1 poin oleh GN⁺ 2024-09-01 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp

Peneliti Inggris Menemukan Perubahan Otak Mirip Alzheimer pada Pasien Long COVID

  • LEXINGTON, Ky (30 Agustus 2024) — Sanders-Brown Center on Aging di University of Kentucky menemukan bukti kuat bahwa gangguan kognitif yang diamati pada pasien long COVID mirip dengan yang terlihat pada penyakit Alzheimer dan demensia terkait.
  • Studi ini diterbitkan di Alzheimer’s & Dementia: The Journal of the Alzheimer’s Association dan menyoroti kesamaan gangguan otak di antara kondisi-kondisi tersebut, yang dapat membuka jalan bagi riset dan terapi baru.

Latar belakang penelitian dan kolaborasi

  • Penelitian ini dijalankan secara global melalui berbagai hibah dari National Institutes of Health Amerika Serikat, Alzheimer’s Association, dan sejumlah organisasi internasional.
  • Para ahli dari berbagai bidang ilmu saraf turut berpartisipasi.
  • Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Yang Jiang, Dr. Chris Norris, dan Dr. Bob Sompol dari UK College of Medicine, dengan fokus pada elektrofisiologi, neuroinflamasi, astrosit, dan fungsi sinaps.

Isi dan temuan penelitian

  • Tim peneliti berfokus pada pemahaman fenomena "kabut otak" yang bertahan selama berbulan-bulan setelah pulih dari COVID-19. Fenomena ini mencakup masalah memori, kebingungan, dan penurunan konsentrasi.
  • Menurut Dr. Jiang, perlambatan dan kelainan pada aktivitas otak intrinsik yang diamati pada pasien COVID-19 mirip dengan yang terlihat pada penyakit Alzheimer dan demensia terkait.
  • Studi ini mengungkap keterkaitan antara kedua kondisi tersebut dan menunjukkan bahwa keduanya mungkin berbagi mekanisme biologis dasar.
  • Baik long COVID maupun penyakit Alzheimer sama-sama melibatkan neuroinflamasi, aktivasi astrosit, dan aktivitas otak yang abnormal.

Pentingnya penelitian dan arah ke depan

  • Gagasan bahwa COVID-19 dapat menyebabkan perubahan otak mirip Alzheimer merupakan perkembangan penting.
  • Studi yang diterbitkan di Alzheimer’s & Dementia menunjukkan bahwa masalah kognitif akibat COVID-19 mencerminkan perubahan otak dasar serupa yang diamati pada demensia.
  • Penelitian ini menekankan pentingnya pemeriksaan rutin fungsi otak melalui elektroensefalografi (EEG), alat yang murah dan mudah diakses.
  • Peran astrosit menjadi salah satu temuan penting, karena sel-sel ini yang rusak atau teraktivasi oleh COVID-19 dapat menyebabkan disfungsi sinaps.
  • Para peneliti meyakini studi ini dapat berdampak langsung pada perawatan pasien, dan merekomendasikan pemeriksaan EEG rutin bagi penyintas COVID-19 serta orang-orang yang berisiko mengalami penurunan kognitif.

Dukungan penelitian dan pengenalan institusi

  • Penelitian yang dilaporkan dalam publikasi ini didukung oleh National Institute on Aging dari National Institutes of Health Amerika Serikat.
  • UK HealthCare adalah rumah sakit dan klinik milik University of Kentucky, yang terdiri dari lebih dari 10.000 tenaga kesehatan yang menyediakan layanan spesialis tingkat lanjut.
  • Institusi ini mencakup satu-satunya pusat kanker komprehensif yang ditunjuk National Cancer Institute di negara bagian tersebut, unit perawatan intensif neonatal Level IV, satu-satunya pusat trauma Level 1 di kawasan itu, serta rumah sakit terbaik di Kentucky menurut U.S. News & World Report.

