10 poin oleh xguru 2024-08-14 | 9 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Menurut penelitian terbaru, menempelkan label "AI" pada produk justru bisa membuat orang menjauh
  • Ketika produk yang sama dijelaskan dengan satu versi sebagai "berteknologi tinggi" dan versi lain menggunakan "AI", niat beli orang turun secara signifikan
  • Berbagai produk seperti peralatan rumah tangga, TV, layanan konsumen, dan layanan kesehatan diteliti, dan setiap kali "AI" disebut dalam deskripsi produk, niat untuk membeli atau menggunakannya turun tajam

Peran kepercayaan

  • Menurut studi baru yang diterbitkan di "Journal of Hospitality Marketing & Management", para peneliti memberikan pertanyaan dan penjelasan tentang produk kepada 1.000 responden
    • Secara mengejutkan, produk yang dijelaskan menggunakan AI secara konsisten kurang diminati
  • Studi tersebut mencakup pandangan peserta tentang produk yang dianggap "berisiko rendah" seperti peralatan rumah tangga yang menggunakan AI, serta produk yang dianggap "berisiko tinggi" seperti mobil swakemudi, layanan pengambilan keputusan investasi berbasis AI, dan layanan diagnosis medis
  • Persentase yang tidak mau membeli memang lebih tinggi pada kelompok berisiko tinggi, tetapi di kedua kelompok, mayoritas tetap tidak ingin membeli
  • Ada dua jenis kepercayaan yang memengaruhi persepsi konsumen terhadap produk yang dijelaskan sebagai "AI-powered": kepercayaan kognitif dan kepercayaan afektif
    • Kepercayaan kognitif, yaitu ekspektasi bahwa AI adalah mesin tanpa kesalahan manusia, dapat cepat melemah ketika AI melakukan kesalahan (kasus Google)
    • Jika pengetahuan dan pemahaman tentang cara kerja internal AI kurang, konsumen akan bergantung pada kepercayaan emosional dan pada akhirnya membuat penilaian subjektif terhadap teknologi
      • "Salah satu alasan orang tidak ingin menggunakan perangkat atau teknologi AI adalah karena rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui"
      • "Sebelum ChatGPT diperkenalkan, tidak banyak orang yang tahu tentang AI, tetapi AI sudah berjalan di balik layar selama bertahun-tahun dan sama sekali bukan hal baru"
  • Cara AI digambarkan dalam budaya populer juga tidak membantu meningkatkan kepercayaan terhadap teknologi ini
    • Film fiksi ilmiah Hollywood yang menjadikan robot sebagai penjahat ternyata punya pengaruh lebih besar dari perkiraan dalam membentuk persepsi publik tentang AI
    • "Jauh sebelum orang bahkan mendengar tentang AI, film-film itu telah membentuk persepsi mereka tentang apa yang dapat dilakukan robot yang digerakkan AI terhadap manusia."

Kurangnya transparansi

  • Faktor lain yang memengaruhi konsumen adalah risiko yang dirasakan seputar AI, terutama soal bagaimana data pribadi pengguna diproses
  • Kekhawatiran tentang cara perusahaan mengelola data pelanggan menurunkan antusiasme terhadap alat yang seharusnya menyederhanakan pengalaman pengguna
  • Kurangnya transparansi berpotensi memperburuk persepsi pelanggan terhadap merek
  • Perusahaan perlu berhati-hati agar tidak sekadar menempelkan tag "AI" sebagai jargon tanpa menjelaskan secara rinci fungsi AI tersebut
    • "Hal paling penting yang harus mereka lakukan adalah menyampaikan pesan yang tepat"
    • "Daripada sekadar mengatakan 'AI-powered' atau 'run by AI', menjelaskan kepada orang bagaimana hal ini bisa membantu akan mengurangi ketakutan konsumen"

9 komentar

 
jeokrang 2024-08-20

Terutama saat membeli peralatan rumah tangga, kalau ada label AI sepertinya orang bereaksi sinis. Kesan seperti, "Fitur yang jarang dipakai cuma ditempeli label AI lalu dijual lebih mahal," begitu?

 
savvykang 2024-08-14

Kalau hanya melihat kualitas output yang sejauh ini dihasilkan LLM, menjualnya dengan menempelkan label AI pada dasarnya sama saja dengan mengiklankan, "kami memakai pekerja berkeahlian rendah yang tidak memahami konteks pekerjaan yang mereka lakukan, dan soal apakah hasilnya akan ditinjau oleh ahli atau tidak itu terserah kami." Gelembung machine learning setidaknya sempat lewat sekali, tetapi ketika dibungkus sebagai AI, nuansa yang diterima konsumen tampaknya mirip.

Kepercayaan lahir dari faktor lain seperti akurasi hasil dan profesionalisme perusahaan; jadi hanya karena ada embel-embel AI, siapa yang akan langsung percaya?

 
koreaisbest 2024-08-14

Kalau dibilang jual humanoid sih mungkin bakal dibeli?
Di artikel begitu lihat ada fitur self-driving
aku malah mikir
ini ada hubungannya apa dengan kata AI?
Kalau AI yang aman sih mungkin bakal dibeli wkwkwk
Di negara kita orang yang kerja di bidang IT
ada berapa banyak,
jadi ini lebih kayak kasus ketahuan mau nipu
bukannya ada hubungannya dengan kata AI

 
savvykang 2024-08-14

Kebingungan makin parah karena orang mencampuradukkan algoritma, machine learning, pembuatan konten, dan large language model lalu menyebut semuanya sebagai AI. Ini memang fenomena yang tak terhindarkan, tapi tetap terasa pahit.

 
lsdcnu 2024-08-14

Saya juga setuju dengan pendapat eze886. Dari yang saya rasakan setelah membaca artikelnya, tampaknya jalan yang harus ditempuh AI masih panjang sebelum bisa mendapatkan tingkat kepercayaan tertentu dari orang-orang.

 
eze886 2024-08-14

Justru karena banyak yang bekerja di bidang IT, mereka tahu betapa mengada-adanya kalau cuma asal tempel label AI begitu saja wkwk

 
ggebi 2024-08-14

Bukan karena ditempeli label AI lalu dijual lebih mahal?

 
kimjoin2 2024-08-14

Secara pribadi, frasa yang kalau ditempelkan langsung memberi citra buruk itu ada juga:

  • with kakao dalam game
  • game changer yang digunakan di artikel, judul, dan semacamnya
    ada juga ya
 
qurare 2024-08-14

Awas kalian semua, K-aaa