2 poin oleh GN⁺ 2025-09-15 | 2 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Menurut riset terbaru, dampak media sosial terhadap polarisasi politik jauh lebih dalam dan kompleks daripada yang ditunjukkan oleh pengukuran sederhana
  • Konten dengan ekstremitas emosional menyebar lebih luas di media sosial, dan ini benar-benar memengaruhi perilaku politik offline
  • Eksperimen dan data menunjukkan bahwa media sosial tidak bekerja sama di semua kelompok usia atau negara, dan efek tidak langsung seperti “spillover effect” sangat besar
  • Influencer politik dan kelompok elite memelintir opini publik melalui media sosial, dan telah teridentifikasi fenomena “radikalisasi elite” yang memicu pemikiran serta tindakan ekstrem
  • Secara keseluruhan, menafsirkan pengaruh media sosial secara terlalu kecil hanya berdasarkan dukungan partai atau angka polarisasi tradisional adalah tidak akurat

1. Pendahuluan

  • Filsuf Dan Williams baru-baru ini berargumen bahwa kritik terhadap media sosial dibesar-besarkan, tetapi penulis justru berpendapat bahwa masalah media sosial malah diremehkan
  • Tulisan ini menelaah terutama dampak politik media sosial, khususnya pengaruhnya terhadap polarisasi politik
  • Williams memandang ada banyak aspek media sosial yang disalahpahami atau dibesar-besarkan, tetapi penulis berargumen berdasarkan beragam bukti dan penelitian bahwa dampaknya secara nyata jauh lebih serius
  • Fokus pembahasan ada pada efek berbahaya dan provokatif terhadap politik massa di Amerika, sambil menegaskan bahwa isu yang sudah dikenal seperti 'misinformasi' dan 'teori konspirasi' memang memiliki sisi yang kadang dibesar-besarkan
  • Williams mengajukan empat sanggahan utama soal polarisasi (tren historis, dampak pada kelompok lansia, perbedaan antarnegara, dan efek kecil dalam studi eksperimental), tetapi penulis mengkritik bahwa dasar ini tidak cukup meyakinkan, dan kerugian nyata media sosial harus dinilai dengan sudut pandang yang lebih luas

2. Argumen Williams dan Tinjauan atasnya

Empat sanggahan utama Williams

  • Polarisasi afektif sudah meningkat jauh sebelum kemunculan media sosial
  • Pada kelompok lansia usia 65 tahun ke atas yang paling sedikit menggunakan media sosial, polarisasi justru meningkat lebih besar dalam beberapa tahun terakhir
  • Dalam data dari 12 negara OECD, pola polarisasi politik berbeda-beda di tiap negara, sehingga pengaruh media sosial tidak konsisten
  • Dalam berbagai studi eksperimental berkualitas tinggi, pengaruh penggunaan media sosial terhadap tingkat polarisasi individu sangat kecil atau tidak ada

“Benarkah begitu?”

  • Setelah 2010-an, data pada masa ketika smartphone dan media sosial telah meluas masih kurang, dan bahkan data yang paling luas pun hanya dikumpulkan pada tahun pemilu presiden sehingga tidak memadai
  • Dalam perbandingan tren polarisasi antarnegara pun, jumlah titik data tiap negara setelah 2010 sangat sedikit
  • Sulit menolak dampak negatif media sosial hanya berdasarkan perbedaan titik belok dalam data sederhana
  • Studi yang membahas peningkatan polarisasi di kalangan lansia (Boxell, Gentzkow, and Shapiro 2017) juga secara jelas mengakui kemungkinan dampak tidak langsung seperti spillover effect
    • Ada mekanisme di mana polarisasi akibat penggunaan media sosial di kalangan muda diteruskan ke lansia melalui media tradisional atau agenda politik
    • Efek tidak langsung semacam ini pada dasarnya pasti muncul jika mempertimbangkan sifat media sosial yang memang sosial
  • Studi eksperimental yang dipersonalisasi (misalnya perubahan desain feed atau menonaktifkan media sosial) tidak mampu menunjukkan efek jangka panjang dan kolektif terhadap masyarakat secara keseluruhan
    • Pembentukan sikap politik terus dipengaruhi oleh berbagai jalur (keluarga, media yang sudah ada, komunitas sosial, dan lain-lain)
    • Terutama pada masa-masa peristiwa seperti menjelang pemilu, paparan tidak langsung tetap bekerja sangat kuat
  • Kesimpulannya, penafsiran atas pengaruh kolektif media sosial harus mempertimbangkan interaksi yang luas dan struktur penyebaran, bukan eksperimen yang terisolasi

3. “Lalu kenapa?”

