1 poin oleh GN⁺ 21 hari lalu | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Praktik pemberitaan yang menyampaikan ucapan eksekutif perusahaan apa adanya tanpa verifikasi atau bantahan telah menjadi bentuk yang ternormalisasi di seluruh media AS
  • Pemberitaan semacam ini mengulang kutipan ucapan CEO terkenal seperti Elon Musk, Sam Altman, Mark Zuckerberg layaknya artikel promosi, sambil mengabaikan pemeriksaan fakta dan penyediaan konteks
  • Media beroperasi dengan struktur yang sengaja mengecualikan pendapat ahli yang kritis dan berfokus pada siklus berita serta perolehan pendapatan iklan
  • Akibatnya, jurnalisme untuk kepentingan publik melemah, dan media mereproduksi realitas fiktif yang mempertahankan mitos tentang kekayaan dan kekuasaan
  • Industri media AS berada dalam kondisi tanpa kemauan untuk berubah, sehingga jurnalisme tiruan dengan fungsi kritik yang lumpuh terus berlanjut

Masalah jurnalisme model “CEO bilang!”

  • Jurnalisme model “CEO bilang!” merujuk pada bentuk pemberitaan yang menyampaikan ucapan eksekutif perusahaan apa adanya tanpa konteks, verifikasi, atau bantahan
  • Media AS telah lama beroperasi sebagai struktur yang menopang kekuasaan korporasi dan kepentingan modal, dan praktik pemberitaan semacam ini makin mengeras sebagai kondisi yang ternormalisasi
  • CEO terkenal seperti Elon Musk, Sam Altman, Mark Zuckerberg menjadi penerima manfaat utamanya, dengan banyak contoh ucapan mereka berulang kali dikutip seperti artikel promosi
  • Pemberitaan semacam ini mengabaikan pemeriksaan fakta maupun konteks rekam jejak masa lalu, sengaja mengecualikan pendapat ahli yang kritis, dan berfokus pada siklus berita serta pendapatan iklan
  • Akibatnya, jurnalisme untuk kepentingan publik melemah, dan media berubah menjadi struktur yang mereproduksi realitas fiktif yang mempertahankan mitos tentang kekayaan dan kekuasaan

Masalah struktural media AS

  • Media AS telah lama berperan mendukung kekuasaan korporasi dan kepentingan ‘kelas ekstraksi (extraction class)’
    • Dulu masih ada perdebatan akademik soal ini, tetapi kini digambarkan bahwa bahkan kepura-puraan halus itu pun telah lenyap
  • Struktur media yang terkonsolidasi berfungsi untuk menyerang reformasi progresif, memitologikan kaum kaya, dan menjadi perpanjangan dari pemasaran produk
  • Kecenderungan ini telah ternormalisasi secara bertahap selama puluhan tahun, sehingga banyak jurnalis bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang membuat liputan seperti itu

Contoh khas pemberitaan model “CEO bilang!”

  • Elon Musk adalah tokoh yang paling sering diliput media, dan ucapannya berulang kali dikutip tanpa kritik
    • Contoh: ucapannya tentang membantu gaji petugas TSA diberitakan begitu saja oleh banyak media
    • Namun media tidak menyebut riwayat janji palsu dan perilaku tidak stabil Musk, seperti janji menyediakan ventilator, klaim memperbaiki kualitas air di Flint, atau klaim penghematan pemborosan pemerintah
  • Sam Altman tetap menikmati liputan media yang positif meski memiliki langkah oportunistis dan tidak etis
  • Mark Zuckerberg diberitakan dengan cara yang nyaris tak bisa dibedakan dari artikel iklan, meski dinilai kurang inovatif dan tidak karismatik
  • Kadang ucapan tak berdasar dari beberapa CEO diberitakan sekaligus, membentuk siklus berita yang pada dasarnya tidak bermakna

Aturan dalam pemberitaan model “CEO bilang!”

