2 poin oleh GN⁺ 2025-12-05 | 1 komentar | Bagikan ke WhatsApp
  • Di antara mahasiswa universitas elite di AS, cukup banyak yang mengajukan akomodasi akademik dengan alasan gangguan belajar atau masalah kesehatan mental
  • Di Brown dan Harvard angkanya 20%, di Amherst 34%, dan di Stanford 38% mahasiswa sarjana dilaporkan berstatus terdaftar sebagai penyandang disabilitas
  • Banyak profesor menilai ini bukan soal disabilitas fisik yang nyata, melainkan mahasiswa dari kalangan berada yang memanfaatkan privilese seperti tambahan waktu ujian
  • ADA (Americans with Disabilities Act) dengan kriteria yang dilonggarkan dan meluasnya wacana kesehatan mental di SNS memengaruhi diagnosis diri dan pembentukan identitas semacam ini
  • Akomodasi yang tidak perlu dikritik karena dapat menghilangkan kesempatan untuk bertumbuh secara akademik dan memperkuat kecenderungan menghindari kegagalan

Lonjakan pendaftaran disabilitas di kalangan mahasiswa universitas elite

  • Di universitas papan atas AS, persentase mahasiswa yang terdaftar sebagai penyandang disabilitas meningkat tajam
    • Brown dan Harvard 20%, Amherst 34%, Stanford 38%
    • Sebagian besar berupa diagnosis terkait kesehatan mental atau gangguan belajar seperti kecemasan, depresi, ADHD
  • Para profesor menyebut, “bukan mahasiswa yang duduk di kursi roda, melainkan mahasiswa kaya yang mendapat tambahan waktu ujian
    • Mahasiswa dengan kesulitan kognitif yang nyata justru lebih banyak berada di community college, dan tingkat pendaftaran disabilitas di sana hanya sekitar 3~4%
Iklan

Faktor kelembagaan dan pelonggaran kriteria diagnosis

  • ADA (Americans with Disabilities Act) memungkinkan pemberian akomodasi akademik yang luas hanya berdasarkan surat keterangan dokter
  • DSM (manual diagnosis gangguan mental) yang direvisi pada 2013 melonggarkan kriteria diagnosis ADHD
    • Akibatnya, kasus di mana penurunan konsentrasi ringan atau kecemasan sosial juga diklasifikasikan sebagai disabilitas meningkat
  • Lingkungan kelembagaan seperti ini memudahkan mahasiswa berprestasi tinggi untuk mendiagnosis diri dan mengajukan akomodasi

‘Identitasisasi’ kesehatan mental dan pengaruh SNS

  • Sebagian mahasiswa memandang akomodasi bukan sebagai ‘kecurangan’, melainkan ekspresi identitas diri mereka
    • Will Lindstrom dari University of Georgia mengatakan, “mahasiswa datang dalam keadaan sudah yakin bahwa mereka memiliki gangguan perkembangan saraf”
  • Di TikTok dan SNS lainnya, gejala ADHD atau kecemasan didefinisikan dengan sangat luas
    • Contoh: sering memakai headphone atau buruk dalam mengelola waktu juga diajukan sebagai gejala
    • Hasilnya, persepsi bahwa “setiap orang punya disabilitas” makin menyebar
Iklan

Kecenderungan menghindari risiko dan takut gagal

  • Mahasiswa universitas elite memiliki ketakutan yang kuat terhadap kegagalan, sehingga kesulitan kecil pun dipatologikan
    • Stres akademik yang dulu dianggap bagian normal dari proses bertumbuh kini berubah menjadi alasan diagnosis
    • Pengaruh SNS memperkuat persepsi bahwa “penurunan konsentrasi = ADHD”
  • Sikap ini sejalan dengan kecenderungan menghindari risiko pada anak-anak dari kelas menengah atas

Dampak samping akomodasi yang tidak perlu

  • Akomodasi akademik yang berlebihan berujung pada rusaknya keadilan dan terhambatnya pertumbuhan diri
    • Tambahan waktu ujian, pembebasan presentasi, penundaan tenggat, dan sebagainya memang meningkatkan hasil jangka pendek
    • Namun dalam jangka panjang, hal itu dapat melemahkan kemampuan memecahkan masalah dan resiliensi saat dewasa
  • Tulisan ini menilai fenomena tersebut sebagai tindakan merampas sendiri kesempatan untuk bertumbuh secara intelektual

1 komentar

 
GN⁺ 2025-12-05
Komentar Hacker News
  • Dalam kasus Stanford, disayangkan artikel tersebut tidak membedakan antara akomodasi disabilitas untuk akademik dan perumahan
    Faktanya, di Stanford sangat umum mendapatkan kamar tunggal setelah memperoleh persetujuan dari OAE(Office of Accessible Education)
    Jika menerima akomodasi terkait perumahan, mahasiswa bisa mendapat penempatan lebih awal daripada mahasiswa biasa dan memilih asrama yang lebih baik
    Sebagian mahasiswa secara strategis "menumpuk(stacking)" beberapa kondisi disabilitas agar ditempatkan di asrama tertentu yang populer
    Misalnya, jika ingin tinggal di asrama dekat klinik kampus, mereka menambahkan syarat "perlu dekat fasilitas medis" sehingga pada praktiknya bisa mengamankan kamar yang bagus