  • Sekalipun argumen ala Williams benar, kesimpulannya hanya berhenti pada ketidakpastian, sehingga bahaya politik media sosial tetap perlu diwaspadai
  • Polarisasi bukan satu-satunya indikator untuk menjelaskan bahaya media sosial, dan ada bukti yang lebih luas serta meyakinkan
  • Contoh utamanya adalah penguatan konten ekstrem secara emosional dan korelasi antara tingkat penetrasi media sosial per wilayah dengan perilaku politik (protes, kejahatan kebencian)
  • Semua ini dirangkum dalam “teori radikalisasi elite” (elite radicalization theory)

3.1. Teori radikalisasi elite

  • Fenomena di media sosial di mana konten yang kuat secara emosional atau bernada negatif menyebar jauh lebih luas dan cepat daripada konten netral telah dibuktikan kuat oleh penelitian
    • Ekspresi kemarahan moral (moral anger·disgust) secara tajam meningkatkan daya sebar konten
    • Bias negativitas (negativity bias) manusia dan bias perhatian terhadap rangsangan negatif dimaksimalkan di ruang online
    • Akibatnya, terbentuk lingkungan di mana “attention entrepreneur” atau influencer politik memproduksi konten negatif dalam jumlah besar demi popularitas dan pendapatan
  • Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok influencer politik yang dibentuk media sosial (politisi, jurnalis, selebritas, dan lain-lain) menjalankan pengaruh berlebihan dalam pasar komunikasi politik
    • Di antara seluruh pengguna, hanya segelintir pengguna yang sangat aktif dan radikal (3–10% teratas) yang menciptakan sebagian besar wacana politik, dan opini mereka tampak jauh lebih ekstrem daripada populasi Amerika yang sebenarnya
    • Akibatnya, masyarakat umum menganggap orang-orang di sekeliling mereka jauh lebih ekstrem dan penuh kemarahan daripada kenyataan, sehingga menjadi semacam nubuat yang terpenuhi dengan sendirinya
  • Banyak penelitian mengonfirmasi bahwa paparan terhadap ekspresi online yang ekstrem meningkatkan perilaku nyata individu (seperti memposting komentar negatif setelah suatu peristiwa, mengekspresikan kemarahan, dan sebagainya)
    • Ini terhubung dengan berbagai masalah sosial serius seperti kebencian terhadap ‘outgroup’ di SNS, teori konspirasi, dan meluasnya wacana identitas yang ekstrem
  • Menurut teori ini, media sosial tidak meradikalisasi seluruh massa yang sudah ada, melainkan kelompok elite/influencer yang relatif kecil, dan merekalah yang mendistribusikan sinyal-sinyal yang provokatif dan bias dalam jumlah besar
    • Mereka memengaruhi orang biasa dan elite lainnya, sehingga memelintir cara suatu kelompok memahami dirinya sendiri secara kolektif
  • Penerapannya pada perilaku nyata juga tinggi; studi terbaru (Rathje et al. 2025) menunjukkan bahwa berhenti mengikuti influencer ekstrem membuat sentimen terhadap kubu politik lawan mereda selama beberapa bulan
    • Artinya, sisi penawaran (influencer/distributor politik) benar-benar mengubah sikap sosial-psikologis para pengikutnya
  • Penyebaran sikap ekstrem bukan sekadar ‘noise’ online, tetapi juga memberi pengaruh jelas pada perilaku politik offline (protes, kejahatan kebencian, dan lain-lain)
    • Ada banyak hasil studi kuasi-eksperimental yang menunjukkan bahwa kota atau negara dengan tingkat penggunaan media sosial yang tinggi benar-benar memiliki lebih banyak kejahatan kebencian, protes, dan dukungan terhadap partai ekstrem
    • Hasil seperti ini diamati secara konsisten di berbagai negara di dunia (Rusia, Italia, Jerman, Amerika Serikat, dan lain-lain), bukan terbatas pada negara atau konteks tertentu
  • Secara khusus, media sosial juga terhubung dengan arus ekstremisasi politik seperti populisme sayap kanan ekstrem dan gerakan MAGA
    • Namun, ini juga dapat menjelaskan kebangkitan politik radikal kiri, karena baik kanan maupun kiri sama-sama memperoleh keuntungan mobilisasi dari struktur produksi konten negatif

