2 poin oleh GN⁺ 2025-11-23 | Belum ada komentar. | Bagikan ke WhatsApp
  • Hasil eksperimen yang menstimulasi area pemrosesan penciuman di otak menggunakan ultrasound untuk memunculkan sensasi bau tertentu pada manusia
  • Transduser dipasang di dahi dan ultrasound difokuskan ke arah bulbus olfaktorius, berhasil mereproduksi empat bau pada dua orang (udara segar, sampah, ozon, api kayu)
  • Ultrasound frekuensi rendah 300kHz, kedalaman fokus sekitar 39mm, disetel pada sudut 50~55 derajat untuk mengendalikan lokasi stimulasi secara presisi
  • Eksperimen juga mengukur tekanan, indeks mekanis, panas, dan lain-lain untuk verifikasi keamanan, serta menetapkan batas sudut untuk menghindari kerusakan saraf optik
  • Dengan stimulasi olfaktorius, penelitian ini mengeksplorasi kemungkinan sebagai kanal input informasi ke otak yang non-invasif, dan membuka potensi pengembangan ke riset stimulasi saraf tingkat tinggi agar di masa depan manusia dapat ‘memahami makna lewat bau’

Gambaran eksperimen

  • Transduser ultrasound diarahkan ke area pemrosesan penciuman di otak (bulbus olfaktorius) untuk memunculkan berbagai sensasi bau
    • Posisi fokus yang berbeda berkaitan dengan sensasi bau yang berbeda
    • Berhasil direproduksi pada percobaan pertama pada dua peserta, lalu diverifikasi dengan blind test
  • Ada empat sensasi yang berhasil diinduksi
    • Bau udara segar yang kaya oksigen
    • Bau sampah seperti kulit buah busuk
    • Bau ozon di dekat ionizer udara
    • Bau api kayu yang sedang terbakar

Pengaturan eksperimen

  • Bulbus olfaktorius berada di belakang bagian atas hidung sehingga sulit dijangkau
    • Bagian dalam hidung tidak rata dan berisi udara, sehingga tidak cocok untuk konduksi ultrasound
  • Transduser dipasang di atas dahi dan ultrasound diarahkan ke bawah
    • Sinus frontal melemahkan sinyal, tetapi dengan penyesuaian posisi, area target tetap dapat dicapai
  • Pada awalnya probe ditahan dengan tangan, tetapi karena stabilitas rendah dibuatlah headset improvisasi
    • Alih-alih gel, digunakan bantalan berbentuk jeli padat untuk menjaga stabilitas dan kenyamanan
    • Pisau ditempelkan dengan selotip pada probe untuk dukungan mekanis (tetap dipertahankan karena alasan pencegahan error perangkat lunak)
    • Metode mouthguard yang memanfaatkan gigi juga sempat dicoba, tetapi dihentikan karena bau tidak dapat dideskripsikan

Pengaturan ultrasound

  • Citra MRI Lev digunakan untuk memeriksa posisi fokus dan penyelarasan dengan bulbus olfaktorius
  • Kondisi optimal
    • Frekuensi: 300kHz (frekuensi rendah yang cocok untuk menembus tengkorak)
    • Kedalaman fokus: sekitar 39mm
    • Sudut bidik: 50~55 derajat
    • Pulsa: 5 siklus, laju pengulangan 1200Hz
  • Pada peserta lain (Albert), efek yang sama juga dikonfirmasi tanpa MRI hanya dengan sedikit penyesuaian posisi

Verifikasi keamanan

  • Pengukuran medan keluaran: di tangki air, tekanan 150~250kPa, indeks mekanis maksimum 0,4
    • Intensitasnya satu tingkat digit lebih rendah daripada tFUS biasa, dan masih berada dalam standar keamanan mekanis dan termal
  • Menghindari saraf optik: asimetri diminimalkan, dan sudut disesuaikan agar tidak melebihi 15 derajat
    • Karena bulbus olfaktorius sedikit bergeser dari pusat, digunakan sudut lateral sekitar 2 derajat

Hasil

  • Kedua peserta sama-sama mengalami empat sensasi tersebut
    • Baunya kuat dan terlokalisasi di sekitar hidung, sedangkan sensasinya lemah dan menyebar
    • Paling kuat terasa saat menghirup napas
    • Salah satu peserta mencium bau sampah dan sempat mengira truk sampah benar-benar datang
  • Bau yang berbeda dapat dibedakan dalam rentang pergeseran fokus sekitar 14mm
    • Perbedaan fokus antara bau segar dan bau terbakar sekitar 3,5mm
  • Masking auditori (musik diputar lewat AirPods) digunakan untuk menyingkirkan efek plasebo
  • Dalam blind test, peserta berhasil membedakan bau berdasarkan posisi fokus
  • Meski pergeseran fokus kecil, bau yang berbeda tetap dapat diinduksi, menunjukkan resolusi stimulasi yang melampaui resolusi ultrasound
    • Hal ini disebut sebagai "super-resolution pada neurostimulasi"
  • Arah pengembangan berikutnya: perangkat yang stabil, peningkatan frekuensi, serta penyesuaian posisi fokus, ukuran, dan bentuk gelombang

Makna stimulasi olfaktorius

  • Stimulasi olfaktorius bukan sekadar merealisasikan bau dalam VR, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai kanal input otak non-invasif
    • Manusia memiliki sekitar 400 jenis reseptor penciuman, dan dapat membedakan perbedaan halus melalui kombinasinya
  • Jika kedua lubang hidung digabungkan, secara maksimum bisa menjadi kanal input 800 dimensi, mirip dengan dimensi latent space pada LLM
    • Secara teoretis, makna sebuah paragraf dapat dienkode ke dalam vektor 400 dimensi sehingga memungkinkan ‘memahami makna lewat bau’
  • Sistem olfaktorius terhubung langsung ke hipokampus (memori) dan amigdala (emosi) sehingga jalur penyampaian informasinya sederhana
    • Sistem visual memiliki banyak tahap pemrosesan perantara sehingga pendekatan yang sama lebih sulit diterapkan
  • Penciuman adalah kanal indra yang lebih jarang digunakan dibanding penglihatan dan pendengaran, sehingga cocok sebagai antarmuka neurostimulasi baru
  • Saat ini sudah berhasil mewujudkan empat bau, dan dengan meningkatkan bitrate stimulasi olfaktorius, ada potensi untuk mengekspresikan lebih banyak bau maupun makna
    • "Jika 400 vektor basis semuanya dapat dikendalikan, makna bisa dirasakan sebagai bau"
    • Saat ini baru mencapai 1% pertamanya

Ucapan terima kasih

  • Ucapan terima kasih atas masukan dari Raffi Hotter, Aidan Smith, dan Mason Wang

Belum ada komentar.

Belum ada komentar.