- Tindakan belajar dengan menyentuh dan mengubah sesuatu (tinkering) bukan sekadar memperoleh keterampilan teknis, melainkan proses inti dalam pembelajaran dan pembentukan selera
- Dalam proses mencoba tanpa tujuan pasti dan mengulang kegagalan, rasa ingin tahu dan kepekaan tumbuh
- Selera yang baik terbentuk dengan mencoba sendiri berbagai alat dan lingkungan, melalui eksperimen berulang: membuang yang tidak disukai dan mempertahankan yang bagus
- Tindakan terus menyentuh, merusak, dan membuat ulang adalah cara untuk menumbuhkan kepekaan membedakan yang biasa saja dan yang unggul
- Kebiasaan bertanya, bereksperimen, dan terus berbenturan setiap hari adalah sikap yang harus dimiliki developer di era sekarang
Apa itu tinkering
Tinkerberarti tindakan melakukan penyesuaian kecil berulang untuk memperbaiki atau meningkatkan sesuatu- Contohnya adalah tindakan seperti mengatur sensitivitas mouse di game FPS, mengonfigurasi window manager Linux, atau membongkar dan melumasi keyboard mekanis
- Tindakan-tindakan ini tidak selalu wajib, tetapi memberi kesenangan dalam membangun lingkungan sendiri dan berlanjut menjadi pembelajaran
Sikap tinkering
- Ada dua jenis orang: mereka yang hanya bertindak demi mencapai tujuan dan mereka yang mencoba tanpa alasan tertentu
- Sikap ideal ada di tengah-tengah keduanya, yaitu menemukan keseimbangan antara eksperimen dan kepraktisan
- Tindakan menyentuh bahasa, alat, dan editor baru sambil menerima ketidaknyamanan menjadi proses yang memperluas kepekaan kreatif
- Bukan berarti beberapa developer yang hanya memakai terminal VSCode, tidak mengenal binding vim, atau menggunakan GitHub Desktop alih-alih CLI itu buruk, tetapi ini sebaiknya dipandang sebagai tingkat dasar (minimum)
- Seperti ungkapan “latihan adalah sesuatu yang bisa dibuang”, daya jelajah proses dan frekuensinya lebih penting daripada hasil
Hubungan antara belajar dan selera
- Selera yang baik adalah daya membedakan yang lahir dari akumulasi pengalaman, dan itu tidak bisa diperoleh tanpa banyak percobaan
- Proses mencoba berbagai alat dan bahasa lalu membedakan mana yang “bagus” dan mana yang “kurang” itulah pembelajaran
- Percobaan yang dulu tampak tidak perlu, pada akhirnya memperdalam pemahaman dan kecintaan terhadap pemrograman
- Tidak mengikuti standar orang lain, melainkan mengulang proses memilih dan membuang berdasarkan standar sendiri, itulah proses yang membentuk selera sejati
- Belakangan ini, dengan mencoba menulis shader GLSL, macro prosedural Rust, template C++, pengembangan aplikasi Swift, dan menggunakan editor Helix, penulis memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru murni karena kesenangan
“Waktu yang dipakai untuk belajar tidak pernah sia-sia”
Mengapa selera penting sekarang
- Di dalam tindakan terus-menerus mencoba, memperbaiki, merusak, dan membuat ulang, bukan hanya keterampilan, tetapi juga kepekaan dan standar estetika tumbuh bersama
- Selera yang baik (good taste) terbentuk melalui proses mencoba berbagai hal, membuang yang tidak cocok, dan mempertahankan yang disukai
- ‘Selera’ yang dimaksud di sini adalah kemampuan membedakan yang biasa saja dan yang unggul, dan berbeda pada setiap orang serta tidak harus sama dengan orang lain
Pertanyakan status quo, bereksperimenlah, hancurkan, lalu ulangi
1 komentar
Pendapat Hacker News
Seorang teman pernah berkata lama sekali bahwa setelah mempelajari segala hal tentang kopi, ia justru hanya bisa menikmati kopi yang dibuat dengan biji kopi dan mesin mahal, tetapi tingkat kesenangannya sama saja seperti saat dulu minum kopi supermarket
Karena itu aku berusaha menjalani hidup dengan mengurangi ‘selera’ sebisa mungkin. Headphone seharga 20 dolar dan TV 200 dolar sudah cukup memuaskan, dan meski teman-temanku memakai TV 3.000 dolar, besarnya kesenangan tidak berbeda
Sekarang aku berlangganan biji kopi dari roastery independen dan menikmati keseruan menjelajahi rasa baru setiap saat. Mengenal kopi yang enak adalah pengalaman yang membuat hidupku lebih kaya
Bagiku, ‘selera’ bukan merusak pengalaman, justru membuatnya lebih kaya
