11 poin oleh GN⁺ 2025-10-29 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Tindakan belajar dengan menyentuh dan mengubah sesuatu (tinkering) bukan sekadar memperoleh keterampilan teknis, melainkan proses inti dalam pembelajaran dan pembentukan selera
  • Dalam proses mencoba tanpa tujuan pasti dan mengulang kegagalan, rasa ingin tahu dan kepekaan tumbuh
  • Selera yang baik terbentuk dengan mencoba sendiri berbagai alat dan lingkungan, melalui eksperimen berulang: membuang yang tidak disukai dan mempertahankan yang bagus
  • Tindakan terus menyentuh, merusak, dan membuat ulang adalah cara untuk menumbuhkan kepekaan membedakan yang biasa saja dan yang unggul
  • Kebiasaan bertanya, bereksperimen, dan terus berbenturan setiap hari adalah sikap yang harus dimiliki developer di era sekarang

Apa itu tinkering

  • Tinker berarti tindakan melakukan penyesuaian kecil berulang untuk memperbaiki atau meningkatkan sesuatu
  • Contohnya adalah tindakan seperti mengatur sensitivitas mouse di game FPS, mengonfigurasi window manager Linux, atau membongkar dan melumasi keyboard mekanis
  • Tindakan-tindakan ini tidak selalu wajib, tetapi memberi kesenangan dalam membangun lingkungan sendiri dan berlanjut menjadi pembelajaran

Sikap tinkering

  • Ada dua jenis orang: mereka yang hanya bertindak demi mencapai tujuan dan mereka yang mencoba tanpa alasan tertentu
    • Sikap ideal ada di tengah-tengah keduanya, yaitu menemukan keseimbangan antara eksperimen dan kepraktisan
  • Tindakan menyentuh bahasa, alat, dan editor baru sambil menerima ketidaknyamanan menjadi proses yang memperluas kepekaan kreatif
    • Bukan berarti beberapa developer yang hanya memakai terminal VSCode, tidak mengenal binding vim, atau menggunakan GitHub Desktop alih-alih CLI itu buruk, tetapi ini sebaiknya dipandang sebagai tingkat dasar (minimum)
    Iklan
  • Seperti ungkapan “latihan adalah sesuatu yang bisa dibuang”, daya jelajah proses dan frekuensinya lebih penting daripada hasil

Hubungan antara belajar dan selera

  • Selera yang baik adalah daya membedakan yang lahir dari akumulasi pengalaman, dan itu tidak bisa diperoleh tanpa banyak percobaan
  • Proses mencoba berbagai alat dan bahasa lalu membedakan mana yang “bagus” dan mana yang “kurang” itulah pembelajaran
  • Percobaan yang dulu tampak tidak perlu, pada akhirnya memperdalam pemahaman dan kecintaan terhadap pemrograman
  • Tidak mengikuti standar orang lain, melainkan mengulang proses memilih dan membuang berdasarkan standar sendiri, itulah proses yang membentuk selera sejati
  • Belakangan ini, dengan mencoba menulis shader GLSL, macro prosedural Rust, template C++, pengembangan aplikasi Swift, dan menggunakan editor Helix, penulis memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru murni karena kesenangan

Waktu yang dipakai untuk belajar tidak pernah sia-sia

Iklan

Mengapa selera penting sekarang

  • Di dalam tindakan terus-menerus mencoba, memperbaiki, merusak, dan membuat ulang, bukan hanya keterampilan, tetapi juga kepekaan dan standar estetika tumbuh bersama
  • Selera yang baik (good taste) terbentuk melalui proses mencoba berbagai hal, membuang yang tidak cocok, dan mempertahankan yang disukai
  • ‘Selera’ yang dimaksud di sini adalah kemampuan membedakan yang biasa saja dan yang unggul, dan berbeda pada setiap orang serta tidak harus sama dengan orang lain

Pertanyakan status quo, bereksperimenlah, hancurkan, lalu ulangi

1 komentar

 
GN⁺ 2025-10-29
Pendapat Hacker News
  • Seorang teman pernah berkata lama sekali bahwa setelah mempelajari segala hal tentang kopi, ia justru hanya bisa menikmati kopi yang dibuat dengan biji kopi dan mesin mahal, tetapi tingkat kesenangannya sama saja seperti saat dulu minum kopi supermarket
    Karena itu aku berusaha menjalani hidup dengan mengurangi ‘selera’ sebisa mungkin. Headphone seharga 20 dolar dan TV 200 dolar sudah cukup memuaskan, dan meski teman-temanku memakai TV 3.000 dolar, besarnya kesenangan tidak berbeda

