umpan balik, otomatisasi rutinitas pagi, serta kombinasi printer + aplikasi kustom
  • Memverifikasi secara empiris bahwa konkretisasi tugas (pekerjaan yang bisa dipegang), loop berulang, dan strategi menurunkan hambatan untuk mulai adalah kunci dalam mengatasi penundaan
  • Dibutuhkan UX kustom yang lebih cepat, hierarkis, dan intuitif dibanding aplikasi to-do yang ada

Mengapa kita bisa tenggelam berjam-jam dalam game, tetapi menunda email?

  • Inti game (terutama FPS) adalah "loop game yang cepat dan berulang" + "umpan balik yang langsung dan kuat"
    • Contoh: Aim → Shoot → Hit/Fail → respons suara/visual → hadiah langsung (dopamin)
    • Loop berulang sangat sering, dan memulainya juga sangat mudah
  • Loop umpan balik dan hadiah kecil adalah inti dari fokus dan keterlibatan
  • Poin utama:
    • Makin sering loop diulang, makin adiktif↑
    • Makin besar umpan baliknya, makin tinggi keterlibatan↑
    • Makin mudah memulai, makin rendah hambatan masuk↓

Cara menerapkan loop game ke tugas sehari-hari

  • "Loop game" di dunia nyata = memecah tugas menjadi kecil lalu menyelesaikannya berulang kali
  • Semakin parah kecenderungan menunda, semakin perlu dipecah menjadi tugas yang lebih mikro (sub-2~5 menit)
    • Contoh: membersihkan rumah → pecah per ruangan/per jenis pekerjaan → unit kerja 2~5 menit
  • Poin:
    • Semakin bisa dikerjakan, semakin harus dipecah; semakin tidak termotivasi, semakin harus dipecah

Memperkuat umpan balik: sistem Post-it + toples transparan

  • Tulis setiap tugas di Post-it → setelah selesai, remas lalu lempar ke toples transparan
    • Menyentuhnya dengan tangan, menimbulkan suara, dan melihat langsung "progres" itu sendiri menjadi umpan balik yang kuat
    • Tugas yang diwujudkan secara fisik sulit untuk diabaikan
  • Ringkasnya:
    • Memakai Post-it → konkretisasi tugas
    • Meremas dan membuang → umpan balik instan
    • Menumpuknya di toples transparan → progres visual

Tips mudah untuk dipraktikkan: otomatisasi rutinitas pagi

  • Mulai dari kebiasaan yang paling mudah (misalnya: menyeduh kopi, latihan mengetik, dll.)
    • Tugas pertama di pagi hari harus disiapkan sebagai sesuatu yang pasti mudah berhasil
    • Selesaikan lebih dari 10 kebiasaan singkat setiap pagi untuk membangun "inersia"
  • Siapkan tugas pada malam sebelumnya: bisa langsung mulai di pagi hari, menghemat waktu persiapan

Menggunakannya secara fleksibel

  • Mulai dengan hanya memilih 3~5 tugas pertama,
    lalu jika alur fokus terputus di tengah, gunakan kembali Post-it untuk memfokuskan diri
  • Untuk pekerjaan yang sulit dipecah, pecah berdasarkan waktu (misalnya: "bersih-bersih 10 menit")
  • Untuk pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan sekaligus (misalnya ribuan email),
    pecah menjadi "setiap hari tangani email baru + N email lama"
  • Jika ada hari bekerja seharian tanpa Post-it, justru tidak masalah karena berarti sedang dalam flow

Dorongan untuk mulai mempraktikkan

  • Jangan hanya membaca lagi,
    buat sendiri tugas untuk besok dengan Post-it (atau kertas + gunting) lalu langsung jalankan
    • Gelas biasa juga bisa dipakai sebagai pengganti toples transparan
  • Ulangi terus selama 2~3 minggu hingga menjadi kebiasaan
  • Poin:
    • Mengulang loop kecil-kecil → bekerja seperti game
    • Rutinitas pagi → inersia keberhasilan, penguatan motivasi
    • Kombinasi konkretisasi fisik dan umpan balik

