- Seperti dalam kasus perdebatan heliosentrisme Galileo, kekuasaan sosial dan sistem keyakinan tidak berubah hanya karena 'fakta' semata
- Gereja, kekuasaan, dan ideologi menjelaskan sekaligus melegitimasi realitas melalui narasi dan keterkaitan struktural seperti Alkitab, pandangan kosmos, seni, dan norma sosial
- Struktur keyakinan (graf) terdiri dari node inti dan koneksi (edge), sehingga ketika satu bagian saja terguncang, seluruh pandangan dunia bisa ikut goyah
- Inti perdebatan bukanlah fakta, melainkan mekanisme psikologis/sosial untuk menyerang atau mempertahankan node maupun keterhubungan dari dalam kerangka struktural (graf) masing-masing
- Semakin kuat ketahanan struktural, kohesi internal, dan resonansi emosional, semakin kokoh keyakinan bertahan; fakta baru berpengaruh ketika ia melebur ke dalam kerangka struktural itu
Struktur, bukan fakta, yang menentukan keyakinan
- Ketika Galileo Galilei mengajukan heliosentrisme, gereja menolak bukan semata karena kebodohan atau takhayul, melainkan untuk melindungi sistem keyakinan yang menopang tatanan sosial
- Karena pandangan kosmos geosentris berfungsi sebagai struktur inti bagi iman dan tatanan sosial
- Sistem keyakinan ini menghubungkan kisah, simbol, dan doktrin secara organik untuk melegitimasi otoritas dan ketertiban
- Ayat-ayat Alkitab menopang pandangan kosmos geosentris, dan terhubung dengan struktur hierarki sosial dan moral bahwa manusia adalah pusat alam semesta
- Struktur seperti ini tidak hanya hadir dalam perdebatan, tetapi tercermin kuat dalam keseluruhan pandangan dunia, kalender ibadah, arsitektur katedral, seni, dan norma keseharian
- Menantang satu konsep berarti menyentuh bukan hanya satu ide, tetapi juga seluruh jaringan dan otoritas di belakangnya.
- Begitu node inti (geosentrisme) diguncang, seluruh struktur menjadi terancam
Contoh struktur keyakinan (graf)
- Bahkan di masa kini, struktur keyakinan dapat dijelaskan sebagai 'graf' yang terdiri dari konsep (node) dan koneksi (edge)
- Sebagai contoh, struktur "kapitalisme yang mengutamakan pertumbuhan" dan "keberlanjutan ekologis" masing-masing memiliki logika serta jaringan keterhubungan yang berbeda
- Growth-First Capitalism
- inovasi→laba→imbal hasil pemegang saham→daya beli→kompetisi→inovasi...
- Sistem yang setiap keterhubungannya saling memperkuat, dengan konsistensi internal dan ketahanan yang tinggi
- Ecological Sustainability
- krisis iklim→perubahan kebijakan→energi terbarukan→pengurangan emisi→ketahanan komunitas
- Struktur umpan balik positif melalui koneksi yang menekankan keterkaitan kesejahteraan manusia dan kesehatan planet, aksi kolektif, serta resiliensi
- Koneksi antar-node (edge) dalam graf ini terus diperkuat oleh kekuatan psikologis
- Saat berada dalam kondisi disonansi kognitif, otak manusia menggunakan motivated reasoning dan rasionalisasi setelah fakta untuk mempertahankan pandangan dunia yang sudah ada
- Karena itu, struktur keyakinan menjadi sangat kokoh dan resisten terhadap perubahan
Serangan struktural—guncangan pada node dan edge
- 'Perang' yang sesungguhnya antar-sistem keyakinan yang saling bersaing bukanlah pada argumen logis, melainkan upaya untuk mengubah struktur satu sama lain
- Mereka mencoba memengaruhi struktur dengan meruntuhkan node inti lawan, melemahkan hubungan antar-konsep, atau menyerap elemen-elemen lawan yang menarik
- Dengan demikian, yang terjadi bukan sekadar pertukaran pendapat, tetapi proses perubahan pada struktur keyakinan itu sendiri
- Serangan node inti (Node Attack): serangan terfokus pada satu node inti dapat melemahkan seluruh sistem keyakinan
- Contoh: jika node "ancaman perubahan iklim" diserang, maka motivasi untuk perubahan kebijakan melemah sehingga keseluruhan sistem menjadi tidak stabil.
