- Masalah bisnis tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengadopsi AI, dan mengotomatisasi proses yang tidak efisien hanya akan menghasilkan ‘memproduksi sampah lebih cepat’
- Perusahaan sering keliru menganggap AI seperti tongkat sihir, padahal AI bukan membuat organisasi lebih pintar, melainkan sekadar alat untuk meningkatkan kecepatan
- Satu-satunya keunggulan AI adalah kemampuan memproses data tidak terstruktur, tetapi proses yang bergantung pada data seperti ini biasanya juga tidak terstruktur dan tidak terdokumentasi
- Karena itu, sebelum menerapkan AI, proses harus dirancang dan distrukturkan terlebih dahulu, dengan tahapan input, transformasi, dan output yang didefinisikan secara jelas
- Teknologi berubah, tetapi prinsip efisiensi bisnis tidak berubah, dan kunci keberhasilan AI pada akhirnya adalah optimalisasi proses
Bukan strategi AI, melainkan optimalisasi proses bisnis
- Perusahaan membahas “strategi AI”, tetapi yang sebenarnya ada hanyalah optimalisasi proses bisnis (BPO)
- AI bukan strategi mandiri untuk menyelesaikan masalah bisnis, melainkan alat untuk mempercepat proses yang sudah ada
- Jika AI ditumpangkan di atas struktur yang tidak efisien, hasilnya hanya memperbesar masalah dengan lebih cepat
Ilusi ‘tongkat sihir’
- Banyak perusahaan percaya AI akan secara otomatis menghilangkan inefisiensi, tetapi ini adalah asumsi yang keliru
- AI tidak memberi kecerdasan, melainkan hanya meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan
- Jika keputusan yang salah diotomatisasi, hasilnya hanya menjadi sistem yang membuat keputusan bodoh dengan kecepatan cahaya
- Jika AI diterapkan pada proses birokratis seperti alur persetujuan yang rumit, itu sama saja dengan menciptakan robot yang frustrasinya seperti karyawan
Jebakan data tidak terstruktur
- AI adalah teknologi pertama yang unggul dalam pemrosesan data tidak terstruktur
- Email, pesan Slack, PDF, gambar, dan data lain yang tidak bisa ditangani perangkat lunak lama kini dapat diinterpretasikan
- Namun, proses yang bergantung pada data seperti ini kebanyakan juga tidak terstruktur dan informal
- Contoh: penanganan keluhan pelanggan, perencanaan kampanye pemasaran, dan sebagainya sering kali tidak terdokumentasi dan hanya ada di kepala karyawan yang berpengalaman
- Karena dulu komputer tidak bisa memprosesnya dan manusia yang menanganinya, flowchart atau prosedur operasi standar (SOP) sering kali tidak ada
Yang tidak dirancang tidak bisa diotomatisasi
- Untuk menerapkan AI, prosesnya harus lebih dulu dirancang dan distrukturkan dengan jelas
- Untuk menangani data tidak terstruktur, alur kerja itu sendiri harus diberi struktur
- Untuk itu, tiga pertanyaan berikut harus dijawab
- Pemicu: dari mana data tidak terstruktur itu muncul?
- Transformasi: apa yang harus diekstrak atau ditafsirkan manusia (atau AI) dari data tersebut?
- Output: bagaimana hasilnya dicerminkan ke sistem terstruktur seperti ERP atau CRM?
Perbedaan antara kecepatan dan kecerdasan
- AI hanya membuat segalanya lebih cepat, bukan lebih pintar
- Contoh:
- Dalam cara lama, analis meninjau 50 kontrak selama 3 hari
- Dengan AI, klausul berisiko dapat diekstrak dalam 3 menit
- Proses itu sendiri (peninjauan → identifikasi risiko → ringkasan) tetap sama, tetapi AI hanya bisa bekerja jika prosedurnya didefinisikan dengan jelas
- Penilaian cerdas untuk menentukan arti dari ‘risiko’ tetap merupakan peran manusia
Kesimpulan: proses adalah segalanya
- Alih-alih mencari AI sebagai penyelamat, perusahaan harus kembali ke papan tulis untuk meninjau ulang rantai nilainya
- Secara khusus, mereka perlu memvisualisasikan area kompleks yang berpusat pada manusia dan melibatkan data tidak terstruktur, lalu menemukan bottleneck dan pemborosan
- Hanya setelah proses menjadi sederhana, logis, dan kokoh, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat akselerasi
- Teknologi berubah, tetapi prinsip efisiensi bisnis tidak berubah
- Pada akhirnya, inti persoalannya selalu proses
Belum ada komentar.