Mengadopsi printer struk: otomatisasi dan perluasan sistem

  • Kekurangan metode Post-it: lelah dan memakan waktu karena harus menulis banyak tugas dengan tangan setiap hari
    • Per hari butuh lebih dari 20~30 item, dan efisiensi turun drastis bahkan jika hanya menulis beberapa saja
  • Mengganti Post-it dengan printer struk (thermal printer)
    • Mencetak daftar tugas lewat skrip (rutinitas per hari dalam seminggu juga mudah diterapkan)
    • Pemotongan otomatis, kecepatan tinggi, biaya operasional murah (1 roll bisa mencetak ribuan item)
    • Karena proses persiapan diotomatisasi, hari-hari penuh penundaan hampir hilang
  • Ringkasnya:
    • Menghilangkan "friksi persiapan" lewat pencetakan
    • Menambah lebih banyak tugas dan kebiasaan jadi tidak terlalu membebani↓
    • Konsistensi dalam mengatasi penundaan↑

Tantangan tambahan dalam praktik dan solusinya

  • Sulit menambah/mengubah tugas dan kebiasaan secara real-time (keterbatasan skrip yang ada)
    • Aplikasi to-do yang ada sulit untuk memecah tugas secara detail, dan saat dibuat hierarkis UX-nya menjadi semrawut
    • Mengembangkan perangkat lunak kustom agar subtugas bisa dikelola dalam sekali pandang dengan struktur horizontal (berbasis kolom)
      • Menambah tugas dengan cepat lewat klik/keyboard, lalu hanya mencetak kolom yang diinginkan
    • Dengan kombinasi aplikasi + printer ini, seorang penyandang ADHD juga berhasil menjaga produktivitas yang konsisten setiap hari

Kesimpulan dan ringkasan

  • Memecah tugas menjadi mikro dan berulang → memperkuat loop fokus
  • Mulai dari kebiasaan pagi dan pekerjaan mudah → memperkuat inersia dan motivasi
  • Umpan balik fisik (Post-it + printer + toples transparan) → rasa pencapaian visual/taktil
  • Otomatisasi persiapan, UX cepat, struktur horizontal → memaksimalkan konsistensi dan keberlanjutan
  • Mengalami sendiri bahwa kombinasi printer struk dan alat kustom adalah solusi terbaik untuk mengatasi kebiasaan menunda: "metode seperti ini wajib dicoba sendiri"
  • Perangkat lunaknya juga akan segera dirilis

7 komentar

 
soonil 2025-06-20

Wah, ini tulisan yang tepat banget buat saya🙏

 
ohmybreaktime 2025-06-16

Apa harus hidup sampai sebegitunya? huhu

 
moveit 2025-06-16

Oh, kalau pakai printer struk, efeknya sepertinya memang akan terasa karena terlihat secara fisik.

 
opminsu 2025-06-16

Menarik!

