Mengapa anak muda di Asia menarik diri dari dunia
- "Bersembunyi di tempat tidur, dan sama sekali tidak keluar..."
- "... bahkan tidak melangkah setengah langkah pun dari tempat tidur."
- "Sejujurnya, rasanya seperti sudah menyerah."
Kehidupan yang menyusut: mengapa sebagian anak muda Asia menarik diri dari dunia
- Penulis artikel: Jessie Yeung, Sophie Jeong, Carlotta Dotto, Woojin Lee, Kenneth Uzquiano, Saki Toi
- Tanggal terbit: 25 Mei 2024
Kasus di Hong Kong
-
Kisah Charlie
- Charlie mulai hidup hanya di tempat tidur sejak usia 15 tahun.
- Kini berusia 19 tahun, Charlie masih belajar bagaimana menjelajahi dunia di luar sana.
- Charlie berkata, "Aku sangat depresi dan bingung, dan tidak tahu apa yang kuinginkan."
- Charlie adalah salah satu hikikomori, yaitu orang yang mengisolasi diri dari masyarakat.
- Fenomena ini pertama kali muncul di Asia, dan didokumentasikan dengan sangat baik terutama di Jepang.
- Belakangan, kasus serupa juga muncul di wilayah lain seperti Amerika Serikat, Spanyol, dan Prancis.
-
Penyebab hikikomori
- Para peneliti Universitas Yale mengusulkan bahwa meluasnya internet dan berkurangnya interaksi tatap muka dapat mendorong penyebaran global hikikomori.
- Peneliti lain berpendapat bahwa pandemi Covid-19 mungkin telah menciptakan lebih banyak orang yang hidup menyendiri.
-
Upaya pemerintah dan organisasi
- Di seluruh Asia, pemerintah dan organisasi berupaya membantu hikikomori masuk kembali ke masyarakat.
- Hal ini menjadi semakin mendesak untuk mengatasi populasi yang menua, tenaga kerja yang menyusut, angka kelahiran yang menurun, dan persoalan anak muda yang tidak puas.
-
Hikikomori di Hong Kong
- Diperkirakan ada lebih dari 1,5 juta hikikomori di Hong Kong, Jepang, dan Korea.
- Charlie mulai mengisolasi diri setelah berselisih dengan guru dan mendengar kritik dari teman-teman sekelas di sekolah.
- Charlie berkata, "Aku sensitif terhadap kata-kata orang, dan sangat peduli dengan bagaimana orang lain memandangku."
- Pada awalnya Charlie mencoba pergi ke sekolah sekali atau dua kali seminggu, tetapi pada 2019 ia sepenuhnya mengurung diri di kamar.
- Charlie tidak membalas pesan teman-temannya, dan berpikir tidak ada seorang pun yang akan memahaminya.
- Orang tua Charlie kadang mendorongnya untuk keluar atau pergi ke sekolah, tetapi sebagian besar mereka membiarkannya sendiri.
- Charlie makan di tempat tidur, dan hanya bangun untuk menggunakan kamar mandi.
- Charlie tidur di siang hari, dan pada malam hari menghabiskan waktu dengan menggulir ponsel setelah keluarganya tertidur.
Kasus di Jepang
- Kisah Toyoaki Yamakawa
- Ketika orang tuanya jatuh sakit, Toyoaki pindah dari Tokyo ke Fukuoka dan mulai merawat mereka.
- Ia merasakan beban besar karena harus merawat orang tua sekaligus mengelola masalah keuangan.
- Sejak usia 35 tahun, ia mengurung diri di rumah selama lima tahun.
- Istrinya memberinya peran dengan mempercayakan pekerjaan rumah kepadanya.
- Melalui game, ia memulihkan harga dirinya dan menemukan hobi baru.
- Ia mulai beraktivitas di luar lewat memasak dan berkebun.
- Di Jepang, hikikomori sering kali mengisolasi diri setelah kehilangan pekerjaan atau mengalami kesulitan untuk menafkahi keluarga.
- Hikikomori di Jepang mencakup rentang usia yang luas, dan dalam beberapa kasus ada orang tua berusia 80-an yang masih menanggung anak mereka yang berusia 50-an.
Kasus di Korea
- Kisah Sung Oh-hyun
- Sung Oh-hyun pertama kali mengurung diri di rumah selama sebulan ketika masih SMP.
- Pada usia 27 tahun, ia kembali mengisolasi diri akibat kegagalan di tempat kerja.
- Ia memutus komunikasi dengan keluarganya dan sebagian besar menghabiskan waktu sendirian.
- Ia mengikuti program share house dari perusahaan Jepang bernama K2 International.
- Share house mendorong interaksi sosial dan menyediakan rutinitas melalui kehidupan bersama.
- Hikikomori di Korea mencakup 2,4% dari mereka yang berusia 19 hingga 34 tahun, atau sekitar 244.000 orang.
- Pemerintah meloloskan undang-undang yang memberikan dukungan finansial bagi anak muda yang terisolasi.
Pendapat GN⁺
-
Penyebab isolasi sosial
- Isolasi sosial adalah sindrom unik yang berbeda dari sekadar depresi atau kecemasan, dan memerlukan penanganan khusus.
- Internet dan berkurangnya interaksi tatap muka dapat mendorong isolasi.
-
Peran keluarga
- Dukungan emosional dari keluarga memainkan peran penting dalam membantu hikikomori masuk kembali ke masyarakat.
- Jika keluarga menyalahkan atau menekan mereka, isolasi bisa semakin parah.
-
Faktor ekonomi
- Kesulitan ekonomi dan kehilangan pekerjaan adalah salah satu penyebab utama isolasi.
- Dalam kasus Jepang, kenaikan biaya hidup dan stagnasi upah memperburuk masalah.
-
Faktor budaya
- Dalam budaya Jepang, tekanan untuk menyelesaikan masalah sendiri dan kecenderungan mementingkan kehormatan keluarga dapat mendorong isolasi.
-
Dukungan sosial
- Program kehidupan bersama seperti share house efektif dalam memberikan interaksi sosial dan rutinitas bagi anak muda yang terisolasi.
- Dukungan dari pemerintah dan organisasi diperlukan.
1 komentar
Komentar Hacker News
Ringkasan kumpulan komentar Hacker News
Spektrum isolasi sosial
Sulitnya kembali masuk ke kehidupan sosial
Kesulitan hidup nyata dan pengaruh media sosial
Sejarah fenomena hikikomori
Keterputusan antara peradaban dan alam
Kerja jarak jauh dan isolasi sosial
Pengalaman hidup dan isolasi diri
Dampak game dan realitas virtual
Rasa malu dan hikikomori