    • Aku justru kebalikannya, sama sekali tidak bisa menikmati kopi atau cokelat biasa. Baru setelah menginjak usia 30-an aku mencicipi ‘kopi sungguhan’ dan ‘cokelat sungguhan’, lalu sadar bahwa itu dunia yang benar-benar berbeda
      Sekarang aku berlangganan biji kopi dari roastery independen dan menikmati keseruan menjelajahi rasa baru setiap saat. Mengenal kopi yang enak adalah pengalaman yang membuat hidupku lebih kaya
    • Ceritamu terdengar lebih seperti sikap ‘merasa cukup’ daripada ‘tidak punya selera’. Standar kesenangan tiap orang memang berbeda, dan peralatan mahal tidak selalu memberi kebahagiaan lebih besar
      Bagiku, ‘selera’ bukan merusak pengalaman, justru membuatnya lebih kaya
    • Aku juga punya pengalaman serupa. Setelah lama memakai headphone 20 dolar, aku mencoba yang 200 dolar yang kudapat saat membeli ponsel baru, dan musik terdengar benar-benar baru
      Meski begitu, dalam keseharian aku tetap memakai yang 20 dolar. Menurutku yang penting adalah ‘menikmati tanpa gengsi’
    • Meski paham kopi, orang tetap bisa menikmati kopi instan atau kopi pom bensin. Mengetahui rasa dan menjadi sombong itu dua hal yang berbeda
      Seperti insinyur hebat yang di akhir pekan menjalankan Doom di kentang, selera adalah kekuatan untuk merangkul keberagaman
    • Kalau mendengar cerita seperti ini, rasanya seperti ‘perjalanan belajarnya belum benar-benar selesai’. Seperti orang yang baru sedikit belajar musik lalu mengira hanya Bach yang bagus, tetapi setelah belajar lebih dalam jadi bisa memahami daya tarik Taylor Swift juga
      Selera yang sesungguhnya adalah kemampuan memahami keindahan dari berbagai gaya. Aku pun setelah mencoba beragam peralatan kopi akhirnya punya ‘selera yang lebih tidak menghakimi’
  • Aku setuju dengan gagasan bahwa ada orang yang “melakukan sesuatu hanya demi tujuan” dan ada yang “melakukannya begitu saja”
    Sekarang ini siapa pun bisa melakukan ‘vibe coding’, jadi menurutku perbedaan antar developer ditentukan oleh ‘good taste’
    Ini bukan sekadar insting, melainkan daya membedakan yang terbentuk lewat banyak percobaan. Dalam desain sistem juga sama, yang penting bukan hanya membuatnya cepat jadi, tetapi juga kemampuan membangun ‘struktur yang tidak mudah runtuh’
    Karena itu aku membuat folder sandbox untuk bereksperimen dengan ide atau library baru dan mengasah seleraku

    • Aku juga sangat setuju. Di GitHub mungkin tidak terlihat banyak, tetapi di folder lokal ~/Code milikku penuh dengan proyek eksperimen. Eksperimen-eksperimen kecil seperti ini membuatku menjadi programmer yang lebih baik
    • Aku 100% setuju dengan ungkapan “yang bertahan hidup adalah orang yang cepat dan juga bagus dalam membuat sesuatu”
    • Ini sama seperti para penulis terbaik yang semuanya adalah pembaca yang sangat antusias. Developer juga harus terpapar banyak kode agar punya selera
    • Di era LLM sekarang, terasa bahwa ‘gaya pribadi’ makin menghilang. Di tengah orang-orang yang berpikir cukup asal berjalan, sikap untuk memikirkan mengapa sesuatu dibuat dengan cara tertentu makin jarang
      Misalnya, aku pernah melihat PR yang membuat sesuatu jadi rumit dengan AWS Lambda dan Terraform, padahal cukup menambahkan route sederhana di aplikasi Flask
    • Ini mengingatkanku pada XKCD 915. Intinya adalah bahwa wawasan yang luas pada akhirnya membentuk selera yang baik
  • Aku paham inti tulisan penulisnya, tetapi rasanya contoh yang dipakai kurang tepat. Sensitivitas mouse, switch keyboard, dan pengaturan VSCode adalah hal-hal yang memang dari awal dibuat untuk disesuaikan
    Pembelajaran yang sesungguhnya datang dari ‘memakainya dengan cara yang salah’, tetapi sekarang bahkan percobaan seperti itu pun sudah dikomodifikasi. Agak disayangkan bahwa dunia jadi terlalu nyaman sampai bahkan tweak pun menjadi pengalaman yang sudah dikemas

  • Dulu aku menganggap ‘selera’ sebagai standar untuk membedakan kualitas yang baik, tetapi sekarang aku melihatnya sebagai ‘tingkat kesesuaian nilai’
    Saat kita menilai selera seseorang itu bagus, pada akhirnya itu karena dia dan kita berbagi nilai yang sama

