3 poin oleh GN⁺ 2025-01-14 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Perlu memperhatikan konsep Prig
    • Ini merujuk pada tipe orang yang dipenuhi rasa benar sendiri, memamerkan superioritas moral, dan menyerang pelanggar aturan
  • Wokeness adalah bentuk lain dari fenomena lama
    • Secara historis, arus obsesi terhadap aturan dan moralitas ini berbeda-beda di tiap zaman, dan dalam masyarakat modern muncul di ranah Social Justice
  • Pertanyaan kuncinya adalah, “mengapa ide-ide ini menonjol justru pada saat ini?”

Munculnya Political Correctness (PC)

  • Wokeness dapat dilihat sebagai gelombang kedua dari Political Correctness yang dimulai pada akhir 1980-an
    • PC muncul pada akhir 1980-an, sempat mereda pada akhir 1990-an, lalu muncul kembali dengan lebih kuat sejak awal 2010-an
  • Baik PC maupun Wokeness dapat didefinisikan sebagai “fokus yang agresif dan demonstratif pada Social Justice”
    • Ini tidak menyangkal adanya masalah nyata (misalnya rasisme), tetapi yang menjadi masalah adalah aturan bahasa yang dangkal dan respons yang berpusat pada hukuman

Perkembangan di universitas

  • Political Correctness paling kuat menyebar di universitas
    • Generasi gerakan mahasiswa tahun 1960-an menjadi profesor pada 1970-an dan secara bertahap memperluas pengaruhnya
    • Di bidang humaniora dan ilmu sosial, riset dan pengajaran lebih mudah dikaitkan dengan ideologi politik
  • Pada akhir 1980-an, PC berubah dari yang berpusat pada mahasiswa menjadi memanfaatkan sistem profesor dan administrasi
    • Muncul bentuk pelaporan resmi yang menyebut ucapan profesor atau mahasiswa tertentu sebagai ‘seksis’ atau ‘rasis’
    • Belakangan ini dikenang memiliki sisi yang mengingatkan pada Revolusi Kebudayaan

Ciri gelombang pertama

  • Pada masa puncak PC di 1990-an, tercipta tata krama moral yang rumit
    • Misalnya, bahkan untuk kata-kata yang mirip, ada ungkapan yang dianggap benar dan ada yang langsung menjadi sasaran hukuman
  • Seiring menguatnya sikap dogmatis, tercipta lingkungan yang lebih mudah melanggar aturan daripada benar-benar membantu
    • Siapa pun yang tertinggal dari ‘kebenaran’ terbaru bisa menjadi sasaran serangan serius
  • Pada akhir 1990-an, PC sempat merosot lewat satire seperti komedi
    • Namun di dalam universitas, pengaruhnya tetap bertahan dan apinya masih menyala

Gelombang kedua: setelah 2010-an

  • Pada awal 2010-an, PC bangkit kembali dalam bentuk yang lebih kuat dan mulai disebut Wokeness
    • Agresivitasnya makin besar dan menyebar ke luar universitas
    • Banyak -isms dan -phobias yang baru ditemukan ditambahkan ke dalam daftar
  • Media sosial sangat mempercepat penyebaran ini
    • Bentuk Cancel Mob muncul di Tumblr, Twitter, dan lainnya
    • Melalui aplikasi obrolan grup dan sejenisnya, tekanan di dalam organisasi juga menjadi lebih mudah, termasuk sampai memecat orang
  • Polarisasi media juga berperan
    • Di era online, pasar iklan berubah sehingga media seperti New York Times juga menjadi terfokus pada ideologi tertentu
    • Digabung dengan media sosial, terbentuk struktur di mana isu kontroversial cepat dijadikan berita lalu kemarahan publik kembali menyebar
  • Bertambahnya tenaga profesional dengan jabatan Inclusion di dalam organisasi
    • Para manajer atau penanggung jawab ini membuktikan alasan keberadaan mereka dengan mencari aturan dan menjatuhkan hukuman
    • Ada juga universitas yang menjadikan pernyataan DEI (diversity, equity, inclusion) sebagai syarat wajib perekrutan

Akselerasi dan puncak sekitar 2020

  • Sekitar 2020, Wokeness mencapai puncaknya akibat kasus penindakan polisi yang berlebihan dan demonstrasi yang disertai kekerasan
  • Kemarahan sosial dan pemberitaan media saling berinteraksi sehingga laju penyebarannya makin cepat
  • Namun pada akhirnya, sekitar titik inilah pengaruh Wokeness mencapai puncak lalu mulai menunjukkan tren penurunan secara bertahap

