4 poin oleh GN⁺ 2023-08-23 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Pembahasan tentang prevalensi kegilaan KPI (Key Performance Indicator) di perusahaan teknologi
  • Obsesi perusahaan terhadap pengumpulan data dianggap sebagai cara untuk mengatasi bias manusia seperti availability bias, recency bias, overconfidence bias, dan anchoring bias
  • Namun, KPI sering kali menderita tunnel vision, hanya mengukur hal-hal yang dapat diukur dan tidak selalu mengukur semua aspek dari suatu situasi. Hal ini dapat menimbulkan insentif yang kontraproduktif dalam organisasi
  • Penulis mengusulkan bahwa KPI harus digunakan bersama intuisi manusia agar pengambilan keputusan yang optimal dapat tercapai, dan bahwa keseimbangan antara intuisi dan data perlu ditemukan
  • Menekankan pentingnya memahami bukan hanya apa yang diukur KPI, tetapi apa yang direpresentasikan KPI. Misalnya, Time To Last Byte (TTLB) mengukur waktu respons server, tetapi tujuan akhirnya adalah mengoptimalkan pengalaman pengguna
  • Optimasi KPI adalah proses yang membutuhkan konseptualisasi, pembelajaran lewat trial and error, dan redefinisi. Bukan sekadar memilih sebuah nilai lalu menyuruh orang mengoptimalkannya, melainkan memahami korelasi antara KPI dan kegunaan jangka panjang produk
  • Penulis merekomendasikan untuk menggunakan KPI bersama intuisi, tidak hanya mendefinisikan KPI tetapi juga mengingat tujuan yang sebenarnya, serta terus merefleksikan keandalan KPI dan merevisinya bila perlu
  • Artikel ditutup dengan ajakan untuk bekerja di perusahaan yang tidak menderita kegilaan KPI, serta menyediakan tautan lowongan di Promaton

1 komentar

 
GN⁺ 2023-08-23
Komentar Hacker News
  • Artikel ini membahas pentingnya budaya pengukuran yang baik dalam bisnis, di mana angka tidak menggantikan akal sehat.
  • Seorang komentator membagikan pengalamannya yang membuang sebagian besar pengukuran kecepatan dan lebih memilih solusi sederhana: setiap hari Jumat, tiap tim mengirim email ke seluruh perusahaan yang menjelaskan secara rinci apa yang telah mereka hasilkan minggu itu. Pendekatan ini memberikan ketenangan bagi manajemen dan para pemangku kepentingan, bukan melalui banyaknya dashboard KPI.
  • Komentator lain menyebut bahwa perusahaannya menetapkan 3 OKR (tujuan) per kuartal, dan masing-masing diukur dengan 3 KPI. Namun, filosofi perusahaan adalah bahwa jika 100% target tercapai setiap kuartal, berarti target tersebut tidak cukup ambisius. Akibatnya, beberapa target ditinggalkan dan beberapa KPI disesuaikan agar memenuhi syarat bonus.
  • Seorang komentator menunjukkan bahwa manajer profesional, khususnya tipe MBA Amerika, cenderung menganggap diri mereka yang paling penting, dan hal ini dapat berujung pada kemunduran bisnis. Mereka mengusulkan bahwa rasio manajer terhadap pekerja dapat menunjukkan seberapa dekat sebuah perusahaan dengan kemerosotan.
  • Komentator lain menekankan pentingnya menyelaraskan insentif dengan tujuan secara keseluruhan. Mereka menyarankan bahwa bisnis sering berinvestasi pada segala hal kecuali insentif, yang dapat menghasilkan dampak yang tidak diinginkan.
  • Hukum Goodhart disebutkan: “Ketika sebuah metrik menjadi target, itu tidak lagi menjadi metrik yang baik.”
  • Seorang komentator mengkritik penggunaan KPI sebagai pemborosan waktu, sambil menjelaskan betapa mudahnya memanipulasi angka dan bagaimana hal itu mendorong perilaku yang tidak diinginkan.
  • Komentator lain mengatakan bahwa perusahaan ingin menggunakan KPI sebagai bagian dari segala hal. Mereka menunjukkan bahwa pendekatan berbasis data sering kali menyebabkan fokus yang tidak sehat pada hasil jangka pendek.
  • Seorang komentator menyebut kekeliruan McNamara sebagai contoh ketergantungan berlebihan pada pengukuran. Mereka juga mengutip W. Edwards Deming: "Menganggap bahwa jika sesuatu tidak bisa diukur maka tidak bisa dikelola adalah keliru — mitos mahal."
  • Seorang komentator mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap permintaan untuk menetapkan KPI tanpa arahan dari manajemen atau pemilik produk. Mereka menunjukkan bahwa hal ini sering menghasilkan KPI yang terlalu berpusat pada sisi teknis/rekayasa, dan masalah ini tetap tidak terselesaikan karena tidak ada yang didorong untuk menanganinya.