    • Artikel The Atlantic yang ditautkan di sumber asli membahas hal ini jauh lebih rinci
      Selama puluhan tahun universitas telah memprioritaskan dukungan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, tetapi kini diagnosis terlalu mudah didapat, dan akibatnya banyak yang memperoleh keuntungan nyata seperti waktu ujian tambahan atau izin merekam kuliah
      Penyalahgunaan seperti ini menimbulkan masalah karena mahasiswa yang benar-benar membutuhkan justru tidak mendapatkan sumber daya
    • Artikel itu menyebut sebagian besar mahasiswa diklasifikasikan memiliki disabilitas terkait kesehatan mental, terutama ADHD
      Ada juga penekanan bahwa pada masa remaja obat golongan amfetamin(Adderall dan sejenisnya) dapat meningkatkan performa dalam jangka pendek, tetapi efek samping jangka panjangnya besar
    • Ada juga tanggapan sinis: "Pada akhirnya ini cuma latihan untuk masuk McKinsey"
    • Dari sudut pandang seseorang yang pernah punya teman sekamar yang seperti mimpi buruk saat kuliah, ada gurauan bahwa siapa pun bisa merasa punya "disabilitas yang membuatnya tak bisa tinggal dengan roommate"
    • Seseorang membagikan pengalaman pada awal 2000-an ketika ia mendapat kamar tunggal karena tunanetra
      Ia memang membutuhkan ruang karena printer braille yang berisik, tetapi tidak melakukan "stacking" untuk mengejar keuntungan lokasi
  • Berdasarkan pengalaman tumbuh besar pada 1980-an, ada banyak "anak berbakat tetapi tidak cocok dengan sistem sekolah"
    Jika mereka mendapat dukungan yang tepat, performanya bisa melonjak drastis, dan akhirnya masuk universitas papan atas
    Di industri teknologi juga banyak talenta neurodivergent, tetapi alasannya bukan belas kasihan melainkan produktivitas
    Artinya, makin berorientasi pada hasil sebuah institusi, makin wajar proporsi mahasiswa seperti ini menjadi lebih tinggi

    • Ada juga sanggahan bahwa "semua orang tidak kompeten dalam beberapa hal"
      Ditekankan bahwa masyarakat pada akhirnya hidup dengan cara menghindari atau menutupi kelemahan masing-masing, sehingga mengalami kesulitan adalah hal yang normal
    • Ada pula pendapat bahwa diagnosis seperti ADHD bukanlah "disabilitas" melainkan sekadar "diagnosis", dan tidak semua orang yang didiagnosis menuntut perlakuan istimewa
    • Dibagikan juga kisah seorang developer dengan kecenderungan autistik yang dulu tidak bisa beradaptasi di sekolah tetapi kini bekerja sebagai engineer hebat
      Ia menjelaskan bahwa dirinya belajar bukan secara bottom-up, melainkan dengan cara top-down
    • Ada istilah untuk menjelaskan fenomena ini, yaitu "twice exceptional(dua kali istimewa)"
      Tautan Wikipedia
    • Ada pula kritik bahwa mengatakan "kalau nilaimu jelek di sekolah berarti kamu tidak pintar" adalah kontradiktif; "smart" dan "skill" itu berbeda
  • Ada pendapat bahwa persepsi terhadap IEP(Individual Education Program) sangat berbeda menurut wilayah
    Di daerah kaya, orang tua aktif meminta IEP sehingga justru seluruh kelas mendapat lebih banyak dukungan guru
    Sebaliknya, di daerah miskin, banyak orang tua menolak dukungan karena takut stigma dan perundungan

    • Disebutkan bahwa di wilayah kelas menengah atas, hampir semua orang tua mengajukan IEP, dan karena sumber daya kelas tidak bertambah, guru terbebani oleh beban pengelolaan
      Mereka berpendapat tidak adil menempatkan anak yang sepenuhnya non-verbal di kelas reguler
    • Ada juga contoh positif dari anak dengan ADHD dan disleksia yang membaik pesat berkat intervensi dini
    • Sebaliknya, ada sanggahan bahwa "jika sumber daya hanya terkonsentrasi pada kelas yang punya murid IEP, maka anak-anak di kelas lain dirugikan"
  • Ada juga pandangan sinis bahwa "kalau tidak memainkan game ini, kamu akan kalah dalam persaingan"

