1 poin oleh GN⁺ 2025-04-27 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Buku Crap Towns membahas tempat-tempat terburuk di Inggris dan diterbitkan pada tahun 2003
  • Buku ini meraih popularitas besar karena mengulas masalah sosial Inggris saat itu dengan humor
  • Namun, kini telah terbentuk suasana sosial yang membuat buku semacam ini sulit diterbitkan
  • Perubahan persepsi sosial terhadap humor dan politik identitas menyebabkan perubahan ini
  • Penulis sedang merenungkan apakah humor masa lalu masih relevan pada masa kini

Lelucon itu tidak lagi lucu

Latar belakang Crap Towns

  • Crap Towns adalah seri buku tentang tempat-tempat terburuk di Inggris yang diterbitkan pada tahun 2003
  • Buku ini ditulis dengan meneliti tempat-tempat yang direkomendasikan orang-orang melalui situs web
  • Pada saat itu, buku ini sangat populer karena membahas masalah sosial Inggris dengan humor

Kemungkinan diterbitkan di masyarakat modern

  • Saat ini telah terbentuk suasana sosial yang membuat buku seperti Crap Towns sulit diterbitkan
  • Kontroversi yang berkaitan dengan politik identitas menyebabkan perubahan ini
  • Perubahan persepsi sosial terhadap humor memengaruhi industri penerbitan

Pentingnya humor

  • Humor memainkan peran penting dalam menyoroti masalah sosial dan mendorong perubahan
  • Namun, dalam masyarakat modern humor dapat menimbulkan kesalahpahaman
  • Penulis sedang memikirkan apakah humor masa lalu masih berlaku hingga sekarang

Pengaruh Crap Towns

  • Crap Towns memberikan pengaruh besar pada masyarakat Inggris saat itu
  • Namun, setelah buku itu diterbitkan, masalah sosial Inggris tetap belum terselesaikan
  • Penulis menyesalkan bahwa Crap Towns tidak dapat berkontribusi dalam menyelesaikan masalah sosial

Pendekatan alternatif

  • Situs web yang mirip dengan Crap Towns masih ada, tetapi penulis meragukan pendekatan situs-situs tersebut
  • Dalam masyarakat modern, humor masa lalu mungkin tidak lagi berlaku
  • Penulis berpandangan bahwa peran humor harus berubah seiring perubahan sosial

1 komentar

 
GN⁺ 2025-04-27
Opini Hacker News
  • Penulis menyampaikan terima kasih karena tulisan ini memberinya banyak trafik. Ia juga berterima kasih karena pembaca memahami bahwa ia tidak berhasil menarik kesimpulan yang jelas dalam tulisan aslinya. Menarik juga gagasan bahwa berbagi lelucon mungkin lebih mudah dilakukan pada 2003.

  • Penulis bukan komedian, melainkan bekerja di industri penerbitan. Ia tidak bisa membuktikan pandangannya tentang para penerbit yang merasa tegang, tetapi berharap ia punya cukup wawasan dan insting.

  • Sudah berkali-kali disebut bahwa buku ini mungkin tidak akan diterbitkan hari ini, atau setidaknya tidak akan sepopuler dulu. Namun penulis melihat sesuatu yang lebih dari itu. Lelucon yang sama kini terasa tidak lucu.

  • Muncul pertanyaan mengapa dunia saat ini telah melampaui tradisi kegagalan khas Inggris yang dirayakan, dikeluhkan, dan dijadikan bahan merendahkan diri dengan penuh keakraban.

  • Penulis dengan nada jenaka menyebut bahwa pemerintah dan otoritas lokal ternyata tidak membaca tulisannya lalu memperbaiki tindakan mereka. Ia membagikan pengalamannya saat buku itu diterbitkan.

  • Penulis mengatakan bahwa ia belajar orang-orang memiliki kebanggaan terhadap daerah mereka dan juga memiliki solusi atas masalah lokal. Yang mereka butuhkan adalah dukungan pemerintah.

  • Dua puluh tahun lalu, orang bisa tertawa bersama tentang kebosanan kota kecil. Hari ini, nasib suatu tempat berubah begitu cepat hingga identitas komunitas pun hilang.

  • Kelas menengah atas menjadi kurang punya selera humor dan lebih puritan, sementara kelas pekerja terlalu marah untuk tertawa. Orang-orang yang punya kuasa tidak melakukan apa pun.

  • Situs web bernama ChavTowns masih tetap berjalan, dan pemiliknya berencana melepaskan situs itu.

  • Sebelum mengkritik political correctness atau menyalahkan penulis, orang dianjurkan membaca penutup tulisan aslinya.

  • Penulis mengakui bahwa ia tidak bisa menyalahkan kaum puritan sebagai alasan mengapa leluconnya tidak lagi berhasil. Ia juga mengakui bahwa buku Crap Towns bukanlah keberhasilan yang sepenuhnya utuh.

  • Penulis khawatir leluconnya mungkin justru menambah rasa keterasingan, kebosanan, dan keputusasaan orang.

  • Ia menyadari bahwa humor merendahkan diri secara pribadi telah ikut menyumbang pada ketidakbahagiaannya sendiri.

  • Sudut pandang pembuat lelucon berbeda dari sudut pandang orang luar. Ini adalah pelajaran sulit yang sering dipelajari para pembuat konten humor.

  • Penulis menyarankan untuk mencoba menerbitkan "Crap Towns, 20 Year Update" dan bertanya apa saja yang telah berubah.

  • Seiring waktu, orang hanya mengganti senjata yang mereka gunakan untuk saling melukai. Political correctness adalah upaya untuk membedakan secara jelas antara niat untuk menyakiti dan niat untuk tidak menyakiti.

  • Yang ditekankan selama beberapa dekade terakhir adalah gagasan bahwa tanggung jawab atas keberhasilan ada pada individu. Ide ini dibahas secara mendalam dalam "Status Anxiety" karya Alain de Botton.