3.2. Polarisasi partai dan radikalisasi elite

  • Teori ini tidak mengikuti logika bahwa media sosial harus selalu memperkuat hanya dukungan partai yang terbelah dua
    • Influencer di media sosial sering kali menekankan pesan populis atau nonpartisan yang melampaui logika dua partai
    • Karena itu, di dunia offline justru dapat muncul fenomena melemahnya loyalitas pada Partai Demokrat/Republik atau meningkatnya kelompok independen
  • Di Amerika Serikat belakangan ini, meningkatnya pemilih independen, ketidakpercayaan pada dua partai, dan konflik internal yang makin dalam juga dapat ditafsirkan sebagai dampak intensifikasi emosional dari media sosial
  • Pada akhirnya, dampak berbahaya media sosial dapat diringkas bukan sebagai peningkatan kebencian antarkelompok partai tertentu (affective polarization), melainkan sebagai intensifikasi emosi politik secara umum (affective intensity) dan perubahan perilaku sosial yang ditimbulkannya
  • Ini menunjukkan bahwa metode pengukuran ala rekayasa politik (polarisasi kebijakan) berisiko meremehkan dampak nyata media sosial

5. Kesimpulan

  • Dari dua sisi—insentif produksi konten negatif dan sensasional serta pemicu perilaku politik ekstrem yang menyertainya—media sosial telah secara serius mengubah lingkungan politik di Amerika Serikat dan banyak negara lain dalam 15 tahun terakhir
  • Kelompok elite seperti influencer politik secara inovatif memimpin perubahan opini publik dan persepsi sosial melalui media sosial
  • Sekalipun, seperti kata Williams, angka polarisasi tidak melonjak drastis, peningkatan kemarahan, ketakutan, wacana politik berbasis identitas, dan insiden kekerasan politik tampak jelas
  • Perubahan ini memang tidak harus dipandang semata-mata sebagai kausalitas langsung dari media sosial, tetapi tetap memiliki keterkaitan yang dalam dengan gerakan MAGA (Trump) serta kebangkitan berbagai politik ekstrem progresif maupun konservatif
  • Ke depan, jika kita tidak secara jelas mendiagnosis dampak revolusi media digital terhadap seluruh struktur sosial, ada risiko besar untuk meremehkan bahayanya, dan diperlukan telaah yang seimbang atas dampak teknologi

2 komentar

 
ndrgrd 2025-09-15

Kalau itu tempat yang memungkinkan orang bebas menyampaikan pendapat yang berseberangan, kecenderungannya mungkin lebih lemah; sedangkan di tempat yang terobsesi pada 'relasi', kecenderungan seperti itu tampaknya akan lebih kuat.

 
GN⁺ 2025-09-15
Komentar Hacker News
  • Jika kritik terhadap media sosial benar-benar sekuat itu, rasanya perdebatan seperti ini tidak akan terjadi di tempat seperti Substack. Saat ini memang banyak hal yang tidak memuaskan. Media sosial membuat kita bisa melihat kenyataan itu secara langsung. Menghubungkan korelasi hanya berdasarkan ideologi pribadi berbeda dengan menemukan hubungan kausal. Karena media sosial sangat luas dan kompleks, saya yakin dampak buruknya jelas ada. Sangat kecil kemungkinan semua elemennya selalu bekerja secara positif. Buku-buku yang menyasar publik yang cemas sering kali memilih hanya penelitian tertentu, dan hal seperti ini bisa membentuk opini publik yang terlepas dari data. Ada penulis yang menulis buku untuk mengekspresikan ide, tetapi orang seperti Jonathan Haidt tampaknya lebih berfokus meyakinkan banyak orang pada ideologinya. Belakangan ini makin menyebar anggapan bahwa sudut pandang itu sama dengan kenyataan. Jika cukup banyak orang diyakinkan, itu seolah menjadi fakta. Saya jelas siap mengakui sisi negatif media sosial. Jika ada ‘alasan’ dan ‘cara’ yang jelas, mungkin tiap masalah bisa diatasi satu per satu. Menolak semuanya mentah-mentah justru menurut saya menghambat perbaikan. Ketika banyak isu yang berbeda-beda semuanya kebetulan disebut buruk, saya jadi curiga jangan-jangan ada dasar tersembunyi yang belum terbukti atau informasi yang disajikan secara bias

