- Dudukan laptop dari beton yang mewujudkan estetika arsitektur Brutalisme era 1960-an, dengan ciri tekstur permukaan yang kasar dan terekspos
- Mengintegrasikan 2 port USB, soket 3-pin, dan pot tanaman untuk memadukan fungsionalitas dengan nilai bentuk
- Permukaan dicor secara sengaja tidak seragam lalu diamplas untuk menampilkan tekstur beton tua dan efek kerikil terekspos
- Tulangan berkarat, kabel rusak palsu, dan tempat pena bertekstur lumut memperkuat citra kemunduran kota
- Hasil akhirnya berhasil mewujudkan estetika Brutalisme dan reruntuhan, dan meski sangat berat, karya ini dinilai sangat memuaskan
Fitur utama
- Pembuatan dudukan laptop beton yang mencerminkan estetika arsitektur Brutalisme
- Mereproduksi tekstur permukaan kasar dan terekspos (béton brut) dari arsitektur beton tahun 1960-an
- Sangat berbobot, serta mengintegrasikan 2 port pengisian USB 2.1A, soket colokan 3-pin, dan pot tanaman
- Unsur desainnya mencakup kemunduran kota (urban decay), sudut yang rusak, tulangan berkarat, dan kabel tembaga yang terkorosi
- Struktur overhang bergaya brutalis dan tempat pena yang dibuat tampak berkarat secara artifisial menjadi titik fokus visual
- Termasuk pot berisi tanaman menjuntai (String of Pearls), membentuk komposisi yang mengingatkan pada bangunan terbengkalai
Proses pembuatan
- Pembuatan dilakukan melalui beberapa tahap pengecoran beton dan pengolahan permukaan
- Fondasi dan dinding samping dicor dalam dua tahap terpisah
- Campuran tidak diaduk sepenuhnya agar menyisakan tekstur pasir dan semen yang tidak seragam
- Sisi samping diamplas untuk menghasilkan tampilan tua dengan kerikil yang terekspos
- Untuk pekerjaan kecil, semen cepat kering dan getaran sikat gigi elektrik dapat digunakan untuk menghilangkan gelembung udara
- Untuk pekerjaan besar, diperlukan semen lambat kering dan mengetuk cetakan dengan palu karet
- Pada proyek berukuran sedang ini, gelembung udara dihilangkan dengan alat getar listrik
Komponen
-
Beton
- Tekstur permukaan yang tidak merata dan kerikil yang terekspos digunakan untuk menampilkan tekstur beton tua
- Campuran sengaja dibuat tidak sepenuhnya homogen untuk menonjolkan efek aus seolah telah termakan waktu
-
Pot tanaman
- Menggunakan kaleng ghee sebagai wadah luar, lalu dipasang ke beton dengan 4 baut
- Di bagian dalam dimasukkan pot plastik abu-abu yang dibuat agar pas presisi
- Dipilih tanaman menjuntai (String of Pearls) untuk menghadirkan citra tanaman merambat pada bangunan reruntuhan
-
Kabel terekspos
- Dibuat kabel rusak palsu, bukan kabel daya sungguhan, untuk memperkuat nuansa kemunduran kota
- Kabel daya asli masuk ke dalam beton dan diikat ke sangkar tulangan dengan cable tie
- Untuk efek korosi kabel, kabel dibungkus tisu dapur lalu disemprot campuran amonia dan air
- Metode perendaman gagal; senyawa tembaga memang membuat cairan menjadi biru, tetapi pembentukan patina hijau kebiruan gagal
- Ditampilkan proses reaksi kimia Cu²⁺ + 2NH₃ + 3H₂O → Cu(OH)₂ + 2NH₄⁺
- Bagian tulangan yang terekspos diasah dengan sikat kawat Dremel, lalu dibuat berkarat menggunakan air, garam, dan hidrogen peroksida
-
Tempat pena
- Permukaannya dikasarkan dengan amplas, lalu diberi karat menggunakan air garam dan hidrogen peroksida
- Ditambahkan tekstur lumut dengan cat akrilik yang dicampur pasir
- Pengecatan dilakukan dengan teknik dab alih-alih digosok agar tekstur tetap terjaga
Penyelesaian dan penilaian akhir
- Dudukan yang selesai berhasil mewujudkan tema Brutalisme, kemunduran kota, dan penuaan
- Lubang yang disengaja dan logam berkarat memperkuat estetika keseluruhan
- Bobotnya sangat besar sehingga harus dipindahkan ke meja dengan troli, tetapi tetap dinilai sebagai hasil yang sangat memuaskan
Belum ada komentar.