  • Ucapan CEO tidak dibantah secara langsung, tanpa pengecualian meski ada riwayat klaim palsu berulang
  • Tidak memberi konteks atas ucapan masa lalu perusahaan atau CEO, sehingga ucapan harus selalu hadir dalam ‘ruang hampa’
  • Tidak mengutip pendapat ahli atau akademisi yang objektif, terutama sosok yang mungkin mengkritik CEO
    • Ini sengaja dihilangkan demi kecepatan penulisan artikel dan perolehan trafik iklan
  • Kebenaran ucapan tidak diverifikasi setelahnya, terutama dalam kasus janji sebelum merger dan akuisisi besar

Pengalaman pribadi jurnalis dan perubahan persepsi

  • Saat masuk ke industri sebagai jurnalis bidang telekomunikasi, penulis menyadari bahwa sebagian besar jurnalisme bisnis AS tidak peduli pada kebenaran atau konteks
  • Ia mempertanyakan mengapa liputan tentang perusahaan telekomunikasi besar tidak menyebut struktur yang monopolistik dan tidak etis, namun pada awalnya justru mengira dirinya sendiri yang bermasalah
  • Seiring waktu, ia menyadari bahwa media sedang membangun realitas alternatif yang memuliakan akumulasi kekayaan ketimbang menyampaikan fakta
    • Realitas ini bekerja sebagai struktur naratif fiktif untuk mempertahankan mitos kaum kaya

Dampak jurnalisme fiktif

  • Pemberitaan semacam ini terlihat seperti jurnalisme sungguhan, tetapi sebenarnya hanyalah tiruan (simulacrum) yang menyingkirkan konteks dan kebenaran
    • Diibaratkan sebagai ‘media seperti boneka Ken tanpa alat kelamin’, yakni kondisi ketika semua unsur kritik dihapus agar tidak membuat siapa pun tidak nyaman
  • Akibatnya, bersamaan dengan kemerosotan liputan untuk kepentingan publik, terjadi penyebaran normalisasi dan pengabaian terhadap korupsi
  • Di dalam media ada kelompok ‘bangsawan brunch’ dan ‘nepobaby sendok emas’ yang berusaha menyangkal atau mengecilkan masalah ini
    • Mereka menyangkal masalah dengan mengatakan struktur kepemilikan dan kewenangan editorial itu terpisah
    • Namun kenyataannya, struktur berbasis iklan, kepemilikan perusahaan besar, dan PHK massal membuat liputan kritis menjadi mustahil

Kesimpulan: ketiadaan niat untuk membaik

  • Masalah ini sudah ada bahkan sebelum munculnya politik otoriter, dan kini menjadi lebih buruk
  • Telah tercipta lingkungan yang dapat dieksploitasi dengan berbagai cara oleh kalangan elite AS yang kaya dan tidak etis
  • Sampai pada kesimpulan bahwa bahkan seruan agar media menjadi lebih baik pun tidak lagi bermakna
    • Industri media AS ditegaskan berada dalam kondisi tidak ingin berubah dengan kemauannya sendiri

1 komentar

 
GN⁺ 21 hari lalu
Komentar Hacker News
  • Artikel bergaya “orang-orang marah soal sesuatu” pada akhirnya hanya konten tingkat salin-tempel kutipan media sosial

    • Umur artikel semacam ini biasanya kurang dari seminggu. Karena sumbernya bukan tokoh terkenal, media lain juga tidak akan menyalinnya lalu menciptakan efek rambatan sekunder
    • Artikel seperti “sesuatu sedang dijual dengan harga sekian” juga kebanyakan bersandar pada listing eBay yang belum terjual
    • Meski begitu, kadang liputan seperti ini tetap bermakna. Misalnya, ketika agen penegakan ICE membuat kerusuhan di sebuah kota, ada nilai berita dalam mengetahui apakah hanya saya yang marah dengan situasi itu, atau memang banyak orang
  • Bagian yang tidak dibahas tulisan ini adalah bahwa kebanyakan jurnalis kurang punya pengaruh dan kurang mendapat kompensasi
    Pembaca lebih tertarik pada judul “CEO mengatakan” daripada opini jurnalis yang tidak dikenal. Pada akhirnya, struktur bisnis berburu klik lah yang menghasilkan keadaan ini