 
kimjoin2 2025-06-13

Suka

 
kandk 2025-06-13

WOW

 
GN⁺ 2025-06-13
Opini Hacker News
  • Saya ingin membahas kenapa saya bisa fokus berjam-jam saat bermain game, tetapi malah menunda saat harus menulis email. Game memang sangat menyenangkan. Rangsangan yang diberikan game jauh lebih kuat daripada rangsangan yang saya rasakan dari kebanyakan pekerjaan (kecuali membuat CLI atau optimizer baru). Kita sering mencoba membuat pekerjaan jadi lebih merangsang dengan menambahkan berbagai imbalan—bekerja bersama rekan, camilan, kafein, uang, hadiah fisik, dan sebagainya—untuk memunculkan motivasi. Namun pada akhirnya, seperti nasihat tentang kesehatan, intinya adalah jangan sampai hal-hal yang sangat merangsang menggantikan kebiasaan sehat. Ini berlaku bukan hanya untuk game atau makanan, tetapi juga ponsel. Jika kita terlalu tenggelam dalam sesuatu yang sangat merangsang, kita jadi sulit menikmati hal-hal biasa. Saat saya terlalu larut dalam game, saya sulit fokus pada pekerjaan, dan ketika saya memutus sumber rangsangan itu, pekerjaan itu sendiri kembali terasa menyenangkan. Inilah efek praktis dari apa yang bisa disebut sebagai ‘diet dopamin’. Setiap orang biasanya punya sesuatu yang sangat merangsang versinya masing-masing
    • Smartphone juga bisa menjadi rangsangan yang tak kalah kuat dari game bagi sebagian orang. Belakangan ini kantor saya sangat mendorong 2FA (autentikasi dua faktor), dan saya paham niat keamanannya, tetapi semuanya dilakukan hanya lewat aplikasi autentikasi. Akibatnya sekarang makin sulit untuk benar-benar meletakkan ponsel, dan saat bekerja saya harus terus-terusan melakukan autentikasi lewat ponsel di sela-sela pekerjaan. Dalam proses itu, saya melihat notifikasi, sempat membuka aplikasi lain, atau harus berpindah perangkat, sehingga alur kerja sering terputus. Saya ragu apakah ini memang cara terbaik
    • Saya juga kurang lebih seperti ini, tetapi saya memikirkannya bukan dengan tujuan hidup seperti petapa, melainkan seolah setiap hari saya punya ‘anggaran kebaruan’. Satu rangsangan baru saja bisa menjadi pemicu yang merusak rencana. Namun ketika ada hal yang benar-benar penting dan harus saya lakukan sekarang juga, justru saya makin menghindari rangsangan baru. Dalam keseharian, saya perlu menjaga rutinitas dan mempertahankan keadaan yang membosankan agar ketika benar-benar harus melompat keluar, kilatan ide itu muncul. Pada dasarnya, motivasi intrinsik tidak bisa digantikan oleh rangsangan eksternal. Jika melihat saran produktivitas, ada kecenderungan untuk terus menambah rangsangan, menyuruh orang ‘berusaha lebih keras’, atau menekan burnout dengan rangsangan atau metodologi yang lebih besar. Menurut saya, penyebab yang sebenarnya adalah pertanyaan mendasar tentang hidup dan pergulatan filosofis. Pekerjaan punya banyak momen—rutinitas yang membosankan, sensasi yang menggairahkan, kadang juga kesedihan—tetapi motivasi membuat kita mampu menanggung semuanya
    • Saya sering memakai imajinasi dengan menganggap hidup seperti game. Jika saya memandang pekerjaan yang membosankan atau sulit sebagai semacam ‘level yang harus ditaklukkan’ seperti dalam game, hadiah yang terasa setelah selesai menjadi jauh lebih besar, dan cara ini benar-benar membantu saya melewati beberapa masa sulit. Tentu saya tidak tahu apakah ini akan efektif untuk semua orang. Mungkin ini juga karena kimia otak saya
