Musik buatan AI hanyalah lagu-lagu biasa yang mediocre tanpa hook atau melodi berulang. Semakin baik AI membuat musik seperti ini, semakin besar kemungkinan muncul musik yang lebih unik dan radikal di ranah seni.
Seperti ketika fotografi muncul lalu seni yang tidak realistis menjadi populer, atau ketika drum machine hadir lalu suara drum yang kasar menjadi keren, bagian-bagian yang dianggap sebagai kekurangan musik AI bisa melahirkan genre baru.
Musik yang biasa-biasa saja akan makin melimpah, dan ini akan memukul para seniman yang membuat musik biasa. Sebaliknya, musik yang hanya bisa dibuat manusia akan menjadi semakin unik, dan genre baru yang memanfaatkan kelemahan musik AI juga akan bermunculan.
Musik, seni, dan mode pada akhirnya adalah tentang perubahan, dan apa yang kita buat sekarang memperoleh makna dalam hubungannya dengan hal-hal yang sudah ada. Musik AI hanyalah menambahkan satu kalimat dalam percakapan yang telah berlangsung selama ribuan tahun.
Ada juga yang mencoba mengubah teks lisensi menjadi puisi dengan menggunakan ChatGPT.
Suno sangat hebat, dan hakikat musik digital dipandang sebagai 'angka yang tersusun secara sistematis'. Perlu dipikirkan bagaimana kita akan memanfaatkan AI.
Sambil membayangkan masa depan membuat musik bersama AI, ada yang sedang mengerjakan proyek Glicol dan RaveForce. Copilot juga kadang membantu dalam pertunjukan live coding.
Di Suno ada banyak lagu menarik, seperti musik versi Capybara atau Black Metal.
Ada juga lagu yang membuat AI menyanyikan pasal-pasal hukum hak cipta sehingga memberi kesan seperti mengejek para seniman.
Suara AI terdengar seperti terus-menerus memiliki semacam efek flanger atau vibrato robotik, dan anehnya masalah ini tidak muncul pada instrumen lain. Ada juga yang penasaran apakah ini masalah model tertentu atau isu umum dalam sintesis suara.
1 komentar
Komentar Hacker News