    • Jika jurnalis tidak mendapat kompensasi yang layak, hasilnya tidak bisa disebut jurnalisme
    • Daripada meliput ocehan CEO, seharusnya sumber daya dipakai untuk topik yang bermakna secara sosial. Tetapi tujuan media Amerika bukan itu
  • Liputan bergaya “CEO mengatakan” pada akhirnya hanyalah tiruan jurnalisme kosong yang tidak peduli pada konteks atau kebenaran yang sesungguhnya
    Hal seperti ini sedang menjadi sinyal akhir bagi liputan yang benar-benar melayani kepentingan publik. Kesimpulan tulisan itu sangat mengesankan

  • Fenomena seperti ini juga ada di industri lain
    Saya penasaran apakah kata “reactionary” bisa diterapkan juga pada kubu progresif

    • Menyebut satu pihak sebagai “reactionary” pada akhirnya adalah tindakan menutupi pendapat lawan dengan prasangka. Faktanya, kubu konservatif pun sering kali lebih reaktif
    • Secara standar, padanannya adalah “radical”, tetapi maknanya kabur sehingga perlu istilah yang lebih jelas. “knee-jerk” juga terasa cocok
    • Ungkapan “left reactionary” juga memungkinkan
    • Menurut Keywords karya Raymond Williams, “reactionary” adalah konsep yang tergantung konteks dan bisa diterapkan pada kiri maupun kanan. Artinya, istilah itu merujuk pada sikap yang menolak perubahan itu sendiri
  • Saat beberapa CEO berbicara spontan, kadang lucu melihat momen ketika terlihat betapa bodohnya mereka. Misalnya, seperti ketika Jensen berkata DLSS 5 bekerja pada tingkat “geometry level”

    • Tapi itu bukan kebodohan, melainkan strategi pasar. Itu pernyataan yang diperhitungkan agar CEO lain mendengarnya lalu membeli lebih banyak token AI
    • Jensen Huang justru salah satu CEO dengan pemahaman teknis yang tinggi. Hanya saja, dalam proses menyederhanakan agar publik bisa memahami, timbul salah paham
    • Memberi insinyur 500 ribu dolar, lalu membiarkan setengahnya dipakai untuk token Claude, itu masuk akal. Merekrut talenta mahal lalu membatasi penggunaan alat justru lebih tidak efisien
    • Pada akhirnya, menganggap Jensen bodoh itu berlebihan
  • Artikel bergaya “presiden mengunggah truth” juga merupakan contoh jurnalisme berkualitas rendah

  • Pernyataan Mark Zuckerberg bahwa “kalau tidak memakai Meta Glasses, Anda akan berada dalam posisi kognitif yang dirugikan” benar-benar nol rasa realitas
    Justru tidak memakai kacamata seperti itu lebih menguntungkan secara sosial. Terus-menerus merekam orang adalah perilaku yang menyeramkan

  • Belakangan ini terasa bahwa jika itu adalah ide yang sedang didorong oleh CEO teknologi, orang biasa justru kemungkinan besar seharusnya menolaknya
    Semacam, “kalau Elon/Mark/Jensen/Peter bilang ayo lakukan, itu tanda buruk”

    • Para CEO pada akhirnya mengutamakan keuntungan. Itu umumnya berbenturan dengan kebaikan sosial
    • Daftar itu juga perlu ditambah “CEO Amerika (= presiden)”
  • Menyalin sumber apa adanya tanpa kritik lebih dekat ke menulis siaran pers gratis daripada peliputan

  • Konten pemicu reaksi telah merusak sebagian besar wacana. Iklan dan algoritme media sosial adalah penyebabnya

    • Misalnya, Dr. Jessica Knurick terkenal lewat konten yang membantah misinformasi kesehatan dan nutrisi, tetapi demi paparan algoritme ia sengaja harus mengutip klaim-klaim bodoh. Kalau tidak, tidak ada yang akan melihatnya. Pada akhirnya, bahkan informasi yang baik pun hanya menyebar jika dibungkus dalam frame yang sensasional