    • Ada satu hal yang banyak diabaikan orang dalam budaya konsumsi modern. Meskipun seseorang menghabiskan sebagian besar waktu luangnya di TikTok atau game dengan sistem reward yang kuat, itu tidak langsung menimbulkan masalah kesehatan yang fatal. Hal yang sama berlaku jika tidak berolahraga atau tidak menjaga pola makan. Namun itu tetap menimbulkan masalah dan dampak di banyak sisi yang sulit diukur. Karena itu, saya rasa penting untuk mengamati kondisi mental diri sendiri dengan saksama, baik saat sedang bergantung pada sesuatu yang paling sering kita andalkan maupun saat tidak, terutama ketika menghadapi penurunan fokus atau motivasi
    • Soal pernyataan bahwa makan salad kale setelah makan es krim tidak akan menurunkan gula darah, berdasarkan pengalaman saya justru ada efek membuat kenaikan gula darah lebih lambat (saya bukan ilmuwan). Dalam pengalaman saya, kalau salad dimakan lebih dulu, proses pencernaan melambat dan indeks glikemik keseluruhan jadi lebih rendah, sehingga gula darah naik lebih perlahan. Poin pentingnya adalah salad harus dimakan lebih dulu
  • Ini mengingatkan saya pada Cast Deployment System yang dulu digunakan di Disney World sekitar 20 tahun lalu. Saat datang kerja atau kembali dari istirahat, para karyawan memasukkan nomor mereka di terminal PC, lalu printer struk mencetak secarik kertas kecil berisi tugas yang harus dilakukan. Misalnya, ‘gantikan seseorang di lokasi tertentu’, ‘rapikan barang dagangan sampai waktu tertentu’, atau ‘sekarang boleh pulang’, dan berbagai jenis instruksi lainnya. Perangkat lunak operasionalnya secara real-time memperhitungkan data absensi, waktu tunggu, penjualan, dan sebagainya, lalu menempatkan setiap karyawan pada posisi yang paling efisien saat itu. Jika ada waktu luang, sistem memberi tugas-tugas kecil yang berguna, atau jika memang tidak ada yang perlu dilakukan, karyawan bisa langsung dipulangkan. Sistem ini sangat efisien dan memecah dengan jelas apa yang harus dikerjakan manusia
    • Saya jadi penasaran apakah novel Manna karya Marshall Brain terinspirasi dari sistem ini. Dalam novel itu, ada sistem serupa tetapi dengan AI yang jauh lebih canggih
    • Setelah membaca penjelasan ini, saya kaget karena ternyata berbeda dari cara saya membayangkan operasi taman hiburan. Terima kasih atas informasinya
  • Ini mengingatkan saya pada sistem manajemen tugas berbasis daftar buatan David MacIver. Setiap pagi ia menulis ulang daftar dari nol, lalu setiap kali ada tugas yang muncul sepanjang hari, ia langsung menambahkannya (selalu daftar datar tanpa hierarki tugas). Memulai pagi dengan daftar kosong awalnya terasa mengkhawatirkan karena takut ada hal penting yang terlewat, tetapi justru itu berfungsi sebagai saringan sehingga hanya hal-hal yang benar-benar penting dan memotivasi yang menumpuk. Jika sesuatu memang benar-benar penting, pada akhirnya itu akan muncul lagi di benak kita di suatu titik dalam hari itu. Cara ini juga efektif untuk situasi ketika banyak tugas harus dilakukan dalam waktu singkat secara bersamaan, misalnya setelah pulang ke rumah harus bersih-bersih dan menyiapkan makan malam. Menuliskan semua hal yang harus dikerjakan di sekitar kita pada notepad, lalu melihat daftar itu membesar seiring waktu dan kemudian perlahan menyusut kembali saat tugas selesai, memberi kepuasan yang aneh. Rasanya seperti benar-benar menaklukkan semua hal yang semula membuat saya kewalahan
    • Jika Anda punya ADHD, prinsip ‘kalau penting nanti akan teringat’ biasanya tidak begitu cocok. Dari pengalaman pribadi, saya bahkan sering lupa makan, dan kalau tidak memasang alarm terpisah, saya hampir saja lupa mengurus pajak juga