- Jika serangan berhasil, loop umpan balik utama dalam sistem runtuh dan konfigurasi keseluruhan terancam terurai
- Serangan edge (Edge Attack): menyerang koneksi (edge) antar-ide sehingga logika sistem keyakinan menjadi tersendat secara tidak langsung dan daya persuasinya melemah
- Contoh: jika dikritik apakah "keuntungan pemegang saham" benar-benar menghasilkan peningkatan daya beli, maka klaim kemakmuran luas dalam sistem kapitalisme melemah
- Jika serangan edge berlangsung terus-menerus, legitimasi sosial sistem akan runtuh dan ia lebih mudah diserap oleh struktur alternatif
- Selain itu, sistem keyakinan juga menggunakan berbagai strategi seperti menyerap keunggulan struktur pesaing, berevolusi lewat celah, atau memperoleh resiliensi melalui koreksi diri
Psikologi manusia dan struktur keyakinan
- Sistem keyakinan (meme, ideologi, dan sebagainya) hanya benar-benar beroperasi secara nyata di dalam struktur otak manusia
- Struktur keyakinan dipertahankan dan dilindungi oleh arsitektur kognitif manusia, dan kadang terjalin begitu dalam dengan 'identitas pribadi' sehingga tantangan terhadapnya terasa seperti serangan personal
- Ia stabil bukan semata karena logika, melainkan karena mekanisme psikologis otomatis otak seperti disonansi kognitif dan motivated reasoning
- Otak secara tidak sadar menyaring informasi yang dianggap mengancam, dan ketika berhadapan dengan bukti yang bertentangan, ia mencoba merasionalisasi untuk meredakan disonansi kognitif
- Inilah alasan struktur keyakinan sangat tangguh terhadap serangan dari luar
Kompetisi struktural dan contoh nyata
- Perdebatan sosial saat ini bukan sekadar soal fakta, melainkan benturan antar-template keyakinan yang tidak saling kompatibel
- Masing-masing kubu memiliki struktur koneksi, ide inti, dan sistem logika pendukungnya sendiri, sehingga sulit menerima logika pihak lawan begitu saja
- Semakin solid jaringan keyakinan suatu kelompok dan semakin kuat koneksinya, semakin besar pula daya tahan dan pengaruhnya terhadap serangan eksternal
- Sebaliknya, ketika kelompok itu terpecah dari dalam atau koneksinya melemah, pengaruh kolektifnya cepat menurun drastis
- Karena itu, ketika pihak yang bermusuhan memicu perpecahan internal, keseimbangan kekuatan secara keseluruhan juga ikut terdampak
coordinated inauthentic behavior
- Operasi media sosial di mana banyak akun palsu bekerja sama untuk memanipulasi opini publik
- Bukan sekadar penyebaran misinformasi, tetapi strategi untuk melemahkan koneksi inti dalam graf keyakinan secara sistematis
- Misalnya
- IRA Rusia, untuk memperdalam konflik rasial di Amerika Serikat, secara bersamaan memperkuat suara-suara yang saling berlawanan demi mengguncang struktur koneksi sosial
- BLM-anti-BLM, pro-kontra vaksin, perdebatan iklim dan upaya memicu perpecahan—melemahkan koneksi inti sehingga keseluruhan struktur menjadi tidak stabil
- Serangan jaringan skala besar seperti ini lebih berfokus pada pelemahan koneksi struktural daripada misinformasi satu arah
- Seperti dalam kasus Cambridge Analytica, teknik micro-targeting dan pesan yang dipersonalisasi dapat membidik node dan edge rentan dalam struktur keyakinan dengan sangat presisi
- Belakangan, dengan hadirnya LLM (large language model), skala dan kelincahan manipulasi struktural semacam ini meningkat secara eksplosif
Bagaimana melindungi struktur keyakinan kita
- Fact-checking, bantahan, dan kebenaran saja punya batas. Agar sistem keyakinan memiliki resiliensi, kita harus memperkuat 'struktur', 'kohesi internal', dan 'daya empati emosional'