Ringkasan GN⁺

  • Studi ini merupakan temuan penting karena menemukan perubahan otak mirip Alzheimer pada pasien long COVID, sekaligus mengungkap mekanisme biologis dasar yang menghubungkan kedua kondisi tersebut.
  • Temuan ini menunjukkan kemungkinan identifikasi dini dan intervensi bagi penyintas COVID-19 serta orang-orang yang berisiko mengalami penurunan kognitif melalui pemeriksaan EEG yang murah dan mudah diakses.
  • Dengan menyoroti peran astrosit, studi ini membantu memahami hubungan antara neuroinflamasi dan disfungsi sinaps.
  • Kemiripan antara long COVID dan penyakit Alzheimer dalam studi ini dapat membuka jalan bagi riset dan terapi baru.
  • Proyek lain dengan fungsi serupa mencakup penelitian neuroinflamasi dan penelitian penyakit neurodegeneratif.

1 komentar

 
GN⁺ 2024-09-01
Komentar Hacker News
  • Mengatakan bahwa dirinya mengalami demensia, sambil berusaha tampak normal di hadapan orang lain

    • Juga mengalami penurunan fungsi kardiovaskular, dan banyak harapan serta impian telah hilang
    • Dirinya beruntung karena punya tabungan dan keluarga, tetapi merasa sedih untuk mereka yang tidak memilikinya
  • Bertemu dua teman di Irlandia, dan keduanya adalah pendaki yang sehat, tetapi sekarang tidak bisa beraktivitas karena long COVID

    • Berjalan pelan selama 15 menit dengan salah satu teman, dan detak jantungnya melewati 100bpm hingga alarm berbunyi
    • Menyadari betapa seriusnya long COVID
  • Mengira dirinya mengalami depresi, tetapi kemudian sadar bahwa suasana hatinya buruk karena gejala long COVID

    • Mengalami brain fog dan penurunan daya ingat, serta gejala pada jantung
    • Dokter tidak mengikuti riset terbaru dan tidak mengakui gejala long COVID
  • Baru-baru ini terkena COVID dan mulai mengalami masalah ingatan

    • Perlu 5-10 detik untuk mengingat nama
    • Tidak ingat apakah hal seperti ini juga terjadi sebelum terkena COVID
  • Berpendapat bahwa riset ME/CFS masih kurang

    • Jika ada obat yang efektif untuk penyakit ini, keuntungannya akan sangat besar
    • Banyak orang mengalami disabilitas total, terutama di negara maju dengan asuransi kesehatan yang baik
  • Mengalami gejala aneh setelah COVID

    • Kemampuan mengenali wajah menjadi terdistorsi sehingga semua orang tampak familier
    • Menjadi cemas karena tidak bisa mengingat nama
  • Pernah terkena COVID sekali, saat pandemi dianggap hampir berakhir

    • Brain fog adalah gejala yang paling parah, dan baru hilang setelah beberapa minggu
  • Sudah 9 bulan mengalami long COVID, dan baru sekarang bisa mulai olahraga aerobik ringan

    • Selama 5 bulan pertama, otak terasa kacau dan bahkan tidak bisa memainkan game kuis sederhana
    • Perlahan pulih, dan ini sejalan dengan laporan HRV dari Garmin
    • Sebelumnya adalah orang yang sangat sehat, dan sekarang baru sedikit demi sedikit mendapatkan kembali kehidupan lamanya
    • Menyadari betapa seriusnya dampak pascavirus, dan sekarang berusaha menghindari siapa pun yang sedang sakit
    • Berharap riset di bidang ini bisa berkembang lebih aktif
  • Penelitian tahun 2021 menemukan bahwa gejala neurologis pada pasien COVID-19 sangat berkaitan dengan kerusakan otak, neuroinflamasi, dan penanda biologis Alzheimer

    • Penting untuk menyadari bahwa penyakit ini dapat berdampak besar pada masyarakat dan memberi tahu orang-orang tentang hal itu