Sejarah lisan Python dari Guido van Rossum: wawancara dengan Thomas Wouters
(gvanrossum.github.io)Silakan lihat versi terjemahan bahasa Korea di sini.
Sekarang Guido juga sudah bertambah usia, jadi terasa seperti memoar.
Sepertinya seri ini akan terus berlanjut.
Sejarah awal komunitas Python: ringkasan wawancara Thomas Wouters
Dokumen ini adalah ringkasan wawancara yang dilakukan Guido van Rossum dengan Thomas Wouters untuk mendokumentasikan para kontributor awal komunitas Python sebelum 2015.
1. Latar belakang mengenal Python
- Thomas Wouters mulai belajar pemrograman melalui LambdaMOO, lingkungan multi-pengguna berbasis teks dengan model objek yang mirip Python, pada awal 1990-an.
- Sekitar 1998~1999, ia pertama kali mengenal Python atas rekomendasi seorang kenalan, lalu tertarik pada struktur bahasanya yang intuitif dan cocok dengan cara berpikirnya, sehingga mulai aktif di komunitas Python-List di Usenet.
2. Kontribusi utama pada pengembangan inti Python
- Operator penugasan gabungan (
+=,-=dll.): Ia melanjutkan dan menyelesaikan patch proof of concept awal dari Michael Hudson. Fitur ini masuk ke Python 2.0 (PEP 203), dan disertai diskusi mendalam tentang edge case desain seperti pengecualian yang terjadi saat mengubah list di dalam tuple. - Usulan literal range: Ia mengusulkan sintaks literal range berbentuk
[start:end]. Meski akhirnya ditolak karena potensi kebingungan sintaksis dengan list dan keterbatasan optimisasi, ia menilai proses memformalkan dan mendiskusikan ide tersebut sebagai hal yang positif.
3. Evolusi fitur bahasa dan proses rilis
- Nested scopes dan modul
__future__: Saat Jeremy Hylton memperkenalkan nested scopes, terjadi perdebatan panjang karena masalah kompatibilitas ke belakang pada kode lama. Dalam proses penyelesaian perdebatan itu, Tim Peters mengusulkan pendekatanfrom __future__ import ..., yang kemudian diadopsi. - Perubahan kebijakan rilis: Pada masa awal, penambahan fitur yang memutus kompatibilitas cukup sering terjadi bahkan pada rilis minor, tetapi setelah menerima kritik dari Steve Holden dan lainnya, diperkenalkan siklus rilis 18 bulan. Ini menjadi landasan bagi siklus rilis tahunan yang digunakan saat ini.
4. Tokoh dan proyek penting di komunitas awal
- Frederik Lundh (Effbot): Berkontribusi sebagai tokoh kunci pada regex engine, Tkinter, dan modul XML (ElementTree).
- Tim Twisted: Sebelum hadirnya
asyncio, mereka membangun dasar pemrograman asinkron dengan memanfaatkan callback dan konsepDeferred. - Tokoh lain: Disebut juga para pengembang inti awal seperti Tim Peters, Jeremy Hylton, dan Marc-André Lemburg (kontribusi Unicode).
5. Latar belakang pribadi dan pendirian PSF (Python Software Foundation)
- Pendidikan dan karier: Thomas Wouters keluar dari sekolah menengah, tetapi berkat karakter industri TI saat itu yang lebih menilai kemampuan praktis, ia berhasil membangun karier yang sukses di XS4ALL, Google, dan lainnya.
- Pemilihan dewan PSF: Pada International Python Conference (IPC) pertama tahun 2001, PSF resmi diluncurkan. Dalam pemilihan dewan saat itu, Thomas Wouters dan Eric Raymond memperoleh suara yang sama, dan setelah pemungutan suara ulang, Thomas terpilih.
- PyCon awal dan persetujuan organisasi nirlaba: PSF menghadapi kesulitan keuangan dan administratif, termasuk mengumpulkan banyak sponsor untuk mempertahankan status organisasi nirlaba 501(c)(3). Setelah itu, PyCon pertama yang diadakan di George Washington University berlangsung di tengah keterbatasan anggaran dan tenaga, dengan berbagai trial and error pada hal-hal seperti makan dan sistem registrasi.
Belum ada komentar.