- Saya sendiri suka analisis politik, tetapi ada alasan yang jelas mengapa saya tidak membicarakan politik dengan teman-teman
- Ini berasal dari tiga pola:
- Kebanyakan orang tidak memiliki ‘pendapat’ politik, melainkan ‘suku (tribe)’ politik
- Sangat sulit untuk keluar dari suku itu dan berkembang menjadi pemikiran politik yang sungguh-sungguh
- Dan kebanyakan orang tidak menginginkan perkembangan semacam itu
- “Kamu memilih siapa?” lebih dekat ke pengecekan afiliasi budaya daripada percakapan yang murni
- Pertanyaan itu bisa tampak seperti diskusi serius, tetapi sering berfungsi seperti pemeriksaan ortodoksi religius
- Bahkan orang yang mendekatinya dengan niat baik pun bisa terjebak dalam perangkap sosial
Untuk punya opini sungguhan, harus punya pengetahuan
- Untuk memiliki opini politik yang benar-benar matang, kita perlu memahami:
- ekonomi, teori permainan, filsafat, bisnis, strategi militer, geopolitik, sosiologi, sejarah, dan lain-lain
- kemampuan berempati terhadap sudut pandang berbagai pihak yang berkepentingan
- kemampuan mengenali dan menghilangkan bias diri sendiri
- Contoh:
- Untuk memahami hubungan AS-Tiongkok, kita perlu memahami komunisme versus kapitalisme
- Isu seperti pemilik properti vs penyewa, pekerja vs pemberi kerja, imigran vs warga lama semuanya rumit
- Di kedua sisi selalu ada pihak yang menjadi korban dan pihak yang menjadi pelaku
- Karena memperoleh pengetahuan itu sulit, orang akhirnya bergantung pada tribalisme
- Teman, gereja, saluran berita, dan sebagainya mengambil peran sebagai suku
- Sesuai sukunya, orang ‘mengimpor’ satu paket opini sekaligus, lalu menjadi ideologis
Orang tidak ingin keluar dari sukunya
- Manusia menemukan kebahagiaan dalam relasi; sering kali ikatan terasa lebih penting daripada kebenaran
- Banyak persahabatan, komunitas, dan identitas dibangun di atas ‘keyakinan palsu’
- Pola perilaku religius masih tetap ada dalam masyarakat sekuler:
- pengakuan iman, logika melingkar, penetapan kekuatan jahat, dan sebagainya
- Contoh: Obama, Elon Musk, Big Pharma, dan lain-lain berperan sebagai tokoh antagonis
- Pada akhirnya orang harus memilih salah satu:
- dunia yang sederhana tetapi punya komunitas
- dunia kebenaran yang rumit dan bisa membuat terasing
- Untuk pertanyaan “Kalau keyakinanmu salah, apakah kamu ingin tahu?”, kebanyakan orang di dalam hati menjawab ‘tidak’
Percakapan politik pada umumnya tidak berarti
- Percakapan sering kali bukan pencarian kebenaran, melainkan perdebatan gaya pembelaan yang mementingkan menang atau kalah
- Diskusi intelektual yang sungguhan seharusnya lebih mirip penyelidikan
- Mengakui kesalahan bukanlah kekalahan, melainkan kemajuan
- Ini seharusnya menjadi ‘penjelajahan’, bukan ‘perdebatan’:
- perdebatan ala pengacara: segala cara dipakai untuk menang
- diskusi ala arkeolog: bekerja sama untuk menemukan kebenaran
Mengapa saya ingin menolak tribalisme
- Saat teman mengangkat topik politik, kebanyakan datang dari sudut pandang kesukuan
- Saya tertarik pada proses berpikir, bukan kesimpulan
- Bukan apa yang diyakini yang paling penting, tetapi mengapa itu diyakini
- Namun kebanyakan orang salah paham dan mengira saya berada di kubu lawan
- Bagi teman yang konservatif saya tampak ‘progresif’, bagi teman yang progresif saya tampak ‘konservatif’
- Solusinya adalah:
- membagikan tulisan seperti ini agar ketulusan bisa disampaikan lewat tulisan, bukan debat lisan
- mencoba berinteraksi dengan orang-orang yang sungguh mengejar kebenaran