- Kebenaran hanya bisa bertahan dan menyebar jika berada di dalam kerangka struktural tempat orang dapat bernaung
- Untuk mencegah manipulasi dan perpecahan, diperlukan narasi yang tahan lama, penguatan konsistensi struktural dan resiliensi sistem keyakinan sendiri, pembangunan jembatan koneksi antar-template, serta pembentukan narasi yang juga beresonansi secara emosional
- Jika memahami mekanisme keyakinan, siapa pun bisa menjadi bukan objek pasif, melainkan perancang struktur yang aktif. Kita dapat merancang sistem keyakinan baru yang kokoh, adaptif, dan lebih terbuka
Kesimpulan
- Kita bukan sekadar konsumen informasi, melainkan bisa menjadi arsitek yang merancang struktur keyakinan kita sendiri
- Berdasarkan pemahaman struktural, merancang sistem keyakinan yang resilien dan saling terhubung adalah respons yang sesungguhnya di era perang budaya dan manipulasi opini publik
2 komentar
Menarik. Tulisan seperti ini tentang model mental atau meme dan semacamnya selalu menarik.
Opini Hacker News
Tulisan blog ini bagus. Ada dua pemikiran. Pertama, meskipun ada fakta yang bertentangan, sering kali itu bukan sinyal untuk mengubah keyakinan. Kecuali keyakinan itu memang cukup lemah hingga bisa goyah hanya oleh satu fakta, sangat jarang satu peristiwa tunggal memberi dampak yang menentukan. Misalnya, sekalipun mengetahui bahwa beberapa ilmuwan memanipulasi data dalam makalah tentang perubahan iklim, jika melihat besarnya bukti mengenai perubahan iklim, fakta itu sendiri bukan alasan untuk mengubah keyakinan tentang perubahan iklim. Pada akhirnya, keyakinan baru berubah ketika akumulasi dasar sudah cukup kuat setelah menelaah beragam informasi dari kedua sisi secara memadai. Kedua, ‘fakta’ yang kita temui hari ini sebenarnya tidak mewakili keseluruhan konteks. Pada masa media yang berpusat pada perusahaan besar di masa lalu, para jurnalis setidaknya berusaha menyampaikan fakta-fakta penting secara relatif seimbang, tetapi sekarang algoritme mengkurasi berita ke arah yang mendorong lebih banyak klik dan keterlibatan. Produsen konten yang menyajikan ‘fakta’ ini juga umumnya punya motif atau bias yang kuat. Baik algoritme maupun produsen hampir tidak berupaya menyediakan informasi yang seimbang
Ini mengingatkan pada konsep yang dulu pernah kubaca di blog rasionalis terkenal, yaitu ‘skeptisisme epistemik rasional’ (
rational epistemic skepticism). Mungkin istilahnya tidak persis kuingat, tetapi idenya berada dalam konteks yang mirip. Jika ada seseorang yang sangat cakap secara intelektual, atau telah mempelajari suatu topik dengan sangat mendalam, orang biasa akan merasakan pengalaman seperti dibuat tak berdaya oleh kemampuan intelektual itu. Namun semua orang secara samar juga merasa bahwa tidak semua orang pintar selalu benar. Karena orang-orang pintar pun punya beragam pendapat, jadi tidak mungkin semuanya benar. Karena itu, orang biasa mengembangkan sikap defensif agar keyakinannya tidak mudah terguncang, yakni kecenderungan untuk tidak gampang terbujuk. Sikap defensif seperti ini justru rasional. Saat seseorang menyajikan argumen yang tampak sempurna, apakah itu karena argumen tersebut benar-benar benar, atau karena ada tipu daya di dalamnya? Yang kedua lebih sering terjadiBentuk kebohongan terbaik bukanlah menyajikan informasi palsu, melainkan memilih fakta secara selektif agar menguntungkan diri sendiri. Cara seperti ini kadang juga membuat orang tanpa sengaja berbohong pada diri sendiri atau orang lain. Banyak artikel berita adalah contoh seperti ini