    • Seseorang berkata, "Saya memutuskan untuk tidak memainkan game seperti itu, dan hidup saya tetap baik-baik saja"
      Ia menambahkan nasihat bahwa kita harus hidup di antara orang-orang yang menghargai kejujuran
    • Yang lain menganalisis bahwa dalam teori permainan, cukup ada beberapa pelaku curang maka seluruh sistem bisa runtuh
    • Ada juga yang berkata bahwa setelah melihat "teman-teman masuk kampus elite dengan memanfaatkan kisah keluarga atau kematian hewan peliharaan",
      ia merasa "keuntungan yang didapat dengan cara begitu tidak punya arti"
    • Ada pula pendapat bahwa lebih baik kalah secara adil
    • Muncul juga candaan kiasan bahwa ini seperti "kalau tidak pakai kacamata, kamu kalah dari orang yang penglihatannya bagus"
  • Ada pengalaman dari mahasiswa yang saat ini berkuliah di universitas elite dan menerima dukungan akademik
    Saat kecil, ibunya yang seorang guru mencurigai disleksia sehingga ia didiagnosis sejak dini, dan berkat kondisi ekonomi keluarga yang baik ia bisa menjalani terapi serta les privat
    Pada akhirnya ia mengakui bahwa status sosial-ekonomi adalah faktor besar dalam keberhasilannya

    • Menanggapi hal ini, ada yang bertanya, "Aneh kalau diagnosis saat taman kanak-kanak masih tetap sama sampai sekarang"
      Mereka mempertanyakan apakah seharusnya kondisi itu tidak mereda seiring waktu
    • Yang lain berpendapat bahwa sekarang memang ada banyak overdiagnosis, tetapi sekaligus jauh lebih banyak kasus nyata yang tertangkap dibanding sebelumnya, sehingga ini bisa dilihat sebagai "overcorrection"
    • Ada juga pertanyaan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan dukungan akademik
  • Ada juga kenangan bahwa sejak lama sudah ada penyalahgunaan privilese seperti mahasiswa kaya yang mengerjakan ujian dari rumah dengan surat diagnosis dari ayahnya yang dokter

  • Seorang profesor hukum mengatakan ia selalu terkejut melihat daftar mahasiswa yang mendapat tambahan waktu 50% setiap ujian akhir
    Mahasiswa-mahasiswa itu tampak baik-baik saja saat berpartisipasi di kelas, sehingga ia merasa heran
    Ia dikutip mengatakan bahwa akomodasi yang tidak perlu adalah "kecurangan ganda", karena bukan hanya merugikan teman sekelas tetapi juga menghambat pertumbuhan diri sendiri

    • Sebagai tanggapan, ada argumen bahwa stres ujian dapat memperparah gejala gangguan mental,
      sehingga seseorang bisa tampak baik-baik saja sehari-hari tetapi gejalanya memburuk saat ujian
      Seseorang dengan OCD menjelaskan bahwa karena alasan itulah ia mendapat waktu ujian tambahan
    • Yang lain berpendapat bahwa "dalam pekerjaan nyata hampir tidak pernah ada batas waktu seperti ujian,
      jadi tambahan waktu ujian bukanlah kecurangan"
  • Mengenai ketentuan ADA bahwa dengan surat diagnosis dokter saja seseorang bisa mendapat akomodasi yang luas,
    ada yang bertanya, "Bukankah itu justru sistem yang bagus?"

    • Sebagai jawaban, ditambahkan latar belakang bahwa revisi DSM-5 pada 2013 melonggarkan kriteria diagnosis ADHD,
      sehingga penurunan kualitas hidup saja sudah cukup untuk didiagnosis
    • Ada juga kesaksian bahwa praktik membeli surat diagnosis dengan uang sangat meluas di keluarga kaya
      Konon, bahkan tanpa disabilitas nyata pun, jika ada surat dokter maka tidak ada yang akan meragukannya
    • Muncul pula kekhawatiran tentang runtuhnya kepercayaan moral: sistem ini berbasis kepercayaan, tetapi jika disalahgunakan melewati tingkat tertentu, pada akhirnya yang benar-benar membutuhkanlah yang dirugikan
    • Ada juga ringkasan sinis: "sistem yang bisa dipermainkan pasti akan dipermainkan"
    • Disebutkan pula bahwa makin sulit sebuah disabilitas diukur secara objektif, makin tinggi pula potensi penyalahgunaannya
  • Menurut laporan GAO terbaru,
    proporsi mahasiswa yang terdaftar sebagai penyandang disabilitas melonjak dari 11% pada 2004 menjadi 21% pada 2020
    Khususnya, proporsi disabilitas perilaku dan emosional naik dari 33% menjadi 69%
    Tautan laporan GAO

  • Dalam podcast New York Times,
    dibahas fenomena bahwa penyalahgunaan diagnosis autisme makin parah sehingga anak-anak dengan autisme berat justru tidak mendapat dukungan
    Ini dipandang sebagai bentuk lain dari ketimpangan pendidikan, di mana orang tua kaya mengerahkan segala cara untuk mendapatkan diagnosis yang menguntungkan bagi anak mereka

    • Secara khusus disebutkan contoh bahwa tingkat diagnosis autisme di wilayah Minnesota(MN) meningkat sangat tajam