2 poin oleh GN⁺ 2024-03-01 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp

Mengapa anak-anak membutuhkan risiko, ketakutan, dan kegembiraan dalam bermain

  • Anak-anak mengembangkan keterampilan fisik dan kognitif melalui permainan berisiko, mengatasi rasa takut, dan belajar menangani situasi sulit secara mandiri.
  • Permainan berisiko mendorong anak mencoba hal-hal yang sebelumnya belum pernah mereka tantang, serta merasakan sensasi dan ketakutan secara bersamaan dalam situasi dengan hasil yang tidak pasti.
  • Canadian Paediatric Society menyadari pentingnya permainan berisiko dan merilis pernyataan yang mendukung hal ini dalam kehidupan anak.

Mengapa permainan berisiko menghilang dari kehidupan anak-anak

  • Sejak tahun 1980-an, pola pengasuhan intensif mendorong orang tua untuk mengelola kehidupan anak secara sangat rinci, menyingkirkan semua hambatan, dan mendaftarkan mereka ke berbagai aktivitas terstruktur.
  • Pola pengasuhan ini diterima luas di Amerika Utara, dan menurut penelitian, pendaftaran pada aktivitas terstruktur tidak berkaitan dengan hasil perkembangan, sementara hilangnya waktu luang dapat merugikan perkembangan keterampilan fungsi eksekutif dasar.
  • Orang tua terus-menerus menerima pesan bahwa menjaga anak tetap aman setiap saat adalah jalan untuk menjadi "orang tua yang baik".

Tiga unsur untuk merebut kembali permainan berisiko dan kebebasan anak

  • Waktu: Prioritaskan waktu bermain di luar ruangan setiap hari, dan sekolah juga perlu menganggap penting kelas luar ruang serta waktu istirahat.
  • Ruang: Anak-anak membutuhkan ruang bermain yang fleksibel agar bisa menggunakan imajinasi dan mengeksplorasi risiko.
  • Kebebasan: Anak-anak membutuhkan kebebasan untuk bermain sesuka mereka, dan untuk itu orang tua perlu mengelola rasa takut mereka sendiri.

Opini GN⁺

  • Riset tentang pentingnya permainan berisiko menawarkan sudut pandang baru mengenai perkembangan fisik, emosional, dan kognitif anak. Ini menunjukkan bahwa proteksi berlebihan dan obsesi terhadap keamanan di masyarakat modern dapat menghambat proses pertumbuhan alami anak.
  • Menurunnya permainan berisiko juga mencerminkan bahwa anak-anak di era digital menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar. Hal ini dapat menimbulkan masalah yang berkaitan dengan berkurangnya aktivitas fisik anak.
  • Artikel ini mengingatkan orang tua dan pendidik akan pentingnya memberi anak lebih banyak kebebasan dan kemandirian, yang membantu mereka mengembangkan kemampuan memecahkan masalah sendiri dan mengelola risiko.
  • Jika dilihat secara kritis, mendorong permainan berisiko dapat menyulitkan orang tua untuk mengatasi rasa takut dan tekanan sosial, sehingga menjadi tantangan untuk menyeimbangkannya dengan pemberian tingkat risiko yang tepat bagi anak.
  • Sebagai konsep serupa, taman kanak-kanak hutan atau program pembelajaran alam di negara-negara Skandinavia mendorong anak belajar sambil bermain di lingkungan alami. Program-program ini memberi anak kesempatan untuk mengalami risiko dan berinteraksi dengan alam, sehingga menyediakan lingkungan yang dapat menumbuhkan kemandirian dan kemampuan regulasi diri.

1 komentar

 
GN⁺ 2024-03-01
Opini Hacker News
  • Kenangan tentang perubahan taman bermain

    • Dulu ada alat panjat besi setinggi dua lantai, dengan serpihan karet dipasang untuk keamanan.
    • Beberapa tahun kemudian, tingginya dikurangi menjadi satu lantai, dan pada akhirnya seluruhnya dihapus.
    • Ada kenangan tentang kesenangan dalam situasi berbahaya dan cedera yang jarang terjadi.
    • Tidak tahu apa yang sekarang ada di tempat itu, tetapi kemungkinan ada pesan yang menghakimi para orang tua.
  • Pendapat tentang penghindaran risiko dalam pengasuhan anak

    • Semakin sedikit jumlah anak dalam keluarga, semakin kuat kecenderungan menghindari risiko.
    • Jika ada beberapa anak, orang tua cenderung membiarkan anak pertama mengambil lebih banyak risiko.
    • Disebutkan teori bahwa usia rata-rata masyarakat berbanding lurus dengan kecenderungan berperang, dan dengan cara serupa, tingkat kelahiran kemungkinan berkaitan dengan tingkat penerimaan risiko pada anak.
  • Pengamatan tentang perubahan dalam aktivitas berkuda

    • Kini berkuda terutama menjadi aktivitas yang dinikmati orang dewasa atau lansia.
    • Dulu anak-anak berkuda berkelompok tanpa pengawasan, tetapi sekarang hal itu jarang terjadi.
    • Anak-anak yang belajar berkuda selalu diawasi orang dewasa, dan sering kali orang tua ikut mengamati.
    • Anak-anak yang terbiasa menangani kuda umumnya lebih jarang mengalami masalah perundungan.
  • Kekhawatiran orang tua tentang keselamatan dan risiko anak

    • Penilaian risiko yang terus-menerus oleh orang tua demi keselamatan anak memang diperlukan, tetapi melelahkan.
    • Sebagian besar ruang publik adalah ruang yang dirancang untuk orang dewasa, sehingga anak-anak terpapar pada tingkat risiko orang dewasa.
  • Statistik keselamatan anak dan ketakutan orang tua

    • Meskipun saat ini adalah masa paling aman bagi anak-anak, orang tua tetap cenderung melebih-lebihkan risiko.
    • Sikap menghindari risiko dari orang tua memang berkontribusi pada peningkatan keselamatan anak, tetapi karena itu argumen bahwa kita harus kembali ke pola pengasuhan masa lalu menjadi kurang kuat.
  • Budaya gugatan dan aturan keselamatan dalam masyarakat

    • Seiring masyarakat semakin sensitif terhadap gugatan hukum, aturan keselamatan pun diperketat.
  • Pengawasan diam-diam untuk meningkatkan kemandirian anak

    • Dulu anak-anak dibiarkan pergi sendiri ke toko, sambil diam-diam diikuti untuk memastikan mereka tetap aman.
    • Saat ini, di beberapa wilayah, tindakan seperti itu bisa jadi ilegal.
  • Langkah keselamatan berlebihan dan masalah kesehatan mental

    • Langkah keselamatan yang berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan mental anak.
  • Kendaraan swakemudi dan keselamatan anak

    • Kendaraan yang sepenuhnya otonom (SAE Level 5) akan memungkinkan mobilitas aman bagi anak-anak, sehingga pola pengasuhan bisa kembali seperti dulu.
  • Pembelajaran mandiri anak dan risiko

    • Ada pengamatan tentang sikap keluarga yang membiarkan anak belajar sendiri.
    • Bahkan dalam situasi berbahaya, anak dibiarkan belajar lewat pengalaman, meski terkadang itu bisa terlalu berbahaya.
    • Terkesan oleh cara anak mengenali risiko dan belajar darinya, dan ingin mencerminkan hal itu dalam pola pengasuhan sendiri.