-
Menata prosedur deklaratif untuk otomatisasi konfigurasi agar meminimalkan waktu dan biaya yang dibutuhkan ketika developer baru bergabung ke proyek.
-
Memperjelas bagian yang berbeda tergantung OS, dan memaksimalkan portabilitas antar lingkungan eksekusi.
-
Cocok untuk deployment di platform cloud yang baru muncul, serta menghilangkan kebutuhan pengelolaan server dan sistem.
-
Continuous deployment dimungkinkan untuk meminimalkan perbedaan antara lingkungan pengembangan dan produksi serta memaksimalkan kelincahan.
-
Dapat melakukan scale up tanpa banyak mengubah tool, arsitektur, atau cara pengembangan.
** The Twelve Factors **
I. Codebase - Satu codebase yang dikelola dengan version control dan berbagai deployment
II. Dependencies - Dependensi yang dideklarasikan secara eksplisit dan diisolasi
III. Config - Konfigurasi yang disimpan di environment
IV. Backing Services - Memperlakukan layanan backend sebagai resource yang terhubung
V. Build, Release, Run - Tahap build dan run yang dipisahkan secara ketat
VI. Processes - Menjalankan aplikasi sebagai satu atau lebih proses stateless
VII. Port Binding - Mengekspos layanan dengan menggunakan port binding
VIII. Concurrency - Scale out dengan menggunakan model proses
IX. Disposability - Memaksimalkan robustness melalui startup yang cepat dan graceful shutdown
X. Dev/Prod Parity - Menjaga lingkungan development, staging, dan production semirip mungkin
XI. Logs - Memperlakukan log sebagai aliran event
XII. Admin Processes - Menjalankan pekerjaan admin/maintenance sebagai proses sekali jalan
Belum ada komentar.