Meski begitu, dalam keseharian aku tetap memakai yang 20 dolar. Menurutku yang penting adalah ‘menikmati tanpa gengsi’
Seperti insinyur hebat yang di akhir pekan menjalankan Doom di kentang, selera adalah kekuatan untuk merangkul keberagaman
Selera yang sesungguhnya adalah kemampuan memahami keindahan dari berbagai gaya. Aku pun setelah mencoba beragam peralatan kopi akhirnya punya ‘selera yang lebih tidak menghakimi’
Aku setuju dengan gagasan bahwa ada orang yang “melakukan sesuatu hanya demi tujuan” dan ada yang “melakukannya begitu saja”
Sekarang ini siapa pun bisa melakukan ‘vibe coding’, jadi menurutku perbedaan antar developer ditentukan oleh ‘good taste’
Ini bukan sekadar insting, melainkan daya membedakan yang terbentuk lewat banyak percobaan. Dalam desain sistem juga sama, yang penting bukan hanya membuatnya cepat jadi, tetapi juga kemampuan membangun ‘struktur yang tidak mudah runtuh’
Karena itu aku membuat folder
sandboxuntuk bereksperimen dengan ide atau library baru dan mengasah seleraku~/Codemilikku penuh dengan proyek eksperimen. Eksperimen-eksperimen kecil seperti ini membuatku menjadi programmer yang lebih baikMisalnya, aku pernah melihat PR yang membuat sesuatu jadi rumit dengan AWS Lambda dan Terraform, padahal cukup menambahkan route sederhana di aplikasi Flask
Aku paham inti tulisan penulisnya, tetapi rasanya contoh yang dipakai kurang tepat. Sensitivitas mouse, switch keyboard, dan pengaturan VSCode adalah hal-hal yang memang dari awal dibuat untuk disesuaikan
Pembelajaran yang sesungguhnya datang dari ‘memakainya dengan cara yang salah’, tetapi sekarang bahkan percobaan seperti itu pun sudah dikomodifikasi. Agak disayangkan bahwa dunia jadi terlalu nyaman sampai bahkan tweak pun menjadi pengalaman yang sudah dikemas
Dulu aku menganggap ‘selera’ sebagai standar untuk membedakan kualitas yang baik, tetapi sekarang aku melihatnya sebagai ‘tingkat kesesuaian nilai’
Saat kita menilai selera seseorang itu bagus, pada akhirnya itu karena dia dan kita berbagi nilai yang sama
Menurutku, pembicaraan tentang ‘kesengajaan’ inilah inti sejati dari selera
Insinyur terburuk yang pernah kulihat adalah orang-orang yang terjebak dalam ‘selera mereka sendiri’. Dalam lingkungan yang membutuhkan kolaborasi, sikap seperti itu merusak tim
Coding bukan seni, melainkan ‘pekerjaan untuk orang lain’. Pengguna lebih peduli pada nilai hasil akhirnya daripada bahasa atau pola yang dipakai
Developer yang benar-benar andal adalah orang yang bisa berkolaborasi dengan cara apa pun
Yang penting adalah kepekaan untuk tahu kapan harus memegang prinsip
Pembedaan antara “bertindak demi tujuan vs bertindak begitu saja” mirip dengan konsep dalam 『Zen and the Art of Motorcycle Maintenance』
Robert Pirsig membaginya menjadi ‘pemahaman romantik’ dan ‘pemahaman klasik’, tetapi pada akhirnya ia mengatakan bahwa keduanya sama-sama ilusi, dan sudut pandang yang terintegrasi adalah yang ideal
Konsep ‘tinkering’ dari penulis sebenarnya terasa mirip dengan perilaku fokus berulang yang terlihat pada neurodivergence
Selera yang baik bukan lahir dari pengulangan semata, melainkan dari gabungan pengetahuan dan keterampilan. Yang penting adalah seberapa luas kita memahami dunia, dan apakah kita menyadari wilayah yang belum kita pahami
Dulu aku juga seorang ‘tukang tweak tanpa henti’, tetapi setelah keluarga, pekerjaan, dan hidup makin sibuk, aku secara realistis melepaskannya
Sekarang aku memakai Synology NAS, dan kembali ke Windows alih-alih Linux. Meski begitu, semangat tinkering masih tetap ada dalam diriku
‘Metode mencatat yang butuh maintenance’ bukan sesuatu yang cocok untukku
Aku tidak yakin kata ‘selera’ adalah istilah yang tepat, tetapi aku setuju pada gagasan ‘proses belajar lewat eksperimen yang menyenangkan’
Hanya saja, cara belajar seperti ini punya dua keterbatasan
Penulis mendefinisikan ‘tinkering’ dengan mengambil IDE sebagai contoh, tetapi IDE bukan satu-satunya objek eksperimen
Ada banyak ranah lain seperti sensitivitas mouse, keyboard, window manager, dan sebagainya
Tidak mengutak-atik IDE bukan berarti seseorang adalah ‘non-tweaker’. Pada akhirnya yang penting adalah ‘sikap untuk mengeksplorasi’, bukan alat tertentu