Kebiasaan yang Dimiliki Desainer Terburuk
(whydesignishard.substack.com)- Tulisan ini merangkum alasan menurunnya pengaruh desainer dari sudut pandang gagal memahami konteks organisasi dan gagal membangun relasi, serta menekankan bahwa dibanding kemampuan teknis, sikap dan pola perilaku menciptakan batasan yang lebih besar
- Karena gagal membaca lingkungan sekitar, mereka berulang kali terjebak dalam situasi ketika yang benar-benar diinginkan organisasi dan ambisi pribadi mereka saling tidak selaras
- Masalah utamanya adalah sikap menghakimi orang lain dan mengisolasi diri yang menumpuk hingga membentuk struktur yang membuat mereka tidak mampu meyakinkan orang lain atas ide mereka
- Faktor yang menggerus karier adalah ketidakberdayaan yang dipelajari dan sikap yang kehilangan kemauan untuk bertumbuh, ketika mereka menyadari masalah tetapi kehilangan rasa bahwa perubahan itu mungkin dilakukan
- Karena desainer merupakan kelompok minoritas dalam organisasi, kerentanan struktural yang membuat mereka makin mudah dipinggirkan akan membesar bila kemampuan dasar seperti kepercayaan, kolaborasi, dan rasa ingin tahu tidak ada
-
Kebiasaan yang Dimiliki Desainer Terbaik yang sebelumnya diperkenalkan mendapat respons besar, dan tulisan ini merupakan kelanjutannya
> Desainer terbaik itu efektif, serta memiliki kesadaran diri, kemampuan sosial, dan pragmatisme yang tinggi sehingga menghasilkan keputusan yang lebih baik
> Bakat tampak seperti sesuatu yang layak diobsesi, tetapi hampir tidak ada nilainya bila tidak bisa meningkatkan kualitas keputusan
> Jika itu benar-benar bakat kreatif, maka harus sekaligus menemukan cara meyakinkan orang agar menerima idenya -
Sebaliknya, desainer terburuk memiliki kebiasaan yang tidak efektif. Usulan mereka diabaikan, moral menurun, dan mereka merasa tidak punya kekuatan untuk mengubah keadaan sendiri
Kebiasaan desainer terburuk
-
Tidak bisa membaca situasi (gagal
Reading the room)- Tidak mempertimbangkan kondisi nyata seperti situasi keuangan klien, toleransi risiko organisasi, atau batas anggaran
- Mereka tetap berkutat pada ambisi pribadi tanpa memahami apa yang diharapkan organisasi dari mereka
- Karena tidak memahami struktur kekuasaan, cara proyek berjalan, dan motivasi rekan kerja, mereka kehilangan pengaruh
- Akibatnya, mereka berulang kali mengalami situasi ketika argumen mereka diabaikan dan ide mereka tidak diadopsi
- Tidak mempertimbangkan kondisi nyata seperti situasi keuangan klien, toleransi risiko organisasi, atau batas anggaran
-
Sok pintar dan sikap menghakimi
- Merusak relasi dengan sikap ingin mengajari atau merendahkan orang yang tidak memahami pengetahuan desain
- Kebiasaan menilai orang lain menurunkan kepercayaan dan melemahkan kemauan untuk berkolaborasi
- Sebagian desainer memproyeksikan ‘ego artis’ mereka apa adanya ke dalam organisasi hingga mengisolasi diri sendiri
- Mereka terus mempertahankan sikap seperti itu meski lingkungannya bukan tempat yang akan memperlakukan mereka sebagai ‘orang sulit’ layaknya seniman terkenal
- Merusak relasi dengan sikap ingin mengajari atau merendahkan orang yang tidak memahami pengetahuan desain
-
Isolasi pasif
- Meski tempat kerja adalah jaringan sosial dan peran mereka menuntut kemampuan meyakinkan, mereka tetap bertahan dalam fantasi bekerja sendirian lalu berharap diakui
- Mereka memiliki harapan tidak realistis bahwa “kalau idenya bagus, nanti juga akan bersinar dengan sendirinya”
- Mereka tidak ikut dalam proses pengambilan keputusan organisasi dan menghindari upaya untuk meyakinkan orang lain
- Bahkan maestro seperti Dieter Rams atau Paula Scher juga melalui proses persuasi di dalam organisasi
- Meski tempat kerja adalah jaringan sosial dan peran mereka menuntut kemampuan meyakinkan, mereka tetap bertahan dalam fantasi bekerja sendirian lalu berharap diakui
-
Ketidakberdayaan yang dipelajari
- Mereka melihat dengan tepat masalah organisasi (kepemimpinan toksik, rekan kerja yang tidak kompeten, budaya diskriminatif, dan sebagainya), tetapi hanya mengeluh tanpa bertindak
- Mereka mengakui bahwa kenyataan itu tidak adil, tetapi tidak mencari titik yang masih bisa diubah
- Mereka tidak mampu membedakan masalah yang tidak bisa diubah (‘masalah gravitasi’) dan masalah yang bisa diubah
- Karena kurang mampu membingkai ulang frustrasi menjadi aksi, mereka perlahan kehilangan
agencydan mengalami kelelahan
- Mereka melihat dengan tepat masalah organisasi (kepemimpinan toksik, rekan kerja yang tidak kompeten, budaya diskriminatif, dan sebagainya), tetapi hanya mengeluh tanpa bertindak
-
Kurang rasa ingin tahu
- Mereka hanya belajar di dalam komunitas desainer sehingga mengulang mentah-mentah kesalahan yang terus berulang di industri
- Karena hanya mengonsumsi buku dan informasi terkait desain, wawasan mereka menjadi sempit
- Mereka tidak mengajukan pertanyaan baru, dan terus mengulang keluhan serta alasan lama
- Dengan tidak mengakui blind spot diri sendiri dan menolak perubahan, mereka menutup sendiri kemungkinan untuk berkembang
- Mereka hanya belajar di dalam komunitas desainer sehingga mengulang mentah-mentah kesalahan yang terus berulang di industri
Konteks struktural profesi desainer
- Desainer pada umumnya adalah kelompok minoritas di dalam organisasi, dan sejak awal berada pada posisi dengan pengaruh yang lemah
- Karena itu, pentingnya profesionalisme dasar seperti kredibilitas, kemampuan berkolaborasi, dan ketepatan waktu menjadi jauh lebih besar
- Jika kehilangan kepercayaan, ada risiko besar mereka dengan mudah dikategorikan sebagai “peran yang boleh diabaikan”
- Teknologi dan bakat bukanlah masalah yang esensial
- Di sebagian besar organisasi, desainer dengan kemampuan biasa pun tetap bisa memberi nilai yang cukup
- Masalahnya adalah ‘kebiasaan yang menghilangkan pengaruh’, dan relatif jarang keterampilan itu sendiri yang menjadi penyebab batasan
Belum ada komentar.