- Kritik Mark Weiser terhadap metafora AI 'copilot' yang dipublikasikan pada 1992 masih relevan hingga sekarang
- Weiser menekankan antarmuka yang menyatu secara alami ke dalam pengalaman pengguna, bukan 'asisten'
- Konsep HUD (head-up display) pada pesawat modern menunjukkan filosofi ini dengan baik
- Nilai dari UI bergaya HUD yang memperluas indera pengguna, alih-alih otomasi atau agent UI, terlihat melalui berbagai contoh
- Copilot efektif untuk pekerjaan sehari-hari, tetapi dalam situasi kreatif/tidak terstruktur, HUD lebih mampu memperkuat kemampuan manusia
Kritik Mark Weiser terhadap Copilot pada 1992
- Pada 1992, Mark Weiser mengkritik cara pandang yang mengibaratkan AI sebagai 'copilot' dalam sebuah acara tentang 'interface agents' di MIT Media Lab
- Isu seperti kesadaran konteks dan otomasi, yang masih relevan hari ini, juga sudah dibahas saat itu
- Weiser mendukung sistem yang memungkinkan pengguna merasakan informasi secara alami, alih-alih 'copilot' (AI yang berperan membantu pilot seperti manusia virtual)
- Idealnya adalah 'komputer yang tidak mencolok', yakni lingkungan yang menjadi perpanjangan alami dari tubuh pengguna
HUD (Head-Up Display) dan filosofi Weiser
- HUD (Head-Up Display) pada pesawat modern menampilkan informasi inti seperti horizon/ketinggian sebagai overlay pada display transparan, sehingga tersaji secara alami dalam bidang pandang pilot
- Tidak seperti copilot, HUD tidak membutuhkan percakapan, dan secara alami memperluas kemampuan persepsi
- Konsep HUD seperti ini selaras dengan kegunaan yang diajukan Weiser
Perwujudan HUD dalam software
- Pemeriksa ejaan bekerja bukan dengan berdialog seperti 'kolaborator AI', melainkan dengan otomatis memberi garis bawah merah pada typo
- Seperti ini, penyajian informasi yang langsung dan visual menjadi salah satu contoh HUD yang menciptakan indera baru bagi pengguna
- UI debugger kustom yang memanfaatkan AI juga memvisualisasikan perilaku program secara intuitif, sehingga pengguna bisa langsung mengidentifikasi dan memahami masalah
- Pendekatan ini berbeda dari otomasi tradisional atau UI 'asisten virtual', dan secara langsung memperluas indera manusia
Trade-off antara HUD dan copilot
- Penulis menjelaskan bahwa HUD tidak selalu lebih baik daripada copilot, dan masing-masing memiliki kelebihan serta kekurangan
- Untuk tugas yang rutin dan dapat diprediksi (misalnya terbang lurus), pendekatan copilot efisien
- Untuk masalah yang tidak terstruktur dan kreatif (misalnya memahami situasi saat pendaratan darurat), alat yang membantu kognisi manusia seperti HUD sangat berdaya guna
- Perancang AI perlu mempertimbangkan bukan hanya 'assistant', tetapi juga UI perluasan indera manusia seperti HUD
Kesimpulan
- Dalam desain AI masa depan, perlu ada pengakuan terhadap nilai dan trade-off baik dari pendekatan copilot maupun HUD
- Serahkan otomasi biasa kepada asisten virtual, dan jika menginginkan hasil yang lebih unggul, cara paling kuat mungkin adalah memberi 'superpower baru' kepada pakar manusia seperti yang dilakukan HUD
1 komentar
Komentar Hacker News