    • Topik ini bukan cuma dibahas di Substack. Ini sudah diperdebatkan di seluruh dunia selama 10 tahun terakhir. Misalnya, Australia membatasi usia penggunaan media sosial menjadi 16 tahun, dan Prancis 15 tahun. Sekolah maupun negara juga sedang mencoba berbagai larangan penggunaan ponsel. Ada juga tuduhan dari whistleblower bahwa Facebook menutupi riset internal karena khawatir riset itu akan mengungkap dampaknya. Secara pribadi, kita memang perlu bertanya pada diri sendiri apakah kita menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial
    • Saya menganggap kurasi berbasis algoritme itu sendiri berbahaya, terutama ketika sudah tercemar oleh kepentingan korporasi atau politik. Kita memahami banyak isu dari apa yang dibicarakan orang, bagaimana pendapat diterima, dan dari reaksi orang lain saat menafsirkan informasi. Algoritme merusak aliran informasi tradisional ini. Yang berubah hanya cara penyebarannya, sementara cara menafsirkannya tetap sama. Dalam skenario terburuk, ini bisa berujung pada konsekuensi serius
    • Karena topik ini makin sering dibahas juga di media tradisional, saya rasa kalimat pertama sebaiknya dilewati saja. Makin banyak orang yang mengatakan media sosial itu net-negative, dan itu sendiri adalah awal perubahan. Pendekatan akademis seperti ‘mari nilai tiap masalah secara terpisah’ tidak memberi tenaga politik pada isu seperti ini. (Atau bisa juga dilihat bahwa ‘social media’ ala era Facebook hanyalah satu bagian dari ‘internet’, dan yang dipermasalahkan hanyalah salah satu bagiannya)
    • Menanggapi pendapat bahwa jika sisi buruk media sosial dijelaskan dengan jelas maka bisa diperbaiki, saya rasa fakta bahwa perusahaan sengaja merancang media sosial agar semaksimal mungkin adiktif saja sudah cukup menunjukkan masalahnya. Sama seperti bahaya rokok elektrik tidak harus dinilai dengan memeriksa satu per satu kandungannya sebelum memutuskan perlu dilarang atau tidak, saya memang menganggap pelarangan media sosial untuk anak terlalu berlebihan, tetapi larangan ponsel di sekolah semestinya tidak perlu jadi bahan perdebatan
    • Saya rasa tidak perlu logika yang rumit. Sesuatu yang adiktif itu berbahaya, dan media sosial sedang dirancang agar makin adiktif. Semakin adiktif, semakin berbahaya. Anak-anak khususnya lebih rentan. Melihat hal ini, masuk akal untuk menganggap media sosial juga kemungkinan besar berbahaya kecuali ada bantahan khusus yang kuat
  • Kalau Anda politikus, orang harus memilih saya, dan saya punya basis pendukung, jadi mereka sudah ada di pihak saya. Targetnya adalah tidak mengasingkan terlalu banyak orang lain, sambil merebut cukup banyak pemilih tengah agar mendekati 50%. Sebaliknya, kalau Anda influencer, yang dibutuhkan adalah engagement. Hidup sudah bisa jalan hanya dengan 10% dari keseluruhan audiens, dan karena perhatian mereka harus terus dipertahankan, pesannya selalu dibuat provokatif

    • Sekarang yang pertama itu rasanya sudah tidak lagi berlaku. Di AS dan Eropa Barat polarisasi makin parah, dan retorika serta kebijakan ekstrem di dunia politik juga meningkat. Ini membuat saya bertanya-tanya apakah politikus atau partai kini lebih fokus pada engagement dari basis ekstrem mereka ketimbang pemilih tengah
    • Saya tidak setuju. Partai arus utama jelas membidik pemilih tengah, tetapi partai kecil sering lebih diuntungkan jika mewakili posisi yang ekstrem. Orang dengan keyakinan kuat lebih rajin memilih, dan posisi ekstrem juga lebih mudah menarik perhatian
    • Menurut saya ini merangkum poin tulisan tersebut dengan menarik. Ia menekankan bagaimana identitas kelompok memengaruhi cara kita memakai media sosial, padahal yang penting justru bagaimana media sosial memengaruhi wacana sosial kita
    • Jika melihat makin banyak orang yang memilih demi penanganan perubahan iklim, itu membuktikan bahwa ada cukup banyak publik sehingga bahkan pesan bahwa orang harus mengurangi gaya hidupnya sendiri bisa menjadi isu utama partai politik
  • Bagian tersulit dalam argumen menentang teknologi dan media sosial adalah bahwa kita hampir pasti harus membayangkan kontrafaktual: ‘bagaimana dunia akan berbeda jika itu tidak ada’. Misalnya, jika aplikasi kencan online tidak pernah ada, hasilnya bukan sekadar dunia sekarang tanpa aplikasi itu; mungkin akan muncul bentuk interaksi sosial lain yang lebih lokal dan lebih sehat. Saya lebih tertarik pada argumen bahwa alih-alih orang menghabiskan berjam-jam di media sosial, dunia yang lebih baik sebenarnya mungkin ada, dan bahwa media sosial pada dasarnya adalah ‘pengganti koneksi sosial’ yang semata-mata mencoba menjual produk kepada semua orang. Tampaknya kebanyakan orang setuju pada poin ini

