1 poin oleh GN⁺ 2025-01-16 | 2 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Perubahan pendidikan di Swedia

    • Swedia belakangan ini kembali ke metode pembelajaran tradisional di sekolah. Ini merupakan respons terhadap kritik bahwa pendekatan pendidikan yang terdigitalisasi telah menyebabkan penurunan kemampuan belajar dasar.
    • Menteri Pendidikan Swedia, Lotta Edholm, menekankan bahwa siswa membutuhkan lebih banyak buku pelajaran, dan mengumumkan rencana untuk menghentikan penggunaan perangkat digital di taman kanak-kanak.
  • Penilaian kemampuan membaca internasional

    • Nilai kemampuan membaca siswa kelas 4 di Swedia menurun dari 2016 hingga 2021. Namun, hasilnya masih berada di atas rata-rata Eropa.
    • Singapura meningkatkan skor membaca pada periode yang sama, sementara Inggris hanya menunjukkan sedikit penurunan.
  • Dampak alat pembelajaran digital

    • Institut Karolinska di Swedia menyatakan ada bukti ilmiah bahwa alat digital mengganggu pembelajaran siswa.
    • UNESCO mendorong penggunaan teknologi yang tepat dalam pendidikan dan memperingatkan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan pengajaran tatap muka yang dipimpin guru.
  • Pendapat siswa dan guru

    • Seorang siswa sekolah dasar di Stockholm mengatakan ia lebih menyukai menulis di atas kertas.
    • Guru hanya menggunakan tablet dalam pelajaran matematika, dan menekankan bahwa siswa harus cukup berlatih menulis tangan.
  • Pendidikan digital di Eropa dan Amerika Serikat

    • Polandia memulai program yang menyediakan laptop bersubsidi pemerintah bagi siswa kelas 4.
    • Amerika Serikat menyediakan laptop kepada siswa selama pandemi COVID-19, tetapi karena kesenjangan digital, tetap menggunakan materi cetak dan buku pelajaran digital secara bersamaan.
  • Digitalisasi di Jerman

    • Digitalisasi pendidikan di Jerman berjalan lambat, dan kurikulumnya berbeda di setiap negara bagian.
    • Sebagian orang tua khawatir anak-anak mereka tidak akan mampu bersaing dengan siswa asing yang lebih terlatih secara teknologi.
  • Investasi pendidikan Swedia

    • Pemerintah Swedia berencana menginvestasikan 685 juta krona tahun ini untuk membeli buku bagi sekolah.
    • Pada 2024 dan 2025, pemerintah juga berencana menambah investasi sebesar 500 juta krona setiap tahun.
  • Pandangan terhadap kritik teknologi

    • Beberapa pakar menunjukkan bahwa kritik terhadap teknologi populer di kalangan politikus konservatif.
    • Klaim pemerintah Swedia dinilai masuk akal karena tidak ada bukti yang jelas bahwa teknologi meningkatkan pembelajaran.

2 komentar

 
ndrgrd 2025-01-17

Pengalaman membaca itu sendiri memang sangat cocok dengan buku kertas, tetapi ada kekurangannya: perlu tempat penyimpanan dan harus dibawa-bawa...
Di sekolah tidak sampai membutuhkan puluhan buku, jadi menurut saya buku kertas lebih baik.

Namun pengalaman menulis tidak sebaik itu. Menulis dengan rapi dan terstruktur juga tidak mudah.
Saat saya mempelajari hal baru atau mencari ide, saya biasanya mencoret-coret dengan pena di atas kertas, lalu meninjaunya kembali dan merapikannya secara digital.

 
GN⁺ 2025-01-16
Opini Hacker News
  • Beberapa tahun lalu beralih sepenuhnya ke digital dan mengganti sebagian besar buku cetak dengan ebook. Seluruh perpustakaan disimpan di Calibre dan Kindle. Sorotan bisa diunduh lalu disusun menjadi catatan di Obsidian. Belakangan mulai membeli buku fisik lagi karena merindukan pengalaman memegang buku secara langsung. Ada emosi dan kenangan yang tidak bisa dirasakan dari buku digital. Digital hanyalah pelengkap bagi buku fisik.

  • Rasanya memberi anak-anak laptop atau Chromebook bukanlah hal yang efektif. Anak-anak sulit fokus dan mudah terdistraksi oleh email, obrolan grup, dan sebagainya. Namun, tidak perlu membawa tas buku yang berat adalah sisi positifnya. E-reader sederhana mungkin bisa menjadi titik tengah.

  • Putri saya yang duduk di kelas 1 SD menggunakan Dell 2-in-1 di sekolah. Saat TK dia memakai iPad. Menurut saya itu tidak banyak membantu secara pendidikan. Akan lebih baik mengikuti model seperti tahun 80-an hingga 90-an, yaitu memakai perangkat yang tidak terhubung ke internet di lab komputer sekali atau dua kali seminggu.

  • Ada pertanyaan soal artikelnya. Artikel itu mengklaim diterbitkan pada 2025, tetapi menyebut 2022-2025 dengan bentuk waktu masa depan. Disebutkan bahwa Swedia akan menginvestasikan 104 juta euro untuk menghadirkan kembali buku ke ruang kelas dari 2022 hingga 2025.

  • Saya percaya membuat sesuatu yang fisik di dunia digital adalah life hack utama. Menggunakan keyboard mekanis, mempelajari shortcut keyboard, memakai tombol fisik, dan sebagainya adalah cara untuk menambah pengalaman fisik dalam keseharian. Memang butuh biaya dan ruang lebih banyak, tetapi apa pun yang bisa di-offload ke bagian otak yang 'spasial' sangat saya sambut.

  • Anak saya yang kelas 2 di Swedia tidak menyukai komputer sekolah. Yang terpasang di sana membosankan dan terlalu mudah. Pustakawan sekolah juga sudah tidak ada lagi. Sepertinya dihapus saat beralih ke digital untuk penghematan biaya.

  • Saya mengembangkan SmartPaperApp untuk mendukung integrasi kertas-digital. Aplikasi ini dipakai untuk menilai 5 juta siswa setiap tahun di negara bagian Rajasthan, India. Secara pribadi saya tidak puas dengan penggunaan LMS digital di sekolah anak saya. Hal-hal yang secara alami dimudahkan oleh buku justru menjadi sulit di digital.

  • Saya menemukan perpustakaan. Selain buku, tempat itu juga menyediakan berbagai layanan. Banyak buku yang setelah dibaca tidak perlu disimpan, dan kunjungan ke perpustakaan terasa seperti perjalanan penemuan. Buku komik juga bisa dibaca gratis.

  • Saya pikir buku adalah medium terbaik untuk belajar, tetapi khawatir beberapa negara kehilangan sesuatu yang penting saat beralih ke digital. Ada juga hal-hal yang lebih mudah dipelajari lewat komputer/layar. Misalnya, menggunakan simulasi untuk belajar fisika bisa lebih baik daripada buku. Saya menaruh harapan pada pengajaran matematika dengan aplikasi seperti DragonBox.

  • Memberi pujian kepada Swedia karena merespons penelitian.