Cara Menyimpan File dan Perbedaan Generasi
(newspeppermint.com)-
Mahasiswa sekarang bahkan tidak begitu memahami konsep direktori atau folder itu sendiri.
-
“Jadi, bagi mahasiswa muda, sepanjang hidup mereka tidak pernah benar-benar membutuhkan folder atau direktori untuk mengerjakan hal-hal yang harus dilakukan. Karena semuanya bisa ditemukan lewat pencarian.”
-
Setelah mengalami sendiri menemukan dokumen penting atau jadwal janji yang bahkan tidak bisa ditemukan dalam sistem direktori yang ia bangun sendiri, lalu menemukannya lewat fitur pencarian di komputer, keyakinan itu pun semakin kuat. “Wah, saya jadi berpikir mungkin semua subfolder ini sebenarnya sama sekali tidak berguna.”
Karena sulit merangkum dalam 3 baris, saya ambil saja kalimat-kalimat yang paling menarik perhatian, seperti berita hiburan di portal.
Tadi sekilas saya sadar ternyata ada 1.200 file di folder Downloads saya. Saya juga merasa makin cenderung tidak merapikan dan lebih mengandalkan pencarian. Bagaimana dengan kalian? Tipe yang suka merapikan, atau lebih sering mencari?
13 komentar
Cerita di awal artikel mengatakan bahwa para pelajar bahkan tidak memahami konsep direktori itu sendiri, tetapi... kalau melihat isi setelahnya, rasanya lebih tepat dibilang mereka tetap memakai folder, hanya saja tidak menatanya secara terstruktur seperti orang-orang dulu.
Ini jadi mengingatkan saya pada seorang teman yang mengelola file dengan cara membiarkannya menumpuk di desktop sampai penuh, lalu ketika desktop sudah penuh semua file itu dimasukkan paksa ke dalam satu folder.
Saat menyimpan file, saya memang membaginya ke dalam direktori dan menyimpannya di tempat yang sesuai,
tetapi ketika benar-benar harus membuka kembali atau mencari file, rasanya saya lebih sering langsung mencarinya dengan spotlight
daripada menelusuri direktori satu per satu
"Namun, bagi mahasiswa saat ini, konsep seperti direktori atau folder itu sendiri terasa sangat asing"
...Ini benar-benar episode yang tak bisa dipahami, mau dibayangkan dengan cara apa pun.
Saya ganti dengan komentar yang saya tulis di bawah~
https://id.news.hada.io/topic?id=5092#cid7029
Kalau akan terus disimpan sih tidak masalah,
kalau suatu saat akan dihapus, rasanya bagaimanapun juga tetap perlu dirapikan, ya.
Saya sulit mempercayai klaim bahwa orang bahkan tidak memahami konsep direktori itu sendiri.
Dulu, saat bepergian jauh, kita membawa alamat dan mencari sendiri sambil melihat peta,
sedangkan sekarang kita memakai navigasi jadi bisa sampai tanpa terlalu memikirkan hal seperti itu.
Sepertinya cara kita menemukan file juga telah berubah.
Saya sendiri, karena spotlight dan Everything, semakin sering tidak lagi mengelola file dengan memasukkannya ke folder-folder, melainkan hanya memecahkannya berdasarkan tanggal dan semacamnya. Tapi kalau tidak terpikir nama yang cocok, saya juga tetap menderita...
Di Mac saya memakai pencarian Spotlight dan fitur tag, sedangkan di Windows saya cukup mencari dengan Everything
Kalau nama filenya sudah dibuat dengan rapi, itu saja sudah cukup.. hehe
Saya merasa hanya paham judul tulisan ini, sementara isinya tidak terlalu saya mengerti. Sepertinya bukan masalah terjemahan sih..
Untuk saat ini saya masih lebih suka mengatur file berdasarkan folder. Akan bagus kalau semuanya bisa ditemukan lewat pencarian, tetapi sepertinya kita belum berada di lingkungan yang bisa mengenali dan menelusuri semua jenis file beserta metadata yang jumlahnya sangat banyak. Tentu saja, saya pikir suatu hari nanti masa seperti itu bisa saja datang.
Kalau kita mencari "kucing", mungkin suatu saat nanti akan memungkinkan untuk langsung menampilkan sekaligus foto kucing, gambar serta file DOC/PDF yang memuat kata kucing/Cat, video dan musik yang berkaitan dengan kucing, daftar teman yang memelihara kucing, riwayat kunjungan komunitas terkait kucing dan tulisan yang pernah dibaca, sampai struk dan riwayat pembelian barang terkait kucing, semuanya sekaligus.. ?
Jika Anda memakai iPhone, pasti 100%, dan meskipun Anda memakai ponsel Android, saya rasa Anda akan bisa memahaminya kalau membayangkan cara mengelola file/foto/musik di smartphone dengan membaginya per folder.
Kalimat dalam artikel, “Dalam bayangan para siswa, tidak ada konsep folder atau alamat. Komputer—bahkan dunia ini—hanyalah satu keranjang besar, dan semuanya hidup bercampur di dalamnya.”, sebenarnya tidak jauh berbeda dari cara kita mengelola file di smartphone.
Kalau komputer pertama dalam hidup seseorang adalah iPhone, dan perangkat yang dipakai untuk membantu atau bekerja adalah komputer biasa, saya jadi merasa bahwa cara para mahasiswa dalam tulisan itu mengelola file tidaklah aneh. Toh saat memakai smartphone, kita juga melakukan hal yang sama.
"Mungkin sekitar tahun 2017. Itulah saat profesor astrofisika Catherine Garland pertama kali menyadari masalah ini. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah teknik yang diajarnya harus mengumpulkan tugas membuat turbin mesin jet menggunakan perangkat lunak simulasi"
Saya benar-benar tidak paham bagaimana bisa ada situasi di mana mahasiswa yang mengambil kelas pembuatan simulasi turbin mesin jet pada 2017 bahkan tidak tahu apa itu direktori.
Saya juga cukup sering menemukan file yang sama sekali tidak bisa saya temukan entah terselip di sudut mana di hard disk eksternal, hanya dengan sekali pencarian di Everything. Jadi, belakangan saya makin jarang merapikan file dan lebih sering asal melemparkannya ke folder yang sudah ditentukan. Kalau file yang sering dipakai, saya buat subdirektori lalu saya kumpulkan di sana. Masalahnya, karena jadi begitu, saat harus memberi nama file atau ketika saya tidak langsung terpikir kata kunci pencarian yang tepat, itu jadi cukup merepotkan.
Saya menamai file dokumen dengan format
tanggal - isi utama - ringkasan (presenter) - kata kunci utama (Korea, Inggris) . ekstensi
seperti itu.
Jadi, nama file yang panjang kadang bisa mencapai 70 karakter. hehe
Lalu saya menggunakannya dengan mencari nama file lewat Everything.