15 poin oleh flowkater 24 hari lalu | 2 komentar | Bagikan ke WhatsApp

1. Latar belakang klaim bahwa SaaS sudah mati

  • Belakangan ini, seiring alat coding AI seperti Claude Code, Copilot, dan Codex berkembang pesat, muncul klaim bahwa “kalau software sekarang bisa dibuat hanya dengan beberapa baris prompt, bukankah SaaS sudah tamat?”.
  • Reid Hoffman sendiri menyoroti bahwa pasar bereaksi sangat sensitif terhadap narasi ini, sampai-sampai satu tweet terkait Claude Code disebut cukup untuk menekan saham SaaS sekitar 5%.
  • Namun, menurutnya, pasar terlalu melebih-lebihkan fenomena ini. Memang benar AI sedang mengguncang cara software diproduksi, tetapi itu tidak serta-merta berarti seluruh industri SaaS akan mati.
  • Jadi titik berangkatnya bukan “AI bukan ancaman”, melainkan kritik bahwa “arah ancamannya sedang dibaca secara keliru”.
  • Masalah yang ia soroti jelas: yang sedang runtuh bukan SaaS itu sendiri, melainkan playbook lama SaaS yang berlaku selama 20 tahun terakhir.

2. Pelemahan moat SaaS lama

  • Hoffman menilai, alasan perusahaan SaaS di masa lalu bisa menikmati margin tinggi adalah karena organisasi engineering yang mampu membangun produk stabil dan men-scale-nya sendiri merupakan hambatan masuk yang kuat.
  • Dengan kata lain, memiliki tim yang mampu “mengimplementasikan dan mengoperasikan fitur pada level ini secara stabil” adalah moat itu sendiri, sehingga margin 40–50% pun bisa dibenarkan.
  • Tetapi ketika AI meningkatkan kecepatan implementasi, daya tahan yang berasal dari tenaga engineering murni jelas mulai melemah.
  • Karena itu, ia mengakui bahwa model bisnis yang mendefinisikan SaaS selama 20 tahun terakhir sulit dipertahankan dalam bentuk yang sama.
  • Namun hal penting di sini adalah, penurunan margin dan pelemahan moat bukan berarti kematian.
  • Ada lompatan logika besar antara diagnosis “model SaaS lama sedang runtuh” dan kesimpulan “sekarang tidak ada lagi yang mau membayar software”, dan justru lompatan itulah yang dipermasalahkan Hoffman.
  • Artinya, AI memang menyusun ulang economics SaaS, tetapi tidak langsung mengarah pada hilangnya bisnis software itu sendiri.

3. Kesalahpahaman mendasar tentang bisnis software

  • Menurut Hoffman, banyak orang salah memahami software sebagai “sekumpulan kode yang sekali dibuat lalu selesai”.
  • Padahal software enterprise nyata bukan sekadar output kode, melainkan sistem hidup yang terus membutuhkan maintenance, verifikasi, keamanan, compliance, stabilitas operasional, dan perbaikan berkelanjutan.
  • Misalnya ada yang berkata, “CRM perusahaan kita atau sistem payroll bukankah bisa saja dibuat dengan vibe coding?” Tetapi dalam lingkungan enterprise yang sesungguhnya, risiko keamanan dan regulasi terlalu besar untuk diganti sesederhana itu.
  • Terutama untuk sistem yang menangani pekerjaan inti perusahaan seperti HR, payroll, accounts payable, akuntansi, dan CRM enterprise, jarak antara “bisa berjalan” dan “layak dioperasikan” sangatlah jauh.
  • Karena itu, membuat demo fitur hanya dengan prompt dan mengoperasikan sistem yang benar-benar bisa dipercaya serta layak dibayar oleh perusahaan adalah dua hal yang sama sekali berbeda.
  • Di titik ini, Hoffman menilai para optimistis AI sedang mencampuradukkan mudahnya menghasilkan kode dengan sulitnya mengoperasikan produk.
  • Kesimpulannya, AI memang membuat software lebih mudah dibuat, tetapi tidak menghapus struktur tanggung jawab dalam bisnis software.

4. Moat kompetitif baru: AI Generativity

  • Perubahan yang menurut Hoffman benar-benar penting bukanlah “lenyapnya SaaS”, melainkan pusat moat kompetitif sedang bergeser.
  • Ke depan, perusahaan SaaS yang kuat bukan lagi sekadar perusahaan yang menyediakan fitur, melainkan perusahaan yang menyediakan sistem yang dirancang agar dapat menjalankan pekerjaan dalam kategori tersebut dengan lebih baik melalui AI.
  • Ia menjelaskan hal ini lewat konsep AI Generativity. Artinya, daya saing inti akan ditentukan oleh seberapa baik AI di dalam produk memahami kebutuhan spesifik domain tersebut dan secara berulang menghasilkan hasil yang lebih baik.
  • Jika kita ambil contoh perusahaan CRM, maka hanya memiliki fungsi menyimpan dan mengambil data pelanggan saja akan menjadi posisi yang lemah.
  • Sebaliknya, CRM yang kuat akan memiliki elemen seperti berikut:
    • serangkaian agen cerdas yang terus menyempurnakan workflow penjualan
    • sistem yang memahami pipeline secara lebih menyeluruh daripada analis manusia
    • library backend dan struktur operasional yang kuat, dirancang khusus untuk domain tersebut
  • Produk seperti ini bisa memiliki moat yang jauh lebih kuat daripada SaaS CRUD biasa.
  • Pada akhirnya, persaingan ke depan bukan ditentukan oleh “apakah AI sudah diadopsi”, tetapi oleh apakah sistem AI yang disesuaikan secara mendalam dengan domain sudah dijadikan inti produknya.
  • Hoffman menilai pemain lama yang memahami perubahan ini akan berevolusi, sedangkan yang tidak memahaminya benar-benar bisa melemah atau mati.
  • Namun bahkan kemunduran itu pun tidak akan terjadi seketika seperti yang dibayangkan pasar, dan kemungkinan besar berlangsung jauh lebih lambat dari perkiraan.