    • Perbedaan antara dua definisi itu pada akhirnya bergantung pada ‘apakah ada standar yang absolut’. Begitu sudut pandang relatif masuk, maknanya jadi sepenuhnya berbeda
    • Aku melihat selera sebagai ‘kemampuan menjelaskan preferensi sendiri secara logis’. Bukan sekadar mengatakan suka, tetapi mampu mengatakan mengapa itu bagus
    • Ada dua definisi selera. (1) Menilai baik dan buruk dibandingkan suatu standar, (2) kemampuan memahami medium secara mendalam dan membedakan perbedaan di dalamnya
    • Kita perlu membedakan antara ‘selera buruk’ dan ‘selera yang berbeda’. Salah satu developer yang paling kuhormati punya gaya yang sepenuhnya berbeda dariku, tetapi dalam kodenya ada niat yang jelas dan konsistensi
      Menurutku, pembicaraan tentang ‘kesengajaan’ inilah inti sejati dari selera
    • ‘Selera’ yang dibicarakan di sini pada akhirnya lebih dekat dengan ‘opini’. Bukan harus menyentuh atau mengutak-atik langsung; memilih dan mengeluh pun adalah ekspresi selera
  • Insinyur terburuk yang pernah kulihat adalah orang-orang yang terjebak dalam ‘selera mereka sendiri’. Dalam lingkungan yang membutuhkan kolaborasi, sikap seperti itu merusak tim
    Coding bukan seni, melainkan ‘pekerjaan untuk orang lain’. Pengguna lebih peduli pada nilai hasil akhirnya daripada bahasa atau pola yang dipakai
    Developer yang benar-benar andal adalah orang yang bisa berkolaborasi dengan cara apa pun

    • Tetapi aku menganggap coding sebagai tindakan artistik. Mengekspresikan masalah secara tepat, lalu membangun struktur yang bisa dipahami dan dikembangkan orang lain, itu terasa dekat dengan seni
      Yang penting adalah kepekaan untuk tahu kapan harus memegang prinsip
    • Selera yang benar-benar baik lahir dari pemahaman mendalam terhadap nilai bagi pengguna. Intinya bukan keren-kerenan, melainkan nilai yang nyata
    • Tentu saja, kalau kodenya berantakan, pemeliharaan jadi sulit dan pada akhirnya itu juga memengaruhi pengalaman pengguna. ‘Struktur yang dibangun dengan selera’ pada akhirnya juga membantu bisnis
  • Pembedaan antara “bertindak demi tujuan vs bertindak begitu saja” mirip dengan konsep dalam 『Zen and the Art of Motorcycle Maintenance』
    Robert Pirsig membaginya menjadi ‘pemahaman romantik’ dan ‘pemahaman klasik’, tetapi pada akhirnya ia mengatakan bahwa keduanya sama-sama ilusi, dan sudut pandang yang terintegrasi adalah yang ideal

  • Konsep ‘tinkering’ dari penulis sebenarnya terasa mirip dengan perilaku fokus berulang yang terlihat pada neurodivergence
    Selera yang baik bukan lahir dari pengulangan semata, melainkan dari gabungan pengetahuan dan keterampilan. Yang penting adalah seberapa luas kita memahami dunia, dan apakah kita menyadari wilayah yang belum kita pahami

  • Dulu aku juga seorang ‘tukang tweak tanpa henti’, tetapi setelah keluarga, pekerjaan, dan hidup makin sibuk, aku secara realistis melepaskannya
    Sekarang aku memakai Synology NAS, dan kembali ke Windows alih-alih Linux. Meski begitu, semangat tinkering masih tetap ada dalam diriku

    • Bagiku tinkering sekarang lebih dekat ke ‘hobi’. Misalnya, alih-alih strategi catatan rumit seperti Obsidian, aku cukup melemparkan pikiran ke file teks biasa
      ‘Metode mencatat yang butuh maintenance’ bukan sesuatu yang cocok untukku
  • Aku tidak yakin kata ‘selera’ adalah istilah yang tepat, tetapi aku setuju pada gagasan ‘proses belajar lewat eksperimen yang menyenangkan’
    Hanya saja, cara belajar seperti ini punya dua keterbatasan

    1. Mudah terseret ke tweak yang tidak bermakna
    2. Sulit menjaga motivasi saat keseruannya hilang — dalam situasi seperti ini, motivasi eksternal (misalnya Advent of Code) bisa membantu
  • Penulis mendefinisikan ‘tinkering’ dengan mengambil IDE sebagai contoh, tetapi IDE bukan satu-satunya objek eksperimen
    Ada banyak ranah lain seperti sensitivitas mouse, keyboard, window manager, dan sebagainya
    Tidak mengutak-atik IDE bukan berarti seseorang adalah ‘non-tweaker’. Pada akhirnya yang penting adalah ‘sikap untuk mengeksplorasi’, bukan alat tertentu