Keputusan pindah ke Bay Area
- Saya pindah dari San Diego ke Bay Area
- Selain keluarga dan pekerjaan, salah satu alasannya adalah ingin menemukan komunitas yang mengejar kebenaran
- Di Silicon Valley ada banyak orang yang langsung menguji ide mereka di dunia nyata
- Ini lingkungan yang mudah membuat orang gagal jika tidak sering meninjau ulang prasangkanya
- Karena itu, saya bertemu banyak orang yang berusaha melihat ‘dunia tanpa omong kosong’
Cara membangun kemampuan berpikir yang lebih baik
- Empat kebiasaan berpikir yang saya rekomendasikan:
- punya pola pikir pencari kebenaran
- mengembangkan sistem berpikir logis
- cara berpikir berbasis probabilitas (berpikir seperti memasang taruhan)
- menggoyang-goyangkan klaim secara berulang (oscillation)
- Yang nomor 1 paling penting: keinginan untuk mengetahui kebenaran
- Tanpa itu, yang lain tidak ada artinya
Berpikir berbasis probabilitas (Thinking in bets)
- Dunia tidak bekerja dalam struktur sebab-akibat yang sederhana
- Kita perlu prediksi probabilistik, seperti “A menyumbang 40% penyebab, B 25%, C 10%”
- Strategi yang benar bisa gagal, dan strategi yang salah bisa berhasil
- Semakin kita menerima kenyataan yang rumit alih-alih model yang terlalu sederhana, semakin dekat kita pada kebenaran
Menggoyang klaim: cara memperkuat kemampuan berpikir
- Sebuah metode untuk sengaja membuat argumen kuat yang berlawanan dengan klaim kita sendiri
- Contoh: mencari sebanyak mungkin dasar argumen yang menentang “kambing punya emosi”
- Dengan mengulangi proses ini, kita bisa mengurangi bias dan berempati pada posisi orang lain
Pesan penutup
- Yang saya harapkan dari teman-teman saya bukanlah apa yang mereka yakini, melainkan mengapa mereka meyakininya
- Sangat jarang orang punya alasan dan logika yang sungguh nyata
- Jika tulisan ini terasa mengena bagi Anda, silakan hubungi saya kapan saja
- Ringkasan: Kita adalah monyet di atas batu kosmik. Dunia itu abu-abu dan rumit. Jika Anda setuju dengan ini, silakan hubungi saya
1 komentar
Pendapat Hacker News
Penulis berpendapat bahwa nilai dan etika itu penting dalam diskusi politik. Keputusan politik pada akhirnya berkaitan dengan bagaimana membentuk dunia tempat manusia hidup.
Pertanyaan tentang apa itu politik adalah hal yang penting. Tokoh, partai, ras, gender, political correctness, dan isu imigrasi bukanlah politik.
Percakapan politik dengan teman seharusnya saling mendukung dan saling mengembangkan. Tidak seharusnya berusaha menang dalam perdebatan.
Penulis membagikan pengalaman kehilangan teman dan keluarga selama 10 tahun terakhir. Karena keputusan sebagian orang bertentangan dengan keyakinan intinya.
Ia mengklaim tidak melihat adanya "tribalisme". Hal-hal yang ia anggap penting kebetulan selaras dengan ideologi progresif dan kiri.
Salah satu alasan ia pindah dari San Diego ke Bay Area adalah untuk mencari komunitas orang-orang yang mengejar kebenaran.
Dulu berbicara tentang seks, agama, dan politik dianggap tidak sopan, tetapi sekarang membahasnya dengan pikiran terbuka terasa menyenangkan.
Ia menyadari adanya bias dalam berita dan mulai menggali lebih dalam cerita-cerita yang ia minati.
Ia mengajukan hipotesis bahwa manusia mudah terjebak dalam pemikiran magis. Hal ini mungkin menguntungkan secara evolusioner.
Ia mengkritik penggunaan kata "tengah". Ia berpendapat bahwa pemikiran independen mengarah pada keyakinan yang tidak cocok sepenuhnya dengan ideologi atau partai tertentu.