2 poin oleh GN⁺ 14 hari lalu | Belum ada komentar. | Bagikan ke WhatsApp
  • Dudukan laptop dari beton yang mewujudkan estetika arsitektur Brutalisme era 1960-an, dengan ciri tekstur permukaan yang kasar dan terekspos
  • Mengintegrasikan 2 port USB, soket 3-pin, dan pot tanaman untuk memadukan fungsionalitas dengan nilai bentuk
  • Permukaan dicor secara sengaja tidak seragam lalu diamplas untuk menampilkan tekstur beton tua dan efek kerikil terekspos
  • Tulangan berkarat, kabel rusak palsu, dan tempat pena bertekstur lumut memperkuat citra kemunduran kota
  • Hasil akhirnya berhasil mewujudkan estetika Brutalisme dan reruntuhan, dan meski sangat berat, karya ini dinilai sangat memuaskan

Fitur utama

  • Pembuatan dudukan laptop beton yang mencerminkan estetika arsitektur Brutalisme
    • Mereproduksi tekstur permukaan kasar dan terekspos (béton brut) dari arsitektur beton tahun 1960-an
    • Sangat berbobot, serta mengintegrasikan 2 port pengisian USB 2.1A, soket colokan 3-pin, dan pot tanaman
  • Unsur desainnya mencakup kemunduran kota (urban decay), sudut yang rusak, tulangan berkarat, dan kabel tembaga yang terkorosi
  • Struktur overhang bergaya brutalis dan tempat pena yang dibuat tampak berkarat secara artifisial menjadi titik fokus visual
  • Termasuk pot berisi tanaman menjuntai (String of Pearls), membentuk komposisi yang mengingatkan pada bangunan terbengkalai

Proses pembuatan

  • Pembuatan dilakukan melalui beberapa tahap pengecoran beton dan pengolahan permukaan
    • Fondasi dan dinding samping dicor dalam dua tahap terpisah
    • Campuran tidak diaduk sepenuhnya agar menyisakan tekstur pasir dan semen yang tidak seragam
    • Sisi samping diamplas untuk menghasilkan tampilan tua dengan kerikil yang terekspos
  • Untuk pekerjaan kecil, semen cepat kering dan getaran sikat gigi elektrik dapat digunakan untuk menghilangkan gelembung udara
  • Untuk pekerjaan besar, diperlukan semen lambat kering dan mengetuk cetakan dengan palu karet
  • Pada proyek berukuran sedang ini, gelembung udara dihilangkan dengan alat getar listrik

Komponen

  • Beton

    • Tekstur permukaan yang tidak merata dan kerikil yang terekspos digunakan untuk menampilkan tekstur beton tua
    • Campuran sengaja dibuat tidak sepenuhnya homogen untuk menonjolkan efek aus seolah telah termakan waktu
  • Pot tanaman

    • Menggunakan kaleng ghee sebagai wadah luar, lalu dipasang ke beton dengan 4 baut
    • Di bagian dalam dimasukkan pot plastik abu-abu yang dibuat agar pas presisi
    • Dipilih tanaman menjuntai (String of Pearls) untuk menghadirkan citra tanaman merambat pada bangunan reruntuhan
  • Kabel terekspos

    • Dibuat kabel rusak palsu, bukan kabel daya sungguhan, untuk memperkuat nuansa kemunduran kota
    • Kabel daya asli masuk ke dalam beton dan diikat ke sangkar tulangan dengan cable tie
    • Untuk efek korosi kabel, kabel dibungkus tisu dapur lalu disemprot campuran amonia dan air
    • Metode perendaman gagal; senyawa tembaga memang membuat cairan menjadi biru, tetapi pembentukan patina hijau kebiruan gagal
    • Ditampilkan proses reaksi kimia Cu²⁺ + 2NH₃ + 3H₂O → Cu(OH)₂ + 2NH₄⁺
    • Bagian tulangan yang terekspos diasah dengan sikat kawat Dremel, lalu dibuat berkarat menggunakan air, garam, dan hidrogen peroksida
  • Tempat pena

    • Permukaannya dikasarkan dengan amplas, lalu diberi karat menggunakan air garam dan hidrogen peroksida
    • Ditambahkan tekstur lumut dengan cat akrilik yang dicampur pasir
    • Pengecatan dilakukan dengan teknik dab alih-alih digosok agar tekstur tetap terjaga

Penyelesaian dan penilaian akhir

  • Dudukan yang selesai berhasil mewujudkan tema Brutalisme, kemunduran kota, dan penuaan
  • Lubang yang disengaja dan logam berkarat memperkuat estetika keseluruhan
  • Bobotnya sangat besar sehingga harus dipindahkan ke meja dengan troli, tetapi tetap dinilai sebagai hasil yang sangat memuaskan

Belum ada komentar.

Belum ada komentar.