- Di kalangan insinyur perusahaan teknologi besar di Seattle, sentimen antipati yang kuat terhadap AI sedang menyebar
- Di internal Microsoft, ketidakpuasan menumpuk seiring pemaksaan penggunaan alat AI seperti Copilot 365 dan PHK terkait AI yang terus berlanjut
- Tim yang tidak diklasifikasikan sebagai proyek AI tersisih dari segi visibilitas dan kompensasi, dan para insinyur jatuh ke dalam rasa tidak berdaya dan sinisme
- Dalam suasana seperti ini, ketika startup AI atau proyek pribadi diperkenalkan, langsung muncul reaksi bermusuhan
- Budaya teknologi Seattle terjebak dalam sikap defensif alih-alih inovasi, dan ini menjadi faktor yang menghambat pertumbuhan perusahaan, insinyur, dan founder
Fenomena Kebencian terhadap AI di Seattle
- Fenomena ketika para insinyur di Seattle bereaksi negatif bahkan terhadap kata “AI” itu sendiri
- Saat proyek peta berbasis AI bernama Wanderfugl diperkenalkan, sebagian besar insinyur Seattle menunjukkan reaksi yang langsung dan kritis
- Ketika produk yang sama diperkenalkan di Bali, Tokyo, Paris, dan San Francisco, yang muncul justru rasa ingin tahu dan minat
- Seorang mantan rekan di Microsoft mengeluhkan bukan produknya, melainkan alat AI dan lingkungan kerja terkait AI di dalam perusahaan
- Ketidakefisienan alat AI yang dipaksakan dalam pekerjaan, seperti Copilot 365 dan Microsoft AI, menjadi sumber keluhan utama
- Penerapan AI berujung pada stres kerja dan kecemasan akan PHK
PHK karena AI dan Runtuhnya Budaya Organisasi
- Kasus di internal Microsoft di mana kurangnya kemampuan memanfaatkan AI disebut sebagai alasan PHK
- Untuk seorang PM di sebuah tim, diberikan penjelasan bahwa ia dipecat karena “tidak cukup memanfaatkan Copilot 365”
- Dulu ada budaya ‘growth mindset’ dan dorongan terhadap inovasi, tetapi menyusut tajam setelah restrukturisasi yang berpusat pada AI
- Proyek kolaborasi antartim menghilang, dan hanya pekerjaan terkait AI yang dianggap sebagai wilayah yang aman dan bergengsi
- Insinyur yang tidak diklasifikasikan ke proyek AI dicap sebagai ‘talenta non-AI’
- Gaji dan stock option mereka mandek, dan evaluasi kinerja memburuk
- Pemaksaan penggunaan alat AI berkualitas rendah seperti Copilot for Word, PowerPoint, Email, dan Code semakin memperdalam ketidakpuasan
Kelelahan Psikologis dan Sinisme para Insinyur
- Meski alat AI gagal meningkatkan produktivitas, kritik atau upaya perbaikan justru dilarang
- Karena dianggap sebagai wilayah organisasi AI, departemen lain tidak bisa ikut campur
- Para insinyur terjebak dalam pola pikir membatasi diri, yakni meyakini bahwa AI tidak berguna dan diri mereka sendiri tidak cocok untuk bidang itu
- Hal ini berujung pada turunnya daya inovasi perusahaan, mandeknya karier individu, dan melemahnya ekosistem startup
- Ungkapan “kalau menyebut AI, kamu diperlakukan seperti orang yang membela asbes” menggambarkan permusuhan sosial ini
Amazon dan Ekosistem Teknologi Seattle
- Karyawan Amazon relatif sedikit lebih terlindungi, tetapi masalah dasarnya tetap sama
- Persepsi lama bahwa “Amazon memperlakukan orang dengan buruk tetapi memberi kompensasi tinggi” hanya menutupi kelelahan dan sinisme di dalam organisasi
- Budaya teknologi Seattle telah bergeser menjadi sikap defensif alih-alih inovatif
- Ketidakpercayaan terhadap AI membentuk lingkaran setan struktural yang menekan upaya baru itu sendiri
Lingkaran Setan Keyakinan yang Membatasi Diri
- Keyakinan negatif terhadap AI merugikan ketiga kelompok sekaligus
- Perusahaan: para insinyur terbaik tidak lagi menganggap inovasi sebagai bagian dari peran mereka
- Insinyur: karier mereka mandek di tengah kemarahan dan keraguan pada diri sendiri
- Founder: hanya karena kata “AI”, mereka dipandang sebagai keberadaan yang mengancam
- Keyakinan ini mengeras menjadi struktur siklus kurang mencoba → kewenangan menyusut → produk buruk → ketidakpercayaan terhadap AI makin kuat
- Seattle masih memiliki talenta teknologi kelas dunia, tetapi keyakinan bahwa mereka bisa mengubah dunia seperti di San Francisco telah memudar
Belum ada komentar.