    • Saya seorang manajer dan punya terlalu banyak hal yang harus dilakukan, jadi tanpa daftar tugas saya pasti akan lupa. Dibanding melihat daftar, yang jauh lebih membuat saya cemas dan stres adalah ketika pekerjaan menumpuk lalu tidak saya kerjakan atau saya lupakan. Menulis semuanya, mengerjakannya satu per satu, lalu merasa semua sudah selesai adalah penenang bagi saya. Saya mengakui bahwa ‘kalau penting akan ingat sendiri’ memang berbeda untuk tiap orang
    • Saya baru tahu tulisan ini, tetapi terima kasih! Ada kemiripan dengan cara saya bicara soal memecah pekerjaan dan menyelaminya lebih dalam. Namun kalau saya memulai pagi dari daftar kosong, saya bisa malah tidak langsung melakukan apa pun dan berakhir tidak mengerjakan apa-apa seharian (gaya ADHD), jadi memulai dari kosong terasa sulit
    • Saya juga awalnya memakai GTD dan mengalami daftar tugas yang terus membesar sampai terasa sangat melelahkan. Akhirnya saya mengembangkan nanoGTD, yaitu setiap hari menulis ulang proyek hari ini dan tindakan berikutnya dari ingatan dan imajinasi di halaman kosong baru (terutama di kertas). Kalau ada yang terlewat, saya tinggal mengecek halaman hari sebelumnya
    • Nilai sejati dari planner tahunan berbasis kertas adalah daftar tugasnya tidak bisa menjadi tak terbatas. Hal yang tidak dikerjakan hari ini harus Anda putuskan sendiri: dipindah ke besok atau dihapus. Menulis tugas itu mudah, tetapi yang benar-benar sulit adalah menyadari bahwa kita tidak bisa melakukan semuanya dan memutuskan sendiri mana yang harus dilepas lebih dulu
  • Sebaiknya periksa kandungan kertas struk yang Anda gunakan. Banyak kertas struk mengandung zat yang tidak baik untuk kesehatan. Tautan terkait: toxicfreefuture.org/press-room/new-study-finds-toxic-chemicals-in-80-of-receipt-paper-tested-down-from-93-in-2017
    • Masalah utamanya adalah bisfenol dalam kertas, dan itu sudah dilarang di Eropa
    • Saya pernah menonton video pendek yang mengatakan bahwa bahkan memakai sarung tangan biasa pun tidak membuat paparan terhadap kertas thermal seperti ini aman
  • Saya penulisnya. Ini tulisan pertama saya jadi saya gugup, dan penasaran bagaimana tanggapannya. Kalau Anda juga punya kebiasaan menunda, saya harap metode ini bisa membantu Anda setidaknya sebesar manfaatnya bagi saya
    • Saya sempat berpikir ingin menulis komentar yang agak kritis, tetapi setelah melihat komentar Anda, saya memutuskan untuk bersikap baik. Saya tidak punya printer struk, tetapi ketika pekerjaan menumpuk, saya menulisnya dengan spidol di whiteboard A4. Menjaga agar daftar tugas tidak dipakai berlebihan juga penting untuk mempertahankan efektivitasnya. Ternyata melupakan dan melepaskan beberapa tugas kadang juga bermanfaat. Hal yang penting toh akan tetap bertahan di kepala dan membuat kita susah tidur semalaman. Sering kali, mengubah sesuatu demi memperbaiki kebiasaan menunda, bahkan sampai mengeluarkan uang untuk mengejar rangsangan baru, hanya bertahan beberapa minggu sebelum cepat kembali ke keadaan semula. Yang benar-benar menarik adalah metode yang dipakai seseorang dengan sukses selama bertahun-tahun. Semoga Anda terus menulis. Ini juga sangat membantu untuk squirrel brain
