1 poin oleh GN⁺ 2025-12-17 | Belum ada komentar. | Bagikan ke WhatsApp
  • Pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) telah lama digunakan sebagai alat utama untuk mengukur aktivitas otak, tetapi riset terbaru mengajukan pertanyaan mendasar tentang akurasi interpretasinya
  • Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa tidak ada keterkaitan yang berlaku umum antara perubahan konsentrasi oksigen yang diukur dengan MRI dan aktivitas saraf yang sebenarnya
  • Dalam eksperimen, sekitar 40% kasus menunjukkan sinyal fMRI meningkat meski aktivitas otak menurun, dan sebaliknya juga diamati kasus ketika sinyal menurun tetapi aktivitas meningkat
  • Otak tampaknya memenuhi kebutuhan energinya dengan mengekstraksi oksigen dari darah yang ada secara lebih efisien tanpa meningkatkan aliran darah
  • Temuan ini menjadi titik balik penting bagi cara menafsirkan riset gangguan mental dan neurologis serta pengembangan model berbasis metabolisme energi otak

Runtuhnya asumsi lama tentang interpretasi sinyal fMRI

  • Selama sekitar 30 tahun, fMRI menjadi alat inti dalam penelitian otak, tetapi tim peneliti dari TUM dan FAU membuktikan bahwa interpretasinya bisa jadi tidak mencerminkan aktivitas saraf yang sebenarnya
    • Studi ini diterbitkan di Nature Neuroscience
    • Dikonfirmasi bahwa tidak ada korelasi universal antara kandungan oksigen yang diukur dengan MRI dan aktivitas saraf
  • Hasil eksperimen menunjukkan bahwa sekitar 40% kasus kenaikan sinyal fMRI justru berkaitan dengan penurunan aktivitas otak
    • Sebaliknya, kasus penurunan sinyal yang sejalan dengan peningkatan aktivitas juga ditemukan
  • Hal ini menunjukkan bahwa asumsi lama “aktivitas meningkat → aliran darah meningkat → kebutuhan oksigen terpenuhi” ternyata keliru

Desain eksperimen dan metode pengukuran

  • Para peneliti meminta lebih dari 40 peserta sehat menjalankan berbagai tugas seperti aritmetika mental dan mengingat kembali memori autobiografis
  • Pada saat yang sama, mereka mengukur konsumsi oksigen nyata dengan teknik MRI kuantitatif baru
  • Hasilnya berbeda menurut tugas dan wilayah otak, dan dikonfirmasi bahwa peningkatan konsumsi oksigen tidak selalu mengarah pada peningkatan aliran darah
    • Misalnya, pada wilayah yang terkait perhitungan, efisiensi ekstraksi oksigen meningkat tanpa perubahan aliran darah
    • Artinya, otak memenuhi kebutuhan energi tanpa meningkatkan volume aliran darah

Dampak terhadap penelitian penyakit otak

  • Penelitian lama yang menggunakan perubahan aliran darah sebagai indikator aktivasi saraf perlu dievaluasi ulang
    • Ini memunculkan kemungkinan kesalahan interpretasi dalam penelitian gangguan mental dan neurologis seperti depresi dan Alzheimer
  • Khususnya pada lansia atau pasien dengan penyakit pembuluh darah yang mengalami perubahan vaskular, nilai pengukuran bisa mencerminkan perbedaan pembuluh darah, bukan defisit saraf
  • Hasil penelitian hewan sebelumnya juga mendukung arah temuan ini

Usulan pendekatan analisis baru

  • Tim peneliti mengusulkan menggabungkan pengukuran kuantitatif ke dalam pendekatan MRI yang ada
    • Ke depan, ini dapat menjadi dasar untuk membangun model otak berbasis energi
  • Alih-alih sekadar peta aktivasi, analisis dapat berkembang menjadi tampilan jumlah oksigen dan energi yang benar-benar dikonsumsi untuk pemrosesan informasi
  • Dengan demikian, terbuka peluang untuk memahami perubahan metabolisme energi pada penuaan, gangguan mental, dan penyakit neurodegeneratif dalam angka absolut

Latar belakang penelitian dan informasi publikasi

  • Penelitian dilakukan di Neuro-Head Center rumah sakit universitas TUM
  • Didukung oleh Starting Grant dari European Research Council (ERC)
  • Makalah: BOLD signal changes can oppose oxygen metabolism across the human cortex,
    Nature Neuroscience, 12 Desember 2025, DOI: 10.1038/s41593-025-02132-9

Belum ada komentar.

Belum ada komentar.