Menambahkan pada poin kedua, algoritme masa kini punya struktur yang cukup mudah dimanipulasi sehingga negara yang ingin membentuk narasi—terutama Russia dan China—bisa menyalahgunakannya sesuka hati. Dalam 8 tahun terakhir, cara campur tangan pemilu oleh Russia banyak berubah. Dulu, pasukan troll menyamar sebagai orang Amerika (atau Polandia, Ceko, dan seterusnya) sambil menyebarkan propaganda Rusia. Cara ini relatif mudah dideteksi dan diblokir sehingga umurnya tidak panjang. Belakangan ini mereka beralih ke ‘pasukan goblin’ ala strategi Tiongkok; mereka tak lagi fokus menyebarkan pesan secara langsung, melainkan mengacaukan algoritme media sosial lewat reaksi otomatis seperti scroll, upvote, klik komentar, balasan dengan bantuan LLM, dan sebagainya. Dalam praktiknya, cara ini hanya mendorong penyebaran pesan yang menguntungkan Rusia atau merugikan Amerika ketika pengguna Amerika sungguhan menyebarkannya. Ada dua alasan strategi ini efektif: strategi ini memberi hadiah dopamin kepada orang yang menulis hal aneh atau penuh kebencian sehingga mereka makin provokatif, dan membuat pengguna yang menentang menganggap tulisan semacam itu ‘sangat populer’ sehingga semangat mereka patah. Referensi: Russian internet outage and the online goblin army
Dalam esai terkenal CS Peirce, "The Fixation of Belief", dijelaskan berbagai proses tentang bagaimana kita membentuk keyakinan dan bagaimana keyakinan itu bisa diguncang. Esai tersebut bisa dibaca di sini. Tulisan blog ini juga terasa dekat dengan apa yang oleh Peirce disebut sebagai "a priori method". Pertama-tama orang menetapkan framework lebih dulu (umumnya karena alasan estetis atau emosional), lalu menafsirkan pengalaman agar sesuai dengan framework itu. Kesimpulan yang dihasilkan dari sana menjadi keyakinan yang sangat nyaman bagi orang-orang yang setuju pada framework tersebut. Menurut Peirce, semua penyelidikan dimulai dari keterkejutan. Kadang itu disengaja, tetapi kebanyakan kita berhadapan dengan kejutan secara tidak sengaja. Masalah pendekatan a priori adalah bahwa pada akhirnya ia mirip dengan ‘perkembangan selera’. Selera selalu berubah mengikuti tren, dan para filsuf pun selalu mengulang perdebatan yang tak ada habisnya. Seperti kata Sir Bacon, pada akhirnya kita harus beralih ke pemikiran induktif yang sungguh-sungguh
Saya memahami perdebatan antara Galileo dan Gereja sebagai persoalan yang jauh lebih bernuansa daripada yang umumnya diketahui. Itu bukan karena pembacaan literal Alkitab semata (seperti ayat Joshua tentang matahari yang berhenti). Dalam buku Paul Feyerabend berjudul "Against Method", justru dikatakan bahwa Catholic Church saat itu lebih rasional dalam metodologi ilmiah klasiknya (menilai bukti untuk kedua model). Poin pentingnya adalah hipotesis Galileo dinilai secara rasional lebih inferior dibanding model yang sudah ada. Cukup menarik untuk dibaca
Perdebatan tentang Galileo dan Gereja sering kali terlalu disederhanakan, padahal konteks nyatanya sangat kompleks. Jauh sebelum Galileo muncul, tokoh seperti Thomas Aquinas sudah menerima bahwa bumi itu bulat berdasarkan Aristotle. Pada masa Galileo, Catholic Church tidak buta terhadap sains modern; justru mereka aktif terlibat dalam filsafat alam dan astronomi. Konflik yang sebenarnya adalah soal model-model yang saling bersaing dan standar bukti untuk menerima model tersebut. Jika penulis artikel ini mulai menulis tanpa mengetahui latar belakang itu, maka reliabilitas keseluruhan tulisannya patut diragukan