    • Saya sangat suka ini. Menumpuk tugas fisik hasil cetakan printer thermal lalu melemparkannya ke tempat sampah benar-benar memancarkan ‘energi goblin nyeleneh’. Rasanya seperti perpaduan yang bagus antara game loop dan operant conditioning di dunia nyata. Saya juga mengelola tugas dengan whiteboard, tetapi feedback ketika tugas selesai terasa lemah dan tidak meninggalkan jejak, sehingga saya bahkan tidak ingat apa yang saya kerjakan selama seminggu. Loop itu terasa memuaskan hanya jika memenuhi dua hal sekaligus: feedback yang langsung dan kemampuan melihat hasil jangka panjang. Saya sempat membayangkan sistem yang meninggalkan catatan di kertas gulung, tetapi tentu saja saya menunda membuat dudukannya. Aplikasi to-do terlalu banyak sampai malah terasa melelahkan, dan saya suka efek metode ini yang menyembunyikan cakupannya
    • Terima kasih banyak sudah menulis ini. Setelah baru-baru ini didiagnosis autisme dan ADHD sekaligus, saya merasa pola pikir seperti ini memang sulit dipelajari, tetapi sangat kuat bila sudah dikuasai. Pendekatan loop tugas cocok bagi saya hampir seperti video game. Eksperimen orang lain juga memberi saya banyak ide. Saya pernah mencoba sistem berbasis kartu, tetapi menyerah karena repot harus membuat kartu baru setiap saat. Ide mewujudkan tugas lewat printer struk ini sangat bagus. Saya sedang mencoba menyinkronkan informasi yang terpisah di ranah digital, fisik, dan mental, dan berencana bereksperimen lebih jauh. Saya ingin membaca lebih banyak ide semacam ini lewat mailing list terpisah
    • Tulisan yang bagus! Saya juga punya kebiasaan menunda, jadi sangat relate. Salah satu metode yang saya pakai belakangan ini adalah selalu membawa notebook Field Notes dan memadukannya dengan cara memecah tugas menjadi unit-unit kecil. Alhasil, alih-alih ponsel, laptop menjadi perangkat ‘pengalih perhatian’ utama saya, dan saya suka notebook ini karena ukurannya pas sekali untuk saya
    • Ini tulisan yang benar-benar luar biasa. Menurut saya, tulisan ini sangat tepat menangkap akar penyebab kenapa kita menunda. Kalau sudah ada metode yang bekerja, pakai saja dulu, lalu perbaiki sambil jalan meskipun belum sempurna. Banyak orang tampaknya tidak tahan berada dalam kondisi ‘belum sempurna tapi sedang membaik’ ini
  • Saya menulis ini karena penasaran apakah ada orang lain yang merasakan hal serupa... Sejak memakai sistem baru ini, ketika saya tidak pernah sekalipun melewatkan pelacakan kebiasaan, saya merasakan kepuasan yang luar biasa sekaligus kecemasan besar bahwa ‘tempo seperti ini rasanya tidak mungkin bisa dipertahankan’. Kalau hidup jadi terlalu proaktif seperti ini, lingkungan sekitar juga mulai berharap kita akan terus seperti itu, dan hal-hal yang sudah kita bereskan justru terus memunculkan pekerjaan baru, sampai-sampai muncul tugas yang tidak akan ada kalau saya tetap santai dan malas. Yang paling utama, ketika saya sadar bahwa ‘setidaknya selama masih punya pekerjaan, saya sebenarnya bisa hidup hampir tanpa produktivitas’, justru motivasi untuk menjadi produktif malah turun
    • Apa yang baru saja Anda katakan benar-benar menjelaskan alasan terbesar saya untuk ‘tidak punya pekerjaan’. Tambahan lagi, orang yang bekerja hampir tidak punya waktu atau energi untuk melakukan hal yang benar-benar bermakna atau proyek miliknya sendiri
  • Ide yang sangat keren! Sekadar catatan, sering menyentuh kertas struk thermal dengan tangan kosong bisa berdampak buruk bagi kesehatan (karena kandungan BPA/BPS). Saya tidak terlalu paham detailnya. Info terkait: pca.state.mn.us/business-with-us/bpa-and-bps-in-thermal-paper
    • Di daerah saya, kertas thermal bebas fenol (phenol-free) juga tersedia, sekitar 20% lebih mahal tetapi jauh lebih aman dan kualitasnya juga lebih baik
    • Betul, keamanan kertas thermal adalah hal pertama yang langsung saya pikirkan. Dan dari pengalaman saya, hasil cetakan thermal bisa benar-benar hilang total setelah sekitar 1–10 tahun. Jadi cocok untuk tujuan jangka pendek, tetapi tidak cocok sebagai label penyimpanan jangka panjang