5. Pergeseran model bisnis

  • Jika struktur produk berubah, model ekonominya juga besar kemungkinan ikut berubah.
  • Hoffman menilai model langganan berbasis seat pada SaaS lama tidak akan menjadi satu-satunya model; ke depan, model utility di mana pelanggan membayar di muka untuk anggaran token atau konsumsi komputasi bisa muncul jauh lebih banyak.
  • Misalnya, pada CRM AI-native, ukuran yang lebih penting dalam pricing bisa jadi bukan sekadar “berapa banyak pengguna yang login”, melainkan seberapa besar komputasi dan otomatisasi yang benar-benar dijalankan sistem.
  • Jadi bukan software berlangganan yang menghilang, melainkan berpotensi direstrukturisasi menjadi model ekonomi berbasis konsumsi komputasi.
  • Menurutnya, transisi seperti ini mungkin terasa asing, tetapi sebenarnya bukan hal baru.
  • Saat software on-premise bergeser ke cloud SaaS dulu, ketakutan bahwa model bisnis lama akan runtuh juga sangat besar, tetapi pada akhirnya pasar tidak berakhir dan justru tumbuh lebih besar.
  • Sekarang pun sama: kita sedang berada di awal transisi serupa dari “cloud SaaS → software AI-native”.
  • Karena itu, pertanyaan yang penting bukan “apakah SaaS akan mati”, melainkan seperti apa struktur unit economics baru dan cara mengukur nilai yang baru.

6. Moat lama masih tetap berlaku

  • Hoffman menekankan bahwa bahkan di era AI, moat yang sudah ada tidak sepenuhnya hilang.
  • Efek jaringan, hubungan dengan pelanggan, dan keunggulan data tetap penting, bahkan dalam beberapa kasus bisa menjadi lebih kuat.
  • Terutama sumber data yang unik akan menjadi lebih bernilai daripada sebelumnya ketika AI dapat dilatih dan disesuaikan di atas data tersebut.
  • Jika sistem AI disesuaikan berdasarkan data yang dikumpulkan selama bertahun-tahun sesuai workflow spesifik dan konteks operasional perusahaan, maka lock-in pelanggan akan memiliki makna pada level yang berbeda dari sebelumnya.
  • Artinya, yang dikomoditisasi oleh AI adalah “kemampuan membuat kode dengan cepat”, bukan seluruh hubungan pelanggan, data operasional, dan konteks domain.
  • Karena itu, basis pelanggan dan aset data yang sudah dimiliki perusahaan SaaS lama tetap bisa menjadi titik awal yang kuat di era AI.
  • Ia juga menyinggung Jevons’ Paradox: jika biaya membangun software turun drastis, permintaan terhadap software justru sangat mungkin ikut meningkat.
  • Jika biaya pembuatan turun, lebih banyak masalah akan dicoba diselesaikan lewat software, sehingga pasar secara keseluruhan bisa bergerak ke arah ekspansi, bukan penyusutan.

Kesimpulan akhir

  • Kesimpulan Hoffman tegas: SaaS tidak mati.
  • Namun yang sedang sekarat adalah “playbook SaaS lama yang memaketkan fitur sebagai produk dan mempertahankan margin tinggi”.
  • Perusahaan yang akan bertahan adalah mereka yang melampaui sekadar menempelkan AI sebagai alat, lalu merancang ulang pekerjaan inti kategorinya dengan berpusat pada AI Generativity.
  • Sebaliknya, perusahaan yang berpuas diri pada rumus sukses lama dan gagal memahami pergeseran moat di era AI bisa perlahan menurun.
  • Jadi pesan inti tulisan ini bukanlah “akhir dari industri software”, melainkan restrukturisasi bisnis software.
  • Jika diringkas dalam satu kalimat: SaaS sedang mengalami pergantian generasi, bukan pemakaman. Yang mati bukan industrinya, melainkan para pemain yang gagal beradaptasi dengan perubahan zaman.

2 komentar

 
colus001 24 hari lalu

Alasan orang memakai SaaS itu sendiri adalah “apa kita perlu melakukan ini sendiri?”, bukan “kita tidak bisa melakukan ini”, jadi rasanya kurang meyakinkan kalau dibilang bakal hilang. Lihat saja groupware, bahkan sekarang pun orang masih memakai yang sangat ketinggalan zaman.

 
aer0700 24 hari lalu

Standar soal apa yang dianggap sulit mungkin berbeda-beda bagi tiap orang, tetapi rasanya bukan karena membuat Jira itu sulit jadi orang tidak membuatnya; lebih ke karena Jira yang sudah familiar itu sudah ada, jadi buat apa repot-repot membuatnya lagi? Sekarang eranya membuat Jira dengan sekali klik... jadi mungkin dari sisi biaya juga masuk akal kalau tiap perusahaan membuat dan memakai Jira kustom mereka sendiri? Meski tetap terasa agak, ya, buat apa juga sih.