  • Saya rasa masalahnya adalah media sosial yang “berbasis algoritme”, yaitu bentuk yang dirancang dengan engagement sebagai tujuan inti

    • Baru-baru ini saya tahu bahwa Tiktok punya fitur bernama “Streak Pets”. Ini strategi untuk memaksimalkan engagement dengan menjadikan aktivitas pemicu kecanduan dopamin itu seperti permainan. Saya bisa membayangkan rapat tim di Tiktok yang terus memikirkan bagaimana membuat pengguna bertahan lebih lama meski otak mereka sudah lelah
    • “Engagement” yang dimaksud di sini pada akhirnya hanyalah istilah lain untuk memaksimalkan tayangan iklan. Ketika pendapatan iklan dioptimalkan, platform akan mengejar keuntungan dan berhenti peduli pada pengguna
  • Dulu saya pernah kecanduan Facebook sampai lebih dari 4 jam sehari. November tahun lalu saya mencapai batas dan benar-benar berhenti dari media sosial. Facebook saya nonaktifkan, Twitter saya hapus permanen, aplikasi LinkedIn juga saya hapus dan di desktop saya hanya memakai ekstensi pemblokir newsfeed sambil tetap melihat pesan. Aplikasi mobile Google, Chrome, dan Youtube juga saya hapus, lalu hanya mengakses seperlunya lewat mode privat Safari. Ternyata hanya dengan menyingkirkan aplikasinya dari ponsel, saya bisa berhenti dengan mudah tanpa gejala putus, sama sekali tidak kangen, dan kualitas hidup saya jauh lebih baik. HN pun hanya sesekali saya lihat, jadi saya bahkan tidak merasa itu adiktif

    • Sedikit tip: di Firefox mobile, Leechblock bisa dipakai untuk memutus kebiasaan berputar-putar di situs secara otomatis. Ada memori otot yang membuat kita tanpa sadar membuka situs-situs yang merugikan, jadi sekalian saja diblokir
    • Tetapi saya juga merasa keluarnya individu dari platform justru bisa memperburuk sistem secara keseluruhan. Populasi media sosial yang tersisa bisa menjadi makin ekstrem. Jika kecenderungan pribadi seseorang memang mudah memanas, saya mendukung ia keluar, tetapi jika orang-orang yang lebih tenang justru pergi, itu bisa jadi lebih berbahaya
  • Saya juga pernah melakukan semacam eksperimen tidak resmi untuk berhenti dari media sosial dengan cara saya sendiri, dan hasilnya suasana hati saya jauh lebih baik. Saya tidak butuh data lain

    • Saya juga begitu. Bahkan ketika melihat berita yang menyedihkan, tanpa notifikasi komentar SNS yang terus-menerus, saya tidak masuk ke lingkaran kecemasan. Kalau mulai bosan, saya tinggal tutup dan mengambil jarak. Sejak 2016 saya benar-benar berhenti dari Facebook, dan yang tersisa hanya perasaan bahwa saya jadi kurang tahu informasi. Setelah itu saya pelan-pelan juga berhenti dari forum, Instagram, dan Reddit. Yang tersisa hanya Youtube yang kadang saya buka untuk melihat hal-hal lucu. Suasana hati saya lebih tenang dan saya merasa lebih memegang kendali atas hidup saya sendiri. Menurut saya tidak masuk akal perusahaan-perusahaan seperti ini punya pengaruh sebesar itu terhadap masyarakat dengan kontribusi yang nyaris tidak ada
    • Saya juga melakukan eksperimen yang sama dan sampai pada kesimpulan yang sama
  • Selama beberapa bulan saya sempat memasang fb, Reddit, x, dan Instagram lagi, lalu benar-benar merasakan betapa adiktifnya semua itu. Pada akhirnya saya hanya menghapus aplikasinya, membiarkan akunnya tetap ada, dan memakai versi web secara terbatas