    • Ya, itu memang kertas yang mengandung bisfenol. Di Eropa sudah dilarang, tetapi di AS masih beredar
  • Tulisan pertama yang bagus! Menarik melihat orang lain juga memakai printer struk untuk mengelola tugas-tugas kecil. Saya sendiri bahkan mengotomatiskannya dengan Raspberry Pi untuk mencetak actionable task ke printer struk. Rasanya enak bisa memegang tiket fisik di tangan. Catatan saja, kalau sering menyentuh struk, sebaiknya benar-benar pakai kertas phenol-free. Phenol itu zat beracun, dan di beberapa negara sudah dilarang
    • Saya rasa kemampuan memegang tugas yang diwujudkan secara fisik itu sangat penting! Karena saya tinggal di Eropa, kertas bisfenol hampir tidak ada, tetapi di beberapa tempat memang masih ada
    • Saya penasaran apakah ada cara untuk langsung membedakan secara visual apakah kertas itu beracun atau tidak
  • Tulisan yang keren! Banyak ide yang pernah saya pikirkan terasa dirangkum dengan baik di sini. Tetapi saya penasaran apakah sistem ini benar-benar sudah dipakai cukup lama. Dalam pengalaman saya, tanpa tekanan eksternal, pola makan yang baik, dan olahraga yang layak, tidak ada sistem yang bisa bertahan lama. Kalau saya banyak makan karbohidrat atau sama sekali tidak olahraga, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Diet semacam ‘keto’ atau olahraga setiap 2–3 hari membuat produktivitas naik drastis. Melihat alur kerja sebagai sebuah loop menurut saya adalah pendekatan yang tepat. Otak manusia butuh waktu untuk mempelajari pola baru, dan pola itu harus diulang terus agar terasa mudah. Setelah liburan, saat kembali bekerja, saya sering langsung merasa kehabisan tenaga dan jadi tidak suka kerja lagi. Menjadi terbiasa itu penting. Saya sendiri juga mengelola semuanya dengan daftar tugas, kadang di web app buatan saya sendiri atau di kertas. Daripada membuat sistem yang terlalu megah, menurut saya untuk jangka panjang yang terbaik adalah menjaga kerepotannya tetap seminimal mungkin. Meski begitu, menyegarkan juga melihat pendekatan lain seperti ini
    • Saya sudah memakainya sekitar 6 bulan. Kalau sistemnya rumit, saya biasanya menyerah dalam seminggu. Saya paling relate dengan minimalisme dalam ‘manajemen tugas’
  • Saat saya sakit dan bahkan memakai JIRA pun terasa berat, saya pernah terpikir untuk membuat tiket kertas dengan printer struk. Saya benar-benar membeli printernya di Ebay dan belajar cara memakainya, tetapi pada akhirnya saya tidak sampai menghubungkannya ke JIRA, dan ternyata menulis serta mencetak secara manual sudah cukup. Setelah itu kondisi saya membaik. Sebagai gantinya, saya jadi banyak mencetak pixel art Pokémon (karena materi seni aslinya memang dirancang untuk resolusi rendah, jadi cocok sekali dengan printer thermal). Ada berbagai jenis printer thermal; kalau mencari dengan satuan mm di Amerika Utara, Anda akan menemukan banyak produk murah dari Tiongkok, sedangkan kalau mencari dengan satuan inci, yang muncul justru produk merek mahal. Sekarang kebanyakan memakai koneksi USB, tetapi jika ingin menghubungkannya dengan server, menurut saya model dengan port Ethernet adalah yang ideal
    • Saya mendapat ide bagus. Saat mencetak setiap tiket tugas, cetakkan juga karakter acak dengan tingkat kelangkaan berbeda-beda, sehingga bagi sebagian orang itu bisa menambah keseruan dan motivasi. Saya sendiri sengaja membeli printer yang mendukung RJ45 dan USB sekaligus, supaya bisa dipakai untuk berbagai kemungkinan