Sebagai mantan sejarawan, episode Galileo dan Gereja memang sangat kompleks. Selama beberapa generasi, berbagai pihak telah memelintir peristiwa ini untuk retorika mereka masing-masing. Feyerabend juga memakai peristiwa ini untuk filsafat sainsnya yang sangat orisinal, tetapi dari sisi objektivitas masih bisa diperdebatkan. Jika tertarik, biografi Galileo karya John Heilbron memberi sudut pandang yang seimbang
Baru-baru ini aku menonton kuliah tentang topik ini dan merasa sangat tertarik. Model kosmos geosentris yang digunakan di Eropa saat itu sudah dipoles sedemikian rupa hingga benar-benar sangat akurat. Bahkan jika berpindah ke heliosentrisme pun, untuk sementara hampir tidak ada keuntungan substantif yang diperoleh. Sebaliknya, riset Galileo dipenuhi banyak kesalahan dan persoalan matematis yang masih perlu dibereskan. Pada akhirnya, masa itu adalah situasi dengan utang teknis dan biaya transisi yang sangat besar, tetapi manfaat langsung yang bisa didapat hampir tidak ada
Aku penasaran bagaimana Feyerabend menjelaskan alasan Galileo dikenai tahanan rumah. Jika itu hanya soal diskusi rasional tentang model yang bersaing, rasanya sulit memahami mengapa perlu represi yang sedemikian ekstrem
Untuk podcast seri Galileo, saya merekomendasikan Opinionated History of Mathematics buatan Viktor Blasjo: Opinionated History of Mathematics
Saya merasa topik yang sulit saya dekati secara analitis ini dibahas dengan sangat menarik. Ini mengingatkan pada kisah putri pendiri Stormfront (forum supremasi kulit putih pertama) yang masuk kuliah, lalu berulang kali makan malam bersama mahasiswa Yahudi; sedikit demi sedikit keyakinannya ditantang, dan akhirnya ia perlahan sepenuhnya meninggalkan pandangan rasisnya. Jika seseorang yang telah dicuci otak hampir 20 tahun oleh keluarganya pun bisa berubah, itu memberi harapan bahwa siapa pun bisa mengubah keyakinannya. Pada saat yang sama, ini juga terasa menyedihkan karena di dunia nyata metode seperti itu tidak efisien dan sulit diterapkan dalam skala besar. Apalagi jauh lebih sulit diterapkan pada orang yang masih terus terpapar sumber informasi lamanya
Saya juga menganggap penting bahwa sejak awal orang itu bersedia duduk berhadapan dan berbicara dengan mereka
Di masa depan, chatbot AI mungkin bisa menjadi bagian dari semacam ritual pencucian keyakinan seperti ini
Menurutku ini cuma bentuk self-congratulation. Anak yang masuk kuliah lalu cepat meninggalkan keyakinan keluarganya sebenarnya kejadian yang sangat umum. Terutama jika sistem keyakinannya tidak populer seperti supremasi kulit putih, melepaskannya demi mendapatkan teman baru di kampus justru terasa wajar. Setelah itu pun, besar kemungkinan mahasiswa tersebut tetap memiliki sebagian keyakinan yang bagi orang lain masih kontroversial, seperti kebanyakan rekan-rekannya. Pada dasarnya dia hanya keluar dari lingkungan rumahnya
Saya juga ingat saat menjadi mahasiswa baru, untuk pertama kalinya saya membentuk pandangan dunia saya sendiri. Sebelumnya saya punya berbagai pemikiran tentang Tuhan dan masyarakat, tetapi di kampus saya menjadi ateis. Menariknya, pada saat yang sama saudara kembar saya justru menjadi Kristen yang taat. Ia berbaur dengan baik ke dalam kelompok sosial dan menyelesaikan kuliahnya, sedangkan saya putus kuliah di tengah jalan. Setelah memasuki akhir usia 20-an hingga 30-an, saya mulai yakin pada satu titik bahwa pemerintah kami tidak bisa dipercaya. Saya masih mempertahankan keyakinan bahwa 9/11 adalah pekerjaan orang dalam. Meskipun saat itu saya berada di New York, saya tidak melihat banyak kaitan