  • Banyak komentar tampaknya mengabaikan Hukum Hotelling ( tautan Wikipedia ). Jika diterapkan ke politik, rencana permainannya jadi seperti ini: dalam sistem dua partai, mula-mula pesan dimulai dari posisi tengah partainya sendiri. Dengan begitu, Anda meraih pemilih dari tengah partai sendiri hingga seluruh pemilih moderat, serta sebagian orang yang posisinya lebih ke luar dari titik tengah itu. Strategi ini membantu menang di pemilihan pendahuluan. Setelah itu, Anda perlu perlahan bergerak menuju titik tengah seluruh populasi. Dengan cara ini Anda bisa meraih pemilih moderat dari partai sendiri maupun partai lawan. Partai lawan juga melakukan hal yang sama dari arah sebaliknya. Untuk pertanyaan ‘kalau begitu kenapa tidak mulai dari tengah saja sejak awal?’, jawabannya adalah karena Anda tidak akan menang di pemilihan pendahuluan, dan justru akan kalah dari kedua partai yang sama-sama membidik pemilih tengah

  • Sampai baru-baru ini saya percaya pada kebebasan anonimitas online, tetapi sekarang saya mulai merasakan bahwa anonimitas adalah beban yang terlalu berat untuk ditanggung oleh masyarakat yang sehat. Saya merasa manusia memang tidak sanggup memikul tanggung jawab untuk terhubung secara anonim dengan ratusan juta orang di seluruh dunia tanpa konsekuensi

    • Bantahan yang kuat adalah bahwa sistem nama asli yang sepenuhnya diterapkan akan menimbulkan efek gentar yang besar terhadap perbedaan pendapat politik atau kritik terhadap rezim. Menurut saya efek samping ini jauh lebih berbahaya daripada sebagian kasus ekstrem
    • Jika yang dibahas adalah reaksi terhadap insiden Charlie Kirk saat ini, sepertinya anonimitas itu sendiri bukan masalahnya. Pendapat yang disampaikan dengan nama asli pun sama ekstremnya dengan yang anonim. Bahkan ada kecenderungan lebih agresif ketika memakai nama asli. Nama asli justru bisa mendorong pesan yang lebih keras sebagai sinyal rasa memiliki terhadap suatu kelompok
    • Saya rasa anonimitas tidak terlalu berpengaruh besar. Ucapan berniat buruk juga sangat banyak diposting dengan nama asli. Jika anonimitas mengubah pikiran seseorang, mungkin keyakinan aslinya memang tidak terlalu kuat
    • Sebenarnya, bahkan tanpa anonimitas pun berkomunikasi secara bertanggung jawab di internet tampaknya terlalu sulit bagi kebanyakan orang. Di LinkedIn yang berbasis nama asli pun banyak efek samping seperti pelaporan ke perusahaan, perundungan, dan pelanggaran privasi
    • Jika internet adalah platform media sosial terbesar di dunia, saya rasa anonimitas memang harus dihapus. Server telemetri publik berbasis DNS yang saya kelola juga menerima lebih dari 1.000 permintaan jahat untuk setiap satu permintaan normal. Lalu lintas seperti ini harus ditolak (REFUSED), dan ada aturan agar alamat IP itu juga tidak dipublikasikan, padahal tidak ada cara untuk tahu apakah IP-nya dipalsukan atau tidak. Alamat IP seharusnya dipublikasikan agar situasi bisa dibagikan secara global dan kita tahu apakah ini benar-benar masalah atau spoofing. Di internet tidak ada polisi; kalau ada, BCP 38 pasti sudah diterapkan dan masalah ini sudah hilang. Kenyataannya, penyalahgunaan terus berlangsung
  • Tulisan model ‘ternyata tidak begitu’ yang memancing pertanyaan dan klik seperti ini jauh kurang menarik daripada yang dipikirkan penulisnya

    • Begitu membaca pembuka yang menyebut-nyebut ‘esai panjang’, saya langsung menutup halamannya. Panjang saja tidak membuat tulisan jadi bagus
    • Begitu membaca kalimat ‘Saya akan berfokus pada dampak politik media sosial’, saya langsung menutup tab
    • Penulis sebenarnya bisa menyampaikan poin yang sama persis tanpa memakai istilah sulit seperti “polemicizing”, “putative”, dan “epistemic”