1 poin oleh GN⁺ 2023-10-02 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Menurut penelitian, sebagian besar mikroplastik laut berasal dari debu ban.
  • Emisi dari ban dan rem mengandung bahan kimia beracun, dan merupakan sumber polusi penting yang melampaui emisi knalpot kendaraan.
  • Makalah penelitian tahun 2020 menyoroti dampak polusi ban terhadap salmon coho di sungai-sungai pesisir barat yang disebabkan oleh bahan kimia bernama 6PPD yang digunakan dalam pembuatan ban.
  • Bahan kimia 6PPD berubah menjadi beberapa spesies lain, termasuk 6PPD-quinone, yang sangat beracun bagi berbagai spesies ikan dan juga telah terdeteksi dalam urin manusia.
  • Karet ban terdiri dari lebih dari 400 senyawa kimia berbeda, dan banyak di antaranya berdampak negatif pada kesehatan manusia.
  • Laporan dari Pew Charitable Trust menemukan bahwa 78% mikroplastik laut berasal dari karet ban sintetis, yang menyebabkan efek pada sistem saraf, perubahan perilaku, dan pertumbuhan abnormal pada hewan laut.
  • Emissions Analytics menemukan bahwa empat ban pada satu mobil melepaskan 1 triliun partikel "ultrahalus" per kilometer tempuh, yang dapat melewati paru-paru, masuk ke aliran darah, dan bahkan menembus sawar darah-otak.
  • Kendaraan listrik (EV) melepaskan sekitar 20% lebih banyak material dari ban dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal tradisional karena bobot yang lebih tinggi dan torsi yang besar.
  • Emisi debu halus dari ban dan rem diperkirakan telah melampaui massa emisi knalpot pada armada kendaraan modern.
  • Otoritas regulasi mulai menangani masalah ini; Uni Eropa akan mengatur emisi ban dan rem mulai 2025, dan California EPA mewajibkan produsen ban mencari pengganti 6PPD paling lambat 2024.
  • Para produsen sedang mengeksplorasi komposisi ban alternatif dan penangkapan debu halus menggunakan metode elektrostatik khusus untuk mengurangi polusi.

1 komentar

 
GN⁺ 2023-10-02
Komentar Hacker News
  • Artikel ini membahas masalah debu ban dan menunjukkan bahwa hal itu merupakan penyebab utama mikroplastik di laut.
  • Seorang komentator membagikan pengalaman pribadinya saat tinggal di dekat jalan tol, menyoroti penumpukan debu hitam dan masalah bahwa debu itu langsung mengalir ke laut.
  • Komentator lain, yang meraih gelar doktor terkait masalah ini, menunjukkan bahwa meskipun industri ban bernilai miliaran dolar, pendanaan untuk solusinya masih kurang.
  • Solusi yang diusulkan oleh komentator tersebut adalah penggunaan karet alam yang sedikit lebih mahal tetapi ramah lingkungan.
  • Peralihan ke kendaraan listrik (EV) juga dibahas, dan seorang komentator mengusulkan pajak berat kendaraan total untuk semua kendaraan guna mendorong kendaraan yang lebih ringan dan mengurangi keausan ban.
  • Fokus pada EV dikritik oleh komentator lain, yang berpendapat bahwa berat kendaraan sudah meningkat sejak sebelum era EV dan bahwa perhatian seharusnya diarahkan pada infrastruktur berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum.
  • Masalah debu ban digambarkan sebagai peringatan terhadap fokus semata pada emisi gas rumah kaca demi keberlanjutan, serta menyerukan pendekatan yang lebih luas untuk menangani berbagai bentuk polusi.
  • Seorang komentator menunjukkan bahwa debu rem, yang tidak disebutkan dalam artikel, juga dapat dikurangi oleh EV.
  • Fakta bahwa warga Amerika menempuh jarak tempuh yang sangat besar pada 2022 disorot, disertai seruan untuk mengurangi ketergantungan pada mobil melalui regulasi dan desain ulang kota di semua tingkat pemerintahan.
  • Seorang komentator meragukan klaim artikel bahwa emisi partikel halus dari ban dan rem melebihi emisi knalpot, dengan berargumen bahwa jika mempertimbangkan massa bensin, hal itu tampak mustahil.
  • Seorang komentator mengusulkan transportasi umum massal sebagai solusi alih-alih EV.
  • Komentator lain mempertanyakan penggolongan karet sintetis sebagai salah satu jenis plastik, dan menekankan penggunaan bahasa yang tepat agar kontroversi ini tidak dilemahkan.