- Seiring konstelasi satelit Starlink milik SpaceX bertambah sangat cepat, kini teramati 1–2 satelit masuk kembali ke atmosfer setiap hari dan terbakar
- Masa pakai satelit orbit rendah adalah sekitar 5–7 tahun, dan ketika jumlah satelit aktif terus bertambah, diperkirakan hingga 5 satelit per hari akan masuk kembali
- Saat aktivitas Matahari tinggi, atmosfer atas mengembang sehingga hambatan udara meningkat, orbit satelit menurun, dan terjadi kasus jatuh lebih awal
- Fragmen satelit seperti ini meninggalkan partikel logam langka seperti niobium dan hafnium di atmosfer, yang berpotensi memengaruhi lapisan ozon dan keseimbangan radiasi Bumi
- Ada peringatan bahwa bila puluhan ribu satelit dioperasikan di masa depan, risiko Sindrom Kessler (lonjakan sampah antariksa akibat tabrakan berantai) akan makin besar
Peningkatan reentry satelit Starlink
- Menurut astrofisikawan Smithsonian Jonathan McDowell, saat ini 1–2 satelit Starlink per hari jatuh kembali ke Bumi
- Jonathan’s Space Report milik McDowell merupakan rujukan yang berwibawa untuk catatan peluncuran dan reentry wahana antariksa
- Saat ini ada sekitar 8.000 satelit Starlink di sekitar orbit Bumi, dan jumlah ini terus bertambah
- Umur satelit orbit rendah (di bawah 1.200 mil) sekitar 5–7 tahun, lalu pada akhir masa pakainya akan masuk kembali ke atmosfer dan musnah
- McDowell memperkirakan bahwa di masa depan total lebih dari 50.000 satelit seperti Starlink, Amazon Kuiper, dan satelit Tiongkok akan berada di orbit rendah Bumi
- Dalam kondisi itu, diperkirakan akan terjadi rata-rata 5 reentry satelit per hari
- Jika orbit satelit Tiongkok lebih tinggi, risiko Sindrom Kessler (reaksi berantai tabrakan) dapat meningkat
- Sindrom Kessler adalah skenario ketika kepadatan objek di orbit rendah Bumi meningkat, memicu tabrakan berantai, dan fragmen yang dihasilkan menyebabkan tabrakan berikutnya
- Fenomena peningkatan sampah antariksa seperti ini menghadirkan kemungkinan fragmentasi berantai yang berkelanjutan serta faktor risiko tambahan
Cara membedakan meteor vs sampah antariksa
- Saat memasuki atmosfer, benda terbakar yang terlihat dengan mata telanjang mudah disalahartikan sebagai sampah antariksa atau meteor
- McDowell menjelaskan bahwa keduanya bisa dibedakan dengan mudah lewat “kecepatan”
- Meteor masuk dari orbit Matahari dengan kecepatan sangat tinggi dan menghilang dalam beberapa detik
- Sampah antariksa lebih lambat, dan tampak melintasi langit selama beberapa menit
Dampak aktivitas Matahari
- Baru-baru ini kita memasuki fase puncak aktivitas Matahari (solar maximum), sehingga dampak badai Matahari makin besar
- Jika badai Matahari memanaskan atmosfer atas Bumi dan meningkatkan kerapatannya, satelit orbit rendah Bumi harus melewati udara yang lebih tebal, sehingga mengalami hambatan udara lebih besar dan penurunan kecepatan, lalu jatuh lebih cepat
- Operator satelit dapat menaikkan kembali ketinggiannya, tetapi jika itu tidak memungkinkan, reentry dini akan terjadi
- Pada awal 2022, ada kasus 40 satelit Starlink yang masuk kembali lebih awal dan hilang segera setelah peluncuran akibat badai Matahari
Reentry akibat malfungsi
- Malfungsi roket atau satelit juga dapat menjadi penyebab reentry
- Pada Juli 2024, kegagalan tahap kedua Falcon 9 membuat 20 satelit Starlink masuk ke orbit yang salah
- Sebagian besar di antaranya masuk ke atmosfer dan musnah pada hari peluncuran, dan satu yang terakhir juga masuk kembali serta musnah setelah 8 hari
Kasus reentry terbaru
- 25 September 2025: satelit Starlink terlihat terbakar saat memasuki atmosfer di langit Bay Area, California
- 22 September 2025: reentry satelit terjadi di langit Saskatchewan, Kanada
- 21 September 2025: fenomena musnahnya satelit di langit Texas menarik perhatian
- Karena 70% permukaan Bumi adalah wilayah perairan, kasus satelit yang masuk kembali dan benar-benar teramati tergolong jarang
Dampak terhadap atmosfer
- Hasil investigasi ilmiah NOAA pada 2023 menemukan beragam partikel logam langka di atmosfer, khususnya di stratosfer (ketinggian di atas 11 km), dalam jumlah yang melebihi perkiraan
- Partikel ini diperkirakan terbentuk saat satelit atau pendorong roket memasuki atmosfer dan menguap pada suhu tinggi
- Logam langka yang digunakan dalam paduan berkinerja tinggi seperti niobium, hafnium, tembaga, litium, dan aluminium terdeteksi pada konsentrasi yang jauh lebih tinggi daripada debu antariksa
- Partikel halus ini dapat menyerap atau memantulkan radiasi Matahari, dan berpotensi bertindak sebagai katalis reaksi perusakan ozon
- Dampak keseluruhannya terhadap atmosfer belum sepenuhnya dipahami, dan penelitian lanjutan sedang dilakukan karena ada kemungkinan memicu perubahan komposisi atmosfer Bumi dan dampak iklim
Kesimpulan
- Saat ini 1–2 satelit Starlink per hari jatuh ke atmosfer Bumi, dan jumlah itu diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 5 per hari di masa depan
- Dampak atmosfer dari partikel logam halus yang ditinggalkan fragmen satelit masih belum sepenuhnya dipahami, sehingga pemantauan dan penelitian berkelanjutan diperlukan
1 komentar
Opini Hacker News