Perubahan terbaru dan kemunduran

  • Setelah 2020, muncul gerakan dari sebagian CEO perusahaan (misalnya Brian Armstrong) yang secara terbuka menjaga jarak dari Wokeness
  • Institusi representatif seperti University of Chicago dan MIT menekankan kebebasan akademik dan kebebasan berekspresi
  • Setelah Twitter diakuisisi oleh Elon Musk, platform itu menunjukkan kebijakan yang, tidak seperti sebelumnya, tidak menyensor kecenderungan politik tertentu
  • Ketika sebuah merek menampilkan sikap yang terlalu Woke, konsumen bereaksi negatif
  • Fenomena sosial ini dan respons publik yang saling berkaitan membuat Wokeness mundur secara bertahap

Tugas ke depan

  • Wokeness tidak akan sepenuhnya hilang, dan moralisme agresif bisa kambuh kapan saja dalam bentuk baru
  • Seperti halnya agama atau keyakinan tertentu, organisasi dan individu perlu memikirkan bagaimana merespons saat dituntut untuk menerima sikap sensorial seperti ‘kata tabu baru’
  • Perlu mengambil sikap yang setara dengan toleransi beragama agar ideologi tertentu tidak menjadi “aturan mutlak yang harus diikuti semua orang”
  • Ketika individu atau organisasi mengajukan tabu baru seperti “kata ini tidak boleh lagi digunakan”, perlu dinilai apakah ada dasar yang cukup untuk membenarkannya
    • Beban pembuktian ada pada pihak yang mengajukan tabu
  • Pada akhirnya, perlu waspada bila muncul situasi di mana ruang bagi “kebenaran yang bisa diungkapkan” makin menyempit

1 komentar

 
GN⁺ 2025-01-14
Komentar Hacker News
  • Kata "woke" ditafsirkan berbeda oleh tiap orang

    • Kiri politik Amerika memandang "woke" sebagai melihat nilai-nilai diri sendiri melampaui keadaan yang sudah ada
    • Kanan politik Amerika memandang "woke" sebagai orang yang berpura-pura lebih unggul secara moral
    • Perpecahan ini bermula ketika perilaku yang tidak disukai salah diberi cap sebagai 'woke'
  • Penjelasan perbedaan antara "people of color" dan "colored people"

    • "colored people" secara historis memiliki makna diskriminasi dan pemisahan
    • Ada kecenderungan untuk lebih memilih "person-first language"
  • Gerakan mahasiswa tahun 1960-an dan political correctness

    • Gerakan mahasiswa tidak berujung pada political correctness karena tidak memiliki kekuasaan yang nyata
    • Pada masa itu di Amerika, pembebasan perempuan dianggap sebagai lelucon, dan ada gerakan yang ingin mempertahankan segregasi rasial
  • Kurangnya dialog dengan mayoritas moral

    • Saat menulis tentang topik tertentu, tidak menyebut mayoritas moral merupakan masalah
    • Sebagai mahasiswa pada 1990-an, ada pengalaman dengan keberadaan kelompok yang memaksakan standar moral
  • Kemiripan antara pemaksaan moral Kristen dan "wokeness"

    • Gerakan Kristen di masa lalu cenderung ingin mengatur bahasa dan perilaku
    • Ada dinamika sosial yang mirip dengan "cancel culture" di media sosial
  • Pengaruh Twitter dan Elon Musk

    • Elon Musk mengakuisisi Twitter untuk mencoba menetralkan "wokeness"
    • Memberikan lebih banyak visibilitas pada ucapan kelompok tertentu sama saja dengan menyensor ucapan kelompok lain
  • Kritik terhadap penindasan sosial

    • Perlu melihat masalah dari sudut pandang orang-orang yang menentang penindasan sosial
    • Mendengarkan secara kultural itu penting
  • Relativitas "Prig"

    • Dulu kaum Quaker dianggap "prig" karena menentang perbudakan, tetapi sekarang dinilai bahwa mereka benar
    • Martin Luther King juga dianggap "prig" oleh orang kulit putih Selatan, tetapi argumennya benar
  • Asal-usul political correctness

    • Ada klaim bahwa political correctness bermula dari fakultas humaniora dan ilmu sosial di universitas
    • Klaim ini bukan kesimpulan logis, melainkan sekadar klaim
  • Kritik terhadap "Woke"

    • Ada kecenderungan istilah "woke" digunakan secara berlebihan
    • Gerakan #metoo adalah ekspresi kemarahan yang sah terhadap kekerasan seksual, dan tidak tepat menyebutnya sebagai "woke"
    • Menyebut pengakuan Bud Light terhadap perempuan trans sebagai "woke" juga berlebihan