antara kejadian itu dan pengalaman sehari-hari saya (misalnya mengurus dokumen sewa Twin Towers), lalu begitu saja melewatinya. Saya jadi lebih memikirkan daripada biasanya bagaimana struktur keyakinan berkaitan dengan masyarakat atau kelompok tempat seseorang berada. Semakin besar rasa terasing dari masyarakat, semakin mudah rasanya mencurigai otoritas yang ada. Dalam persaingan antarkelompok, kita mudah menganggap kelompok lawan jahat dan salah; penyederhanaan seperti ini menciptakan distorsi yang tidak perlu dalam struktur keyakinan dan memperkuat keyakinan berbahaya. Pada akhirnya, faktor mendasar pemisahan antarkelompok adalah elemen struktural seperti geografi, ekonomi, dan etnisitas. Saya bertanya-tanya apakah sistem keyakinan yang lebih canggih dan akurat bisa meredakan perpecahan sosial. Atau apakah justru struktur sosial dan jaringanlah yang menentukan inti identitas. Kadang saya berpikir, jangan-jangan manusia pada dasarnya mirip ‘koloni semut mamalia’, yang akan bertarung keras setiap kali sumber daya langka. Jika masing-masing pihak berusaha memonopoli sumber daya penting, maka persaingan yang adil bukan hanya mustahil, tetapi orang bisa juga merasa bahwa tidak perlu hanya pihak kita yang bermain baik-baik jika lawan tidak mematuhi aturan, tidak jujur, dan bahkan menolak nuansa dalam diskusi. Pada akhirnya, secuil harapan tetap ada: jika sumber daya yang melimpah bertambah, mungkin hubungan yang lebih beradab juga bisa membaik seiring itu
Satu komentar untuk penulis ini: saya menyukai ide blognya, tetapi saat membaca ada dua hal yang mengganggu. Pertama, format kutipannya (
full quote) terasa membingungkan dan tidak perlu, terutama ketika mengulang kalimat tepat sebelumnya. Kedua, grafik yang bergerak saat discroll di ponsel terasa tidak nyaman. Mungkin akan lebih baik memakai gambar statis yang lebih kecil, atau menggunakan warna latar terpisah, dan semacamnyaSaya sangat berterima kasih atas masukan seperti ini. Sebelum tulisan berikutnya, saya pasti akan mencoba menerapkan semuanya
Tambahan lagi, teks di dalam kotak putih pada grafik itu tidak bisa dibaca. Pilihan warnanya terasa kurang baik
Saya menyukai sebagian konsep inti tulisan ini, tetapi pembedaan node/edge terasa terlalu kabur. Misalnya, node 'Climate Change Threat' adalah sebuah 'klaim', tetapi apakah 'Efficiency' juga sebuah klaim? Bisakah orang membantah keberadaan efisiensi itu sendiri? Bukankah kalau yang dibantah adalah ‘kemanfaatan’ efisiensi, itu justru serangan terhadap edge? Contoh-contoh node yang disajikan di teks jadi terasa tidak setingkat dan terlalu heterogen. Karena itu sulit diinternalisasi dan mengurangi motivasi untuk membaca
transitive verb) dan panahnya mengarah dari subjek kata kerja ke objeknya. Node diberi label dengan kata benda. Jika kata benda diubah menjadi kata kerja, node bisa berubah menjadi edge, atau sebaliknya. Sebagai contoh, dalam diagram pertama, "Innovation" bisa diubah menjadi edge "innovates" dengan node "Capitalist" dan node "Improvement". Pada akhirnya batas antara node dan edge memang kaburSaya sangat merekomendasikan "The Righteous Mind" karya Jonathan Haidt. Buku ini bertanggung jawab besar dalam mengubah cara saya memikirkan moralitas dan politik dari sudut pandang sosial dan psikologis. Beberapa idenya seperti ini: manusia secara naluriah bersifat kolektivis dan ingin diterima. Kita mula-mula membuat penilaian emosional secara instan, lalu belakangan mencari alasan untuk merasionalisasi pilihan itu. Alasan kanan politik lebih solid daripada kiri, menurut Haidt, adalah karena mereka memiliki nilai bersama dan definisi yang konsisten tentang 5 'reseptor rasa moral'—kepedulian, keadilan, loyalitas, otoritas, dan kesucian. Sementara itu, kubu kiri cenderung menukarnya demi menjaga keberagaman
