Inovator Keras Kepala dan Orang Bodoh yang Nekat: Kapan Harus Berhenti, dan Kapan Harus Terus Maju?
-
Kesadaran akan masalah: batas antara sukses dan gagal itu samar
- Dalam hidup maupun bisnis, “kapan harus berhenti, dan kapan harus terus maju sampai akhir” mustahil diketahui pada saat itu juga.
- Dalam situasi yang sama-sama sulit, ada kasus yang berhasil karena bertahan sampai akhir, dan ada juga yang berakhir menjadi kegagalan yang hanya membuang waktu dan uang.
- Kisah sukses dipenuhi nasihat “jangan menyerah”, sementara kisah gagal dipenuhi nasihat “jangan keras kepala”, tetapi pada kenyataannya keduanya tidak bisa dibedakan pada saat itu.
-
Hakikat keputusan: hanya bisa dinilai dari hasilnya
- Dalam situasi sulit, kita tidak bisa mengetahui perbedaan antara dua skenario itu, dan bahkan para ahli (VC dan lain-lain) pun tidak mampu memprediksinya.
- Pada akhirnya, kita hanya bisa membuat pilihan dan melihat hasilnya, tidak lebih dan tidak kurang.
- Karena “berhenti adalah kegagalan yang pasti, sedangkan terus maju adalah satu-satunya cara yang masih menyisakan kemungkinan sukses”, maka pada akhirnya jawaban yang tersisa adalah eksekusi.
-
Strategi eksekusi: pertanyaan-pertanyaan untuk menilai dengan lebih bijak di tengah ketidakpastian
-
Melalui pertanyaan dan strategi berikut, kita bisa menilai dengan sedikit lebih objektif apakah harus berhenti atau melanjutkan.
-
Timebox: tetapkan tenggat bahwa jika tidak ada perbaikan dalam periode tertentu, maka berhenti tanpa ragu.
-
Kesenangan dan pembelajaran: apakah proyek ini masih terasa menyenangkan dan masih ada hal yang bisa dipelajari?
-
Kecepatan progres: apakah progres belakangan ini semakin cepat, atau justru melambat?
-
Sudut pandang pihak ketiga: evaluasi diri melalui umpan balik dari orang luar.
-
Abaikan sunk cost: jangan biarkan waktu dan uang yang sudah dikeluarkan mengendalikan keputusan.
-
Energi tim: jika tim sudah tidak lagi punya keyakinan atau ide, pertimbangkan pivot atau menghentikannya.
-
Bayangkan 12 bulan ke depan: apakah kamu bisa membayangkan dirimu masih mengerjakan ini satu tahun dari sekarang?
-
Daya saing produk: apakah produk kita jelas lebih baik daripada alternatif di pasar, atau tampak akan segera menjadi lebih baik?
-
Bukti keberadaan (Existence proof): apakah orang lain sudah pernah mencapai keberhasilan serupa?
-
Nilai, perbaikan, kemauan: (a) apakah ini cukup bernilai, (b) apakah ada kemungkinan untuk membaik, (c) apakah saya masih punya energi?
-
Biaya peluang (Opportunity Cost): apakah karena terlalu terpaku pada ini, kita malah melewatkan peluang yang lebih penting?
-
Hasil dan imbalan: apa kerugiannya jika gagal, dan apa imbalannya jika berhasil?
-
Mengatasi rasa takut: jangan menunda keputusan karena rasa takut.
-
Suara batin: berjalanlah sendirian dan dengarkan jawaban sejati dari dalam dirimu.
-
‘Alasan (Why)’ di awal: apakah motivasi saat memulai masih relevan sekarang?
-
-
Kesimpulan: bertindaklah, dan jangan terlalu terikat pada hasil
- Begitu kita menerima kenyataan bahwa sejak awal kita memang tidak bisa tahu sedang berada di skenario yang mana, kita justru menjadi lebih bebas.
- Lepaskan terlalu banyak kekhawatiran, rasa bersalah, maupun kesombongan, lalu bertindaklah dengan berani sambil mengamati hasilnya secara objektif.
- Dan ketika semuanya selesai, jangan menoleh ke belakang; melangkahlah ke hal berikutnya.
“Saat Anda berhenti, Anda tak akan pernah bisa menciptakan sesuatu yang hebat. Pada akhirnya, kita memang tidak tahu. … Jadi terimalah fakta ini secara positif. Justru itulah yang membuat Anda lebih bebas.” ("If you stop, you’ll never create something great. … So embrace this fact. It actually sets you free.")
Belum ada komentar.