5 poin oleh ffdd270 2020-08-26 | Belum ada komentar. | Bagikan ke WhatsApp

Sebuah makalah sempat menjadi topik hangat di Twitter. Makalah itu meneliti pengaruh budaya terhadap makna kata dengan mengurutkan kata menggunakan machine learning. Kebanyakan orang menyindirnya sebagai semacam chauvinisme digital, sambil berkata mereka tidak mengerti mengapa para engineer menemukan sesuatu yang sudah ada lalu membicarakannya seolah itu penemuan baru dalam 'antropologi'.

Namun, dari para "teman engineer" penulis makalah itu, hanya satu dari tiga orang yang benar-benar engineer. Dua lainnya adalah seorang antropolog dan seorang profesor linguistik. Artinya, sebagian besar orang yang mengecamnya di Twitter bahkan belum membaca halaman pertama makalah tersebut, apalagi melihat riwayat para penelitinya.

Tulisan ini, yang menjadi posting dengan upvote terbanyak di Hacker News, berangkat dari masalah itu. Penulis menyoroti bahwa ini bukan kejadian sekali dua kali; hal seperti ini terjadi setiap kali sesuatu dikutip, dan bahkan ketika orang membuat klaim atau penilaian, mereka sering berbicara tanpa pernah membaca sumber aslinya. Ia lalu menguraikan masalah ini secara rinci.

Sesuai maksud tulisan aslinya yang menekankan pentingnya sumber primer, saya juga merekomendasikan untuk membaca teks lengkap tulisan ini.

Belum ada komentar.

Belum ada komentar.