Saya juga membaca buku Haidt dengan sangat tertarik, tetapi sebenarnya tiap bagiannya terasa seperti buku yang sama sekali berbeda. Saya ingin membaca buku-bukunya yang lain juga. Soal diskusi kiri dan kanan, hal menarik yang belakangan saya dengar adalah bahwa kubu kiri digerakkan oleh koalisi, sedangkan kubu kanan oleh konsensus (dalam konteks politik AS). Menurut riset Haidt, kubu kiri berfokus pada satu atau dua dari lima reseptor rasa moral utama, sementara kubu kanan memperhatikan kelimanya secara merata. Saya tidak yakin bagaimana dua ciri ini saling terhubung, tetapi saya jadi berpikir mungkin ada struktur yang membuat keduanya saling memperkuat. Lebih jauh lagi, saya juga penasaran apakah hal seperti ini berlaku serupa pada keseluruhan sistem politik
Saya merasa klaim bahwa kanan politik lebih solid daripada kiri memerlukan dasar yang jelas. Bisa jadi itu hanya persepsi yang terdistorsi dan terbatas pada contoh-contoh belakangan ini. Bahkan dalam konteks AS pun, kubu kanan juga merupakan koalisi dari berbagai pemangku kepentingan. Misalnya, bahkan sekarang sebagian pendukung Trump mengungkapkan ketidakpuasan atas kerahasiaan kasus Epstein, sementara kelompok lain yang menginginkan pemotongan pajak berusaha meredam protes itu. Di dalam kubu kanan pun ada lebih banyak konflik daripada soliditas
Saat menyadari bahwa antara node dan edge bisa ada node dalam jumlah tak terbatas (sesuai definisi di tulisan ini), teori tersebut mulai terasa rumit di kepalaku. Struktur keruntuhan ide secara garis besar memang bisa dipahami, tetapi dalam praktiknya sulit mengetahui berapa banyak node inti yang sebenarnya ada di antara ide-ide tersebut, sehingga tidak mudah diterapkan ke dunia nyata. Dan karena jika kita memetakan balik proses keruntuhan satu item saja, hasilnya selalu terlihat jauh lebih sederhana, pada akhirnya sulit menghindari
survivorship biasPada kenyataannya, banyak orang juga tidak selalu sadar dengan jelas akan keseluruhan struktur keyakinannya sendiri. Sembilan puluh sembilan persen isu penting jauh lebih kabur daripada yang terlihat pada diagram ini. Meski begitu, sudut pandang seperti ini terasa segar. Faktor yang lebih penting daripada struktur keyakinan adalah siapa orang yang benar-benar kita percayai. Hanya orang yang kita percayai yang terasa berhak mengisi bagian-bagian kosong dalam keyakinan kita. Karena membangun kepercayaan memerlukan waktu lama, keyakinan tidak mudah berubah hanya dengan disodori fakta yang bertentangan. Alasan pentingnya bukan struktur jaringan (graf keyakinan), melainkan karena ‘saya tidak mempercayai Anda’. Saya juga baru-baru ini menulis sesuatu yang mirip: No one reads page 28
Saya pikir kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam asumsi ‘arguments are soldiers’, yaitu bahwa ‘fakta’ dalam perdebatan terutama hanya dipakai sebagai alat untuk membujuk lawan. Menyelidiki apa yang sedang terjadi di dunia itu sendiri menarik dan bernilai, terlepas dari kecenderungan atau ideologi saya. Bahkan jika berbeda dari pendapat saya, kalau ada bukti yang menarik maka artikel itu sendiri tetap bermakna. Meskipun fakta tidak mudah mengubah pikiran orang lain, saya tetap berpikir kita harus mendukung orang-orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan melaporkan fakta